RenunganJune 24, 2009 12:40 am

HR KELAHIRAN ST YOHANES PEMBAPTIS:  Yes 49:1-6; Kis 13:22-26; Luk 1:57-66.80

ROMO MARYO 

"Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia”.

Di dalam tradisi berbagai suku bangsa di dunia ini ada kebiasaan bahwa anak yang baru saja dilahirkan harus diberi nama sesuai dengan orangtuanya atau marganya, misalnya di suku Batak atau Tionghoa. Di kebanyakan suku kiranya tidak ambil pusing perihal nama keluarga atau marga, dan dengan bebas memberi nama pada anaknya yang baru saja dilahirkan. Dalam memberi nama anak pertama pada umumnya orang sungguh penuh perhatian dan membutuhkan banyak waktu, bahkan ketika anak masih berada di dalam kandungan ibu kiranya suami-isteri sudah mempersiapkan nama anak yang akan dilahirkan tersebut. Di balik sebuah nama memang tersirat atau mengandung macam-macam dambaan, cita-cita atau harapan terhadap pribadi yang diberi nama tersebut. Maka baiklah pada Hari Raya Kelahiran Santo Yohanes Pembaptis hari ini kita mawas diri perihal nama yang dikenakan pada kita masing-masing baik secara pribadi maupun organisatoris atau bersama-sama.

 

Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia” (Luk 1:66)  

 

Bapaknya Zakharia dan ibunya Elisabeth, maka menurut tradisi anak laki-laki yang dilahirkan harus diberi nama Zakharia seperti nama bapaknya, namun anak yang baru saja lahir dari rahim Elisabeth ketika harus diberi nama tidak diberi nama Zakharia melainkan “Yohanes”. Sanak kerabat dan para tetangga serta kenalan pun terheran-heran dengan pemberian nama tersebut, tetapi begitu Zakharia menulis nama ‘Yohanes’, ia yang sebelumnya bisu dapat berbicara. “Dan semua orang, yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata: "Menjadi apakah anak ini nanti?" Sebab tangan Tuhan menyertai dia”. Yohanes sebelum dikandung dan dilahirkan telah ditentukan oleh Allah untuk menjadi bentara Penyelamat Dunia, orang yang mempersiapkan jalan bagi Penyelamat Dunia untuk mendatangi umat manusia dan menyelamatkan dunia.

 

Kita semua, dengan dan dalam nama yang dikenakan pada diri kita masing-masing, kiranya juga dipanggil untuk menjadi ‘bentara’ atau penunjuk jalan bagi sesama dan saudara-saudari kita untuk bertemu dengan Tuhan., karena “Tuhan menyertai kita, sejak kita dikandung dan dilahirkan”.  Yahanes sendiri “bertambah besar dan makin kuat rohnya”(Luk 1:80) berkat atau karena penyertaaan Tuhan dalam dirinya. Untuk menjadi bentara atau penunjuk jalan bagi orang lain menuju atau bertemu dengan Tuhan kitapun juga diharapkan “bertambah besar dan makin kuat rohnya”, semakin hidup atau dijiwai oleh Roh Kudus sehingga cara hidup atau cara bertindak kita menghasilkan buah-buah Roh seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23).

 

Kepada kita semua yang telah dibaptis dan ditambahkan nama baptis di depan nama kita masing-masing, marilah kita mawas diri apakah kita dengan rendah hati dan kerja keras telah meneladan Santo atau Santa yang menandai nama kita masing-masing. Untuk itu masing-masing dari kita diharapkan mengenal dengan baik riwayat Santo atau Santa yang menjadi pelindung kita.  Sedangkan kepada para anggota Lembaga Hidup Bakti, biarawan atau biarawati atau organisasi/paguyuban, marilah kita mawas diri: sejauh mana kita telah berusaha dengan rendah hati menghayati spiritualitas atau visi lembaga/pendiri atau nama yang menandai kebersamaan hidup dan karya pelayanan kita. Kita semua kiranya mendambakan agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan semangat, spiritualiatas santo-santa atau para pendiri lembaga atau organisasi dimana kita ada di dalamnya.  Semoga kita tidak hanya bangga memakai nama yang dikenakan kepada kita, tetapi bangga karena dalam kelemahan dan kerapuhan serta penyertaan rahmat Tuhan dapat menghayati atau memberi isi pada nama yang menandai diri kita masing-masing.

 

“Ketika Yohanes hampir selesai menunaikan tugasnya, ia berkata: Aku bukanlah Dia yang kamu sangka, tetapi Ia akan datang kemudian dari padaku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak” (Kis 13:25)

 

Di dalam tradisi atau kebiasaan hidup feodal mereka yang bertugas ‘membuka kasut dari kaki’  adalah para pelayan. Dalam kehidupan bersama para pelayan atau pembantu rumah tangga kiranya merupakan pekerjaan atau profesi yang paling rendah. Yohanes Pembaptis, sebagai ‘bentara Penyelamat Dunia’ menyatakan atau menghayati diri sebagai yang lebih rendah dari pada pelayan atau pembantu rumah tangga, dengan kata ia sungguh rendah hati dalam menghayati hidup, panggilan dan tugas pengutusannya. Kita semua dipanggil untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati.

 

Rendah hati  adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan diri” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Sebagai orang beriman kita semua juga dipanggil untuk hidup dan bertindak dengan rendah hati. Rendah hati merupakan keutamaan dasar, sedang kesalahan dao dosa dasar adalah sombong. Maka hendaknya kita hidup dan bertindak saling melayani, meneladan Yesus yang datang untuk melayani bukan dilayani. Para pimpinan atau atasan atau orangtua hendaknya menjadi teladan dalam penghayatan kerendahan hati, antara lain dapat dihayati dengan sering ‘turba’, turun ke bawah untuk melihat apa yang terjadi di antara dan dikerjakan oleh mereka yang di bawah, yaitu para pembantu, pekerja/pegawai, anak-anak, dst..

