Renungan Rohani Kristen dan Katolik





November 10, 2011

Renungan Keluarga

Filed under: Renungan - Administrator @ 3:23 am

Jika Bapak Tak Sanggup Mencintaiku


Walau tidak terlalu dekat mengenalnya, sebenarnya sudah cukup lama saya mengenal teman saya yang satu ini, seorang pria baik yang berhasil di dalam usahanya dan memiliki keluarga yang harmonis. Sampai suatu hari di suatu pertemuan dari pembicaraan biasa akhirnya ia berbicara mengenai ayahnya.
     “Menurutmu, apakah ada orangtua yang tidak mencintai anaknya?” Tanyanya.
     “Kalau pertanyaan itu ditanyakan padaku 20 tahun yang lalu sebelum aku berkecimpung di dunia keluarga, aku akan menjawab ‘tidak ada’. Tapi sekarang, aku harus menjawab ‘ya’ memang ada saja segelintir orangtua yang tidak mencintai anaknya.” Jawab saya.
     “Dan segelintir orangtua itu, termasuk bapakku di dalamnya.” Katanya.
     “Maksudnya?” Tanya saya agak kaget.
     “Ibuku hamil di luar nikah saat mengandung aku. Saat itu bapakku masih sekolah dan terpaksa berhenti sekolah untuk menikahi ibuku. Ia mau bertanggungjawab, tapi ia selalu melihat diriku sebagai kebodohan terbesarnya… Dan sampai mati pun, ia tidak bisa melepaskan pandangan kebodohan dirinya dari diriku.” Terang teman saya.
     “Perlakuan bapak terhadap aku dan dua adikku sangat berbeda. Setiap kali aku bicara, bapak akan menjauh atau bapak akan mengalihkan pembicaraan atau bapak akan membuang muka. Dari kecil aku mengalami hal itu… Syukurnya, aku bukan pribadi yang penyerah, aku tidak pernah iri dengan saudara-saudariku. Dan aku juga beruntung memiliki ibu yang sangat sayang padaku. Ia tahu benar perlakuan bapak terhadapku, jadi ibuku selalu menghiburku. Ibuku tidak pernah menjelekkan bapak, ia tetap meminta aku menghormati bapak.” Lanjutnya lagi.
     “Mungkin itu hanya asumsimu saja. Pernahkah kau bertanya pada bapakmu untuk menjernihkan asumsimu?” Tanya saya. Pertanyaan saya disambut dengan senyum singkat oleh temanku itu.
     “Sebelum bapak meninggal, ia memanggilku, minta bicara empat mata… Bapakku berkata, bapak minta maaf atas perlakuan bapak padamu. Tapi bapak harus jujur padamu dan pada diri bapak sendiri, bahwa sekalipun bapak diijinkan sembuh, bapak tidak yakin bisa benar-benar mencintaimu. Bapak adalah harapan orangtua untuk menyelesaikan sekolah saat itu, ketika mereka melihat bahwa bapak lebih memilih menikahi ibumu daripada pindah ke kota lain untuk meneruskan sekolah, mereka sakit hati sekali. Lima bulan setelah itu, nenekmu meninggal dunia. Kakekmu terus menyalahkan bapak yang telah membuat nenek sakit hati hingga meninggal dunia. Dan sejak dari kelahiranmu… bapak hanya melihat setumpuk kesalahan bapak setiap saat melihatmu.” Kata temanku lagi.
     “Selama mengenalmu, aku tidak pernah melihat sisi pribadi pemarah atau sakit hati. Padahal, aku prihatin sekali dengan kisahmu.” Saya berkomentar.
     “Oh tidak! Tidak sama sekali! Sungguh, aku memaafkan bapakku sepenuhnya. Aku malah bersyukur diberikan kejadian ini… Dari kecil, untuk memperoleh perhatian ayahku, aku selalu berusaha memberi yang terbaik. Aku belajar dan menjadi juara kelas, aku cukup berhasil di dalam pekerjaan dan hidupku, keluargaku pun baik-baik saja. Sampai saat ayah berkali-kali masuk rumah sakit, aku mampu membiayainya sampai berobat ke luar negri dan dirawat di kamar VIP… Aku sangat bersyukur dengan kejadian ini karena akhirnya, sepanjang hidupku, aku bisa jadi orang yang memberi. Dan… masih banyak yang dapat aku berikan selama aku hidup. Aku merasa hidupku sangat berarti.. Dunia ini ajaib! Saat kita memberi, ia pun tak pelit memberi lebih.” Katanya seraya tersenyum tulus.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
Follow twitter: @YacintaSenduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Apa salahku? Untuk apa minta maaf?

”Papanya baru pulang kerja. Baru buka sepatu. Rani langsung merengek-rengek minta dibelikan buku cerita.” Jelas seorang ibu tentang putrinya yang berusia 9 tahun. ”Ayo belikan, pa! Ayo belikan, pa!” Rengek Rani. ”Papanya kesal dan langsung masuk kamar saja. Melihat suami saya masuk ke kamar dengan kesal, saya jadi marah dengan Rani, saya bilang, tuh! Papa jadi marah kan sama kamu, ayo sana! Minta maaf pada papa. Tapi Rani tidak mau. Setelah itu, Rani dan papanya jadi tidak bertegur-sapa, sampai 2 hari lamanya. Saya sudah membujuk sampai membentak Rani supaya minta maaf pada papanya tapi Rani lebih rela saya pukul daripada meminta maaf pada papanya. Dia bilang, dia nggak salah kok, lagian papa juga nggak jawab apa-apa.” Lanjut ibu itu. ”Rani kan anak, dia harus minta maaf pada orangtua kalau berbuat salah.” Nada ibu itu kesal.

Komunikasi-komunikasi yang mandek akan membuat seorang pribadi bingung. Ayah Rani perlu mengkomunikasikan sesuatu kepada putrinya saat putrinya merengek. Ia bisa berkata, ”papa lagi capek, nanti kita bicarakan lagi.” Jika langsung ditinggalkan tanpa penjelasan, anak menjadi bingung. Ada yang terputus di sana! Permintaanku kah yang salah? Atau caraku kah yang salah? Alasan untuk minta maaf tidak ia temukan. Janganlah membiasakan anak untuk minta maaf hanya karena alasannya ’anak harus minta maaf pada orangtua’ karena hal ini akan mematikan nalar sehat anak.

Justru, jika ada porsi kesalahan atau ketidakjelasan yang berasal dari orangtua, orangtua pun harus menjelaskan dan mungkin perlu minta maaf, seperti: ”maaf, kemarin papa lagi capek, jadi papa belum ingin membicarakan tentang buku ceritamu. Sekarang, apa kamu masih menginginkan buku ceritamu? Bukankah buku ceritamu yang lain masih banyak yang belum dibaca?”

Anak-anak yang tidak terbiasa menjelaskan sesuatu hal dengan sebab-akibat yang jelas biasanya akan menjadi pribadi pemarah. Jika ada masalah, ia hanya bisa marah saja, juga ia akan menjadi pribadi yang tidak mau tahu, seperti berkata, ”Pokoknya, semuanya harus beres, tidak tau gimana caranya.” Pribadi-pribadi seperti ini akan kesulitan di dalam dunia kerja nantinya karena banyak orang akan sulit mengerti apa maunya.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @YacintaSenduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Sebenarnya Mau Ibu Apa?

Seorang ibu, kenalan baik saya minta agar saya menolongnya menangani kasus anak gadis kecilnya yang berusia 10 tahun. ”Tolonglah, anakku ini sudah kubawa ke psikolog, dia anak yang pandai, IQ-nya 140. Tapi tingkah lakunya benar-benar memprihatinkan. Tempo hari, anakku itu berada di kamar terus, kerjanya hanya baca komik saja… Setelah dimarahi, eh! Dia sudah tidak baca komik, tapi nonton TV melulu berjam-jam kayak tidak ada kerjaan lain.. Nanti kalau sudah dimarahi, baru dia belajar di meja makan. Aku nggak tahu apa saja yang dikerjakannya di meja makan tersebut, kerjanya hanya mencorat-coret meja, benar-benar bikin kepalaku pusing.. Belakangan setelah aku marahi lagi, sekarang dia jadi suka berteriak-teriak histeris, suka berbohong dan suka memukul adiknya. Aku lihat, anak ini memang aneh… masakan…”
”Jawab pertanyaan saya!” Potong saya. Tampaknya, jika saya tidak memotong pembicaraannya, ibu ini tidak akan berhenti berbicara. “Sebenarnya, apa yang harus dilakukan anakmu itu supaya bisa membuatmu senang?” Tanya saya. Pertanyaan saya membuat suasana menjadi sunyi, ibu itu berpikir keras untuk menjawab pertanyaan saya. Jika tadi tampaknya ia mau bersahabat mencurahkan isi hatinya pada saya, kini tampak raut wajahnya kesal karena saya bertanya demikian.
“Dirimu sendiri tidak tahu apa yang kau inginkan, itulah yang membuat anakmu juga menjadi bingung. Kebingunganmu sudah sedemikian parahnya, sehingga anakmu menjadi frustrasi, itulah mengapa ia mulai melakukan hal yang tidak baik. Tidakkah engkau mampu melihat anakmu menuruti setiap perkataanmu, tapi akhirnya selalu kaumarahi juga? Semua yang ia lakukan, selalu salah di matamu!” Jelas saya.
“Aku benci kehamilanku yang pertama…” Sahut ibu itu sambil tertunduk. Oh! Ternyata, ada masa lalu yang harus didamaikan, kata hati kecil saya. Kisah ibu ini hanya salah satu dari sebegitu banyak kisah menyedihkan dimana anak-anak yang tidak mengerti apa-apa telah menjadi korban kelabilan orangtua. Banyak anak-anak pandai tidak dapat mencapai hasil yang maksimal justru karena ketidakmampuan diri orangtuanya berdamai dengan masa lalunya, anak-anak itu dipaksa untuk merasakan kesedihan dan kelabilan orangtuanya dan menjalani rutinitas hidup yang ’sakit’ di dalam raga yang seharusnya sehat.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @YacintaSenduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Arti Piala Bagi Mama

