Renungan Keluarga
Jika Bapak Tak Sanggup Mencintaiku
Walau tidak terlalu dekat mengenalnya, sebenarnya sudah cukup lama saya mengenal teman saya yang satu ini, seorang pria baik yang berhasil di dalam usahanya dan memiliki keluarga yang harmonis. Sampai suatu hari di suatu pertemuan dari pembicaraan biasa akhirnya ia berbicara mengenai ayahnya.
Apa salahku? Untuk apa minta maaf?
Komunikasi-komunikasi yang mandek akan membuat seorang pribadi bingung. Ayah Rani perlu mengkomunikasikan sesuatu kepada putrinya saat putrinya merengek. Ia bisa berkata, ”papa lagi capek, nanti kita bicarakan lagi.” Jika langsung ditinggalkan tanpa penjelasan, anak menjadi bingung. Ada yang terputus di sana! Permintaanku kah yang salah? Atau caraku kah yang salah? Alasan untuk minta maaf tidak ia temukan. Janganlah membiasakan anak untuk minta maaf hanya karena alasannya ’anak harus minta maaf pada orangtua’ karena hal ini akan mematikan nalar sehat anak.
Justru, jika ada porsi kesalahan atau ketidakjelasan yang berasal dari orangtua, orangtua pun harus menjelaskan dan mungkin perlu minta maaf, seperti: ”maaf, kemarin papa lagi capek, jadi papa belum ingin membicarakan tentang buku ceritamu. Sekarang, apa kamu masih menginginkan buku ceritamu? Bukankah buku ceritamu yang lain masih banyak yang belum dibaca?”
Anak-anak yang tidak terbiasa menjelaskan sesuatu hal dengan sebab-akibat yang jelas biasanya akan menjadi pribadi pemarah. Jika ada masalah, ia hanya bisa marah saja, juga ia akan menjadi pribadi yang tidak mau tahu, seperti berkata, ”Pokoknya, semuanya harus beres, tidak tau gimana caranya.” Pribadi-pribadi seperti ini akan kesulitan di dalam dunia kerja nantinya karena banyak orang akan sulit mengerti apa maunya.
Sebenarnya Mau Ibu Apa?
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com
Arti Piala Bagi Mama
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com
Tidak usah Memuji Masakan Mama
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com
Meja Makan Keluarga yang mulai ditinggalkan
Tentunya, dengan berusaha segenap hati mengerti kesibukan orangtua, saya sangat menyayangkan hal ini. Di dalam keluarga, makan bersama di meja makan adalah ritual yang sebenarnya wajib dijalankan keluarga bersama. Mengapa saya sebut sebagai ritual? Sama halnya bila anda berada di kantor, meeting adalah sesuatu yang sering tidak bisa dihindarkan, karena meeting adalah sarana mempertemukan semua orang baik atasan maupun bawahan dan di sana tim kerja mulai membicarakan tantangan dan rintangan yang sering diakhiri dengan diskusi dan solusi. Hal ini dilakukan agar visi suatu usaha dapat secara langsung dimengerti oleh tim kerja.
Kecerdasan emosi adalah sesuatu yang sangat penting untuk kita miliki pada jaman ini. Jaman yang segala sesuatunya serba cepat, yang membutuhkan keputusan serba cepat, yang karenanya emosi pribadi sering dibuat naik-turun hanya di dalam jangka waktu singkat. Namun tidak perduli betapa gilanya jaman ini, suatu kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri adalah dasar Kecerdasan emosi justru terbentuk dari rumah atau keluarga. Pada murid-murid kami yang memiliki antusiasme dan emosi yang positif, dengan jelas kami melihat pola didik orangtua yang sangat baik dan kompak. Sebaliknya, murid-murid yang bermasalah dengan pengendalian diri atau emosi, kami melihat pola didik orangtua yang terlihat hanya terbatas pada penyediaan material saja dan jarang melakukan interaksi yang positif.
Fakta yang kami dapati tanpa harus melakukan riset ataupun penelitian adalah pada anak-anak yang jarang makan bersama keluarga di meja makan rumah, mereka bermasalah dengan emosi, baik emosi yang meledak-ledak maupun emosi yang tertekan.