 

Karya pelayanan kita, entah pendidikan, sosial atau kesehatan, memiliki cirikhas pastoral, maka hendaknya dalam melaksanakan karya-karya tersebut berjiwa pastoral. Untuk itu kita dapat meneladan Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Fil 2:6-7). Dengan ini kami berharap kepada para pimpinan di tempat kerja (direktur, manajer, kepala bagian, dst..) tidak selalu ‘duduk di depan meja’ saja, melainkan secara rutin, entah setiap hari atau minggu, turun kebawah untuk menyapa dan memperhatikan apa yang dikerjakan oleh para pembantu atau bawahannya. Jika ada yang baik dipuji, sedangkan jika ada yang kurang baik dibenahi atau diperbaiki dengan rendah hati. Sapa dan perhatikan dengan penuh kasih para pembantu, pegawai, dst.. yang setiap hari harus bekerja keras.

 

Kita juga dipanggil untuk  menghayati apa yang dikatakan oleh nabi Yesaya ini: “Maka sekarang firman TUHAN, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya,. untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya” (Yes 49:5). Sejak masih berada di dalam kandungan atau rahim ibu kita telah dibentuk dan ditentukan untuk menjadi hamba-hamba Tuhan, pribadi atau orang yang harus setia melaknakan perintah atau kehendak Tuhan di dalam hidup sehari-hari. KehendakNya antara lain persaudaraan atau persahabatan sejati di antara seluruh umat manusia di bumi ini.

 

“Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah

(Mzm 139:13-15)

 

Jakarta, 24 Juni 2009

RenunganJune 23, 2009 1:01 am

“Masuklah melalui pintu yang sesak itu”

(Kej 13:2.5-18; Mat 7:6.12-14)

 ROMO MARYO

"Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu. "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.” (Mat 7:6.12-14), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang yang dengan mudah dapat memperoleh uang atau kekayaan, entah karena korupsi atau warisan, pada umumnya dengan mudah juga memboroskan uang atau kekayaannya, dan ada kemungkinan uang atau hartanya segera habis dan yang bersangkutan menderita. Demikian juga muda-mudi yang tidak sabar menikmati seks alias dengan mudah mengadakan hubungan seks bebas, kiranya yang bersangkutan juga akan menderita di kemudian hari. Kebiasaan ingin cepat-cepat kaya atau merasakan kenikmatan tersebut kiranya terjadi karena di masa pendidikan/di sekolah yang bersangkutan memiliki budaya menyontek atau beli nilai/ijasah. “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya”, demikian sabda Yesus. Sabda ini kiranya mengajak dan memanggil kita semua untuk mengikuti ‘proses yang benar’ , proses menjadi kaya, pandai/cerdas, hidup bahagia dan damai sejahtera. Kebiasaan mengikuti atau menghayati proses ini hemat saya sedini mungkin hendaknya dibiasakan pada diri anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja perlu keteladanan dari para orangtua. Marilah kita hayati dan sebar-luaskan motto UNESCO dalam memasuki Millenium Ketiga :”learning to be, learning to do, learning to learn, learning to live together”. Hidup maupun bekerja adalah suatu proses pembelajaran terus menerus yang harus dihayati dengan rendah hati, sabar, tekun, teliti, tertib, dst… Sebagai orang yang sedang dalam proses pembelajaran memang harus siap sedia dan rela untuk berkorban dan berjuang dalam menghadapi aneka tantangan dan hambatan.

·   "Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri.”(Kej 13:8-9),  demikian kebijakan yang diambil setelah terjadi pertentangan para gembara Abram dan Lot.  “Minum malum”, yang terbaik dari yang tidak baik atau kurang sempurna itulah kebijakan yang diambil: untuk menghindari perkelahian atau tawuran  antar saudara atau kerabat untuk sementara diajakan perpisahan, saling menjauh. Kebijakan macam ini kiranya sering perlu kita lakukan juga mengingat keterbatasan dan kelemahan kita, berpisah untuk sementara.  Di dalam kesempatan tidak bertemu dengan ‘musuh’ tersebut hendaknya diadakan mawas diri atau refleksi, mencari alasan atau sebab perkelahian atau permusuhan. Dan kiranya untuk itu perlu disertai dengan doa-doa juga, mohon rahmat pencerahan dari Tuhan dalam mengatasi aneka masalah yang menimbulkan perkelahian atau permusuhan. Di dalam hidup berkeluarga antar suami-isteri hal itu sering disebut ‘pisah ranjang’, tidak setempat tidur atau serumah untuk sementara. Yang sering menimbulkan perkelahian atau permusahan adalah aneka macam perbedaan yang ada, padahal kita semua ini saling berbeda. Maka untuk membangun persaudaraan atau perkerabatan, hendaknya untuk sementara yang berbeda disimpan dan ramai-ramai atau bersama-sama menghayati apa yang sama di antara kita secara mendalam. Jika apa yang sama di antara kita dihayati secara mendalam maka apa yang berbeda antar kita akan fungsional untuk memperdalam dan memperkuat persahabatan atau perkerabatan.  Maka dalam kesempatan berpisah untuk sementara atau ‘pisah ranjang’ tersebut masing-masing pihak hendaknya mawas diri secara mendalam apakah apa yang sama di antara kita sudah dihayati dengan mendalam. Jadikanlah apa yang berbeda menjadi daya tarik stsu daya pikat untuk saling mengenal, mendekat, bersahabat atau berkerabat.

