RenunganMay 26, 2008 2:43 am

ARTI HIDUP SEJATI MENURUT ALKITAB

 

oleh Denny Teguh Sutandio, S.S., jemaat Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Andhika, Surabaya dan proofreader di Momentum Christian Literature, Surabaya yg terbeban untuk mensharingkan Theologia Reformed Injili dari Pdt. Dr. Stephen Tong & berisi artikel-artikel : Mandat Budaya, Kegiatan Reformed Injili, Theologia Sistematika, Eksposisi Alkitab, Renungan, Analisa Kritis Terhadap Buku The Purpose Driven Life, dll


“ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”
(Kejadian 2:7)


1.1 Arti Hidup Menurut Perspektif Dunia
Dunia di mana kita hidupi hari ini sedang mengalami krisis makna hidup. Berbagai cara manusia berusaha untuk mencoba menemukan makna hidupnya, dari menyiksa diri (beraskese), sampai hidup hedonis yang melampiaskan semua kesenangan hawa nafsunya. Mereka pada intinya ingin mengerti makna hidup untuk selanjutnya makna itu bisa mereka jalani dengan baik. Oleh karena itu, marilah kita melihat sekelumit tentang definisi hidup dalam perspektif dunia kita.
1. Hidup Adalah Perjuangan
Pertama, dunia kita melihat hidup adalah suatu perjuangan. Di dalam suatu perjuangan, dibutuhkan kekuatan untuk mengerjakannya. Tidaklah heran, manusia di dunia suka berjuang meskipun banyak dari mereka tidak mengerti motivasi dan tujuan dari apa yang diperjuangkannya. Yang mereka ketahui bahwa hidup ini adalah hanya untuk berjuang, terus berjuang agar mencapai apa yang diidam-idamkan. Oleh karena itu, di dunia ini sangatlah laris promosi training motivasi dari para motivator dari sekelas Anthony Robbins sampai Andrie Wongso dengan idenya Success is My Right. Para motivator ini terus memberikan motivasi bagi para peserta seminarnya dan manusia dunia ini agar mereka yang merasa down boleh ditingkatkan kembali semangatnya, tetapi rupa-rupanya semangat ini tidak bersumber dari Allah, sehingga motivasi peningkatan semangat ini adalah untuk kepentingan diri (humanisme) dan tujuannya pun untuk kemuliaan diri (meskipun di dalam beberapa buku “rohani” sekalipun, tujuan motivasi ini untuk “kemuliaan Tuhan”). Inilah jiwa atheisme praktis di dalam diri manusia yang berakar dari humanisme ditambah semangat pantheisme dan Gerakan Zaman Baru yang diindoktrinasikan melalui berbagai training motivasi dan pengembangan pribadi. Perjuangan yang dilandasi oleh semangat ingin mencapai cita-cita dan self-centered ini tentu tidak akan menemukan makna hidup sejati dan tentunya juga makna perjuangan sejati, karena yang menjadi landasannya adalah kepentingan diri yang sebenarnya makhluk yang terbatas.

2. Hidup Adalah Kesempatan
Kedua, dunia kita yang terus mau berjuang, adalah dunia yang juga mengidentikkan hidup adalah kesempatan. Mereka menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, oleh karena itu mereka memakai setiap kesempatan yang ada untuk meraih apa yang mereka inginkan. Di sini, dunia kita mengaitkan hidup dengan waktu yang ada. Di dalam setiap waktu/kesempatan, mereka mau mengerjakan apa yang diinginkan oleh mereka, entah itu baik atau jahat menurut pandangan Alkitab, mereka tidak seberapa mempedulikannya. Bagi mereka, apa yang diinginkannya harus dicapai di dalam setiap kesempatan. Misalnya, orang yang dulunya hidup miskin ingin menjadi kaya, maka dia bukan hanya berjuang untuk meraih uang, tetapi juga menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk meraih yang dicita-citakan. Tidak heran, beberapa dari mereka sampai-sampai menggunakan kesempatan untuk meraih yang dicita-citakan dengan hal-hal yang buruk, contohnya, dengan korupsi, dll. Di sini, letak kegagalan dunia kita yang semakin jauh dari Allah, yaitu memandang setiap waktu/kesempatan adalah untuk dirinya sendiri.

3. Hidup Untuk Kerja
Ketiga, hidup adalah kesempatan direalisasikan oleh banyak manusia sekarang dengan bekerja. Bagi banyak orangtua (termasuk banyak orangtua “Kristen”), kerja adalah segala sesuatu. Manusia dapat disebut manusia ketika mereka sudah bisa berdikari sendiri atau bekerja untuk mendapatkan uang sendiri tanpa tergantung dengan orangtua. Akibatnya, sejak kecil, anak-anak sudah ditanamkan konsep bahwa hidup itu untuk bekerja, sekolah untuk bekerja, dll. Tidak heran, cukup banyak anak yang masih kecil, misalnya SD atau SMP sudah bisa bekerja, misalnya, menjadi artis, model, dll. Akhirnya, fokus hidup sudah dialihkan dari Tuhan kepada kerja. Itulah tipu daya iblis yang bekerja di abad postmodern ini dengan menyingkirkan Allah dari hidup manusia. Akibatnya, mereka yang memandang hidup adalah kerja, akan memandang setiap kesempatan hanya untuk bekerja, dan aktivitas-aktivitas yang menurut mereka “tidak penting”, misalnya bahkan pergi ke gereja, persekutuan, makan, minum, tidur, dll, adalah sesuatu yang tidak penting, sehingga mereka rela mengorbankan banyak waktu untuk bekerja. Yang paling celaka adalah seorang ayah/suami/kepala keluarga yang memiliki konsep bahwa hidup untuk bekerja pasti berdampak kepada keluarganya, di mana istri akan mengalami kekurangan perhatian dari sang suami, dan anak-anak pun mengalami kekurangan perhatian dari ayah mereka, sehingga akhirnya keluarga ini akan menjadi berantakan dan berakhir kepada perceraian. Perceraian ini bisa terjadi salah satunya karena terlalu mementingkan pekerjaan sebagai fokus hidup manusia. Akibat lainnya dari konsep ini adalah mengerjakan segala sesuatu dengan keterpaksaan. Artinya, hidup orang ini akan diikat oleh pekerjaannya, baik di kantor maupun di rumah. Sehinga, tidak heran, orang ini lama-kelamaan akan menjadi stress, depresi dan akhirnya, jika tidak kuat lagi, akan bunuh diri.

4. Hidup Adalah Uang
Keempat, orang yang sudah memfokuskan hidupnya pada bekerja, maka dapat dipastikan banyak dari mereka juga memfokuskan hidupnya pada uang. Konsep ketiga dan keempat ini sangat berkaitan erat. Seorang yang memandang hidup adalah hanya untuk uang, maka segala sesuatu diukur dari segi apakah yang dilakukannya itu dapat mendapatkan uang/profit bagi dirinya. Inilah jiwa pragmatis (utilitarian) dan materalis yang dianut oleh banyak manusia postmodern ini (bahkan di dalamnya banyak orang “Kristen”). Bagi mereka, yang penting adalah mereka mendapatkan uang sebanyak-banyaknya bahkan kalau perlu “mengorbankan orang lain”. Tidak heran, bisnis Multi Level Marketing (MLM), asuransi, dll laku keras, karena manusia sedang dikunci oleh uang/materi yang fana sifatnya. Profesi dokter pun tidak luput dari fokus hidup manusia yaitu uang. Dokter bukan bekerja untuk kepentingan pasien lagi, tetapi untuk uang. Tidak usah heran, mengapa banyak dokter tidak langsung memberikan obat kepada pasien yang sedang sakit, tetapi dokter tersebut memberikan obat secara bertahap (banyak dari mereka bukan beralasan medis), maksudnya, kalau pasien itu sudah habis meminum obat yang satu, maka mereka akan kembali lagi dan si dokter pasti mendapatkan pemasukan uang lagi melalui kedatangan si pasien tersebut. Bahkan yang lebih celaka, banyak pendidik, dosen, dll mengajar bukan karena panggilan-Nya di dalam hidup mereka, tetapi karena uang atau menimba pengalaman. Maka, jangan heran, banyak guru/dosen baik yang mengaku diri “Kristen” berani mengajari anak-anak muridnya secara tidak bertanggungjawab, misalnya ada seorang dosen “Kristen” saya secara tidak bertanggungjawab mengatakan, “science itu tidak ada hubungannya dengan religion”. Apakah pendeta juga tidak bisa demikian ? BISA. Banyak “hamba Tuhan” terutama di dalam banyak gereja-gereja kontemporer yang populer saat ini juga memfokuskan hidupnya pada uang dan profit pribadi. Jangan heran, di abad postmodern ini, yang dipentingkan bukan lagi pengertian/pengetahuan yang beres, tetapi feeling, lalu gereja-gereja pun berlomba-lomba menyediakan sarana-sarana yang dapat memenuhi feeling banyak orang “Kristen. Caranya ? Mudah, memanggil “pendeta-pendeta” yang “pintar” berkhotbah, bercerita lucu, lalu mengkhotbahkan kemakmuran (meskipun banyak dari mereka menolak bahwa gerejanya mengajarkan kemakmuran, tetapi yang lebih aneh lagi, slogan gerejanya mengandung unsur kemakmuran), dll. Zaman kita adalah zaman di mana sedang musim cho gereja (cari untung melalui gereja). Motivasinya, jelas, para “hamba Tuhan” gereja tersebut “melayani Tuhan” demi uang, agar bisa sukses, kaya, dll. Lalu, kesuksesannya untuk apa ? Jelas untuk profit pribadi, meskipun di depan mimbar selalu dipromosikan untuk “pekerjaan Tuhan”. Saya sudah terlalu banyak menemukan “hamba Tuhan” model ini dan ibu saya sendiri sudah banyak sekali mengalami hal ini dan menceritakannya kepada saya.
Adalah suatu kebodohan yang luar biasa, jika manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah bisa mau diperbudak oleh uang yang adalah benda mati. Uang yang seharusnya ditundukkan oleh manusia, malahan sekarang dibalik, lalu uang menjadi tuan yang memerintah manusia. Ini namanya pembalikan posisi, yang merupakan salah satu ciri masuknya dosa ke dalam diri manusia. Tidak heran, yang sebenarnya sangat penting, misalnya membaca Alkitab, bersekutu dengan-Nya, dll, dianggap oleh manusia dunia menjadi tidak penting, dll, dan lebih aneh lagi jika ada seorang “Kristen” berjiwa pragmatis dan relativis mengatakan bahwa itu semua tergantung pada masing-masing orang, lalu kita tidak boleh memaksa mereka. Saya mengira anggapan ini sama sekali bukan anggapan seorang “Kristen” meskipun mengaku diri “Kristen”, aktif di dalam persekutuan gereja sekalipun. Seorang yang cuek dengan orang lain sama sekali bukan ciri orang Kristen sejati.