Suatu hari, Santi, murid kami yang berusia 9 tahun terlambat datang ke kelas.
“Maaf coach, saya terlambat.” Katanya. Ia belum mengganti seragamnya, tangan kirinya memegang sebuah piala dan tangan kanannya memegang tas sekolahnya.
“Mengapa terlambat, Santi?” Tanya pelatih.
“Habis ikut kejuaraan, coach.” Jawabnya datar. Berhubung suasana kelas sangat serius, Santi segera mencari tempat duduk dan meletakkan pialanya di lantai. Ukuran piala itu cukup besar, pelatih mengamati tulisan di piala itu, tertulis “Juara I”. Tiba-tiba piala itu secara tak sengaja tertendang Santi saat ia akan mengambil buku dari tasnya. “Wah! Pialamu jatuh, Santi.” Kata Pelatih. “Iya, biar saja, coach.” Jawabnya. Agak janggal juga melihat sebuah piala hanya ditaruh di lantai, bahkan ketika tertendang, si empunya tampak tidak peduli sama sekali.
Saat Santi dijemput, pelatih segera menemui mamanya, “Wah! Bu, selamat ya, Santi juara I!” Mama Santi hanya diam saja. “Tapi tadi pialanya sempat tertendang bu, jadi bagian atasnya patah.” Lanjut pelatih lagi.
“Ok.” Jawab ibu itu singkat.
“Tunggu ya bu, saya ambilkan lem untuk me-lem piala Santi.” Kata pelatih.
“Nggak usah! Ini sudah mau pulang.” Jawabnya.
“Cuma sebentar aja kok bu, tidak lama.” Kata pelatih masih antusias.
“Nggak usahlah, nggak perlu repot-repot.” Kata ibu itu tidak terlalu ramah.
“Sayang bu, itu piala juara satu loh bu.” Ujar pelatih.
“Itu cuma piala!!” Kali ini ia sangat ketus. Kebetulan Santi sudah keluar, mereka pun pulang. Pelatih tertegun melihat kejadian itu. Banyak orang senang mendapat juara dan senang mendapat piala, mengapa Santi dan mamanya tidak menunjukkan perasaan gembira sama sekali.
“Saya minta maaf akan kata-kata saya kemarin.” Kata mama Santi pada pelatih keesokan harinya.
“Saya juga minta maaf telah membuat ibu kesal.” Sahut pelatih.
“Coach tahu, waktu saya kecil dulu, saya beberapa kali dapat piala. Sebenarnya perasaan saya sangat senang… Tapi kalau saya menunjukkan piala saya kepada papa saya…” Ibu itu lalu terdiam. “Papa saya bilang… itu hanya benda, bukan uang! Tidak usah terlalu gembira!!” Suara ibu itu marah.
            “Sudah 5 kali anak saya membawa pulang piala. Papanya bangga sekali… Dan saya? Saya iri pada anak saya karena papanya bangga melihat keberhasilannya. Sedangkan papa saya? Hanya uang yang bisa menyenangkannya.” Kata ibu itu getir.
            “Ibu… hanya karena papa ibu lebih mementingkan uang, hal itu tidak menghapuskan kenyataan bahwa ibu pernah menjadi juara.” Ibu itu terkejut mendengar jawaban pelatih.
“Orang-orang yang kita kasihi berpengaruh besar akan hidup kita, mereka bisa membantu kita melihat atau tidak melihat akan suatu kenyataan… Bagaimana dengan Santi sekarang, bu? Akankah ketawaran hati ibu terhadap masa lalu, membutakan Santi akan kehebatannya untuk berprestasi?” Ibu itu terdiam seraya mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @YacintaSenduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Tidak usah Memuji Masakan Mama

Ketika di kelas, kami memberi tugas kecil kepada murid untuk ’memuji’ orangtua mereka, memuji hasil pekerjaan ayah dan ibu di rumah, yang menurut mereka bagus, tugas ini dirasakan ganjil oleh kebanyakan murid. Namun seorang murid kami, sebut saja Andri, laki-laki berusia 14 tahun, bersikap sangat marah terhadap tugas ini. Suaranya kencang berkata, ”Saya tidak mau memuji orangtua saya! Apalagi mama saya! Itu hal yang sangat tolol! Dan saya rasa tidak ada gunanya memuji siapapun juga!”
Belum sempat pelatih bertanya mengapa, Andri melanjutkan, ”Coach tahu, kalau saya memuji masakan mama saya, mama akan berkata, ’Nggak usah dibahas! makan aja!’… Tapi, kalau saya tidak berkomentar tentang masakannya, mama saya akan menanyakan bagaimana masakannya. Pernah, saya menjawab, ”keasinan”. Mama saya marah, mama bilang, ”Eh! Suka nggak suka, makan aja! Mama sudah capek-capek masak, kamu cuma tinggal makan, masih ngedumel!” Papar murid kami… ”Tuh kan, coach, kalau ngomong sama mama saya, semuanya salah! Ngomong baik, salah. Ngomong jujur, salah. Memang mama saya itu dan semua orangtua, tidak masuk akal! Saya nggak ngerti!” Kata Andri menyamaratakan semua orangtua. Akhirnya, kami meminta Andri untuk mencoba memuji ayahnya dan melaporkan reaksi sang ayah. Syukurlah, sang ayah bereaksi lebih positif terhadap pujiannya sehingga murid kami tersebut mengerti bahwa tidak semua orangtua akan menyepelekan pujian yang tulus.
            Suatu hari, kami berkesempatan berbicara dengan mama Andri. Di ujung pembicaraan ia berkata, ”Belakangan saya melihat anak saya itu akrab dengan papanya. Dulu tidak begitu, tetapi jika saya mendengarkan percakapan mereka, sebenarnya bagi saya sangat asing, mereka berbicara tentang hal-hal yang jujur, seperti ketika warna dasi papanya tidak bagus, Andri bilang bahwa dasi itu tidak bagus dan papanya segera mengganti dasinya tanpa ngedumel. Tapi ketika papanya mengajak makan ke sebuah restoran, Andri berkata, wah! Makanannya enak, Pa.. Memang papa hebat deh kalau memilih restoran, seru!” Jelas ibu itu sambil mengernyitkan dahinya.
            ”Lalu kenapa ibu bingung?” Tanya saya.
            ”Di dalam hidup saya, saya melihat bahwa pujian-pujian yang dilontarkan itu kebanyakan palsu. Ayah-ibu saya pedagang, mereka banyak berkata-kata manis hanya supaya dagangannya laku. Itulah sebabnya, saya tidak pernah percaya pada pujian. Semua pujian itu palsu.” Ujarnya.
            ”Semua pujian, bu?” Kembali saya bertanya.
            ”Melihat Andri dan papanya sekarang, saya jadi belajar bahwa tidak semua pujian adalah bohong dan tidak semua kritikan berasal dari hati yang jahat.” Katanya datar.
Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @YacintaSenduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Meja Makan Keluarga yang mulai ditinggalkan

Ketika di dalam kelas, kami meminta anak-anak membuat jadwal tentang kegiatan mereka sehari-hari, sungguh kami, pengajar, dibuat terkejut dengan fakta bahwa hampir semua murid tidak pernah makan (baik makan pagi, siang ataupun malam) bersama secara lengkap dengan keluarga. Kebanyakan dari mereka makan bersama keluarga secara lengkap hanyalah bila sedang pergi ke restoran di akhir minggu. “Papaku kan pulangnya nggak menentu, biasanya sampai malam sekali. Jadi aku makan duluan. Kalau pagi, papaku masih tidur, jadi aku sarapan duluan sama mbak sebelum pergi ke sekolah.” Inilah jawaban yang secara umum sering kami dapatkan dari anak-anak.

Tentunya, dengan berusaha segenap hati mengerti kesibukan orangtua, saya sangat menyayangkan hal ini. Di dalam keluarga, makan bersama di meja makan adalah ritual yang sebenarnya wajib dijalankan keluarga bersama. Mengapa saya sebut sebagai ritual? Sama halnya bila anda berada di kantor, meeting adalah sesuatu yang sering tidak bisa dihindarkan, karena meeting adalah sarana mempertemukan semua orang baik atasan maupun bawahan dan di sana tim kerja mulai membicarakan tantangan dan rintangan yang sering diakhiri dengan diskusi dan solusi. Hal ini dilakukan agar visi suatu usaha dapat secara langsung dimengerti oleh tim kerja.