 

“Dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi; yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya” (Mzm 15:2-5)

 

Jakarta,  23 Juni 2009

RenunganJune 22, 2009 1:42 am

"Jangan kamu menghakimi supaya kamu tidak dihakimi”

(Kej 12:1-9; Mat 7:1-5)

ROMO MARYO 

 

"Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu. Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (Mat 7:1-5), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Apa yang terjadi dalam proses pengadilan di ‘meja hijau’ kantor pengadilan pada umumnya orang saling menghakimi alias mencari kesalahan dan kekurangan orang lain, tetapi juga ada yang berusaha  menutupi kesalahan atau penyelewengan yang telah dilakukannya. Proses pengadilan guna mencari kebenaran tersebut pada umumnya berlangsung lama, melelahkan serta membutuhkan beaya yang cukup besar. Maukah dalam hidup sehari-hari kita diwarnai oleh proses pengadilan atau saling menghakimi tersebut? “Jangan kamu menghakimi dan munafik” itulah kehendak atau perintah Tuhan kepada kita semua. “Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.". Orang yang banyak dosa atau kesalahannya pada umumnya dengan mudah melihat dosa dan kesalahan sesamanya, sebaliknya orang baik dan benar pada umumnya akan lebih melihat apa yang baik dan benar dalam diri sesamanya. Mereka yang memiliki hobby atau kebiasaan melihat dan menyebarluaskan kesalahan atau kekurangan atau dosa orang lain pada umumnya dosa, kekurangan atau kesalahannya lebih besar dan dengan demikian juga akan semakin besar. Marilah dengan rendah hati dan jujur di hadapan sesama kita mengakui dan menghayati kekurangan, dosa atau kesalahan kita serta mohon kasih pengampunannya agar kita kemudian memiliki mata tubuh dan mata hati yang jernih dan dengan demikian dapat melihat dan mengakui kebaikan dan kelebihan orang lain serta tidak mudah menyalahkan atau menghakimi orang lain. Kami berharap kepada para orangtua, guru, pemimpin atau atasan untuk tidak dengan mudah menyalahkan atau menghakimi anak-anaknya, anggotanya atau bawahannya melainkan lebih melihat dan mengakui kebaikan dan kelebihannya.

·    "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."(Kej 12:1-3), demikian perintah atau firman serta janji Tuhan kepada Abraham, bapa umat beriman  Abraham pun melaksanakan perintah Tuhan tersebut dan ia menjadi berkat bagi keturunannnya, bagi kita semua, putra-putri Abraham. Kita dipanggil untuk memberkati bapa Abraham dan keturunannya, maka berarti kita dipanggil untuk saling memberkati, meneruskan berkat, kasih karunia dan rahmat Tuhan kepada sesama dan saudara-saudari kita. Kemanapun kita pergi atau dimanapun kita berada hendaknya menjadi berkat bagi sesama dan saudara-saudari kita. Hendaknya jangan saling mengutuk atau menyalahkan satu sama lain. Apa yang disebut berkat senantiasa membahagiakan dan menyelamatkan, maka cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun hendaknya membahagiakan dan menyelamatkan orang lain. Abraham diminta untuk meninggalkan sana saudara dan rumah bapanya, artinya hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan, dijiwai oleh Roh Kudus. Bagi kita hal itu berarti kita diminta dan dipanggil untuk hidup dan bertindak sesuai dengan kharisma atau spiritualitas yang kita peluk dan sedang kita geluti. Bagi mereka yang berkeluarga atau suami-isteri hendaknya hidup dan bertindak sesuai dengan janji perkawinan dan dengan demikian akan menjadi berkat bagi anak dan cucu-cucunya. Bagi kita para imam, biarawan atau biarawati berarti setia dan taat pada janji imamat atau kaul hidup bakti. Yang sedang belajar berarti setia belajar, yang sedang bekerja berarti setia bekerja, dst..

 

“Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri! TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia  Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan” (Mzm 33:12-13.18-19)

 

Jakarta, 22 Juni 2009

Renungan 1:41 am

Minggu Biasa XII : Ayb 38:1.8-11; 2Kor 5:14-17; Mrk 4:35-41

"Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”

 ROMO MARYO

Di sebuah rumah sakit ada seorang pasien yang harus menjalani operasi berhubung dengan sakit yang dideritanya. Ketika pasien tersebut diberi tahu akan dioperasi maka nampak pucat dan ketakutan. Beberapa waktu setelah informasi tersebut seorang perawat mencek tekanan darah yang bersangkutan, dan ternyata tekanan darah pasien cukup tinggi, maka tindakan operasi ditunda. Hal itu terjadi di pagi hari, dan sorenya pasien dicek tekanan darahnya lagi dan ternyata masih tetap tinggi, maka dokter memutuskan untuk memberi obat penenang serta minta saudara-saudari pasien untuk mempersiapkan saudaranya yang sedang sakit tersebut agar tidak takut dioperasi. Orang yang sedang dalam ketakutan memang mengalami kenaikan tekanan darah dan pada umumnya juga mudah marah, pesien dalam tekanan darah tinggi tak mungkin untuk dioperasi. Takut rasanya pernah kita alami dan kiranya dalam situasi dan kondisi hidup yang sarat dengan tantangan, hambatan dan perjuangan masa kini cukup banyak orang menjadi takut. Gelombang kehidupan begitu menggoncang dan membuat banyak orang tidak tenang serta ketakutan.

 

"Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” (Mrk 4:40)

 

Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: "Marilah kita bertolak ke seberang.”(Mrk 4:35). Menyeberangi danau yang cukup luas diwaktu malam kiranya terasa sepi dan menakutkan, apalagi ketika taufan dahsyat yang mengombang-ambingkan perahu yang sedang ditumpanginya. Itulah yang sedang terjadi dan dialami oleh para rasul bersama dengan Yesus yang sedang tertidur. Dalam ketakutan dan kerja keras mengayuh perahu para rasul berkata: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa? Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: "Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?"(Mrk 4:38-40). Para rasul tidak percaya bahwa Yesus berada di tengah-tengah mereka dan bersama denganNya pasti tidak akan binasa karena taufan dahsyat.

 

Tuhan hadir dimana-mana dan kapan saja terus menerus di dalam kehidupan dan kebersamaan kita, maka baiklah ketika kita harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan pekerjaan berat marilah kita sadari dan hayati kehadiran dan karyaNya, Tuhan yang senantiasa mendampingi atau menyertai hidup, kerja, kesibukan dan pelayanan kita. Dengan kata lain marilah dalam dan semangat iman kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kita lihat, temui dan hayati kehadiran dan karya Tuhan dalam hidup sehari-hari, antara lain dalam diri sesama dan saudara-saudari kita yang berkehendak baik. Lihat, cari dan hayati apa yang baik, indah, mulia dan benar di dalam sesama dan lingkungan hidup kita dengan rendah hati dan dalam keheningan.