5. Hidup itu Biasa Saja
Prinsip kelima dari definisi hidup yang dunia sedang ungkapkan yaitu hidup itu biasa saja, jadi jalani sebagaimana adanya. Inilah jiwa pragmatisme dunia kita yang muncul melalui definisi hidup yang biasa saja. Hidup yang biasa saja menandakan bahwa di dalam diri manusia sudah tidak ada lagi makna hidup sejati, sehingga hidup ini hanya dijalani tanpa arah dan tujuan yang pasti sesuai dengan firman-Nya. Tidak usah heran, ketika manusia dunia hanya mengerti hidup ini hanya biasa saja, maka mayoritas mereka menggunakan dan mengisi hidup mereka hanya untuk kepuasan diri mereka saja. Salah satu iklan rokok mengatakan, enjoy aja. Itu yang sedang dunia tawarkan bahwa yang penting itu enjoy, suka-suka bertindak apapun, yang penting happy, senang, gembira, dll. Hidup yang serba gembira ini sangat berbahaya, karena hidup yang gembira tidak mengerti sesungguhnya apa itu penderitaan, kesusahan, dll. Tidak heran, banyak orang “Kristen” yang sudah diindoktrinasi bahwa menjadi “Kristen” pasti kaya, sukses, dll, ketika ada penganiayaan datang, mereka lah yang pertama kali langsung menghujat Tuhan, karena kondisi yang serba pleasure sebenarnya tidak mengerti hidup itu sesungguhnya.

6. Hidup Adalah Penderitaan
Kalau pada poin kelima, dunia kita mengartikan hidup itu sebagai sesuatu yang biasa saja, lalu bisa bertindak seenaknya sendiri, maka pada poin keenam, sebagai kebalikannya, beberapa manusia dunia yang ekstrim mengatakan bahwa hidup itu penderitaan. Di dalam hidup itu pasti menderita, entah itu ditinggal oleh seseorang yang dikasihi yang telah meninggal, putus pacar, dll. Pokoknya, tidak ada hidup tanpa penderitaan. Inilah wajah dunia kita yang hopeless yang mencari makna hidup tetapi akhirnya kehilangan hidup itu sendiri, karena terlepas dari jalan yang Allah telah tetapkan. Itulah akibat dari menaruh pengharapan kepada dunia ciptaan yang terbatas dan berdosa ini. Tetapi, apakah kalau kita menaruh pengharapan kepada Tuhan pasti kaya dan tidak menderita ? TIDAK. Kita jangan terlalu ekstrim. KeKristenan hendaknya jangan terlalu ekstrim menekankan dua kubu, yaitu terlalu mementingkan kesuksesan hidup, yang lainnya menekankan penderitaan terus-menerus. KeKristenan harus seimbang, menyeimbangkan antara penderitaan karena nama Tuhan dengan pengharapan sesudah penderitaan yaitu hidup kekal bersama-Nya.

7. Hidup Untuk Orang Lain
Terakhir, hanya sedikit manusia bisa memiliki tujuan hidup demi orang lain. Artinya, meskipun definisi hidup yang terakhir ini masih kurang, tetapi setidaknya, defisini hidup ini masih lebih baik dari definisi hidup dari nomer satu sampai dengan 6 yang self-centered. Pada konsep terakhir ini, manusia memandang hidupnya dipersembahkan bagi orang lain. Contohnya, banyak pelukis, komposer musik, dll melakukan segala sesuatu demi orang lain, sehingga tidak heran nama-nama mereka cukup dikenal di dalam zamannya maupun zaman sesudah mereka meninggal dunia. Johan Sebastian Bach, G. F. Hendel, Leonardo da Vinci, dll adalah orang-orang yang telah bersumbangsih bagi dunia karena mereka mementingkan orang lain ketimbang diri. Mungkin saja mereka mau rugi mengorbankan waktu, tetapi yang penting orang lain mendapatkan kepuasan dari hasil kerugiannya. Tentu itu berbeda dengan semangat manusia di abad postmodern yang lebih mementingkan profit pribadi dengan mengorbankan orang lain.


1.2 Arti Hidup Menurut Perspektif “Kristen” yang Palsu
Lalu, sekarang ini, kita akan beralih kepada arti hidup menurut perspektif “Kristen” yang seolah-olah kelihatan lebih “rohani”, tetapi sebenarnya palsu. Mereka berani menggunakan istilah “Kristen” untuk menjelaskan makna hidup, padahal istilah itu hanya sekedar topeng untuk menyelimuti ide humanisme, pantheisme dan pragmatisme di dalam dirinya. Itulah yang kita lihat di dalam buku The Purpose Driven Life karya Rick Warren.
Dari judul bukunya saja, kita sudah menemukan ide yang sudah saya jelaskan tadi, yaitu istilah “Kristen” dijadikan topeng (dengan cara mengutip ribuan ayat Alkitab yang kebanyakan di luar konteks asli) untuk menyelimuti esensi sebenarnya yaitu humanisme, pantheisme, materalisme dan pragmatisme. Tentu, di dalam metode penafsiran Alkitab, Warren menggunakan tafsiran-tafsiran Alkitab yang semau gue menurut seleranya pribadi tanpa memperhatikan konteks, bahasa asli dan terjemahan-terjemahan Alkitab yang lebih tepat. Itulah metode eisegese dalam penafsiran Alkitab yang salah, tetapi laris dalam masyarakat “Kristen” (khususnya yang bertheologia Injili non-Reformed). Hal ini akan banyak disinggung dan diuraikan secara tuntas pada bab kedua makalah ini. Kembali, apakah hidup kita digerakkan tujuan ? Kalau benar demikian, sebenarnya ada tiga pertanyaan penting yang perlu dipertanyakan. Pertama, siapa yang mengarahkan tujuan itu. Kedua, apakah tujuan yang diarahkan itu ? dan ketiga, tujuan siapa yang dituju ? (atau untuk apa tujuan itu ?) Jelas, di dalam buku The Purpose Driven Life, meskipun menggunakan nama “Tuhan”, sebenarnya yang mengarahkan tujuan itu adalah diri manusia itu sendiri, tujuan itu adalah berkenaan dengan cita-cita manusia yang hebat dan mulia (tanpa Allah) lalu tujuan itu membawa kemuliaan bagi diri manusia sendiri (persis terbalik dari Roma 11:36 yang mengajarkan bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia dan untuk Dia, bagi Dia lah kemuliaan selama-lamanya).
Inilah jiwa humanisme sekuler (atau sekularisme) tetapi yang masih memperalat “Tuhan” agar kelihatan “rohani”. Inilah jiwa manusia berdosa.