Kecerdasan emosi adalah sesuatu yang sangat penting untuk kita miliki pada jaman ini. Jaman yang segala sesuatunya serba cepat, yang membutuhkan keputusan serba cepat, yang karenanya emosi pribadi sering dibuat naik-turun hanya di dalam jangka waktu singkat. Namun tidak perduli betapa gilanya jaman ini, suatu kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri adalah dasar Kecerdasan emosi justru terbentuk dari rumah atau keluarga. Pada murid-murid kami yang memiliki antusiasme dan emosi yang positif, dengan jelas kami melihat pola didik orangtua yang sangat baik dan kompak. Sebaliknya, murid-murid yang bermasalah dengan pengendalian diri atau emosi, kami melihat pola didik orangtua yang terlihat hanya terbatas pada penyediaan material saja dan jarang melakukan interaksi yang positif.

Fakta yang kami dapati tanpa harus melakukan riset ataupun penelitian adalah pada anak-anak yang jarang makan bersama keluarga di meja makan rumah, mereka bermasalah dengan emosi, baik emosi yang meledak-ledak maupun emosi yang tertekan.
Pada saat kami meminta anak-anak membuat karangan singkat mengenai keluarganya, di situlah kami melihat pandangan-pandangan jujur anak-anak tentang keluarga mereka. Bagi anak yang mempunyai tradisi makan bersama, walaupun terkadang mereka lebih menyukai salah satu orangtua (misalnya lebih dekat ke papa atau ke mama); tetapi secara keseluruhan kami melihat anak tersebut mempunyai pandangan yang positif mengenai keluarganya, sebagai contoh mereka menulis: “Keluargaku asyik loh, kami sering bepergian. Papaku orangnya suka bercanda, mamaku lebih serius, tapi aku sangat sayang dengan keluargaku.”

Dibanding dengan anak yang tidak makan bersama, mereka akan dengan sangat cepat memberikan penilaian kepada keluarganya secara keseluruhan, sebagai contoh: “… keluargaku biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa.” Atau “Aku merasa kurang akrab dengan keluargaku, biasanya aku lebih sering menghabiskan waktu di kamar.”

Mengapa Makan bersama penting?
Seburuk-buruknya suatu keluarga, walaupun orangtua sangat tidak kompak, namun bila orangtua dapat mengusahakan kebiasaan makan bersama, anak-anak (juga orangtua) akan mampu menilai keluarganya secara utuh. Walaupun ayah seorang pemarah dan ibu seorang pembela (ini contoh ketidakkompakan orangtua), tetapi anak-anak akan mempelajari interaksi keluarganya secara keseluruhan justru pada saat semua berkumpul dan berinteraksi. Di meja makan, semua anggota keluarga dapat mempelajari ekspresi-ekspresi karena semua dapat saling melihat muka, di sini dapat ditanamkan berbagai macam nilai, baik nilai pendidikan, nilai moralitas, nilai kebaikan dan kebijaksanaan, nilai religi. Seringnya bila kita bisa saling menatap dan memahami ekspresi-ekspresi wajah, kita dapat mempunyai solusi-solusi yang lebih baik bila suatu masalah terjadi pada salah satu anggota keluarga kita. Saya sangat menganjurkan para keluarga mengusahakan ataupun menghidupkan tradisi makan bersama keluarga inti (ayah, ibu, anak). Seringnya orangtua berkata bahwa mereka terlalu sibuk dan kesibukan itu sebenarnya untuk memberi makan anggota keluarganya. Namun hal yang sering dilupakan oleh orangtua yang sibuk, bila kesibukan itu sungguhlah ditujukan untuk keluarga mereka, mereka kurang menyadari bahwa perlahan-lahan mereka sedang kehilangan ‘keluarganya’. Secara fisik anggota keluarga itu memang ada, namun secara hati, sebenarnya sudah lama hilang. Jadi bila orangtua terlalu sibuk mencari uang demi keluarga, nyatanya keluarga mereka sedang menghilang; lalu, ketika nanti benarlah uang telah didapat tapi keluarga itu sudah tidak ada lagi, maka apa gunanya semua kesibukan-kesibukan yang dilakukan? Bagaimanapun, saya yakin bahwa belum terlambat bagi para keluarga untuk membangun tradisi makan bersama keluarga setiap hari! Putuskanlah dan mulailah hari ini!

Jika anda tidak menyukai sesuatu, ubahlah! Jika anda tidak bisa mengubahnya, ubahlah sikap anda mengenainya. Jangan mengeluh karenanya.
= Maya Angelou

Tweet @YacintaSenduk: 9 September 2011

Keluarga.. Usahakanlah makan malam bersama malam ini. Pada jaman ini, makan malam bersama sdh sering diabaikan.

Sadarkah keluarga, makan bersama dimana semuanya duduk bisa melihat satu sama lain; adl saat keluarga berkumpul dlm keadaan paling teratur.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @YacintaSenduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

Orangtua, percayalah hal yang baik!

Seorang ayah mengeluhkan perilaku anaknya kepada saya, wajahnya nampak marah, “saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi James (bukan nama sesungguhnya). Semua usaha sudah saya lakukan tetapi James tidak berubah! Saya sudah kehabisan akal. Masak iya saya harus marah-marah terus?” Ujar ayah itu. Hari itu saya tidak memberi saran apapun kepada sang ayah, saya ingin melihat langsung saja si anak yang dikeluhkannya.

Memang benar, James yang berusia 7 tahun itu terlihat sulit diatur, bicaranya sinis cenderung kasar, bahkan sesekali ia memang terlihat sangat menganggu kelas. Beberapa kali pengajar harus memberikan peringatan dan mengharuskan ia menulis janji tulus tentang hal-hal apa yang perlu diperbaikinya.

Berangkat dari rasa percaya bahwa setiap masalah pastilah mempunyai jalan keluarnya, maka satu per satu masalah perilaku James kami pikirkan jalan keluarnya. Memang tidak ada proses instan, tetapi bagaimanapun, kami memilih percaya bahwa James adalah anak yang baik.

Setelah 2 bulan, kami melihat ada perubahan yang baik pada James, tapi sifatnya memang belum permanen, sesekali ia masih berperilaku kasar. Kembali kami bertemu dengan sang ayah. Kali ini tampak ia bukan saja frustrasi pada James, tapi ia sudah frustrasi juga dengan pengajar yang dianggapnya tidak berhasil merubah James. “Saya sudah tahu dari awal, James memang tidak bisa berubah. James memang nakal dan dibawa kemanapun dia tidak akan berubah.” Kami mengkomunikasikan hal-hal apa saja yang mulai berubah dari James walaupun sifatnya belum permanen, tetapi perubahan itu murni dari usaha James. Menurut kami itu adalah awal yang baik, yang harus lebih diperkuat lagi. Sang ayah berkata, “saya tidak yakin James bisa berubah.”

Belakangan kami mengerti bahwa sebenarnya yang membuat James tidak bisa berubah adalah keyakinan orangtuanya. Kami berupaya memberikan fakta bahwa James sudah mulai belajar sendiri setengah jam atas kemauannya sendiri, sudah mau mengurangi frekwensi bertengkarnya dengan teman di sekolah, sudah mulai mau menahan diri tidak marah-marah; tapi ayahnya terus saja mengulang-ngulang kenakalan-kenakalan James, seperti ketika James berteriak-teriak di mal, menjambak rambut adiknya, membantah perkataan orangtuanya. Lalu kami berkata, “James selalu mengerjakan PR-nya.” Sanggah ayah, “ya, itu kan karena disuruh.” Tapi James juga mau membereskan mainannya.” Sanggah ayah, “dia mana berani berantakan, nanti bisa saya hukum”. “James sudah lebih sabar menunggu gilirannya beraktivitas di kelas kami.” Lanjut kami. Sanggah ayah, “iya, cuma di sini saja dia pura-pura baik, di rumah sih enggak tuh.” Ujar sang ayah sinis seolah merasa terpojok.
“Baiklah, menurut bapak, anak yang baik itu seperti apa?” Tanya saya. Ayah itu tidak langsung menjawab, bahkan ia tampak kehilangan kata-kata sampai akhirnya ia berkata, “ya seperti anak-anak lainnya itulah, yang tidak menyusahkan orangtuanya, yang kerjanya tidak bikin sakit kepala saja. Kita kan juga sudah sibuk, ditambah musti mengurus dia, kok dia nggak bisa ngerti yang kayak beginian sih?”

Untuk James, saya merasa sedih, ia ternyata anak yang dipercaya sebagai anak yang menyusahkan dan hanya membuat pusing orangtua. Padahal kami melihat bahwa sebenarnya James pun mau dan mampu berjuang memperbaiki dirinya.
Setengah bulan setelah pembicaraan dengan sang ayah, James kembali ke pola lamanya sebagai anak pemberang, di dalam percakapannya dengan pengajar, James berkata, “papa bilang aku anak nakal kok, ya memang aku anak nakal, mau diapakan lagi!” Jawabnya ketus dengan sorot mata tajam yang marah.