 

Kita renungkan dan refleksikan sabda Yesus :”Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”.  Takut antara lain berarti kinerja syaraf dan metabolisme darah kita lemah dan dengan demikian penakut akan mudah terserang oleh berbagai penyakit atau hati, jiwa, akal budi dan tubuh tidak segar dan sehat dan dengan demikian akan hidup ngawur. Sebaliknya jika kita tidak takut berarti hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita sehat dan segar bugar dan dengan demikian kita akan mampu melihat aneka kemungkinan dan kesempatan untuk mengatasi aneka tantangan dan hambatan. Beriman berarti juga tidak takut terhadap apapun, karena bersama dengan Tuhan kita akan mampu mengatasi segalanya. Apa yang baik, indah, luhur dan mulia adalah berasal dari Tuhan dan dengan demikian tentu menarik dan mimikat kita sehingga kita tidak takut, sedangkan apa yang jahat, jelek atau jorok adalah berasal dari setan dan kita tidak perlu takut karena bersama Tuhan kita pasti mampu mengatasinya, Tuhan menang atas setan.

 

Sebab kasih Kristus yang menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati.Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka “ (2Kor 5:14-15)

 

Kita dipanggil untuk hidup bukan untuk diri kita sendiri, tetapi untuk Dia, Tuhan, yang berarti hidup bagi keselamatan dunia seisinya, kesejahteraan  dan kebahagiaan seluruh  umat manusia. Di dalam hidup beriman atau menggereja ada empat pedoman yang kiranya harus dihayati baik dalam hidup beriman, bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara, yaitu: (1) kemandirian, (2) subsidiaritas, (3) solidaritas dan (4) keberpihakan kepada mereka yang miskin dan berkekurangan, maka baiklah secara singkat dan sederhana saya coba menguraikan empat pedoman tersebut:

(1)               Kemandirian. Mandiri berarti tidak tergantung pada siapapun dan dapat bekerja sendiri dengan baik, namun hendaknya tetap dihayati bersama dan bersatu dengan Tuhan. Apa saja atau segala sesuatu yang memungkinkan kita dapat mandiri merupakan anugerah atau kasih karunia Tuhan, maka jika dapat mandiri hendaknya tetap rendah hati serta tidak menjadi sombong. 

(2)               Subsidiaritas. Subsidiaritas berarti terjadi pembagian tugas atau pendelegasian, dan hal ini pada umumnya harus dilakukan oleh para pimpinan atau atasan. Pembagian tugaa atau pendelegasian didasari atau kepercayaan, pemimpin atau atasan percaya bahwa bawahan atau anggotanya mampu melakukan apa yang ia tugaskan atau delegasikan kepada mereka. Ketika tugas sudah didelegasikan kepada orang lain hendaknya tidak terlalu banyak campur tangan, memang jika nampak akan terjadi sesuatu tindakan yang dapat merangsang ke perilaku dosa maka pemimpin atau atasan dapat mengingatkan atau menegornya. Subsidiaritas juga merupakan bentuk penterjemahan penghayatan kepempimpinan partisipatif.  

(3)               Solidaritas. Solidaritas terjadi pada tingkatan yang kurang lebih sama atau sejajar, dimana orang saling membantu atau bekerja sama atau bergotong-royong dalam melakukan sesuatu. Solidaritas berasal dari akar kata bahasa Latin ‘solido/solidare’  yang dapat berarti memperkuat, mengukuhkan, menegakkan, meneguhkan, maka menghayati solidaritas berarti saling memperkuat, mengukuhkan, menegakkan dan meneguhkan. Solidaritas dapat diwujudkan dalam bentuk tenaga, harta benda, uang atau kehadiran, dst..    

(4)               Keberpihakan  kepada mereka yang miskin dan berkekurangan. Penghayatan pedoman ini kiranya merupakan bentuk hidup bagi yang lain yang konkret dan menantang. “Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, — dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami — demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu. Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya”(2Kor 8-7-9) Marilah meneladan Yesus yang berpihak kepada mereka yang miskin dan berkekurangan untuk memperkaya mereka.

 

“Maka Ia mengatakan hendak memusnahkan mereka, kalau Musa, orang pilihan-Nya, tidak mengetengahi di hadapan-Nya, untuk menyurutkan amarah-Nya, sehingga Ia tidak memusnahkan mereka. Mereka menolak negeri yang indah itu, tidak percaya kepada firman-Nya. Mereka menggerutu di kemahnya dan tidak mendengarkan suara TUHAN. Lalu Ia mengangkat tangan-Nya terhadap mereka untuk meruntuhkan mereka di padang gurun(Mzm 106:23-26)

 

Jakarta, 21 Juni 2009

Renungan 1:40 am

“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan”

(2Kor 12:1-10; Mat 6:24-34)

ROMO MARYO 

“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."(Mat 6:24-34), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta Hati Tersuci SP Maria hari ini, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Untuk apa orang bekerja? Untuk memeperoleh uang sebanyak-banyaknya atau agar termapil bekerja? Untuk apa para peserta didik atau mahasiswa belajar? Untuk memperoleh nilai setinggi-tingginya atau agar terampil belajar?”. Jawaban yang baik dan benar adalah bekerja agar terampil bekerja, belajar agar terampil belajar, berdoa agar terampil berdoa, dst… Jika kita terampil bekerja, belajar atau berdoa, dst.., percayalah bahwa kita akan hidup damai sejahtera dan bahagia, tanpa ada kekuatiran sedikitpun. “Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh lebih penting dari pada pakaian?”, demikian sabda Yesus. Maka marilah kita mengusahakan seoptimal mungkin kesehatan dan kebugaran tubuh kita serta kesucian hidup kita dalam dan melalui aneka kesibukan, tugas, pekerjaan kita sehari-hari dimanapun dan kapanpun. Jika tubuh kita sehat dan segar bugar serta hidup kita baik, suci, tak bercacat, maka  kita akan mampu hidup dan bekerja dimanapun dan kapanpun dan dengan demikian kita senantiasa dalam keadaan bahagia, damai sejahtera. Mengusahakan kesehatan dan kebugaran tubuh serta kesucian hidup merupakan bentuk atau perwujudan “mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya”. Kami berharap hendaknya anak-anak sedini mungkin dibina dan dibiasakan dalam mengutamakan hidup daripada makanan, tubuh daripada pakaian, dan tentu saja dengan keteladanan orangtua atau orang dewasa. Marilah kita meneladan Bunda Maria yang menanggapi panggilan Tuhan :”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).