Pada saat kami meminta anak-anak membuat karangan singkat mengenai keluarganya, di situlah kami melihat pandangan-pandangan jujur anak-anak tentang keluarga mereka. Bagi anak yang mempunyai tradisi makan bersama, walaupun terkadang mereka lebih menyukai salah satu orangtua (misalnya lebih dekat ke papa atau ke mama); tetapi secara keseluruhan kami melihat anak tersebut mempunyai pandangan yang positif mengenai keluarganya, sebagai contoh mereka menulis: “Keluargaku asyik loh, kami sering bepergian. Papaku orangnya suka bercanda, mamaku lebih serius, tapi aku sangat sayang dengan keluargaku.”
Dibanding dengan anak yang tidak makan bersama, mereka akan dengan sangat cepat memberikan penilaian kepada keluarganya secara keseluruhan, sebagai contoh: “… keluargaku biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa.” Atau “Aku merasa kurang akrab dengan keluargaku, biasanya aku lebih sering menghabiskan waktu di kamar.”
Mengapa Makan bersama penting?
Seburuk-buruknya suatu keluarga, walaupun orangtua sangat tidak kompak, namun bila orangtua dapat mengusahakan kebiasaan makan bersama, anak-anak (juga orangtua) akan mampu menilai keluarganya secara utuh. Walaupun ayah seorang pemarah dan ibu seorang pembela (ini contoh ketidakkompakan orangtua), tetapi anak-anak akan mempelajari interaksi keluarganya secara keseluruhan justru pada saat semua berkumpul dan berinteraksi. Di meja makan, semua anggota keluarga dapat mempelajari ekspresi-ekspresi karena semua dapat saling melihat muka, di sini dapat ditanamkan berbagai macam nilai, baik nilai pendidikan, nilai moralitas, nilai kebaikan dan kebijaksanaan, nilai religi. Seringnya bila kita bisa saling menatap dan memahami ekspresi-ekspresi wajah, kita dapat mempunyai solusi-solusi yang lebih baik bila suatu masalah terjadi pada salah satu anggota keluarga kita. Saya sangat menganjurkan para keluarga mengusahakan ataupun menghidupkan tradisi makan bersama keluarga inti (ayah, ibu, anak). Seringnya orangtua berkata bahwa mereka terlalu sibuk dan kesibukan itu sebenarnya untuk memberi makan anggota keluarganya. Namun hal yang sering dilupakan oleh orangtua yang sibuk, bila kesibukan itu sungguhlah ditujukan untuk keluarga mereka, mereka kurang menyadari bahwa perlahan-lahan mereka sedang kehilangan ‘keluarganya’. Secara fisik anggota keluarga itu memang ada, namun secara hati, sebenarnya sudah lama hilang. Jadi bila orangtua terlalu sibuk mencari uang demi keluarga, nyatanya keluarga mereka sedang menghilang; lalu, ketika nanti benarlah uang telah didapat tapi keluarga itu sudah tidak ada lagi, maka apa gunanya semua kesibukan-kesibukan yang dilakukan? Bagaimanapun, saya yakin bahwa belum terlambat bagi para keluarga untuk membangun tradisi makan bersama keluarga setiap hari! Putuskanlah dan mulailah hari ini!
Jika anda tidak menyukai sesuatu, ubahlah! Jika anda tidak bisa mengubahnya, ubahlah sikap anda mengenainya. Jangan mengeluh karenanya.
= Maya Angelou
Tweet @YacintaSenduk: 9 September 2011
Keluarga.. Usahakanlah makan malam bersama malam ini. Pada jaman ini, makan malam bersama sdh sering diabaikan.
Sadarkah keluarga, makan bersama dimana semuanya duduk bisa melihat satu sama lain; adl saat keluarga berkumpul dlm keadaan paling teratur.
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com
Orangtua, percayalah hal yang baik!
Memang benar, James yang berusia 7 tahun itu terlihat sulit diatur, bicaranya sinis cenderung kasar, bahkan sesekali ia memang terlihat sangat menganggu kelas. Beberapa kali pengajar harus memberikan peringatan dan mengharuskan ia menulis janji tulus tentang hal-hal apa yang perlu diperbaikinya.
Berangkat dari rasa percaya bahwa setiap masalah pastilah mempunyai jalan keluarnya, maka satu per satu masalah perilaku James kami pikirkan jalan keluarnya. Memang tidak ada proses instan, tetapi bagaimanapun, kami memilih percaya bahwa James adalah anak yang baik.