1.3 Arti Hidup Sejati Menurut Alkitab
Lalu, apa kata Alkitab tentang hidup sejati ? Pada bagian awal Bab 1 ini, saya sudah mengutip Kejadian 2:7, “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Terjemahan Baru LAI) atau terjemahan Alkitab BIS memberikan pengertian yang lebih jelas, “Kemudian TUHAN Allah mengambil sedikit tanah, membentuknya menjadi seorang manusia, lalu menghembuskan napas yang memberi hidup ke dalam lubang hidungnya; maka hiduplah manusia itu.” Kata “nafas hidup” berasal dari bahasa Ibrani, nesha
̂mâh yang berarti tiupan atau hembusan atau nafas yang vital/sangat penting/berkenaan dengan hidup. Kata Ibrani ini juga dipakai di dalam Amsal 20:27 untuk kata “Roh manusia” (Terjemahan Baru LAI) atau “hati nurani manusia” (Alkitab BIS). Lalu kata “makhluk yang hidup” (TB-LAI) diterjemahkan a living soul oleh King James Version (KJV) yang berarti jiwa/makhluk yang hidup. Kata “soul” dalam KJV ini diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani nephesh yang artinya makhluk yang bernafas. Dari Kejadian 2:7 inilah, kita mendapatkan satu prinsip hidup sejati dari Alkitab, yaitu hidup sejati adalah hidup yang berpaut kepada Allah sebagai Sumber Hidup. Kalau Allah tidak menghembuskan nafas hidup-Nya ke dalam hidung manusia, maka manusia tidak dapat menjadi makhluk yang hidup. Nafas hidup-Nya itulah sumber hidup bagi hidup manusia yang mengakibatkan manusia bisa bernafas dan itulah yang disebut makhluk yang hidup. Arti hidup manusia yang sejati tidak didapat dari manusia itu sendiri yang sendiri merupakan makhluk yang dicipta, tetapi dari Allah sebagai Sang Pencipta. Ketika kita ingin mengerti apa arti hidup sejati belajarlah dan bertanyalah kepada Allah karena Ia yang menciptakan kita pasti mengetahui apa arti hidup itu, dan jangan sekali-kali bertanya kepada para psikolog, eksistensialis, dll yang sendirinya juga adalah sesama manusia. Sungguh suatu kebodohan manusia dunia ini ketika mereka yang ingin mengerti arti hidup tidak langsung bertanya kepada Sang Sumber Hidup, tetapi bertanya kepada sesama manusia yang sama-sama berdosa dan terbatas. Itulah kegagalan psikologi dan eksistensialis yang tidak kembali kepada Allah.
Tetapi tahukah kita bahwa hidup manusia yang pada awalnya telah diciptakan Allah begitu mulia sehingga manusia langsung bercakap-cakap dengan Allah ternyata dirusak oleh manusia sendiri dengan meragukan eksistensi Allah. Itulah dosa. Dosa bukan dimulai ketika Hawa memetik buah pengetahuan yang baik dan jahat yang dilarang oleh Allah, tetapi dosa dimulai ketika manusia mulai meragukan kebenaran Allah. Usaha meragukan kebenaran Allah menjadi cikal bakal iblis terus mencobai manusia dan akhirnya manusia pertama jatuh ke dalam dosa yang mengakibatkan manusia setelah Adam dan Hawa ikut mewarisi dosa asal (original sin), di samping ada dosa aktual yang dilakukan oleh masing-masing pribadi manusia. Ketika dosa masuk ke dalam manusia, hidup manusia mulai kehilangan arah. Kehilangan arah ini ditandai dengan keinginan manusia terus melawan Allah dan ini mulai nampak ketika Kain yang membenci dan menaruh dendam kepada adiknya, Habel karena persembahan Kain tidak diterima oleh Tuhan, sedangkan persembahan adiknya diterima oleh Tuhan. Lalu, dilanjutkan dengan kejadian-kejadian dan tindakan-tindakan manusia yang membuat Tuhan menyesal, sampai-sampai Tuhan mengatakan, “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.” (Kejadian 6:5-6) Tetapi yang menarik, di dalam setiap kejahatan yang manusia lakukan, Tuhan tetap menyediakan sekelompok sisa (remnant) yang masih setia kepada Tuhan. Dua ayat setelah Kejadian 6:6, yaitu pada ayat 8, Alkitab mengatakan, “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” Nuh bisa mendapatkan anugerah Tuhan, itu semata-mata karena kedaulatan-Nya saja, bukan karena kehendak Nuh yang ingin mencari Tuhan. Allah yang berdaulat adalah Ia yang berkehendak menyatakan anugerah-Nya kepada siapapun menurut kedaulatan-Nya, bukan menurut perbuatan baik manusia tersebut. Itulah Reformed theology. Nuh yang mendapatkan kasih karunia Tuhan di antara manusia-manusia berdosa di zamannya berusaha mempertanggungjawabkan anugerah-Nya itu dengan hidup beres dan menaati Tuhan dan firman-Nya. Lalu, akibat ketaatannya itu dari membangun bahtera sampai keluar dari bahtera dan mendirikan mezbah bagi Tuhan, maka Tuhan berjanji di dalam Kejadian 8:21-22, “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan. Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” Bisa saja, pada waktu itu, Nuh tidak menaati Tuhan, lalu berdalih dengan seribu macam alasan, akibatnya Nuh itu mati bersama orang-orang sezamannya. Tetapi puji Tuhan, Nuh yang kita kenal di dalam Alkitab adalah Nuh yang meresponi anugerah Allah dengan tepat dan taat mutlak kepada-Nya. Di situlah, Nuh mendapatkan makna hidup sejati, yaitu ketika ia kembali taat kepada-Nya. Banyak orang dunia hari-hari ini berpikir bahwa menjadi Kristen itu susah, karena apa saja tidak boleh, lalu mereka berpikir bahwa kalau tidak menjadi Kristen itu lebih enak. Itu adalah kesalahan besar. Saya bertanya, kalau kita hidup di zaman Nuh, apakah kita ingin menjadi seperti Nuh atau orang-orang sezamannya ? Kalau orang-orang dunia pasti memilih menjadi seperti orang-orang yang hidup di zaman Nuh yang mengejek Nuh ketika Nuh membangun bahtera, mereka berpesta pora, mabuk-mabukan, dll.
Lalu, mereka menganggap diri hebat, bebas, dan itulah hidup yang mereka cari. Tetapi benarkah demikian ? Setelah bencana air bah yang menyapu bersih orang-orang di zaman itu, kecuali Nuh, maka mereka baru sadar bahwa hidup itu hanya sementara dan hidup yang tidak kembali kepada Allah akan sia-sia adanya, tetapi Nuh meskipun dirinya dihina ketika membangun bahtera pada waktu kemarau, tetapi ia mengerti hidup itu sesungguhnya karena ia kembali taat kepada Allah. Ketaatan kepada Allah itulah kunci utama kita menemukan hidup sejati. Tetapi kesalehan seperti Nuh itu sebentar saja terjadi di dalam sejarah, selanjutnya orang-orang setelah Nuh banyak bermunculan dan mereka banyak yang jahat dan memberontak terhadap Tuhan. Oleh karena itu, Allah yang Berdaulat memilih bangsa Israel menjadi bangsa pilihan-Nya. Kepada mereka, Allah mewahyukan Taurat untuk memimpin dan mengatur perilaku mereka agar berkenan kepada-Nya. Tetapi, bagaimana faktanya, apakah mereka semua menuruti perintah Taurat ? TIDAK. Mereka memang menghafal semua yang tertulis di dalam Taurat, tetapi itu hanya menguasai bidang rasio saja, dan tidak benar-benar mengerti artinya. Itulah sebabnya, mereka semakin mengerti Taurat, bukan semakin mengerti esensi Taurat, tetapi lebih menekankan fenomena upacara sesuai Taurat. Bahkan ada yang melarang orang berjalan beberapa kilometer di hari Sabat, dll. Taurat yang sebenarnya baik malahan dibuat tidak baik oleh para ahli Taurat yang menganggap diri ahli di bidang Taurat (itulah namanya ahli Taurat, ahli di bidang Taurat, ahli pula untuk memelintir hal-hal esensi di dalam Taurat). Mereka berpikir dengan hidup berbuat baik seperti yang Taurat perintahkan, mereka akan menemukan arti hidup dan keselamatan sejati. Dari Surga, Allah tidak tinggal diam, Ia mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus untuk mengembalikan fungsi hidup sebagaimana pada waktu Ia menciptakan manusia. Kristus datang untuk menebus dosa manusia dan mengembalikan makna hidup sejati. Ketika Ia berinkarnasi dan turun menjadi manusia tanpa meninggalkan natur Ilahinya, Ia mengajarkan prinsip-prinsip penting tentang makna hidup. Mari kita menelusuri satu per satu di dalam Injil.


Pertama, hidup itu berpusat kepada firman Allah. Hal ini tercantum di dalam Matius 4:4, “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (dikutip dari Ulangan 8:3) Hidup manusia bukan sekedar makan, minum, bersenang-senang, tetapi hidup manusia itu berasal dari Allah, atau lebih tepatnya dari setiap firman Allah. Di sini, Tuhan Yesus tidak mengatakan bahwa manusia itu hidup tidak memerlukan roti sama sekali, tetapi Ia mengatakan bahwa manusia tidak hanya memerlukan roti saja untuk hidup. Kata “hanya” atau “saja” dalam ayat ini berarti kita masih membutuhkan roti atau makanan jasmani untuk menyambung hidup, tetapi poin penting atau esensinya bukan terletak pada roti atau sesuatu yang jasmaniah, tetapi firman Allah itulah yang esensi dan terpenting yang menjamin hidup kita menjadi bermakna. Dengan kata lain, firman Allah itu menjadi Sumber Hidup kita yang paling hakiki. Firman Allah menjadi penuntun, pemimpin dan pengoreksi hidup kita ketika kita ingin berbuat dosa. Firman Allah menjadi batas dan penghakim bagi kita, sehingga kita tidak keluar dari jalan-Nya, sebagaimana yang pemazmur katakan di dalam Mazmur 119:105, “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” Lalu, di dalam pasal yang sama di ayat 1-10, “Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya. Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu! Maka aku tidak akan mendapat malu, apabila aku mengamat-amati segala perintah-Mu. Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil. Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku sama sekali. Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu.” Firman-Nya itu sangat berarti bagi hidup pemazmur. Hal ini sangat berbeda total dengan banyak paradigma hidup yang dianut oleh banyak orang yang mengaku diri “Kristen” apalagi “melayani Tuhan” lalu alergi mendengar kata “Tuhan” disebutkan di luar gereja. Kalau di dalam Mazmur 119:9, pemazmur mengatakan bahwa orang muda dapat mempertahankan kelakuan yang bersih ketika firman-Nya menjaga hidup mereka, tetapi dunia kita mengajarnya secara bertolak belakang, yaitu ketika psikologi mengajar mereka tentang makna “hidup”, maka tidak heran, banyak orang muda yang belajar psikologi (tanpa belajar firman-Nya) berakhir tragis, misalnya bunuh diri, stress, dll. Ketika manusia mencoba menemukan makna hidup di luar firman-Nya, manusia tidak pernah menemukannya, karena hidup sejati pasti berpusat kepada Allah dan firman-Nya sebagai Sumber Hidup.


Kedua, hidup yang tidak kuatir. Di dalam Matius 6:25, Tuhan Yesus mengajarkan, “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Hidup manusia sudah ada di tangan-Nya, karena Ia lah yang mengaturnya, tetapi seringkali di dalam hidup, manusia seringkali kuatir akan makanan, minuman, pakaian, dll, mengapa ? Karena mereka diajar bukan kembali kepada Allah, tetapi kembali kepada dirinya sendiri sebagai pusat hidup. Ketika Allah menjadi pusat hidup manusia, maka manusia tidak perlu menguatirkan hidupnya. Perhatikan kalimat terakhir di dalam ayat 25 bahwa hidup itu lebih penting daripada makanan. Mengapa demikian ? Karena kalau kita kekurangan makanan, kita bisa mencarinya kembali, tetapi kalau kita kekurangan makna hidup, bisakah kita mencarinya di dalam dunia ini tanpa kembali kepada Allah ?! TIDAK. Itulah sebabnya mengapa Tuhan Yesus berkata bahwa kita tidak perlu kuatir. Lalu, apa solusi yang Tuhan Yesus berikan agar manusia tidak perlu lagi menguatirkan hidupnya ? Di dalam ayat 31-33, Ia mengajarkan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Anak-anak Tuhan tidak perlu kuatir, karena kalau mereka kuatir, mereka sama halnya dengan bangsa-bangsa (manusia) yang tidak mengenal Allah. Orang yang hidupnya terus kuatir sebenarnya meragukan kedaulatan dan pemeliharaan Allah di dalam hidupnya. Tetapi tidak berarti dengan menggunakan kalimat ini, lalu kita berkata bahwa kita tidak perlu bekerja, karena semuanya diberikan Tuhan. Itu anggapan yang konyol. Kita tidak perlu kuatir di dalam hidup karena kita percaya bahwa Tuhan itu memelihara hidup anak-anak-Nya dengan berkecukupan, meskipun demikian Tuhan tetap menuntut kita untuk terus bekerja (lihat ayat 34 yang sering dilupakan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”) Kalau kita tidak perlu kuatir, tidak berarti kita tidak memiliki kesusahan apapun, tetapi Kristus berkata bahwa kesusahan itu masih tetap ada, tetapi biarkanlah kesusahan itu cukup untuk sehari jangan ditambahi dengan kekuatiran yang tidak perlu. Tuhan sangat mengerti benar apa yang diperlukan manusia, sehingga Kristus memerintahkan kita untuk pertama-tama mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, baru setelah itu Ia akan menambahkan berkat-Nya. Jangan menggunakan ayat ini lalu mengajarkan bahwa percaya kepada Tuhan Yesus pasti kaya, diberkati, hidup lancar, dll. Itu bidat/sesat. Ayat 33, kata “akan ditambahkan kepadamu” itu adalah bonus atau akibat setelah kita mempercayakan diri kepada-Nya dengan mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya (mengutamakan-Nya sebagai Tuhan dan Raja dalam hidup kita). Jangan sembarangan menafsirkan Alkitab.