·   Jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku”(2Kor 12:9), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Korintus, kepada kita semua orang beriman. Kesaksian ini kiranya mengingatkan dan mengajak kita semua untuk menyadari dan menghayati bahwa hidup serta segala sesuatu yang menyertai hidup kita, yang kita miliki atau kuasai saat ini adalah anugerah Allah yang kita terima melalui kebaikan orang lain atau sesama kita,. Kesehatan, kebugaran, keterampilan, kecantikan, ketampanan, harta benda dst.. adalah anugerah atau kasih karunia Allah kepada kita yang lemah, rapuh dan berdosa. Maka hendaknya kita senantiasa hidup dalam kerendahan hati dan tidak menjadi sombong dalam bentuk apapun. Beriman berarti dengan rendah hati mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah, sehingga cara hidup dan cara bertindak kita dijiwai atau dirajai oleh Allah, kuasa Allah turun menaungi aku. Aneka keutamaan seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23) adalah anugerah atau kasih karunia Allah. Marilah kita saling berbagi anugerah atau kasih karunia Allah dalam hidup kita sehari-hari: saling mengasihi, saling sabar, saling bermurah hati, saling berbuat baik, dst… sebagai tanda atau perwujudan bahwa kita bersama-sama “mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya”.

 

“Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka. Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia

 (Mzm 34:8-10)

 

Jakarta, 20 Juni 2009

RenunganJune 19, 2009 1:09 am

HR Hati Yesus Yang Mahakudus : Hos 11:1.3-4.8c-9; Ef 3:8-12.14-19; Yoh 19:31-37
"Seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air"

Ketika mulai terjadi kerusuhan antara lain pembakaran gedung gereja dan sekolah katolik beberapa tahun lalu kiranya cukup banyak orang merasa kesal dan marah. Namun di Situbondo, Jawa Timur, ketika gedung gereja dibakar ada seorang umat yang berkata ;"Gedung gereja dibakar, sekolah katolik juga ikut terbakar, dan hatiku pun juga terbakar untuk mencintai". Gedung adalah harta benda duniawi yang mamang dapat hancur ketika terjadi musibah bencana alam seperti gempa bumi, banjir bandang atau kebakaran. Besi-besi beton yang kuatpun ketika terbakar juga akan meleleh, tak berdaya lagi, sebagaimana pernah terjadi dengan jembatan berkonstruksi baja di Salam, di atas sungar Krasak, perbatasan wilayah DIY dan Jateng beberapa tahun lalu, namun ada jenis besi yaitu emas murni ketika dibakar justru akan semakin nampak kemurniannya dan juga tidak hancur. Emas murni kiranya juga dapat menggambarkan hati yang suci, bersih dan murni, yang juga tidak mudah terpengaruh oleh aneka macam musibah yang mengganggu kehidupan bersama. Maka baiklah pada Hari Raya Hati Yesus Yang.Mahakudus hari ini kita mawas diri perihal hati kita masing-masing dengan bercermin pada Hati Yesus Yang Mahakudus.

"Seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air" (Yoh 19:34)

Salib merupakan bentuk hukuman terberat dan pada umumnya dikenakan kepada para penjahat klas kakap. Yesus diperlakukan sebagai penjahat klas kakap, disalibkan, bahkan dalam puncak penderitaan di kayu salib lambungNya/hatiNya ditikam dengan tombak. Yang keluar dari lambung atau hatiNya ialah darah dan air. Darah dan air merupakan symbol kehidupan dan kesegaran. Salib yang bagi orang Yahudi dipercaya sebagai hukuman atau derita sangat berat alias kematian telah diubah oleh Yesus menjadi sumber kehidupan dan kesegaran. Dari deritaNya lahirlah aneka keutamaan-keutamaan yang menghidupkan dan menyegarkan, sebagaimana pernah Ia sabdakan :"Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu" (Yoh 16:21-22). Sebagai murid-murid atau pengikut Yesus Kristus marilah kita meneladan HatiNya, yang mengalirkan darah dan air, aneka keutamaan yang menghidupkan dan menyegarkan.

Di dalam hidup sehari-hari karena kesetiaan pada panggilan atau tugas pengutusan kita pasti akan menghadapi aneka tantangan, hambatan, derita dst.. yang berat dan dapat membuat kita merasa lelah dan lesu. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."(Mat 11:28-30), demikian sabda Yesus. Jika kita setia pada tugas, panggilan dan pengutusan yang dianugerahkan oleh Tuhan melalui pembesar atau atasan kita, maka meskipun harus menghadapi aneka tantangan, hambatan dan derita hendaknya tidak mengeluh, menggerutu atau kecewa. Aneka hambatan, tantangan dan derita akan membuat atau mendidik kita untuk menjadi lemah lembut dan rendah hati seperti Yesus. Maka baiklah aneka tantangan, hambatan dan derita tersebut kita hayati sebagai wahana untuk semakin meneladan Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, maka hadapi dan sikapi dengan lemah lembut dan rendah hati aneka tantangan, hambatan atau derita tersebut.

Dari dan melalui cara hidup dan cara bertindak kita diharapkan lahir atau keluar segala sesuatu yang menghidupkan dan menyegarkan. Semakin banyak kenalan dan bergaul berarti semakin banyak teman atau sahabat, itulah panggilan dan tugas pengutusan kita, demikian juga semakin tua atau tambah usia berarti semakin lembah lembut dan rendah hati. Maka marilah kita mawas diri: sejauh mana cara hidup dan cara bertindak kita begitu memikat dan menarik bagi orang lain untuk semakin lemah lembut dan rendah hati? Apakah kita atau mereka yang lebih berpengalaman atau lebih tua menjadi teladan hidup yang lemah lembut dan rendah hati?

"Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya "(Ef 3:12)

Kutipan dari surat Paulus kepada umat di Efesus di atas ini kebetulan juga menjadi motto saya ketika saya akan ditahbiskan menjadi imam, dimana saya pilih setelah mawas diri selama masa pembinaan menjelang atau mempersiapkan tahbisan imamat. "Di dalam Dia, di dalam Tuhan, kita beroleh keberanian atau kekuatan serta aneka macam keutamaan yang menghidupkan dan menyegarkan", inilah pengalaman iman saya. Kutipan di atas ini kiranya mengajak kita semua untuk mawas diri sebagai orang yang terpanggil, entah terpanggil untuk hidup berkeluarga sebagai suami-isteri, imam, bruder atau suster, menikah atau tidak menikah. Marilah kita sadari, hayati atau kenangkan kembali bahwa kita berani hidup berkeluarga, menjadi imam, bruder atau suster, menikah atau tidak menikah karena kita telah menerima anugerah dari Tuhan keinginan untuk mengabdiNya dalam dan melalui hidup terpanggil tersebut. Marilah kita masuki dan hayati hidup terpanggil dalam dan bersama dengan Allah, artinya sesuai dengan kehendak atau perintah Allah.

Menghayati panggilan sesuai dengan kehendak atau perintah Allah berarti hidup dan bertindak sesuai dengan aturan dan tatanan yang terkait dengan panggilan tersebut. "Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,"(Ef 3:16-18). Kita dipanggil untuk hidup dan bertindak yang berakar dan berdasar di dalam kasih, yaitu kasih Kristus, dan untuk itu kita diharapkan memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus. Kasih Kristus kepada dunia, kita semua, terjadi secara total dan tanpa batas; Ia telah mempersembahkan Diri sepenuhnya bagi keselamatan dunia dengan wafat di kayu salib.

Hidup dan bertindak dalam kasih Kristus berarti berani dengan jiwa besar dan rela hati `menyalibkan diri’ atau mempersembahkan diri seutuhnya demi keselamatan dunia, kebahagiaan dan keselamatan seluruh dunia dan seisinya, melalui aneka macam tugas, kewajiban dan pekerjaan kita masing-masing. Maka marilah kita kerjakan atau laksanakan aneka tugas, kewajiban dan pekerjaan kita dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tubuh/kekuatan. Marilah setia dan disiplin dalam tugas, kewajiban dan pekerjaan kita masing-masing. "Berdisiplin adalah kesadaran akan sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri, sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan" (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10)

"Ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik" (Yes 11:3-4)

Jakarta, 19 Juni 2009

RenunganJune 17, 2009 12:16 am

“Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi”

(2Kor 9:6-11; Mat 6:1-6.16-18)

"Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.""Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. "Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”(Mat 6:1-6.16-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketika terjadi musibah atau bencana alam seperti banjir bandang atau gempa bumi yang mengibatkan cukup banyak korban, ada pribadi atau organisasi dalam menyampaikan sumbangan atau bantuan dengan cara provokatif atau  demi keuntungan sendiri, misalnya memasang atribut organisasi secara mencolok. Bahkan ada organisasi memanfaatkan kesemapatan tersebut untuk berkampanye. Perbuatan baik atau social menjadi komersial itulah yang terjadi. Warta Gembira hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua untuk dengan tulus dan rendah hati dalam berbuat baik atau membantu orang lain. Yang utama dan penting adalah mereka yang harus dibantu atau ditolong memperoleh bantuan atau pertolongan. Marilah kita menyadari dan menghayati bahwa masing-masing dari kita dapat menjadi baik, damai dan sejahtera sebagaimana adanya pada saat ini tidak lain karena perbuatan baik orang lain, antara lain orangtua kita, para pendidik/guru atau pendamping kita maupun sesama , yang secara diam-diam atau tersembunyi telah berbuat baik kepada kita. Maka selayaknya jika kita berbuat baik kepada orang lain, yang penting orang lain tersebut menjadi baik dan kita tidak perlu ‘pasang bendera’ atau menyombongkan diri bahwa telah dapat berbuat baik. Hal yang sama juga berlaku pada diri kita sendiri ketika saya tumbuh berkembang menjadi baik karena matiraga hendaknya juga tidak menyombongkan diri, biarlah aneka perbuatan baik kita menjadi saksi bahwa kita adalah orang baik.

·   “Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2Kor 9:6-7). Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Korintus ini kiranya baik menjadi permenungan dan pedoman atau acuan cara hidup maupun cara bertindak kita. Kita dipanggil untuk menaburkan kebaikan atau apa yang baik sebanyak mungkin sesuai dengan kemungkinan atau kesemapatan yang ada dengan rela hati, bukan karena paksaan. Marilah kita lihat dan perhatikan sesama atau saudara-saudari  dalam lingkungan hidup maupun kerja kita, apakah ada orang atau pribadi yang membutuhkan kebaikan demi keselamatan atau kesejahteraan mereka. “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita”, demikian peringatan Paulus. Memberi dengan sukacita akan memperteguh dan memperdalam sukacita yang telah ada, sebaliknya memberi dengan terpaksa yang berarti dengan sedih hati maka yang bersangkutan juga akan menjadi semakin sedih hati. Diri kita dan segala sesuatu yang menyertai kita atau yang kita miliki dan kuasai sampai ini adalah anugerah Allah yang kita terima melalui orang lain dengan sukacita dan rela hati, maka selayakn kita hidup penuh syukur dan terima kasih dengan menyalurkan atau meneruskan aneka anugerah tersebut kepada sesama kita  dengan sukacita dan rela hati. Rela hati juga berarti murah hati, artinya hatinya dijual murah kepada siapapun atau memberi perhatian kepada siapapun, lebih-lebih atau terutama mereka yang sungguh membutuhkan perhatian kita. Kami berharap para orangtua atau orang dewasa, para pemimpin atau atasan dapat menjadi teladan atau saksi dalam menaburkan kebaikan dengan rela hati dan sukacita kepada siapapun juga.