Menuai apa yang anda percaya
Sebut saja Ika, anak perempuan mungil yang lucu, berusia 6 tahun. Ika adalah anak yang cerdas, namun bila beraktivitas, ia terlihat kaku. Pada aktivitas melompat, Ika menangis tidak mau melakukan lompatan, ia berkata, “aku kan nggak bisa melompat.” Ika terisak-isak. “Bisa kok!” Ujar pengajar. “Nggak bisa! Mama bilang pinggul aku terlalu besar! Aku nggak bakal bisa melompat!” Tangis Ika menjadi-jadi. Melihat bentuk pinggulnya, malah kami percaya, jika tumbuh menjadi seorang gadis nantinya, Ika akan memiliki bentuk tubuh yang indah. Namun tidak etis jika mengatakan bahwa kata-kata mama Ika tentang dirinya itu salah. Akhirnya setelah tangis Ika mereda, pengajar membimbing lembut tangannya untuk melompat. Ika pun berhasil melompat, ia sendiri terkejut melihat dirinya bisa melompat. Kemudian ia melompat-lompat sendiri tanpa disuruh.
Apa yang anda percaya bagi putra-putri anda akan anda tuai hasilnya. Ada ibu yang tidak menyerah dengan anaknya yang autis, akhirnya anaknya bisa bersosialisasi dengan orang-orang normal. Ada ibu yang percaya bahwa anaknya pasti jadi orang berhasil walaupun lingkungannya tidak mendukungnya, nyatanya, anaknya benar-benar jadi orang berhasil.
Janganlah anggap remeh tentang apa yang anda percayai bagi putra-putri anda. Percayalah hal yang baik! Maka hal baik pulalah yang akan anda tuai.

Yacinta Senduk SE, SH, MBA, LLM
FB fanpage: Yacinta Senduk
Blogs:
www.yacintasenduk.blogspot.com
www.yacintasenduk.wordpress.com
Follow twitter: @YacintaSenduk
Add Yemayo-AEC BB Pin: 2736346A untuk twitter keluarga harian
Bunda BELANJA atau PASANG IKLAN GRATIS:
http://www.bundabijakpandai.blogspot.com

October 18, 2011

Renungan: Pesan dan peringatan TUHAN akhir zaman

Filed under: Renungan - Administrator @ 11:51 pm

Pesan & peringatan TUHAN akhir zaman !!

Ada seorang anak kecil kelas 4 SD yang selalu mengucap syukur dalam keadaan apapun. Ia tinggal di suatu desa Milaor, Camarines Sur,di Negara Filipina. Setiap hari untuk sampai ke sekolahnya ia harus berjalan kaki melintasi daerah yang tanahnya berbatu dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang. Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, Andoy selalu mampir sebentar ke Gereja untuk berdoa. Tindakannya ini diamati oleh Pdt. Agaton. Karena merasa terharu dengan sikap Andoy yang lugu dan beriman tersebut. Suatu hari ketika Andoy hendak masuk ke Gereja Pdt. Agaton menyapanya.

Bpk. Pdt : “Selamat pagi Andoy, apa kabarmu? Apakah kamu akan ke sekolah?”
Andoy : “Ya, Bapa Pendeta!” balas Andoy sambil tersenyum.
Bpk.Pdt : “Mulai sekarang saya akan membantu dan menemani kamu menyeberangi jalan raya tersebut setiap kali kamu akan menyeberang.
Andoy : Terima kasih, Bapa Pendeta.”
Bpk. Pdt : “sekarang apa yang akan kamu lakukan?”
Andoy : “Aku hanya ingin menyapa Tuhan Yesus… sahabatku.”

Lalu Pendeta itu segera meninggalkan Andoy untuk melewatkan waktunya bersama Tuhan, tapi kemudian Pdt. Agaton bersembunyi dibalik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andoy.
Andoy mulai berbicara kepada Sahabatnya

Andoy : “Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun teman2ku yang lain melakukannya. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini.Terima kasih buat kue ini Tuhan!. aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku nggak begitu lapar. Lihat, ini sepatuku yang terakhir..mungkin minggu depan aku harus berjalan tanpa sepatu. Engkau tahu Tuhan sepatu ini akan rusak, tapi tak mengapa..yang terpenting aku tetap dapat pergi ke sekolah.

TuhanKu kata orang-orang kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, karena itu beberapa temanku sudah berhenti sekolah. tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi.

Oh ya, Engkau tahu Ibu memukulku lagi. Sakit sekali, tetapi aku bersyukur karena masih memiliki seorang ibu. Dan rasa sakit ini pasti akan hilang. Lihatlah lukaku ini Tuhan ??? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, disini bekas lukanya (Andoy memegang bekas lukanya) Tolong jangan marahi Ibuku ya..??? memang dia sedang lelah dan kuatir memikirkan kebutuhan makanan juga biaya sekolahku .. Itulah mengapa dia memukulku.

Oh ya..Tuhan. aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik dikelasku, menurutMu apakah dia akan menyukaiku?

Ah..bagaimanapun juga aku tahu bahwa Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak perlu menjadi siapapun untuk menyenangkan hatiMu. Engkau adalah sahabatku.

Hei.. Tuhan temanku, ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja aku punya hadiah untukMu. tapi ini kejutan dan Aku harap Engkau menyukainya.Ooops aku harus pergi sekarang. Selamat siang”

Kemudian Andoy segera berlari keluar dan memanggil Pendeta Agaton.

Andoy : “Pak Pendeta..pa Pendeta..aku sudah selesai berbicara dengan Sahabatku, Tuhan Yesus, skarang anda bisa menemaniku menyeberang jalan!

Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andoy tidak pernah absen sekalipun.

Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat iman dan kepercayaan yang murni kepada Allah dan bersyukur saat situasi yang sulit terjadi seperti yang dimiliki Andoy.

Saat hari Natal tiba, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Pengelolaan Gereja diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum, mereka selalu menyalahkan segala sesuatu yang diperbuat orang lain.

Hari itu tgl. 25 Desember ketika 4 wanita tua tadi sedang berada di gereja tiba-tiba masuklah Andoy dan hendak menyapa Sahabatnya.

Andoy: “Halo Tuhan..Aku …’
4 Wanita : “Kurang ajar kamu bocah Apakah matamu tidak melihat kami sedang berdoa ?? Keluar.

Andoy begitu terkejut, karena tidak pernah ia diusir oleh Pdt.Agaton.

Andoy: “Dimana Bapa Pendeta? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya.. dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Sahabatku, hari ini adalah hari ulang tahunNya, aku punya hadiah untukNya .”

Ketika Andoy hendak mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerah bajunya dan mendorongnya keluar. Andoy sedih, bigung dan setelah berpikir sebentar ia tidak mempunyai pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya tersebut.

Di situ ada sebuah tikungan yang tidak terlihat pandangan, sebuah bus melaju dengan kencang dan Andoy mulai menyeberang sambil melindungi hadiah tadi di dalam bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tadi. Tiba-tiba brakkk … (terdengar bunyi gaduh dan bus tadi berhenti mendadak) Apa yang terjadi? ternyata karena tidak bisa menghindari bus besar tadi Andoy tertabrak dan tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh Andoy yang sudah tak bernyawa.

Sedih…Saat itu entah darimana munculnya tiba-tiba datang seorang pria berjubah putih dengan wajah yang lembut namun penuh dengan air mata, ia memeluk tubuh Andoy dan menangis.

Orang-orangpun heran, mereka penasaran lalu bertanya;

Orang-orang : ” Maaf Tuan, apakah anda keluarga bocah malang ini ? Apakah anda mengenalnya ?”

Dengan hati yang berduka ia segera berdiri dan berkata : “Anak ini namanya Andoy, Dia adalah sahabatku.”

Lalu diambilnya bungkusan hadiah dari dalam baju Andoy dan menaruh didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh Andoy. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran…

Malam itu, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andoy. Ketika Pdt. Agaton bertemu dengan orangtua Andoy ia bertanya; “Bagaimana anda mengetahui putera anda meninggal ?” Ibu Andoy menjawab sambil menghapus airmatanya: “Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.” Pdt. Agaton bertanya lagi: “Apa katanya ?”

“Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sedih, sepertinya Dia mengenal Andoy dengan baik. Tetapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia membelai rambut Andoy dan mencium keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu” Jawab ayah Andoy.

Pdt.Agaton ; “Apa yang dikatakannya ?”

Ayah Andoy menjawab; ” Dia berkata Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu.engkau akan bersamaku.” Dan sang Ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian. semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis karena bahagia .. aku tidak dapat menjelaskannya, ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi Pak Pendeta tolonglah katakan siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? anda pasti mengenalnya karena anda selalu berada disana setiap hari, kecuali hari ini saat puteraku meninggal¡¨

Tiba-tiba air mata Pendeta Agaton menetes dipipinya, dengan lutut gemetar Pdt. Agaton berbisik, “Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa.. kecuali dengan Tuhan Yesus.”

Tahukah anda dimana Andoy berada sekarang? Ya ia berada di sorga bersama Tuhan Yesus. Inginkah kita sekalian juga … berada di sorga nanti ? Ya kita semua menginginkannya.

Andoy memiliki hati yang selalu bersyukur. Walaupun situasi hidup yang dialaminya sulit tetapi ia selalu bergembira karena ia tahu Tuhan Yesus sahabatnya selalu mengasihi dia. Melalui peristiwa tabrakan tadi Tuhan Yesus datang menjemputnya ke sorga. —

September 21, 2011

Renungan: Berpikir Bijaksana

Filed under: Renungan - Administrator @ 11:39 pm

Yakobus 1:5
Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.

Seorang pemburu pergi ke hutan membawa busur dan tombak. Di balik pohon dia menunggu sasarannya sambil berkhayal pulang membawa seekor rusa. Tak lama menunggu, seekor kelelawar besar yang kesiangan hinggap di pohon di depan si pemburu, namun ia mengabaikannya. Tidak lama, seekor babi lewat dan berhenti di sampingnya. Pemburu itu menggerutu berharap babi itu segera pergi.