Ketiga, hidup manusia sejati adalah hidup seperti anak kecil (rendah hati). Matius 18:1-6 mengajarkan prinsip ini, “Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku." "Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut.” Di sini, Tuhan Yesus menggabungkan konsep “bertobat” dengan menjadi seperti anak kecil. Apa artinya ? Pada waktu itu, para murid sedang berebut kekuasaan ingin menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Surga, sehingga Kristus harus menegur mereka dan mengatakan bahwa seorang yang masuk Surga adalah seorang yang bertobat, artinya tidak lagi mementingkan hal-hal duniawi yang merupakan citra manusia lama dan segera memperbaharui hidup dengan mementingkan apa yang Tuhan inginkan. Kedua, setelah bertobat, mereka harus menjadi seperti anak kecil yang memiliki kerendahan hati. Anak kecil meskipun seringkali dihina oleh masyarakat sebagai manusia yang kurang pengalaman, tetapi dipakai oleh Kristus untuk menghina mereka yang katanya sudah berpengalaman, berpendidikan, dll, tetapi sombong dan tidak rendah hati lagi. Yang masuk ke dalam Kerajaan Surga bukan konglomerat, presiden, pembesar negara, pendeta, dll, tetapi mereka yang hidup seperti anak kecil (childlike) yang memiliki kerendahan hati (bedakan dengan childish, yaitu sifat kekanak-kanakan, sifat ini tidak disukai oleh Tuhan). Hidup seperti anak kecil (childlike) adalah hidup yang mulia. Ketika kita belajar hidup menjadi seperti anak kecil, maka kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Orang-orang yang suka menyombongkan diri sebagai “penghuni surga” lalu “bersaksi” bahwa dirinya berkali-kali naik turun “surga”, berhati-hatilah, kalau ia tidak bertobat, mungkin ia nanti pasti menjadi penghuni neraka. Tidak berarti karena kita telah berbuat baik, maka kita masuk Surga. Tolong baik-baik mengerti ayat ini. Kita bisa rendah hati, itu semua karena Roh Kudus yang menggerakkan kita untuk berbuat baik dan rendah hati. Jadi, kembali, anugerah Allah yang mendahului semua respon manusia, baru setelah anugerah ini dinyatakan, Allah pula lah yang mengaktifkan kehendak manusia untuk berbuat baik bagi kemuliaan-Nya.


Keempat, hidup manusia sejati adalah hidup kudus. Kekudusan hidup diajarkan oleh Tuhan Yesus di dalam Matius 18:8-9 yang berkaitan dengan penyesatan, “” Hidup sejati adalah hidup yang kudus. Bagi Tuhan Yesus, percuma saja “masuk ke dalam Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal. Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan bermata satu dari pada dicampakkan ke dalam api neraka dengan bermata dua.hidup” (TB-LAI) atau “hidup dengan Allah” (BIS) dengan kedua tangan/kaki yang utuh tetapi salah satu berbuat dosa, lebih baik hidup dengan Allah dengan sebelah tangan/kaki. Ayat ini jangan ditafsirkan dengan sembarangan. Saya sempat membaca ada seorang pria Katolik di Filipina setelah membaca ayat ini lalu memotong kaki dan tangannya. Ini namanya penafsiran Alkitab terlalu harafiah. Itu salah.


Kelima, hidup yang rela membayar harga demi Kristus. Di dalam Matius 19:29, Tuhan Yesus mengajarkan, “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” Orang-orang dunia pasti kesulitan membaca ayat ini, karena mereka pasti berpikir bahwa kalau kita kehilangan sesuatu, pasti kita tidak bisa hidup. Tetapi tidak demikian, Tuhan kita Yesus Kristus mengajarkan hal yang paradoks yang bertentangan dengan pola pikir kita. Kristus mengatakan bahwa justru ketika berani membayar harga demi nama Kristus, maka di saat itulah kita nantinya akan mendapatkan kemuliaan kekal dan hidup sejati (kata “hidup sejati” ditambahkan di dalam Alkitab BIS. Roma 8:18-21 sungguh menguatkan kita ketika kita di dalam bahaya penderitaan karena nama Kristus, “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.” Inilah pengharapan anak-anak Tuhan di mana mereka akan menerima mahkota kemuliaan setelah mereka menderita aniaya. Itulah paradoks. Hidup sejati adalah hidup yang rela menyangkal diri sendiri dan hidup 100% bagi Kristus. Ini tidak berarti kita harus menjadi pendeta lalu meninggalkan profesi kita. Tidak ! Hidup yang 100% bagi Kristus adalah hidup yang men-Tuhan-kan Kristus di dalam hidupnya, mungkin hidup itu terasa sulit, kita akan diejek sok suci, sok religius, dll, tetapi kita harus setia untuk tetap men-Tuhan-kan Kristus, karena di dalam Dialah ada hidup sejati (Yohanes 1:4 ; 14:6).


Keenam, hidup sejati adalah hidup yang beriman. Di dalam Yohanes 3:15-16, Tuhan Yesus bersabda, “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Alkitab BIS mengartikannya, “supaya semua orang yang percaya kepada-Nya mendapat hidup sejati dan kekal. Karena Allah begitu mengasihi manusia di dunia ini, sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan mendapat hidup sejati dan kekal.”) Sungguh menarik, kedua ayat ini. Seringkali kita mengaitkan kedua ayat ini hanya untuk mengungkapkan kasih Allah yang begitu besar kepada kita. Itu tidak salah. Tetapi ayat ini juga bisa mengajarkan tentang makna hidup yang sejati hanya ada ketika kita beriman di dalam Kristus yang berinkarnasi menebus dan menyelamatkan manusia yang berdosa. Di dalam iman itulah kita bisa menemukan hidup. Sebagaimana Roma 1:17b mengatakan, “Orang benar akan hidup oleh iman.” (TB-LAI) atau “Orang yang percaya kepada Allah sehingga hubungannya dengan Allah menjadi baik kembali, orang itu akan hidup!” (BIS) Orang dunia seringkali membalik konsep ini dan mengatakan bahwa orang hidup itu harus beriman, tetapi Alkitab dengan konsepnya yang pasti dapat dipercaya mengatakan bahwa justru ketika beriman di dalam Kristus, manusia pilihan-Nya bisa hidup. Mengapa demikian ? Karena hidup sejati adalah hidup yang terlebih dahulu beriman di dalam-Nya dengan menyerahkan seluruh keberadaan hidup kita kepada-Nya dan menjadikan-Nya sebagai Tuhan dan Raja di dalam hidup kita. Ketika kita percaya kepada sesuatu, di situ kita berani menyerahkan apapun kepada yang kita percayai. Demikian juga kita percaya di dalam-Nya, maka kita juga rela menyerahkan apapun yang ada pada diri kita untuk dikuasai oleh-Nya, karena kita percaya bahwa Allah itu adalah Allah yang Mutlak dan pasti dapat dipercayai.


Terakhir, hidup sejati adalah hidup yang berpengharapan dan menuju kepada kekekalan. Hal ini diajarkan oleh Tuhan Yesus di dalam Yohanes 10:27-28, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.”, Yohanes 11:25,26, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya.” dan Yohanes 12:25, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” Di dalam Yohanes 12:25, Alkitab BIS mengartikan dengan lebih jelas, “Orang yang mencintai hidupnya akan kehilangan hidupnya. Tetapi orang yang membenci hidupnya di dunia ini, akan memeliharanya untuk hidup sejati dan kekal.” Apakah dengan ayat ini, kita harus bersama-sama membunuh tubuh jasmani kita supaya kita bisa hidup kekal ? Lalu, apakah kita tidak boleh mencintai diri kita ? TIDAK. Kata “mencintai nyawanya” itu dari bahasa aslinya dapat diartikan mengasihani diri atau menganggap diri berguna, hebat, dll, sehingga ketika kita berlaku demikian, maka justru yang terjadi bukan kita semakin hidup, tetapi malahan kita semakin kehilangan nyawa atau makna hidup sejati kita. Sebaliknya, ketika kita membenci (tidak mencintai) nyawa kita (atau dapat diterjemahkan menyangkal diri kita—bandingkan Matius 16:24), maka yang didapat bukan kehilangan nyawa tetapi kita akan menerima dan menemukan makna hidup sejati dan kekal. Ini namanya paradoks. Dunia kita tidak akan mengerti konsep ini sampai suatu saat Roh Kudus mencerahkan pikirannya. Puji Tuhan, kita adalah salah satu dari antara mereka yang boleh mendapatkan anugerah Tuhan. Inilah indahnya menjadi orang Kristen dapat mengerti paradoks. Hidup sejati adalah hidup yang terus menuju kepada pengharapan akan kekekalan. Akibatnya, di dalam hidup ini, kita tidak perlu dipusingkan dengan hal-hal yang tidak penting, misalnya kekayaan duniawi, kedudukan yang dihormati, dll, itu semua sampah, sama seperti yang diungkapkan Paulus bahwa pengenalannya akan Kristus membuat dia rela menganggap sampah pada semua yang ia anggap kebanggaan pada masa dulunya. Beranikah kita seperti Paulus menganggap sampah semua kemegahan dan kehebatan dunia yang berdosa ini lalu kembali hidup yang berfokus kepada pengharapan akan kekekalan ? Renungkanlah.


Setelah kita merenungkan ketujuh poin makna hidup menurut ajaran Tuhan Yesus, sudahkah kita berani menentukan fokus hidup sejati yaitu kepada dan di dalam Kristus itu sendiri ? Biarlah kita mulai mengambil keputusan untuk segera men-Tuhan-kan Kristus di dalam hidup kita dan menentukan tujuan hidup kita berpijak dari firman Allah, bergantung kepada pimpinan Roh Kudus dan murni untuk memuliakan-Nya selama-lamanya. Soli Deo Gloria. Amin.