 

“Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya. Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati. Harta dan kekayaan ada dalam rumahnya, kebajikannya tetap untuk selamanya. Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil” (Mzm 112:1-4).

 

Jakarta, 17 Juni 2009   

RenunganJune 16, 2009 3:38 am

“Haruslah kamu sempurna sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”

(2Kor 8:1-9; Mat 5:43-48)

 

“Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Mat 5:43-48), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kita semua kiranya memiliki ‘musuh’, dan kalau mengatakan tidak memiliki ‘musuh’ hemat saya berarti bohong atau menipu diri. Apa yang saya maksudkan ‘musuh’ disini adalah segala sesuatu yang tidak berkenan di hati kita, tidak sesuai dengan selera pribadi kita, entah itu manusia, binatang, tanaman atau harta benda., makanan atau minuman. “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menaganiaya kamu”, demikian sabda atau ajaran Yesus.. Maka marilah kita hadirkan atau kenangkan apa atau siapa saja yang menjadi ‘musuh’ kita dan kemudian kita kasihi. Ingatlah dan hayatilah bahwa semuanya diadakan atau diciptakan dalam dan oleh kasih serta dapat tumbuh berkembang karena dan dalam kasih, maka dekatilah, perlakukan dan nikmati semuanya dalam kasih atau oleh kasih. Sebagai contoh adalah makanan dan manusia: (1). Dalam hal makanan hendaknya berpedoman pada sehat dan tidak sehat bukan enak dan tidak enak, artinya apa yang sehat meskipun tidak enak hendaknya dinikmati atau dimakan. Enak dan tidak enak hanya terasa sesaat di lidah saja, maka jika tidak enak langsung ditelan saja, percayalah Tuhan telah menganugerahi ‘alat penggiling/pengolah’ makanan maka langsung telan saja pasti sehat. (2) Manusia diciptakan dalam dan oleh kasih, manusia adalah ‘buah kasih atau yang terkasih’, maka dekati, sapa dan perlakukan dalam kasih pasti akan menjadi mendekat dan menjadi sahabat. Binatang buas pun ketika didekati atau diperlakukan dalam dan oleh kasih dapat menjadi sahabat, apalagi manusia sebagai ciptaan terluhur, termulia dan yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah. Secara khusus terhadap rekan sesama manusia jika merasa enggan atau berat mendekati, mulailah dengan mendoakannnya; demikian juga jika tidak ada kemungkinan untuk bertemu atau bertatap muka “berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”, doa merupakan salah satu cirikhas hidup beriman atau beragama.

·   “Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, — dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami — demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini” (2Kor 8:7). “Hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih”, inilah kiranya nasehat yang harus kita laksanakan di dalam hidup sehari-hari. Pelayanan kasih dapat kita wujudkan dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahun atau dalam kesungguhan untuk membantu. Dalam iman kita dapat bertukar pengalaman atau bercurhat dalam iman, pengalaman penyerahan diri kita seutuhnya kepada Tuhan dalam dan melalui hidup sehari-hari. Sharing iman ini kiranya dapat kita wujudkan melalui atau dengan tindakan maupun perkataan. Dalam pengetahuan berarti kita dipanggil untuk saling membagikan pengetahuan yang kita miliki kepada sesama atau saudara-saudari kita, serta dapat kita laksanakan dalam atau selama belajar maupun bekerja. Sedangkan ‘dalam kesungguhan untuk membantu’ kiranya dapat kita wujudkan dimana saja dan kapan saja, terutama bagi mereka yang sungguh memerlukan bantuan. Iman, perkataan, pengetahuan maupun kesungguhan untuk membantu semakin diberikan kepada orang lain tidak akan berkurang atau habis, melainkan sebaliknya akan semakin diperkaya dan diperkuat atau diperdalam. “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor 8:9), demikian sharing pengalaman iman Paulus. Marilah kita saling memperkaya, memperdalam dan memperkuat iman, pengetahuan maupun kesungguhan untuk membantu dengan saling memberi  maupun menerima. Hendaknya tidak menjadi ‘katak dalam tempurung’, merasa  damai dan tenteram tetapi sebenarnya takut dan merasa terancam.

 

“Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar “(Mzm 146:5-8)

 

Jakarta, 16 Juni 2009

RenunganJune 15, 2009 5:05 am

“Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu”

(2Kor 6:1-10; Mat 5:38-42)

 

“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu” (Mat 5:38-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dalam perjalanan sambil nyopir saya mendengarkan kotbah melalui radio yang disampaikan oleh seorang haji. Dalam kotbah tersebut antara lain dikatakan :”Ada ajaran yang mengatakan ‘siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu’. Enak saja, kalau saya ditampar pipi kanan saya, maka saya tendang atau jotos orang tersebut, jika ada orang mencubit saya maka saya pukul orang tersebut…dst..”. Balas dendam yang lebih berat itulah yang sering terjadi dalam kehidupan bersama pada masa kini, antara lain terjadi suami membunuh isteri karena dituduh menyeleweng, para pejabat membunuh wartawan yang memberitakan kekurangan atau pelanggaran jabatan mereka dst.. “Janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu”, demikian sabda atau perintah Yesus . Sebagai murid atau pengikut Yesus marilah kita hayati atau laksanakan sabda ini. Yesus sendiri telah menghayati apa yang Ia sabdakan, antara lain Ia mendoakan mereka yang telah menyalibkanNya: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Luk 23:34). Kita sering merasa orang lain berbuat jahat kepada kita atau menyakiti kita, tetapi hendaknya disadari dan dihayati bahwa kebanyakan dari mereka tidak bermaksud berbuat jahat kepada kita, melainkan tidak tahu atas apa yang mereka lakukan atau perbuat. Dengan kata lain hemat saya pada umumnya kebanyakan orang berkehendak baik dan ingin berbuat baik, namun karena keterbatasan dan kelemahannya mereka tidak tahu bahwa apa yang mereka lakukan atau perbuat menjadikan yang lain sakit atau menderita. Orang yang tidak tahu berarti tidak salah, dan sekiranya salahpun sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk mengampuni dan mendoakannya. Marilah kita hayati aneka perlakuan atau perbuatan orang lain kepada kita sebagai perwujudan kasihnya, dan kemudian kita tanggapi dengan berkata “terima kasih”.