Setelah agak lama pemburu menunggu, tiba-tiba terdengar langkah kaki binatang. Ia mulai siaga, tapi ternyata… hanya seekor kijang. Iapun membiarkannya lewat. Baru setelah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tapi sang pemburu sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, "Rusa!" sehingga rusapun kaget dan lari sebelum ia menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Banyak orang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh yang diinginkannya. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu berharga. Tidak jarang orang-orang seperti itu akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa logika yang sehat. Tapi ingatlah bahwa Tuhan mengajarkan kita setia pada perkara-perkara kecil lebih dulu sebelum dipercayakan perkara yang besar. Dengan penuh hikmat, marilah kita belajar berpikir bijak sebelum mengambil keputusan.

Orang bijak dapat melihat sesuatu yang berharga dalam setiap kesempatan yang ada.

Renungan: Berpikir Bijaksana

Filed under: Renungan - Administrator @ 11:37 pm

Yakobus 1:5
Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.

Seorang pemburu pergi ke hutan membawa busur dan tombak. Di balik pohon dia menunggu sasarannya sambil berkhayal pulang membawa seekor rusa. Tak lama menunggu, seekor kelelawar besar yang kesiangan hinggap di pohon di depan si pemburu, namun ia mengabaikannya. Tidak lama, seekor babi lewat dan berhenti di sampingnya. Pemburu itu menggerutu berharap babi itu segera pergi.

Setelah agak lama pemburu menunggu, tiba-tiba terdengar langkah kaki binatang. Ia mulai siaga, tapi ternyata… hanya seekor kijang. Iapun membiarkannya lewat. Baru setelah sore, rusa yang ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tapi sang pemburu sedang tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia berteriak, "Rusa!" sehingga rusapun kaget dan lari sebelum ia menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.

Banyak orang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh yang diinginkannya. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia memperoleh sesuatu berharga. Tidak jarang orang-orang seperti itu akhirnya tidak mendapatkan apa-apa.

Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa logika yang sehat. Tapi ingatlah bahwa Tuhan mengajarkan kita setia pada perkara-perkara kecil lebih dulu sebelum dipercayakan perkara yang besar. Dengan penuh hikmat, marilah kita belajar berpikir bijak sebelum mengambil keputusan.

Orang bijak dapat melihat sesuatu yang berharga dalam setiap kesempatan yang ada.

September 20, 2011

Renungan: Engkaukah Sahabat Sejati?

Filed under: Renungan - Administrator @ 1:34 pm

Amsal 18:24
Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada seorang saudara.

Sahabat sejati adalah aset yang sangat baik, tapi apakah anda memilikinya? Mari kita gali lagi arti menjadi sahabat baik itu.

Seorang sahabat yang baik selalu menjagai kita. Dengan memiliki seorang sahabat, kita bisa mengajaknya mendiskusikan hal-hal tertentu yang membutuhkan pemikiran mendalam. Masukan dan pemikiran sahabat dapat memperluas wawasan sehingga menolong saat pengambilan keputusan bisa akurat. Karenanya, orang yang kita ‘incar’ untuk menjadi sahabat seharusnya adalah seorang yang memiliki kualitas hidup tertentu.

Janganlah tergoda untuk bersahabat dengan orang-orang yang punya pengalaman hidup serupa dengan kita (apalagi jika pengalaman hidup yang negatif karena biasanya kita akan lansung merasa senasib). Jika untuk berteman saja kita melakukan seleksi, apalagi jika ingin membangun persahabatan! Pilihlah sahabat-sahabat anda. Hanya mereka yang memiliki hidup teruji yang dapat menjaga kehidupan sahabatnya.

Seorang sahabat yang baik adalah mereka yang dengan tulus ikut bersukacita saat kita sedang diberkati. Ia tidak akan pernah memanipulasi hubungan demi kepentingannya sendiri. Kecenderungannya bahkan rela mengorbankan diri demi kepentingan sahabatnya. Itu sebabnya ketulusan, keterbukaan, dan kemampuan untuk berempati harus dimiliki setiap orang yang ingin membangun sebuah persahabatan yang langgeng.

Jangan hanya sekedar memiliki sahabat, tapi temukanlah sahabat yang memiliki kualitas hidup yang teruji.

September 16, 2011

Renungan: di Tangan Sang Tukang Periuk

Filed under: Renungan - Administrator @ 12:55 am

Yeremia 18:4
Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.

Momen apa yang paling menggelisahkan bagi seorang pendaki gunung? Kehilangan tujuan. Mungkin dia memeriksa peta atau kompasnya baik-baik, tapi mulai bertanya-tanya, "Aneh, rute sudah benar, tapi tujuan tidak juga kelihatan. Keadaan medan malah lebih sukar dari yang diperkirakan… atau sama sekali tidak seperti yang anda bayangkan."

Di Yeremia 18:1-6, Allah menyuruh Yeremia, "Pergilah dengan segera ke rumah seorang penjunan." Seorang penjunan memulai pekerjaannya dengan meraup tanah liat. Tanah liat yang biasa diinjak-injak, dia bawa dan dicuci. Lalu tiba saat sang penjunan mulai melakukan sesuatu. Tanah liat itu ditaruh di atas pelarikan. Dibanting… dipotong… ditekan… dipadatkan… terus… dan terus…

Seperti halnya dalam hidup kita, tiba-tiba kita merasa seperti tersudut dan terpojokkan. Seperti sang pendaki gunung, kita kehilangan motivasi dan tujuan. Alkitab menceritakan peragaan itu kepada Yeremia dengan indah. Tentang kesetiaan Sang Penjunan. Ketekunan-Nya, bahwa Dia terus dan terus mengerjakan kembali tanah liat itu sampai menjadi bejana yang layak. Saat kita berontak dan bentuk kita menjadi buruk, tangan Allah yang sabar tidak pernah berhenti. Lewat semua detail perkara dalam hidup kita, Dia masih memegang kendali dan mengerjakan segala sesuatu dalam rencana-Nya untuk kebaikan kita. Kasih-Nya terlalu besar sehingga Ia terus menerus membentuk kita dengan tangan-Nya sendiri.

Dengan kasih dan anugerah-Nya Ia membentuk anda, menjadi bejana yang indah dan bisa dinikmati oleh banyak orang.

September 14, 2011

Renungan: Belajarlah Dari Burung

Filed under: Renungan - Administrator @ 12:22 pm

Amsal 12:27
Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga.

Tuhan menjanjikan kepada kita semua pemeliharaan-Nya, burung-burung saja dipelihara apalagi kita yang diciptakan serupa gambar-Nya (Matius 6:26). Tapi itu tidak berarti kita tidak perlu bekerja keras dalam hidup dan mengandalkan berkat Tuhan secara ajaib semata.

Burung-burung memang tidak menabur dan menuai, namun mereka bekerja keras sepanjang hari. Tidak percaya? Berikut sebuah penelitian terhadap aktivitas kehidupan burung-burung:

- Burung Murai, bangun pukul 02.30 pagi kemudian mencari makanan hingga pukul 21.30 (total 19 jam), bolak-balik ke sarang sekitar 200 kali sehari memberi makan kepada anak-anaknya.
– Burung Tikus, bangun pukul 03.00 pagi dan bekerja hingga pukul 21.00 (18 jam). Mereka bisa mengumpulkan 400 ekor ulat sehari.
– Burung Hitam, bangun pukul 04.00 pagi dan bekerja hingga pukul 21.00 (17 jam). Bolak-balik ke sarang 100 kali sehari untuk memberi makan anak-anaknya.

Berapa banyak waktu kita bekerja sehari? Apa yang anda tabur, itulah yang dituai. Kita tidak bisa berpangku tangan dan berdoa minta Tuhan menurunkan berkat-Nya dari surga secara ajaib. Ada bagian yang harus kita lakukan dan Tuhan akan melakukan bagian-Nya. Belajarlah dari semangat dan keuletan dari burung-burung.

Diam dan tidak melakukan apa-apa hanya mendatangkan kesia-siaan. Berusahalah, maka berkat akan mengikuti anda.

September 10, 2011

Renungan: Sejauh Mana Kita Mengasihi Sesama?

Filed under: Renungan - Administrator @ 12:25 am

Renungan: Sejauh Mana Kita Mengasihi Sesama?

Markus 12:31
Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.

Seorang guru besar mengajar di tiga universitas terkenal di negaranya. Kita pasti yakin bahwa ia adalah seorang yang pandai, terhormat dan memiliki penghasilan tinggi sebagai hasil dari kedudukannya. Tapi yang mengagetkan, dia meninggalkan semua kehormatan dan profesinya untuk mengabdikan diri pada pelayanan sosial. Dia mengurus seorang muda yang cacat, mulai dari menyuapi, memandikan, sampai membuang kotorannya. Ketika ditanya oleh seseorang: “Mengapa Bapak melakukan semua ini, hanya demi seorang cacat?” Guru besar ini melontarkan jawaban yang mengharukan: “Bagi saya, walaupun dia cacat, dia seorang yang sangat berharga di hadapan Allah, maka layak bagi saya memberikan waktu saya untuk mendampinginya. Dia sangat berharga bagi saya.”

Sanggupkah kita menyampaikan kalimat yang sama seperti guru besar tersebut? dia memandang seorang yang cacat sebagai pribadi yang berharga, sama seperti Allah memandangnya. Atau kita hanya mau mengasihi, menghargai orang yang sehat, pandai dan kaya? Hukum kedua yang Tuhan Yesus ajarkan adalah mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri. Sudahkah hati kita tersentuh melihat yang kekurangan, tangan kita terulur memberi bantuan dengan penuh kasih, apapun kondisi mereka? Sudahkah mulut kita berdoa bagi sesama yang sedang mengalami musibah?
KASIH jangan hanya disimpan dalam kotak hati kita, tetapi bukalah kotak tersebut dan bagikan bagi mereka yang membutuhkannya.