 

KotbahMay 21, 2008 7:20 am

STRATEGI PENYIAPAN

SUMBER DAYA MANUSIA

(SDM)

GEREJA GERAKAN PENTAKOSTA

KHUSUSNYA DI BIDANG PELAYAN / KEPENDETAAN

DI MASA DATANG

Oleh

Pdt. Nico Kojongian, MA

 

 

A.    PENDAHULUAN

 

Membicarakan suatu langkah atau strategi penyiapan SDM dalam GGP khususnya di bidang Pelayan tentu bukanlah persoalan yang mudah dan ringan karena garapan tema ini mempertautkan antara STTP sebagai dapur yang memproduksi SDM dan GGP sebagai lembaga pendukung dan mahasiswa sebagai sumber daya manusianya. Ketiga unsur ini sangat kait mengait satu sama lain yang tidak terpisahkan. Apakah visi dan misi GGP Indonesia dapat ditangkap dan diimplementasikan dengan baik oleh STTP sebagai institusi theology GGP atau sebaliknya apakah GGP memiliki suatu landasan visi dan misi yang jelas untuk menjalankan peran substansinya sebagai Tubuh Kristus di muka bumi ini yakni untuk bersaksi, berkarya, dan melayani. Atau mungkin GGP malah semakin tercecer jauh di belakang karena tidak mampu menyikapi tanda-tanda zaman sebagaimana disinyalir oleh                 DR. T. B Simatupang, gereja tidak dapat hidup ditengah-tengah proses pembangunan itu dengan unsur modernisasi, urbanisasi, industrialisasi dan sekularisasinya tanpa mengalami perubahan-perubahan. Gereja harus membaharui cara berpikir, cara bekerja, cara berorganisasi dan membaharui pemikiran theologinya dalam ketaatan kepada Tuhan yang tidak berubah agar gereja dapat menjadi garam dan terang ’Mat. 5 : 16 – 17’ (Iman Kristen dan Pancasila, hal 94). Lebih lanjut Simatupang mengatakan bagaimana posisi dan tanggung jawab gereja di semua tempat dan di semua zaman tidak pernah mengalami perubahan. Tugas gereja adalah untuk hidup sebagai gereja yang taat kepada Tuhan yang tidak mengalami perubahan baik kemarin, hari ini dan selama-lamanya ’Ibr. 13 : 8’. Namun, tugas tersebut harus dipahami secara baru ditengah dunia yang senantiasa berubah (Iman Kristen dan Pancasila, hal 89). Abad ini disebut dengan zaman globalisasi yang didukung dan dimungkinkan oleh kemajuan teknologi khususnya teknologi produksi dan teknologi informasi komunitas. Zaman globalisasi ini disatu pihak memberikan peluang yang sangat luas untuk dimanfaatkan oleh siapapun, maupun untuk mendapatkan atau mewujudkan kepentingannya. Tetapi di pihak lain zaman globalisasi menantang setiap orang untuk bersaing dalam memanfaatkan setiap kesempatan dan peluang-peluang yang ada di depan mata (Y. Simanjutak, struggling and Hope, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1999, hal 797).

 

Untuk dapat unggul dalam setiap kesempatan di segala pada zaman globalisasi ini sangat ditentukan oleh banyak faktor dan salah satu diantaranya adalah kualitas SDM yang dimiliki. Itu jugalah sebabnya mengapa setiap perusahaan, lembaga dan institusi memfokuskan perhatian pada peningkatan SDM di lingkungan pekerjaan masing-masing tidak lain agar mampu berkompetisi untuk meningkatkan produk yang dihasilkan. Apa kaitannya dengan penyiapan SDM GGP? GGP mampu atau tidak mampu menjalankan tugas misinya sebagai Tubuh Kristus sangat ditentukan oleh kualitas SDM yang dimiliki saat ini dan juga pada masa datang. Oleh karena itu, hal yang sangat mendesak untuk dilakukan oleh GGP adalah bagaimana mempersiapkan sumber daya manusianya hingga cakap dan mampu berkompetisi untuk merebut peluang misi ditengah dunia yang cepat berubah ini. Disini sangat menentukan peranan strategi STTP yang kita miliki.

 

B.     LANGKAH-LANGKAH STRATEGI DALAM PENYIAPAN SDM KHUSUSNYA PELAYAN-PELAYAN DI GGP

 

1.     GGP menuju Paradigma Baru

 

Apa artinya GGP menuju paradigma baru? Kita harus akui di usianya yang ke 82 tahun, GGP dalam kaitannya dengan pertumbuhan jemaat ternyata bergerak sangat lamban. Menurut saya, keadaan ini disebabkan tidak beraninya kita untuk merubah paradigma pelayanan.

 

Keadaan seperti ini apabila tidak segera diubah maka jelas akan menimbulkan persoalan-persoalan baru di tubuh GGP. GGP tidak dapat hanya membanggakan tradisi yang ada walaupun sering tidak dipahami dengan benar. GGP tidak boleh berkutat dan berputar hanya pada persoalan struktur bahkan terlalu sering membanggakannya, tapi hanya sedikit dipahami dan kurang dapat memberikan kontribusi penuh dalam tugas dan pelayanan. Lalu dimana arti Kebangunan Rohani yang pernah dialami ”Papa Thyssen”? Dimana terobosan pelayanan ”mujizat Allah Papa Thyssen” yang memberikan transformasi rohani bagi kehidupan gereja dan masyarakat? Bukankah hal-hal tersebut kini dikembangkan oleh saudara-saudara kita yang beraliran Kharismatik? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak perlu kita jawab disini karena kita mengetahuinya tapi yang perlu dipahami dan dilaksanakan.

 

Peter Wagner mencatat di Brasilia angka pertumbuhan Gereja yang cepat selama beberapa tahun terakhir terjadi di ”Universal Church of The Kingdom of God”. Gereja ini sekarang beranggotakan lebih dari 3 juta jiwa. Pada umumnya perubahan besar yang terjadi dalam suatu gereja tertentu berkaitan dengan nilai-nilai yang mereka anut.

 

Ada lima nilai yang mereka kembangkan, tiga diantaranya berkaitan dengan iman : Theologi, Ekklesiologi, dan Eskhatologi. Dua nilai yang lain adalah Organisasi dan Kepemimpinan. (Peter Wagner, Gempa Gereja, hal. 59, 80 – 81).

 

Lebih lanjut Peter Wagner menyebutkan ada empat tugas pokok yang harus dilakukan untuk mengalami pertumbuhan gereja dan dua diantaranya disebutkan dibawah ini :

 

a.      Mengembangkan Gereja Lokal

 

Rick Warren yang mendirikan Saddelback Valley Community Church di California tahun 1980 menekankan ”kehidupan gereja”. Ia menyatakan demikian : Segala yang hidup akan bertumbuh, anda tidak perlu membuatnya bertumbuh. Bertumbuh adalah sesuatu yang alami bagi organisasi yang hidup jika organisasi itu sehat. Sebagai contoh, saya tidak perlu memerintah ketiga anak saya untuk bertumbuh, secara alami mereka bertumbuh dengan cara yang sama. Karena gereja merupakan suatu organisasi yang hidup maka gereja akan akan bertumbuh secara alami jika sehat. Gereja merupakan suatu tubuh bukan suatu bisnis. Gereja adalah suatu organisasi yang hidup (organisme). Apabila gereja itu tidak bertumbuh gereja itu sekarat (Gempa Gereja, hal. 242 – 243).

 

b.     Mendirikan Gereja

 

Metode penginjilan efektif dibawah surga adalah mendirikan gereja-gereja baru (Church Planting).

 

2.     STTP kini dan kedepan mempersiapkan SDM yang bermutu, cakap penuh Roh Kudus

 

  1. Berada dalam pusaran arus globalisasi

 

Di era Orde Baru seorang Menteri yang mengurusi persoalan-persoalan informasi sangat getol mengucapkan istilah ”Globalisasi”. Dengan rasa percaya diri yang tinggi sang Menteri mengupas tuntas dampak globalisasi dan berupaya meyakinkan rakyat Indonesia agar bersiap menghadapi zaman globalisasi (Wibowo SJ, Globalisasi dan Gereja, 2000, hal. 27).

 

Globalisasi merupakan suatu fenomena yang aneh pada akhir abad 20. Globalisasi tidak sama dengan hubungan internasional dan juga tidak hanya sekedar seseorang bisa berkomunikasi dengan orang lain di benua lain lewat telepon, fax, internet / E-mail. Globalisasi adalah sebuah peristiwa ketika ruang dan waktu tidak begitu penting lagi atau sudah menjadi relatif. Kalau pada masa yang lalu seseorang masih harus memperhitungkan ruang dan waktu dalam mengadakan suatu transaksi, namun sekarang yang terjadi adalah suatu hal yang sebaliknya (Globalisasi dan Gereja, hal. 29 – 29).

 

Lebih detail lagi, Wibowo menguraikan bahwa globalisasi ternyata tidak hanya berdampak pada sistem ekonomi, komunikasi ataupun transformasi. Globalisasi menurut Anthony Giddens yang dikutip oleh Wibowo, dipandang sebagai satu kekuatan yang mengubah (transform) kehidupan sosial masyarakat pada zaman ini. Dampak yang nyata terjadi adalah pada relasi hidup bersama, relasi keluarga bahkan pada jati diri antara pribadi. Wibowo mengutip pandangan Anthony Ciddens yang mengatakan bahwa ada dua dampak besar yang ditimbulkannya yaitu :

 

-          Munculnya gejala de tradisionalisasi yang mengakibatkan munculnya Post International Society.

 

Menurut Giddens tradisi bukan lagi satu-satunya pegangan untuk kehidupan ini. Tradisi telah kehilangan kekuatan atas kebenaran. Tradisi harus berkompetisi dengan banyak penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Orang tidak lagi mudah percaya terhadap sesuatu yang berbau tradisi sehingga menimbulkan kegelisahan di pihak orang tua. Menurut Giddens, ada dua macam cara mempertahankan tradisi yaitu cara modern dan tradisional. Dalam bukunya Runaway World, Giddens mengutip sebuah laporan peristiwa di India tahun 1995 yang menyatakan ada arca yang dapat minum susu. Ketika mendengar berita itu orang tidak menertawakannya malah mereka datang berbondong-bondong untuk mempersembahkan susu. Di pihak lain, kaum ilmuwan mempersiapkan alat-alatnya untuk menetapkan kebenaran peristiwa tersebut. Dalam kasus ini tradisi dipertahankan dengan cara yang modern. Lebih lanjut Giddens mengatakan bahwa ada tradisi yang dipertahankan dengan cara yang tradisional contohnya adalah fundamentalisme agama.

 

-          Munculnya Social Reflexivity yang mengatakan bahwa zaman sekarang ini mengetahui banyak hal. Pengetahuan itu digunakan untuk memahami dirinya sendiri.

 

Daulat P. Tambunan mencatat beberapa faktor yang mendorong berkembangnya globalisasi, yaitu :

 

*        Hakikat manusia sebagai Homo Social.

*        Kebutuhan ekonomi.

*        Tersedianya sarana komunikasi dan transportasi modern.

Faktor ekonomi tentu tidak terlepas dari faktor politik dan ketiga faktor saling berkaitan satu sama lain, terbentuknya badan kerjasama regional dan global. Persaingan akan semakin ketat dan tinggi. Dalam persaingan ini kemenangan akan ditentukan oleh mutu SDM.