Setelah 2 bulan, kami melihat ada perubahan yang baik pada James, tapi sifatnya memang belum permanen, sesekali ia masih berperilaku kasar. Kembali kami bertemu dengan sang ayah. Kali ini tampak ia bukan saja frustrasi pada James, tapi ia sudah frustrasi juga dengan pengajar yang dianggapnya tidak berhasil merubah James. “Saya sudah tahu dari awal, James memang tidak bisa berubah. James memang nakal dan dibawa kemanapun dia tidak akan berubah.” Kami mengkomunikasikan hal-hal apa saja yang mulai berubah dari James walaupun sifatnya belum permanen, tetapi perubahan itu murni dari usaha James. Menurut kami itu adalah awal yang baik, yang harus lebih diperkuat lagi. Sang ayah berkata, “saya tidak yakin James bisa berubah.”
Belakangan kami mengerti bahwa sebenarnya yang membuat James tidak bisa berubah adalah keyakinan orangtuanya. Kami berupaya memberikan fakta bahwa James sudah mulai belajar sendiri setengah jam atas kemauannya sendiri, sudah mau mengurangi frekwensi bertengkarnya dengan teman di sekolah, sudah mulai mau menahan diri tidak marah-marah; tapi ayahnya terus saja mengulang-ngulang kenakalan-kenakalan James, seperti ketika James berteriak-teriak di mal, menjambak rambut adiknya, membantah perkataan orangtuanya. Lalu kami berkata, “James selalu mengerjakan PR-nya.” Sanggah ayah, “ya, itu kan karena disuruh.” Tapi James juga mau membereskan mainannya.” Sanggah ayah, “dia mana berani berantakan, nanti bisa saya hukum”. “James sudah lebih sabar menunggu gilirannya beraktivitas di kelas kami.” Lanjut kami. Sanggah ayah, “iya, cuma di sini saja dia pura-pura baik, di rumah sih enggak tuh.” Ujar sang ayah sinis seolah merasa terpojok.
“Baiklah, menurut bapak, anak yang baik itu seperti apa?” Tanya saya. Ayah itu tidak langsung menjawab, bahkan ia tampak kehilangan kata-kata sampai akhirnya ia berkata, “ya seperti anak-anak lainnya itulah, yang tidak menyusahkan orangtuanya, yang kerjanya tidak bikin sakit kepala saja. Kita kan juga sudah sibuk, ditambah musti mengurus dia, kok dia nggak bisa ngerti yang kayak beginian sih?”
Untuk James, saya merasa sedih, ia ternyata anak yang dipercaya sebagai anak yang menyusahkan dan hanya membuat pusing orangtua. Padahal kami melihat bahwa sebenarnya James pun mau dan mampu berjuang memperbaiki dirinya.
Setengah bulan setelah pembicaraan dengan sang ayah, James kembali ke pola lamanya sebagai anak pemberang, di dalam percakapannya dengan pengajar, James berkata, “papa bilang aku anak nakal kok, ya memang aku anak nakal, mau diapakan lagi!” Jawabnya ketus dengan sorot mata tajam yang marah.
Menuai apa yang anda percaya
Sebut saja Ika, anak perempuan mungil yang lucu, berusia 6 tahun. Ika adalah anak yang cerdas, namun bila beraktivitas, ia terlihat kaku. Pada aktivitas melompat, Ika menangis tidak mau melakukan lompatan, ia berkata, “aku kan nggak bisa melompat.” Ika terisak-isak. “Bisa kok!” Ujar pengajar. “Nggak bisa! Mama bilang pinggul aku terlalu besar! Aku nggak bakal bisa melompat!” Tangis Ika menjadi-jadi. Melihat bentuk pinggulnya, malah kami percaya, jika tumbuh menjadi seorang gadis nantinya, Ika akan memiliki bentuk tubuh yang indah. Namun tidak etis jika mengatakan bahwa kata-kata mama Ika tentang dirinya itu salah. Akhirnya setelah tangis Ika mereda, pengajar membimbing lembut tangannya untuk melompat. Ika pun berhasil melompat, ia sendiri terkejut melihat dirinya bisa melompat. Kemudian ia melompat-lompat sendiri tanpa disuruh.
Apa yang anda percaya bagi putra-putri anda akan anda tuai hasilnya. Ada ibu yang tidak menyerah dengan anaknya yang autis, akhirnya anaknya bisa bersosialisasi dengan orang-orang normal. Ada ibu yang percaya bahwa anaknya pasti jadi orang berhasil walaupun lingkungannya tidak mendukungnya, nyatanya, anaknya benar-benar jadi orang berhasil.
Janganlah anggap remeh tentang apa yang anda percayai bagi putra-putri anda. Percayalah hal yang baik! Maka hal baik pulalah yang akan anda tuai.





