Renungan: Ujian Air Panas

Yakobus 1:2-3
Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.

Ketika kemalangan datang menenggelamkan hidup, apa reaksi anda? Mungkin anda pernah mendengar ilustrasi berikut: kentang, telur, dan bubuk kopi baru saja mengalami kemalangan yang sama. Yaitu, sama-sama dimasukkan dalam air mendidih. Yang berbeda adalah reaksi mereka masing-masing. Kentang mula-mula keras, kuat dan tidak mau tunduk, tapi setelah melewati waktu yang cukup lama, ia menjadi lunak dan lemah. Telur yang awalnya mudah pecah dan rapuh, akhirnya ia menjadi keras dan padat. Lain halnya dengan bubuk kopi, semula ia tidak menarik, tapi ketika ia dimasukkan ke air panas, ia justru mampu mengubah air panas sekelilingnya menjadi kopi yang harum dan memikat.

Masuk ke kelompok mana anda dalam ilustrasi tersebut? Apa persoalan anda hari ini? Pengkhianatan, sakit penyakit, kegagalan. Selamat! Itu berarti anda masuk dalam panasnya air mendidih. Seperti ilustrasi di atas, hasil akhir ada di tangan anda, karena hal itu bergantung pada cara anda bereaksi terhadap masalah dan penyelesaiannya. Maju dan keluar sebagai pemenang atau mundur sebagai pecundang. Firman Tuhan dalam Yakobus 1:12 menegaskan orang yang bertahan dalam pencobaan akan menerima upahnya. Dan semua ujian itu akan menghasilkan ketekunan.

Respon positif dalam menghadapi masalah dapat menjadikan anda lebih dari seorang pemenang.

Posted in Renungan | Leave a comment | Edit

Renungan: Aku Lemah Tapi Dia Kuatkan

1 Korintus 10:12
Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh.

Adalah fakta bahwa setiap manusia memiliki kelemahan-kelemahan, apakah kita menyadarinya atau tidak. Tapi seringkali kita tidak mau tahu kalau kita lemah. Kita menganggap diri kita kuat dan berkata: “Aku sanggup melakukannya sendiri, aku tidak perlu siapa-siapa!” Kita sombong dan mengandalkan kekuatan kita untuk melewati pencobaan-pencobaan, akibatnya kita seringkali stres dan jatuh, jatuh dan jatuh lagi untuk masalah yang sama.

Tuhan terkadang mengijinkan kita untuk diuji di tempat-tempat di mana kita lemah. Bukan karena Ia ingin kita jatuh dalam dosa, tetapi karena Ia ingin kita menyadari kebutuhan rohani kita dan datang kepada-Nya minta pertolongan. Kalau kita mengalami situasi seperti itu, ingatlah suatu kebenaran dalam I Korintus 10:13, “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

Akuilah kelemahan-kelemahan kita dan bergantunglah kepada-Nya. Andalkan Dia untuk setiap masalah kita karena Ia akan memberikan jalan keluar, sehingga bersama Dia kita menjadi pemenang, bahkan lebih dari pemenang. Ingatlah bahwa pencobaan adalah alat yang dipakai Tuhan untuk membuat kita menyadari akan kelemahan kita sehingga kita terus bergantung dan mengandalkan Dia.

Tuhan memberikan kekuatan di saat masalah menghampiri hidupmu.



Renungan: Be Your Self

Titus 2:7a
Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.

Hidup adalah seperti sebuah koin. Anda dapat menggunakan hidup anda menurut cara apa pun yang anda inginkan; Tetapi, anda hanya dapat menggunakannya satu kali. Hidup adalah seperti uap yang sebentar kelihatan lalu lenyap.

Beberapa hari sebelum meninggal dunia, George Bernard Shaw diwawancarai oleh seorang reporter. Reporter itu bertanya, “Tuan Shaw, dalam hidupmu kau telah berjumpa dengan beberapa orang terkenal di dunia. Kau telah bersahabat dengan para raja, penulis kenamaan, seniman, dan guru. Seandainya kau dapat hidup kembali dan kau dapat memilih sosok seorang terkenal yang kau kenal atau sosok seorang pribadi dalam sejarah, siapakah yang akan kau pilih?”

George Bernard Shaw menjawab dengan mantap,”Aku akan memilih menjadi George Bernard Shaw dengan segala keinginanku yang belum tercapai.”

Bagaimana sikapmu jika diberi kebebasan untuk menjadi tokoh terkenal? Seorang pengusaha besar, bintang film, olahragawan, atau politisi besar?

Jangan pernah berpikir untuk menjadi orang lain. Bertekadlah menjadi diri anda sendiri, dengan menggunakan secara maksimal semua potensi diri anda.



Renungan: Pemeriksaan Rohani?

Mazmur 26:2
Ujilah aku, ya Tuhan, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku.

Jika boleh memilih, kemungkinan besar anda akan merasa berat jika disarankan ke dokter untuk menjalani pemeriksaan fisik. Anda cenderung menganggap bahwa semuanya baik-baik saja dan tidak mau merepotkan dokter anda tentang itu. Namun, karena saran dokter, seringkali anda tidak punya pilihan lain. Anda harus menjalani pemeriksaan kesehatan secara teratur.

Jika boleh memilih, kebanyakan dari kita juga takut dengan pemeriksaan kesehatan rohani. Lagi pula, jika memeriksa roh kita dengan sangat cermat, kita mungkin perlu mengubah satu atau dua kebiasaan. Kita mungkin membutuhkan semacam ‘pemotongan perilaku’.

Saya menyarankan agar kita mengatasi keengganan. Dengan tuntunan Allah, marilah kita menjalani pemeriksaan kesehatan rohani. Pakailah Amsal 4:20-27 sebagai daftar pemeriksaan.

1 Telinga: Apakah kita mendengar firman Allah dengan jelas dan memahaminya? Apakah kita menjalankan apa yang dikatakan di dalamnya?

2 Mata: Apakah kita senantiasa memperhatikan ajaran yang akan menuntun kita menuju kebenaran?

3 Hati: Apakah kita menjaga hati dari yang jahat?

4 Lidah: Apakah mulut kita jujur dan murni?

5 Kaki: Apakah kita sedang berjalan lurus menuju kebenaran Allah tanpa ragu?

Bagaimanakah hasil pemeriksaan rohani Anda? Apakah dari pemeriksaan itu Anda melihat ada bagian-bagian yang perlu dibenahi? Pemeriksaan rohani yang teratur akan membantu memulihkan vitalitas rohani Anda.

PEMERIKSAAN KESEHATAN ROHANI MERUPAKAN KUNCI MENUJU KESEHATAN ROHANI

1 Amsal 4:20 – Hai anakku, perhatikanlah perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku;
2 Amsal 4:21,25 – janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu. Biarlah matamu memandang terus ke depan dan tatapan matamu tetap ke muka.
3 Amsal 4:23 – Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
4 Amsal 4:24 – Buanglah mulut serong dari padamu dan jauhkanlah bibir yang dolak-dalik dari padamu.
5 Amsal 4:26 – Tempuhlah jalan yang rata dan hendaklah tetap segala jalanmu.

Posted in Artikel, Renungan | Leave a comment | Edit

Renungan: Maukah Engkau Menjadi Anak-KU?

Yohanes 1:12-13
Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

Kita semua diperhadapkan dengan sebuah keputusan yang harus dibuat dalam hidup ini. Apakah kita menerima pemberian Putra Allah yang Tunggal itu atau menolak Dia? Ini adalah pilihan kita. Bapa tidak menginginkan satu orang pun yang menolak pemberian yang sangat berharga ini, namun Ia juga tidak akan pernah melanggar kehendak bebas kita untuk memilih. Ia menawarkan kepada setiap kita ekspresi yang tertinggi dari kasih-Nya yaitu melalui pemberian Putra-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Pemberian ini diberikan dengan cuma-cuma dan juga harus diterima dengan sukarela.

Kitalah yang harus membuat keputusan ini. Allah Bapa telah melakukan semua yang dapat Ia lakukan untuk menyingkirkan semua penghalang yang akan menghalangi kita untuk kembali pada-Nya. Yesus memastikan hal itu dengan cara menanggung atas diri-Nya sendiri seluruh beban dan hukuman dosa kita ketika Ia mati di kayu salib di Kalvari. Sekarang tidak ada lagi yang dapat menghalangi kita untuk menjadi anak Allah; kecuali satu hal yaitu pilihan kita sendiri.

Jadi, pastikan hari ini Saudara mengambil pilihan yang tepat, yakni menerima anugerah Bapa dengan percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah dan menerima Dia dalam hidup Saudara. Jika Saudara belum pernah berdoa untuk dapat dilahirkan ke dalam keluarga Allah yang luar biasa; doa berikut ini dapat menolong Saudara untuk mengekspresikan dengan kata-kata seruan hatimu untuk dikasihi dan diterima seutuhnya dan tanpa syarat oleh Allah Bapa & Putra-Nya Yesus Kristus.