 

  1. Pemberdayaan SDM adalah Kunci Utama untuk Mencapai Perkembangan dan Pertumbuhan GGP

 

Bagian ini saya mulai dengan sebuah cerita tentang mendidik atau menjadikan ahli. Sadar bahwa ayahnya terancam tua, anak seorang pencuri berkata : ”Ayah, ajarkanlah kepadaku kepandaianmu sehingga kalau ayah berhenti bekerja saya dapat meneruskan tradisi keluarga”. Ayah itu tidak menjawab tetapi malam itu ia membawa anaknya ikut membobol sebuah rumah. Sesudah berada didalam ia membuka kamar mandi dan minta kepada anaknya untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Segera sesudah anak itu masuk, ayah itu membantingkan dan mengunci pintu kamar mandi itu dengan suara keras sehingga seluruh isi rumah dibangunkan. Lalu ia sendiri menyelinap pergi dengan tenang. Anak itu ketakutan di kamar mandi marah dan bingung mencari cara untuk melarikan diri. Lalu ia mendapat akal, ia mulai membuat suara seperti kucing karena itu seorang pelayan menyalakan lilin dan membuka pintu untuk mengeluarkan kucing itu. Segera sesudah pintu kamar mandi terbuka ia berlari keluar dan melihat ada sumur di pinggir jalan. Ia melemparkan batu besar ke dalamnya dan bersembunyi dalam kegelapan lalu ia lari pergi. Ketika para pengejarnya melihat ke dalam sumur karena mengira pencuri itu tercebur ke dalam sumur. Ketika anak itu sampai di rumah kembali ia sudah lupakan rasa marahnya karena sangat ingin menceritakan kisahnya. Akan tetapi ayahnya berkata : untuk apa menceritakan kepada saya, engkau sekarang ada disini itu cukup. Engkau sudah mewarisi kepandaianku”. (Anthoni De Mello SJ, Doa sang katak 2, Jogjakarta, 1981, hal. 10).

 

Apapun katanya, dampak yang ditimbulkan globalisasi membuat kita harus memberdayakan SDM gereja kita. Pemberdayaan dan perlengkapan (Empowerment) diartikan sebagai penciptaan dan pengembangan situasi menang-menang (win to win) sehingga semua orang memiliki kemampuan dan kesempatan berkinerja, bermutu, berkreasi, berinovasi dan mengembangkan diri (Perguruan Tinggi Bermutu, hal. 89). Tampubolon sangat benar bahwa pemberdayaan SDM merupakan tugas pekerjaan rumah GGP yang sangat mendesak untuk dilakukan. Ada kekuatiran muncul dalam hati jangan-jangan ini seperti Sang Menteri tadi hanya tahu membicarakan tantangan globalisasi tapi tidak tahu atau tidak mau menyikapi dan menanganinya menjadi sebuah modal untuk pelayanan GGP. Atau jangan-jangan kita hanya tahu bercerita, berbicara tentang pemberdayaan SDM di GGP tetapi soal aktualisasinya kita tidak mau atau tidak mampu, jadi disini kita dituntut untuk lebih serius memikirkan dan merenungkan dan tentu saja melakukannya.

 

b.1. Langkah-langkah Strategi STTP mempersiapkan SDM GGP di Bidang Pelayan atau Kependetaan

 

-          Perencanaan Kurikulum yang berorientasi pada Visi Misi dan Pertumbuhan Gereja.

 

Bagaimana 5 – 10 tahun ke depan Pelayan di GGP melalui STTP akan semakin bertambah atau dominan bila tiap tahun STTP menamatkan mahasiswa 50 orang itu berarti dalam kurun waktu 10 tahun ke depan Pelayan di GGP akan bertambah 500 orang. Apabila gereja-gereja mengalami pertumbuhan yang signifikan berarti tidak akan ada masalah serius yang akan dihadapi oleh GGP menyangkut tenaga pelayan. Tentu kaitannya dengan perencanaan kurikulum yang berorientasi pada bidang visi misi dan pertumbuhan gereja harus menjadi prioritas yang akan dikembangkan oleh STTP sebab apa yang dikatakan oleh Wagner untuk mengatasi tersumbatnya tenaga-tenaga Pelayan dan gereja adalah dengan melakukan dua hal yang telah disebutkan diatas, yakni :

 

*        STTP secara nasional harus menekankan pelayanan gereja yang berkembang, bertumbuh baik secara kuantitas-kuantitas maupun organik disetiap jemaat-jemaat lokal.

*        Setiap jemaat-jemaat lokal harus mendirikan jemaat baru (Church Planting). Bagaimana ini dilakukan? Tentu banyak cara yang dapat dilakukan untuk mendirikan gereja-gereja baru, subyek atau pelaku dari program misi yang besar ini adalah para lulusan STTP yang diharapkan tidak hanya sekedar melayani tetapi mampu dan cakap melakukan pelayanan ditengah masyarakat (Pelayanan Holistik).

 

-          Untuk mewujudkan visi tersebut, STTP seharusnya sudah memprogramkan pengembangan perpustakaan dengan sistem komputerisasi, pengembangan ruang komputer dan rencana mendirikan laboratorium Bahasa Inggris. Rencana mendirikan laboratorium Bahasa Inggris ini didasarkan pada tuntutan arus globalisasi sehingga mampu berkompetisi secara sehat dalam pelayanan dan juga pengembangan diri untuk menunjang pelayanan yang bermutu dan berhasil. Tuntutan ini juga muncul dari tantangan globalisasi dimana kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Internasional menjadi sangat penting (Struggling and Hope, hal. 806).

 

b.2. Post-Modernisme dan Ciri-ciri Khusus di Abad 21

 

Abad 21 dipengaruhi pandangan duniawisme yang akan menghancurkan kerohaniwan maupun etika penggembalaan sedangkan perkembangan komputer akan menghancurkan pandangan komunitas sehingga individualisme akan semakin berkembang.

 

Dunia akan mengalami perkembangan teknologi, hedonisme serta opportunisme dan dalam suatu zaman dimana tidak mengindahkan agama, saat itu dunia akan memasuki zaman elektronik, dimana semua keputusan akan melalui manusia yang egoisme.

 

Post-Modernisme dimulai dari anti dan protes tentang modernisasi. Pandangan tersebut menolak tradisi dan authority. Perubahan pandangan manusia terhadap penghargaan sehingga emosinya lebih banyak dipergunakan dan lebih penting dibandingkan dengan menggunakan akal sehingga akan berkembang misterisme yang mengaksenkan pengalaman daripada relativisme serta rasionalitas yang mengarah pada pembebasan individu.

 

C.     PENUTUP

 

Dibagian penutup ini saya ingi membuat beberapa saran untuk GGP :

1.        STTP lahir dari rahim misi GGP oleh karena itu GGP harus terus mengupayakan pekerjaan-pekerjaan pelayanan misi (Church Planting).

2.       GGP harus berfokus pada tugas-tugas pelayanan jemaat yang berorientasi pada pertumbuhan tidak hanya sekedar memelihara (Gereja Misioner).

3.       Teman-teman dosen STTP sudah sebaiknya mendapat perhatian dalam hal pemberdayaan secara khusus pemprograman studi ke jenjang yang lebih tinggi.

 

Jakarta, 17 January 2005

 

Pdt. Nico Kojongian, MA

Hamba Tuhan Senior GGP

Gembala Jemaat GGP Shalom Wolaang Sulawesi Utara

Ketua Umum Majelis Pusat GGP periode 2001 – 2006

Kotbah 7:13 am

KAMI MENENTANG ‘DECISIONISME’ -
DALAM BENTUK APAPUN

(We Are Against Decisionism - In Both Its Main Forms)

oleh Dr. R.L. Hymers, Jr.
Diterjemahkan oleh Dr. Eddy Peter Purwanto

Khotbah ini dikhotbahkan di Kebaktian Pagi, 26 Juni 2005
di Baptist Tabernacle of Los Angeles

“Ia dihina dan dihindari orang.” (Yesaya 53:3)

Belakangan ini ada seorang pengkhotbah yang berkata kepada saya bahwa ia telah membaca salah satu dari buku saya, yaitu buku yang berjudul Today’s Apostasy. Ia berkata, “Kamu menentang ‘easy believisme’ (cara beroleh selamat yang mudah) misalnya cukup berdoa mengaku dosa.” Kami bersama dengan beberapa pendeta saat itu, sehingga saya tidak menjawab apa-apa. Tetapi setelah itu saya nyatakan bahwa menurut saya orang ini tidak memegang kebenaran. Saya tidak pernah menggunakan terminologi “easy believism”. Saya tidak dapat berpikir seseuatu yang lebih membingungkan dari terminologi ini! Saya tidak percaya bahwa seseorang dapat diselamatkan hanya dengan membuka mulut “berdoa mengaku dosa” dan saya tidak percaya bahwa seseorang dapat diselamatkan dengan “berdoa mengakui bahwa Kristus Tuhan”. ‘Easy believism’ [mengaku di mulut] dan ‘Lordship salvation’ [mengaku bahwa Kristus Tuhan] secara sederhana dapat digambarkan sebagai koin dengan dua sisinya. Keduanya dapat menjelaskan dua bentuk ‘decisionisme’ dengan sangat baik. Saya berpikir bahwa terminologi Inggris [British] ‘decisionisme’ adalah kata terbaik untuk menjelaskan apa yang salah dengan penginjilan masa kini. ‘Easy believing’ dan ‘Lordship salvation’ keduanya berpusat pada manusianya. Tetapi keselamatan dalam Alkitab tidak berpusat pada manusianya, tetapi berpusat pada Allah!

Apakah yang saya maksudkan ini? Sangat sederhana, yang saya maksudkan adalah bahwa semua manusia terhilang, dan tidak dapat belajar, berkata, atau melakukan sesuatu untuk menyelamatkan, atau bahkan membantu menyelamatkan dirinya sendiri. Tidak ada ‘decision’ dalam bentuk apapun, termasuk dengan mengaku di mulut bahwa Kristus adalah Tuhan, dapat membantu menyelamatkan seseorang. Lihatlah murid-murid Yesus:

Mereka makin gempar dan berkata seorang kepada yang lain: “Jika demikian, siapakah dapat diselamatkan? Yesus memandang mereka dan berkata “Bagi manusia hal itu mustahil…”
(Markus 10:26-27)

Adakah di antara kalian yang memiliki jawaban, dengan pertanyaan yang dilontarkan kepada Kristus ini. Siapa yang dapat diselamatkan? “Bagi manusia itu mustahil.” Bagaimanapun juga Markus 10:27 tidak berakhir di sini. Yesus melanjutkan perkataannya, “tetapi tidak demikian bagi Allah: Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah.”

Letakan perspektif utama ini dalam diri mereka. Allah dalam Kristus adalah pemberi dan penyempurna iman keselamatan (Ibrani 12:2). Seperti nabi Yunus begitu sempurna meletakkannya dalam hatinya,

“Keselamatan adalah dari Tuhan” (Yunus 2:9).

Atau, seperti Yohanes Pembaptis berkata,

“Tidak ada seorangpun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya sendiri, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga ” (Yohanes 3:27).

Allah di dalam Kristus adalah pemberi dan penyempurna iman kita. Keselamatan datang dari Tuhan. Manusia tidak dapat menerimanya tanpa Allah memberikannya kepadanya.

“Siapa yang dapat diselamatkan?… bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian dengan Allah…”
(Markus 10:26-27).