·   Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.” (2Kor 6:1), demikian nasihat Paulus. Paulus sendiri telah menghayati nasihat tersebut sebagaimana ia sharingkan :”Dalam hal apa pun kami tidak memberi sebab orang tersandung, supaya pelayanan kami jangan sampai dicela. Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran,”(2Kor 6:3-4). Setia pada panggilan dan tugas pengutusan memang tidak akan pernah terlepas dari aneka macam bentuk penderitaan, kesesakan dan kesukaran. “Jer basuki mowo beyo” = untuk hidup mulia, damai sejahtera, orang harus berani berjuang dan berkorban, demikian kata pepatah Jawa.  Sebagai pelajar atau pekerja yang baik, setia dalam belajar atau bekerja pasti akan menghadapi aneka penderitaan, kesesakan atau kesukaran. Marilah kita hayati atau hadapi aneka penderitaan, kesesakan dan kesukaran dengan penuh kesabaran. “Sabar adalah sikap atau perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah” (Prof  Dr. Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka –Jakarta 1997, hal 24). Kita hayati aneka penderitaan, kesesakan dan kesukaran yang tidak lain merupakan konsekwensi dari kesetiaan kita sebagai kasih karunia Allah, maka kita hayati dan hadapi dengan penuh kesabaran.serta ceria, gembira ria. Bukankah ketika kita menerima kasih karunia dari sesama kita maka kita ceria dan gembira ria. Dalam kesabaran, keceriaan dan kegembiraan kita akan mampu mengatasi aneka penderitaan, kesesakan maupun kesukaran.

 

Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!”(Mzm 98:1-4)

Jakarta, 15 Juni 2009

RenunganJune 13, 2009 12:15 am

“Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat”

(2Kor 5:14-21; Mat 5:33-37)

 

“Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat 5:33-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Antonius dari Padua, imam dan pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketika membuat rencana anggaran belanja ada perkiraan atau tambahan kurang lebih itu wajar, tetapi laporan belanja ada kurang lebihnya jelas tidak wajar alias jahat. “Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakana tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat”, demikian sabda Yesus. Sabda ini kiranya mengajak kita semua untuk senantiasa hidup dan bertindak jujur. “Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya dan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban untuk kebenaran” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 17). “Be honest” (=Jujurlah), itulah tulisan yang terpasang di pagar besi lapangan sepak bola Kolese Kanisus. Kejujuran memang sedini mungkin harus diajarkan dan dibiasakan kepada anak-anak, entah di dalam keluarga atau sekolah, dan tentu saja perlu teladan dari para orangtua atau para guru. Tentu saja kami berharap kejujuran sungguh menjadi kebiasaan hidup dan bertindak di dalam keluarga, sebagai basis atau dasar hdup bersama. Kami percaya jika telah terjadi kebiasaan hidup dan bertindak jujur di dalam keluarga, maka seluruh anggota keluarga, bapak-ibu dan anak-anak pasti akan menjadi saksi atau teladan kejujuran dalam hidup bersama di luar keluarga; dan mungkin tidak hanya menjadi teladan tetapi juga berjuang memberantas aneka kepalsuan dam kebohongan yang masih marak dalam kehidupan dan kerja bersama pada masa kini. Jujur merupakan nilai pada diri sendiri, artinya jika kita hidup jujur dimanapan dan kapanpun serta dalam keadaan dan kondisi apapun, tanpa diperintah orang lain, maka kita akan tumbuh berkembang menjadi pribadi cerdas beriman. Dengan kata lain dengan hidup dan bertindak jujur kita sungguh diuntungkan, sebaliknya jika tidak jujur maka kita sungguh akan dirugikan.

·   “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” (2Kor 5:21). Kutipan ini kiranya menggambarkan apa yang telah dilakukan oleh Yesus dan juga menjadi inspirasi St.Antonius dari Padua, yang bekerja keras menjalankan tugas sampai lupa makan dan kurang tidur. “Dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah”, inilah yang terjadi dalam diri Yesus dan juga St.Antonus. Banyak orang terkesan dan terkesima terhadap wejangan, kotbah maupun nasehat St.Antonius, bahkan diimani bahwa ikan-ikan pun mendengarkan kotbahnya. Kita semua kiranya dipanggil untuk meneladan St.Antonius, antara lain dengan hidup dan bertindak sedemikian rupa sehingga mengesan dan memikat orang lain dan mereka yang terkena dampak hidup dan cara bertindak kita semakin ‘dibenarkan oleh Allah’, artinya semakin dekat dan mesra dengan Allah, semakin suci atau semakin beriman. Marilah kita bekerja keras dalam melakanakan tugas pengutusan atau kewajiban kita. “Bekerja keras adalah sikap dan perilaku yang suka berbuat hal-hal yang positif dan tidak berpangku tangan serta selalu gigih dan sungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 10). Jika sedang bekerja marilah kita sungguh bekerja dan bila sedang belajar marilah kita sungguh belajar, sehingga semakin terampil dalam bekerja atau belajar. Orang yang terampil dalam melaksanakan tugas pengutusan atau pekerjaannya kiranya mengesan dan memikat bagi siapapun yang melihatnya. Sebaliknya para pemalas akan membuat orang lain muak dan mudah marah dan dengan demikian menjadi batu sandungan bagi orang lain, menjadi pendorong atau motivasi bagi orang lain untuk berdosa.

 

“Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat” (Mzm 103:1-4),

.Jakarta, 13 Juni  2009  

Tukar Banner Gratis