Doa: Bapa, saya mau menjadi anak-Mu! Saya berterimakasih karena Engkau telah mengutus Putra-Mu Yesus untuk menggantikanku di kayu salib & menanggung dosaku, sehingga saya bisa pulang ke rumah kepada kasih-Mu. Aku percaya bahwa Yesus Kristus mati bagiku dan aku dengan sukacita menerima-Nya sebagai Tuhan & Juruselamatku. Terima kasih Yesus untuk ketaatan-Mu kepada kehendak Bapa-Mu, dengan cara mati di kayu salib bagiku. Aku berterima kasih karena Engkau telah menanggung dosaku. Aku berbalik dari cara hidupku sendiri & menerima kehidupan-Mu sebagai hidupku. Datanglah ke dalam hatiku Tuhan Yesus, hari ini. Amin.

August 28, 2011

Renungan: Adakah Waktu untuk Tuhan? Indahnya Kebersamaan

Filed under: Renungan - Administrator @ 11:49 pm

Indahnya Kebersamaan
Yeremia 33:3
Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui.

Ada seorang anak perempuan yang tinggal bersama ayahnya. Ibu dari anak perempuan ini telah meninggal. Keluarga ini adalah keluarga yang bahagia, di mana ayah dan anak perempuannya ini selalu bertukar cerita sebelum berangkat ke sekolah dan tempat kerja mereka masing-masing. Hal itu mereka lakukan terus setiap hari. Sepulangnya dari aktivitas mereka masing-masing, mereka pun sering bercerita di meja makan tentang apa yang mereka alami selama satu hari itu. Kebiasaan ini telah berlangsung cukup lama.

Tiba-tiba pada suatu hari, selesai makan malam, anak perempuan ini tidak bercerita kepada ayahnya dan langsung masuk ke dalam kamar. Ayahnya kaget dan berpikir mungkin anakku terlalu capek. Keesokan harinya hal yang sama terulang kembali sehingga ketika ayahnya mempunyai sebuah cerita, ia tidak dapat menyampaikan hal itu kepada anaknya. Dan hal itu pun berlangsung sebulan lamanya.

Akhirnya tiba pada hari ulang tahun sang ayah. Anak perempuan ini memberikan sebuah bungkusan kepada ayahnya dan berkata, "Ayah, sweater ini aku buatkan khusus untuk ayah. Selama satu bulan ini aku langsung masuk ke kamar untuk membuatkan sweater ini untuk ayah. Selamat ulang tahun ayah".

Sang ayah pun menangis dan menjawab dengan sedih, "Anakku, kenapa engkau melakukan ini semua. Justru yang ayah butuhkan adalah saat di mana ayah bisa berbagi cerita denganmu. Bukannya ayah berkata ini tidak penting, tetapi saat yang indah di mana kita bisa berbagi adalah saat yang paling indah".

Lalu anak perempuan itu berkata, "Maafkan aku ayah. Selama ini aku kira dengan semuanya ini aku dapat menyenangkan hati ayah".

Hubungan ayah dan anak perempuannya ini kembali pulih dan mereka dapat kembali berbagi cerita di meja makan.

Seringkali kita terlalu sibuk dengan aktivitas kita sehingga kita sering melupakan untuk melakukan saat teduh dan berdiam diri sejenak di hadapan Tuhan, juga mendengarkan apa yang ingin Tuhan katakan dalam hidup kita.

August 27, 2011

Renungan: Pesan Untuk Ayah masa kini!

Filed under: Renungan - Administrator @ 2:24 pm

Renungan: Pesan Untuk Ayah masa kini!

Efesus 6:4
Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

Seorang pria, manager akunting sebuah perusahan, selama berhari-hari menghadapi masalah yang tak tuntas. Pembukuan perusahaan tidak balance. Ia sudah mencari kesalahan di segala sektor. Kepalanya pusing sekali karena beberapa hari lagi akan ada audit yang memeriksa pekerjaannya. Sore itu sang isteri mampir di kantor menitipkan anak mereka yang berusia 6 tahun untuk diantar les kumon sorenya. Pukul 5 petang, pak satpam melihat manager ini keluar kantor menggandeng puteri manisnya. Mereka naik kendaraan umum.

Pak Manager memang mengantar puterinya les kumon, dan menjemput pada waktunya. Pukul 6 tatkala mereka berdua berjalan pulang, anak buah manager ini melaporkan bahwa ada data baru yang ditemukan. Pak manager balik ke kantor, bekerja sampai pukul 10 malam, keluar sejenak untuk membeli makanan….dan pukul 23.15 sang isteri menelepon dengan nada panik, bertanya ke mana mereka ‘berdua’ pergi? “Berdua?” Pak manager lupa sama sekali di mana ia tinggalkan anaknya. Kisah ini untungnya berakhir baik-baik saja, karena anak ini tertidur di pos hansip kosong 500 meter dari kompleks kantor tersebut. Ia ditemukan pukul 3 pagi, sesudah sekelompok satpam, polisi, dan anggota keluarga melakukan pencarian.

Kita mungkin membaca cerita ini dengan komentar: “Kok bisa ya ayah melupakan anaknya seperti itu?” Tapi ada banyak ayah-ayah yang sengaja melupakan anak-anak mereka saat mengejar kepentingannya sendiri yang sering kali sangat egois. Ada yang lupa anak karena punya teman wanita baru atau judi. Ada yang demikian tertelap dalam hobby semacam sepak bola, atau olah raga yang dilakukan dengan gila-gilaan (misalnya main badminton 6 kali seminggu @ 6 jam). Ada yang mengejar uang, kerja keras, dan lain-lain. Saat mereka sibuk dengan aktifitasnya, anak-anak dilupakan.

Hubungan dengan ayah yang baik akan menghasilkan kesan yang sangat mendalam bagi anak. Ayah yang memberikan perhatian, bimbingan, nasehat, persahabatan, pertolongan, disiplin dan contoh nyata adalah ayah yang memiliki banyak pesan Surgawi untuk sang anak. Yang paling penting, seorang ayah yang mau berdoa bagi anaknya.

Ayah-ayah, jangan lupakan anakmu. Mereka butuh engkau…!

Posted in Renungan | Leave a comment

Renungan: Segera atasilah masalahmu

Adikku yang baik hatinya,

Tuhan tidak memberikan masalah
yang lebih besar daripada kemampuanmu
untuk menyelesaikannya.

Tetapi,

Menunda tindakan nyata untuk
menyelesaikan masalah
adalah perilaku yang mengijinkan
masalah itu tumbuh lebih besar
daripada kemampuanmu.

Maka,

Suka atau tidak suka,
masalah adalah perintah kepadamu untuk
segera bekerja menuju keadaan
yang kau sukai.

Segera atasilah masalahmu
saat ia masih mudah,
sebelum ia tumbuh menjadi terlalu besar
bagi kemampuanmu.

Mario Teguh

Posted in Renungan | Leave a comment

Renungan: AKU Mengenalmu

Engkau mungkin tidak mengenal-Ku, namun Aku mengetahui segala sesuatu mengenai engkau!!
Mazmur 139:1b
TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku;

Allah mengenal engkau. Bahkan sekalipun engkau tidak mengenal Dia, namun Dia mengetahui segala sesuatu mengenai engkau. Ia tahu bagaimana engkau dibentuk, mengapa engkau dibentuk, dan mengapa engkau melakukan hal-hal yang engkau lakukan. Ia telah menciptakan dan membentuk engkau dalam kasih-Nya yang luar biasa untuk tujuan-tujuan kekal-Nya. Jika seorang montir mobil dapat menjelaskan dengan detail maksud atau tujuan setiap bagian dari rakitan mesin, terlebih lagi Sang Pencipta langit dan bumi mampu menjelaskan setiap karakteristik dari anak-anak-Nya terkasih.

Ia tahu setiap benjolan, setiap memar, dan setiap kegagalan. Ia tahu setiap rasa takut, setiap perasaan tidak mampu, dan setiap mimpi-mimpi kita. Dia sangat mengenal kita, namun sekalipun demikian Dia tetap mengasihi kita tanpa syarat. Pemikiran akan keintiman yang seperti ini dengan Allah menyebabkan kebanyakan dari kita merasa takut. Bagaimana mungkin Allah yang mengetahui siapa saya sesungguhnya namun masih tetap mengasihiku? Perasaan malu-lah yang membuat Adam dan Hawa lari dari hadapan Bapa Yang Maha Tahu dan Maha Melihat. Namun Allah tidak mau kita lari menjauh dari-Nya, sebaliknya Ia mau kita lari mendekat kepada-Nya.

Bahkan sekalipun kita bersembunyi, kita tidak dapat melarikan diri dari tatapan kasih-Nya. Ya, Bapa kita mengenal kita secara intim dan Ia mengasihi kita dengan kasih yang kekal. Kasih-Nya kepada kita lebih tinggi dan lebih dalam, dan lebih luas dibanding semua kasih yang pernah kita alami dalam seluruh hidup kita. Kasih yang sering kita kenal adalah kasih yang bersyarat dan didasarkan pada performa (perbuatan) kita. Namun syukur kepada Allah, karena kasih Bapa bukanlah seperti kasih duniawi, kasih itu sifatnya ilahi dan tidak didasarkan pada kebaikan kita namun didasarkan pada kebaikan dan kasih karunia-Nya. Ya, Bapa-mu mengenal engkau, dan Ia mengasihimu dengan segenap hati.