Jadi Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan ‘tidak mudah’ dan ‘tidak sulit. Tidak, ini tidak mudah; dan tidak, ini tidak sulit! Ini begitu sederhana? imposibel. Inilah posisi saya. Saya menolak baik ‘easy believing’ [hanya mengaku di mulut] maupun ‘Lordship salvation’ [mengaku bahwa Kristus Tuhan], karena ini adalah dua bentuk dari ‘decisionisme’. “Bagi manusia itu mustahil.” Sekarang anda boleh bertanya apakah posisi iman saya ini alkitabiah atau tidak. Marilah kita melihat beberapa ayat dalam Alkitab untuk melihat ini benar atau salah.

I. Pertama, secara alami dan semua manusia menolak Kristus

Saya tidak berpikir tidak ada ayat yang lebih jelas membicarakan subyek ini selain Yesaya 53:3 dan 6. Silahkan melihat Yesaya 53:3 lagi. Marilah kita berdiri dan membacanya dengan suara keras.

“Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; Ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. ” (Yesaya 53:3).

Ini adalah gambaran umum tentang manusia yang menolak Yesus Kristus. Ia ditolak oleh semua orang. Semua orang menutup mukanya terhadap Dia. Tak seorangpun menginginkan Dia. Sekarang bacalah sebagian dari ayat enam dengan suara keras,

“Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri… (Yesaya 53:6).

Adakah yang lebih jelas dari ini? Kita semua sesat. Setiap orang mengambil jalannya sendiri-sendiri. Kristus ditolak oleh semua manusia, manusia menghindari Dia, dan Dia tidak diinginkan oleh manusia, mereka tidak mau bertobat. Anda mungkin juga demikian.

Itulah alasannya mengapa menurut Dr. James Dobson 88% anak yang lahir di gereja-gereja alkitabiah “meninggalkan iman mereka dan tidak kembali lagi”. Kemungkinan besar mereka telah membuat ‘decision’. Kebanyakan dari gereja-gereja ini menawarkan kedua metode penginjilan modern ini - ‘easy believisme’ dan ‘Lordship salvation’. Billy Graham menawarkan kedua alternatif ini setiap menutup khotbahnya. Yang lain melakukan hal yang sama. Dan juga menurut Dr. Dobson ‘easy believisme’ dan ‘Lordship salvation’ tidak pernah dapat mempertahankan lebih dari 12 % lainnya dari anak-anak ini untuk tetap ada dalam gereja setelah mereka berumur 23 sampai 24 tahun. Apakah alasan terjadinya ini? Sangat sederhana - mereka tidak pernah diselamatkan walaupun mungkin mereka sudah mengaku di mulut dan berdoa menerima Tuhan Yesus (’Lordship salvation’ atau ‘easy believism’).

Setelah semua orang telah menghapal ayat-ayat yang dipelajari, dan setelah mereka maju ke depan, dan semua yang ikut camp pemuda, dan telah membuat komitmen, ternyata anak-anak muda ini masih menolak Kristus, memalingkan muka dariNya dan tidak menginginkanNya. Mereka masih berjalan menurut jalannya masing-masing. (Yesaya 53:6).

Anda lihat, ini adalah kondisi yang alami dari semua orang, entah mereka bertumbuh di gereja Injili atau bukan. Dan ini akan terus berlangsung dalam dirimu sampai Tuhan sendiri yang mengintervensi dan melakukan untuk mu apa yang engkau tidak dapat lakukan untukmu sendiri. Karena:

“Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari sorga.” (Yohanes 3:27).

“Siapa yang dapat diselamatkan?… bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian dengan Allah…”
(Markus 10:26-27).

“Keselamatan adalah dari Tuhan” (Yunus 2:9).

Tanpa intervensi Tuhan, semua ‘ketaatan agama’ mu tidak ada gunanya, tatapi semuanya seperti kayu, rumput kering dan jerami. Dan Kristus, bagimu masih

“dihina dan dihindari… sehingga orang menutup mukanya terhadap dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya.”
(Yesaya 53:3).

Inilah saya sebelum Tuhan intervensi hidup saya. Dan ini pasti adalah banyak anak muda di gereja ini pada pagi hari ini. Dan engkau akan menghindari, menolak dan menutup mukamu dari Kristus, dan tidak menginginiNya - sampai akhirnya kamu meninggalkan gereja dan pergi ke kehidupan duniawi - kecuali Tuhan intervensi dan melakukan sesuatu bagi kamu yang kamu tidak dapat lakukan untuk dirimu sendiri! Anda semua secara alami dan universal menolak Kristus kecuali Allah melakukan sesuatu yang sangat spesial dalam hatimu. Dan tidak ada dari ‘easy beelieving’ dan ‘Lordship salvation’ yang dapat membantu kamu menerima apa yang seharusnya kamu miliki.

Biarkan saya memberikan ilustrasi sederhana kepada Anda. Seorang muda yang telah berdoa menerima Yesus Kristus datang ke gereja kami. Dalam suasana kebaktian ia berkata kepada pengkhotbah tamu bahwa ia telah menyerahkan seluruhnya kepada Kristus, bahkan jika ini artinya harus menjadi hamba Tuhan. Ia “maju ke depan” pada saat undangan untuk membuat komitmen dengan Tuhan diberikan. Tetapi itu sudah berlalu dan kami tidak pernah melihatnya lagi. Ia telah “meninggalkan gereja, dan tidak pernah kembali lagi.” Ini sama seperti yang dikatakan oleh Dr. Dobson, segera setelah membuat komitmen dengan Tuhan, dan setelah banyak menghadapi cobaan pada saat berdoa terima Tuhan (easy believing), setelah itu menghilang lagi dari gereja. Kristus masih dihindari dan ditolak olehnya. Ia masih menutup mukanya bagi Kristus. Ia masih tidak menginginkan Dia. Ia masih terhilang! Ia perlu sesuatu yang lebih dari cara percaya dengan berdoa mengaku dosa dan menerima Kristus sebagai Tuhan.

II. Kedua, Anda harus memberi hatimu dijamah oleh Tuhan atau Anda tidak akan pernah percaya kepada Kristus

Saya tidak dapat menjamah atau menembus hatimu. Bahkan khotbah saya juga tidak dapat menembus hatimu. Dan konseling yang kami berikan setelah kebaktian juga tidak dapat menembus hatimu. Hanya Tuhan yang dapat melakukannya! Bukalah Kisah 2:37. Marilah kita berdiri dan membacanya dengan suara keras.

“Ketika mereka mendengar itu hati mereka sangat terharu, lalu mereka bertanya kepada Petrus dan rasul-rasul yang lain: “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?”
(Kisah 2:37).

Ini mungkin adalah Anda. Anda melihat orang-orang ini tidak melakukan ‘easy believisme’ atau ‘Lordship salvation’ atau maju ke depan, berdoa mengaku dosa dan menerima Kristus pada waktu Petrus khotbah pada hari Pentakosta. Mereka dikonfrontir dengan dosa mereka yang menolak Kristus, dan Roh Kudus menyadarkan mereka ketika Alkitab diberitakan menembus hati mereka. Saya tidak dapat melakukan itu untuk Anda. Hanya Roh Kudus yang dapat menjamah Anda dan pergumulan Anda dan yang menyebabkan Anda meletakkan beban dosa yang Anda panggul.

Sampai hari ini Anda yang duduk di gereja mendengarkan khotbah demi khotbah, bahkan beberapa dari kalian sudah lama sekali, tetapi semua khotbah ini tidak dapat melakukan untuk kalian sesuatu yang baik. Dan dengan emphatik saya harus katakan bahwa gereja yang Anda hadiri, Alkitab yang Anda baca dan ketaatan keagamanmu tidak akan pernah berarti bagimu sampai Allah menjamah hatimu dan membuat engkau melihat bahwa engkau adalah orang berdosa yang harus bertobat.

Sekarang, mengapa Tuhan menjamah hati orang-orang dan membuat mereka merasa penuh dengan dosa dan kejahatan? Jawabannya sederhana - kamu tidak akan pernah benar-benar merasa perlu Kristus, sampai kamu menyadari dirimu sendiri yang penuh dosa. Tanpa kamu benar-benar menyadari dosa-dosamu, kamu akan menolak Kristus, menutup mukamu dari Dia, dan tidak menginginkanNya, karena padaNya tidak ada yang menarik bagi kamu.

Dan inilah yang harus ditekankan dalam pemberitaan Injil saat ini. Penghukuman atas dosamu, ketidaktenanganmu karena dosa, dan murka Allah atasmu karena dosamu, harus ditekankan dalam khotbah dan pemberitaan Injil saat ini. Tidak heran kita kehilangan 88 % anak muda yang datang ke gereja kita. Mereka tidak merasa tersiksa dengan dosanya dan untuk mengakui Kristus - atau bahkan berpikir lebih dalam tentang pengorbanannya bagi dosa mereka di kayu salib. Khotbah tentang hukum Tuhan menegur dosa-dosamu yang perlu diperdamaikan, atau hatimu tidak akan pernah terjamah oleh Roh Kudus, dan kamu tidak akan pernah benar-benar bertobat. Kamu harus dijamah oleh Roh Kudus, melalui khotbah, yang berbicara dalam dirimu sendiri,

“Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukan bersorak-sorak kembali ” (Mazmur 51:10).

Teguran hati nurani terhadap dosamu harus menjadi begitu berat untuk kamu rasakan seperti tulang yang diremukkan! Dan kemudian kamu dapat berkata kepada Tuhan,

“Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.” (Mazmur 51:5).

Sudahkah itu terjadi pada diri engkau? Sudahkah Tuhan menyadarkan engkau akan dosa-dosamu dan menjamah hatimu sampai kamu merasa seperti tulangmu diremukkan? Apakah dosa-dosa yang pernah Anda lakukan sebelumnya membuat Anda tersiksa malam ini, dan membuat Anda lemah dengan ketakutan karena dosa-dosa yang pernah Anda perbuat? Jika Anda tidak pernah dijamah dan merasa begitu berat memikul dosa, Anda tidak akan pernah meresa perlu Kristus. Anda akan meninggalkan gereja seperti anak-anak muda lainnya yang telah meninggalkan gereja, sampai Anda bergabung dengan yang 88% lainnya dan akhirnya tersesat. Anda harus datang kepada Roh Kudus dengan mengakui dosa atau Anda tidak akan pernah diselamatkan!

III. Ketiga, Anda harus percaya kepadaNya

Saya berkata, “Anda harus percaya kepada Dia.” Banyak orang datang dan kelihatannya dengan sepenuh hati menyadari dosa-dosanya, namun menolak Kristus. Saya berharap itu tidak terjadi pada diri Anda. Inilah yang pernah terjadi pada diri Yudas, tetapi ia tidak pernah sungguh-sungguh percaya kepada Kristus. Bahkan walaupun ia telah menjadi pesakitan, dan ia terus menerus menolak Kristus, menutup wajahnya dari Dia, dan tidak mengakui Kristus.