Posted in Renungan | Leave a comment

Renungan: Kuasa Lidah

Ams 18:21
Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 48; Titus 2; Yesaya 49-50

Kitab Amsal berkata bahwa lidah dapat menentukan kehidupan atau kematian. Banyak orang yang menderita luka jiwa yang dalam karena lidah. Lidah memang salah satu anggota tubuh yang paling banyak berbuat dosa. Oleh sebab itu, kita perlu belajar menggunakan lidah kita dengan positif sehingga orang yang mendengar apa yang diucapkan oleh lidah akan beroleh kasih karunia dan kehidupan.

Di hari peringatan kemerdekaan negara kita Indonesia ini, kita juga perlu mengingat bahwa lidah kita bisa memberkati atau mengutuk. Seringkali kondisi negara dan aparat pemerintahannya yang menurut kita sudah rusak dan sangat parah membuat kita mengucapkan banyak kutukan. Mulai dari tentang ketidakadilan, korupsi, kemacetan, tindakan tidak bermoral, kemiskinan, dan lainnya. Sadarkah Anda bahwa keluhan dan kutukan Anda itu tidak akan membuat Indonesia semakin baik tapi malah semakin buruk? Lidah Anda mempunyai kuasa! Bagaimana Anda mempertanggungjawabkan perkataan Anda tentang negara dimana Tuhan telah menempatkan Anda sebagai garam dan terang di dalamnya?

Karakter dan keadaan suatu negara dibangun oleh setiap warga negaranya, bukan hanya aparat pemerintahan, tapi semua orang yang tinggal di negara itu, ya, dan itu artinya termasuk Anda! Mungkin Anda akan berkata, “Tapi apa artinya kalau hanya 1 orang yang berbuat benar sementara yang lain berbuat tidak benar?” Anda tidak akan pernah tahu sebelum Anda melakukannya. Perubahan itu dimulai dari dalam, dari diri kita sendiri dahulu. Dari sanalah kita dapat menjadi terang dan garam yang mempengaruhi lingkungan kita, termasuk orang lain.

Tuhan tidak pernah menuntut kita harus menyelamatkan seluruh bangsa. Bahkan karya penebusanNya di salib juga tidak membuat semua penghuni bumi ini bertobat, karena dalam semua hal setiap orang mempunyai kehendak bebas. Tapi adalah tanggung jawab kita untuk melakukan apa yang benar, untuk menjadi teladan, walupun itu dimulai dari hal yang sepele seperti menjaga kebersihan. Bayangkan apa yang bisa terjadi jika dimulai dari Anda, orang-orang dalam lingkungan Anda mulai berubah, lalu lingkungan yang lebih luas lagi berubah, semakin banyak orang berubah, akhirnya dengan sendirinya karakter negara itu juga akan berubah. Siapkah Anda memberkati Indonesia dengan perkataan dan perbuatan Anda?

Berhenti mengeluh dan mengutuk, berkatilah Indonesia dengan perkataan dan perbuatan Anda.

Posted in Renungan | Leave a comment

Renungan: Tidak Tepat Waktu

Pengkotbah 3:11
Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 45; 2 Timotius 3; Yesaya 43-44

Waktu saya kuliah di London dulu, seorang dosen memberi tugas membaca novel Gabriel Garcia Marquez berjudul “A Hundred Years of Solitude” (Seratus Tahun Kesendirian). Novel ini adalah mahakarya sastra modern, tapi ketika saya membacanya, saya tidak mengerti mengapa plot yang suram (banyak kematian, perang, cinta tak sampai) dan tokoh-tokoh depresif bisa dianggap sebagai mahakarya. Saya membaca sambil minum cokelat panas di café dan waktu itu sedang musim semi. Pikiran saya penuh rencana untuk bersenang-senang. Benar-benar tidak pas membaca “Seratus Tahun Kesendirian” di hari secerah ini! Akhirnya kurang dari seperempat buku, saya menyerah. Saya pergi makan es krim dan jalan-jalan. Ini baru pas!

Saya tidak menyelesaikan membaca novel itu. Sampai lima tahun kemudian. Awal tahun lalu saya menemukan buku itu di tumpukan dan memutuskan untuk membacanya lagi. Ternyata ceritanya luar biasa menarik sehingga saya menyelesaikannya dalam waktu 1 hari. Bagaimana mungkin dulu saya tidak ingin membacanya sampai selesai, pikir saya heran. Buku yang sama, saya yang berbeda. Mau bagaimanapun berbuih-buihnya dosen saya dulu mempromosikan buku itu, saya tidak bergeming. Baru setelah 5 tahun belajar bahwa hidup bukan hanya terdiri dari musim semi, es krim, dan jalan-jalan, saya mengerti dan siap mengapresiasi mahakarya Marquez.

Sesuatu yang baik tidak banyak gunanya jika diberikan pada saat yang tidak tepat. Tuhan tahu persis hal itu. Apakah Anda sedang berdoa memohon sesuatu yang baik (kelancaran usaha, promosi, kenaikan gaji, dan lainnya) tapi Tuhan menyuruh Anda menunggu? Bersabarlah karena Tuhan tahu kapan Anda siap untuk menerima pemberianNya yang terbaik.

Tuhan memberi sesuatu yang tepat pada saat yang tepat.

Posted in Renungan | Leave a comment

Renungan: Mengapa Kita Menderita?

Mengapa Kita Menderita?

Roma 8:28
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 44; 2 Timotius 2; Yesaya 41-42

Salah satu pertanyaan klasik manusia adalah, “Mengapa manusia harus menderita?” Sekiranya bukan kita yang menderita, tentu pertanyaan ini rasanya lebih ringan, tapi jika kita yang dirundung derita, maka pertanyaan ini lebih dari sekedar diskusi filsafat.

Seorang ayah menyaksikan anaknya lahir dengan kelainan. Kakinya bengkok ke dalam, sehingga telapak kakinya tidak membentuk sudut 90 derajat. Untuk memulihkannya, dokter menyarankan agar begitu lahir, kakinya diurut dan dipaksa diputar ke posisi normal.

Ketika sang ayah melakukannya, tentu saja si bayi menangis keras-keras, karena rasa sakit yang luar biasa. Tapi tidak ada pilihan lain, karena jika tidak dilakukan dia akan tumbuh menjadi anak cacat dan pincang. Sang ayah menangis saat memaksakan tangannya melengkungkan telapak kaki si bayi, sementara dia meronta-ronta dan menangis kesakitan. Yang lebih menyakitkan adalah terapi itu dilakukan 3 kali sehari untuk waktu yang lama, sampai telapak kakinya lurus.

Kebanyakan dari kita tidak akan mengerti mengapa kesakitan begitu menusuk hidup sampai kita menggelepar-gelepar. Mungkin bukan hanya sesaat, tapi untuk waktu yang lama. Hanya Tuhan yang tahu, yang merancangkan segala sesuatu untuk kebaikan kita, menahan air mataNya, demi masa depan kita. Dia membiarkan kesakitan sementara, agar kita memperoleh sukacita abadi dan hidup yang penuh arti. Seperti sang bayi itu yang tidak mengerti, kita juga seringkali tidak mengerti bahwa kesakitan kita yang disertai air mata Bapa adalah demi kebaikan kita.

Bapa kadang merancangkan “kepedihan” kita untuk kebaikan kita.

Posted in Renungan | Leave a comment

Renungan: Perlunya Hidup Sehat

Yohanes 4:35
Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 41; 1 Timotius 5; Yesaya 35-36

Ray D. Stand, dalam bukunya “What Your Doctor Doesn’t Know About Nutritional Medicine May Be Killing You” mengatakan dokter biasanya mendiagnosa kanker pada pasien di tahap yang sudah ganas dan di tahap akhir perkembangannya. Biasanya kanker tersebut sudah menahun, sudah terlihat dalam sinar X, dan sudah terasa sekali gangguannya. Tindakan untuk mengatasinya biasanya bersifat agresif dari operasi, kemoterapi, sampai radiasi yang akhirnya hanya sedikit membantu daripada tindakan pencegahan dari awal.

Seringkali kita baru sadar akan pentingnya sehat pada saat sakit berat. Salah seorang sahabat saya harus dipotong ibu jari kakinya karena jaringan mati akibat diabetes. Karena penyakit ini pula ia harus mengandalkan istrinya untuk membacakan sms dan alkitab, padahal umurnya di bawah 40 tahun. Salah satu teman menderita stroke saat sedang bersemangat untuk pelayanan dan membangun bisnis garmennya. Orang yang sering kita sebut “Giant” (raksasa) ini akhirnya harus berjalan tertatih-tatih seperi orang tua. Anaknya masih kecil dan kegiatan pelayanannya tersendat karena halangan fisiknya saat ini.

Penyebab utama masalah teman-teman saya ini umumnya karena tidak menjaga makanan dan merasa tidak mungkin ditimpa penyakit-penyakit ini di usia muda. Kita tahu tubuh ita adalah baitnya Tuhan dan saat ini dibutuhkan orang-orang yang aktif untuk melayani sesama. Yesus berkata bahwa akhir jaman ini adalah masa penuaian jiwa-jiwa, yang membutuhkan para pekerja yang sehat. Jadi jalanilah pola hidup sehat karena dunia membutuhkan kontribusi yang lebih banyak lagi dari kita.

Kesehatan Anda adalah suatu anugrah dari Tuhan. Hargai dan peliharalah dengan penuh kesadaran.

Posted in Renungan | Leave a comment

  • Most Popular Posts
  • Other:
  • Get free blog up and running in minutes with Blogsome
    Theme designed by Janis Joseph