Saya berharap Anda tidak seperti Yudas! Ketika Tuhan menunjukkan dosamu, dan membuatmu tidak sejahtera dan dosamu dihakimi, saya berharap ini akan menggerakkan Anda untuk merasa perlu akan keselamatan di dalam Kristus.

Mengapa beberapa orang percaya kepada Kristus ketika yang lain tidak? Luther berkata bahwa ini adalah misteri, yang melampaui pemikiran manusia, dan tidak dinyatakan oleh Alkitab. Saya berpikir ia benar menekankan ini. Tetapi inilah yang pasti - tidak seorangpun akan datang kepada Kristus sampai menyadari dosa-dosanya. Ini bisa terjadi dengan cepat pada beberapa orang, namun mungkin lebih lambat pada orang yang lain.

“Ia dihina dan dihindari orang” (Yesaya 53:3)

sampai mereka menyadari dosa-dosanya dan melihat bukan dengan cara lari dari dosanya, tetapi harus datang kepada Kristus. Nabi Yesaya berkata,

“Bertobatlah, hai orang Israel, kepada Dia yang telah kamu tinggalkan jauh-jauh!” (Yesaya 31:6).

Rasul Paulus berkata bahwa “baik orang Yahudi maupun Yunani… semua telah berdosa” (Roma 3:9). Anda harus datang kepadaNya, dari antara semua orang yang telah jauh meninggalkan Dia.

Dosamu dapat diselesaikan melalui “iman di dalam darahNya (Roma 3:25). Anda dapat dibenarkan dengan percaya kepada Yesus (Rom 3:26).

“Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman…” (Yohanes 3:18).

Anda telah terhakimi oleh dosamu. Tetapi jika Anda percaya kepada Yesus, Anda tidak akan dihukum. Kristus dihindari dan ditolak orang” (Yesaya 53:3). Dan sampai sekarang Anda sama seperti orang-orang itu. Anda telah menolak Kristus. Tetapi jika Anda merasa terhakimi oleh dosa Anda,

“Bertobatlah, hai orang Israel, kepada Dia yang telah kamu tinggalkan jauh-jauh!” (Yesaya 31:6).

Datanglah kepada Kristus. Ia akan menerima engkau dengan kehangatan. Ia akan menyucikan dosamu dengan DarahNya. Ia akan membenarkanmu jika Engkau mau percaya kepadaNya.

Ya Tuhan, kudengar suaraMu di kalbu
Trimalah darah Kalvari, penghapus dosamu
Ku datang Tuhan, datang padamu
O, patutkah diriku, menghadap padaMu!
(”I Am Coming, Lord” by Lewis Hartsough, 1828-1919).

(SELESAI)
Anda dapat membaca khotbah-khotbah Dr. Hymers’ setiap minggu di Internet
di www.rlhymersjr.com. Click on “Sermon Manuscripts.”

diterjemahkan oleh Dr. Eddy Peter Purwanto @
http://www.sttip.com

Pembacaan Alkitab sebelum khotbah oleh Dr. Kreighton L. Chan: Mark 10:23-27.

Solo Sung sebelum khotbah oleh Mr. Benjamin Kincaid Griffith: “I Am Coming, Lord”
(by Lewis Hartsough, 1828-1919).

GARIS BESAR KHOTBAH
KAMI MENENTANG ‘DECISIONISME’ -
DALAM BENTUK APAPUN

Oleh Dr. R.L. Hymers, Jr.

“”Ia dihina dan dihindari orang.” (Yesaya 53:3)

(Markus 10:26-27; Ibrani 12:2; Yunus 2:9; Yohanes 3:27)

I. Pertama, secara alami dan bersifat universal semua manusia menolak Kristus:
Yesaya 53:3, 6.

II. Kedua, Anda harus memberi hatimu dijamah oleh Tuhan atau Anda tidak akan pernah percaya kepada Kristus Acts 2:37; Psalm 51:8, 3.

III. Ketiga, Anda harus percaya kepadaNya: Yesaya 31:6; Roma 3:9, 25, 26;
Yohanes 3:18.

Kesaksian 1:41 am

Umpamanya saat sekarang jam 17:50 sore, setelah Anda sibuk kerja seharian, anda sedang dalam perjalanan pulang dengan mengendarai mobil sendirian, Anda sangat tegang dan tidak enak badan, tiba-tiba anda merasa sakit yang sangat di dada dan mulai menjalar ke lengan dan dagu. Tetapi jarak ke Rumah Sakit yang terdekat kira-kira masih 5 km, lebih celakanya lagi Anda tidak tahu apakah dapat mempertahankan diri begitu jauh.


Harus Bagaimana?
Anda dulu pernah dilatih cara CPR (cara menolong orang lain yang berhenti bernapas), tetapi instruksinya tidak pernah mengajarkan cara bagaimana menolong diri sendiri.

Saat sendirian, kena serangan jantung bagaimana cara pertolongan pertamanya? Seseorang ketika jantungnya tidak dapat berdenyut secara normal, serta merasa hampir pingsan, ia hanya mempunyai waktu kira-kira 10 detik, setelah itu akan hilang kesadaran dan pingsan. Jika di sekitarnya tidak ada orang yang memberi pertolongan pertama, penderita harus menggunakan waktu 10 detik yang singkat ini berusaha menolong diri sendiri.


Jawaban
Jangan panik, usahakan berbatuk terus dengan sekuat tenaga. Setiap kali sebelum batuk harus tarik napas dalam-dalam, kemudian berbatuk dengan kuat-kuat, dalam-dalam dan panjang-panjang, seperti kalau hendak mengeluarkan dahak yang berada dalam dada. Setiap selang 2 detik, harus tarik napas sekali dan berbatuk sekali, hingga pertolongan tiba, atau hingga merasa denyut jantung sudah normal, baru boleh istirahat.

Tujuan tarik napas untuk memasukkan oksigen ke dalam paru-paru. Tujuan batuk untuk menekan jantung agar aliran darah bersirkulasi. Menekan jantung juga dapat membantu denyut jantung kembali normal. Pertolongan pertama ini untung memberi kesempatan agar bisa tiba ke Rumah Sakit terdekat.


Pesan
Sebarkan cara pertolongan pertama serangan jantung ini. Mungkin akan berguna untuk menolong mereka. Jangan kira kalau usia anda belum mencapai 25 atau 30 tahun bisa terbebas dari serangan jantung. Pola hidup sekarang ini memungkinkan serangan jantung secara tiba-tiba menyerang siapa saja, tanpa peduli berapa umur mereka.

Terima kasih, Tuhan Memberkati.


Sumber : Article published by Journal of General Hospital Rochester

RenunganMay 9, 2008 1:43 am

EDITORIAL

 

 KEPEMIMPINAN ITU TIDAK GRATIS

 

 "Tidak ada yang gratis di dunia ini, yang gratis hanyalah

 keselamatan yang telah diberikan Allah melalui pengorbanan Yesus di

 kayu salib; kita harus bayar harga untuk segala sesuatu, tak

 terkecuali kepemimpinan," begitulah yang disampaikan dalam artikel

 kedua sajian e-Leadership kali ini.

 

 Memang benar, ada harga yang harus dibayar untuk menjadi pemimpin.

 Harga itu sangat tinggi; membutuhkan pengorbanan, disiplin, dan

 usaha yang lebih daripada keras. Musa dan Elia, dua di antara

 pemimpin-pemimpin besar yang ada di Alkitab pun harus membayar

 harga. Apakah harga yang harus mereka bayar? Kolom Artikel 1 akan

 menjawabnya.

 

 Simak juga apa saja yang harus dibayar untuk menjadi pemimpin yang

 efektif dalam artikel Bayar Harga untuk Menjadi Pemimpin yang

 Efektif. Jangan lewatkan untuk menyimak kolom Jelajah yang cukup

 lama absen dari publikasi e-Leadership. Kiranya ulasan situs

 kepemimpinan yang disajikan kali ini dapat menambah referensi Anda

 seputar kepemimpinan.

 

 Selamat menyimak, semoga menjadi berkat!

 

 Pimpinan Redaksi e-Leadership,

 Dian Pradana

 

 "Dengarkanlah didikan, maka kamu menjadi bijak;

 janganlah mengabaikannya."

 (Amsal 8:33)

Renungan 1:42 am

 ARTIKEL 1

 

 HARGA KEPEMIMPINAN

 

 Persiapan untuk menjadi seorang pemimpin mencakup banyak waktu

 mencucurkan air mata dan ujian-ujian yang menyakitkan (lihat Ibrani

 5:7-8). Ini karena Anda dilatih untuk bertahan terhadap

 tekanan-tekanan yang dahsyat yang menimpa seorang pemimpin.

 Kepemimpinan Kristen bukanlah hal yang penuh kesenangan/glamor;

 tetapi adalah suatu peperangan.

 

 Anda berperang dengan setan dan dunia. Anggota-anggota keluarga Anda

 bisa salah mengerti terhadap anda, sahabat-sahabat dan

 saudara-saudara seiman juga bersikap demikian. Seiring dengan ini,

 Anda juga akan sering mengalami celaan dari orang-orang karena

 mereka iri hati dan takut.

 

 Kisah yang tercatat dalam Alkitab mengenai Musa di dalam Kitab

 Bilangan, merupakan gambaran tepat tentang apa yang tercakup di

 dalam kepemimpinan. Musa bertanggung jawab untuk jemaat yang terdiri

 dari dua setengah juta manusia. Mereka merupakan kelompok yang

 terdiri dari para pengeluh, penggerutu, dan para pemberontak yang

 suka mencemarkan nama orang. Mereka ingin menyaksikan mukjizat,

 tetapi tidak lama kemudian menuntut sesuatu yang lain lagi.

 

 Bahkan, saudara laki-laki dan saudara perempuan Musa sendiri pun

 mencela dia dan menentang kepemimpinannya (dan sebagai akibatnya

 mereka dihukum).

 

 Tak mengherankan bila Allah memersiapkan Musa selama empat puluh

 tahun sebelum ia berada di posisi kepemimpinan. Jika Musa tidak

 melewatkan waktu selama empat puluh tahun di padang gurun yang sunyi

 bersama domba-domba mertuanya, ia tidak akan pernah menjadi pemimpin

 besar seperti itu.

 

 DUA PEMIMPIN YANG TERBESAR

 Musa dan Elia adalah dua orang yang nampak di Bukit Pemuliaan

 bersama Yesus. Dari hal ini (dan bagian firman Tuhan lain) kita

 mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah dua pemimpin terbesar dan

 terpenting dalam Perjanjian Lama.

 

 Sejumlah tekanan yang diderita seorang hamba Allah dalam

 kepemimpinan dengan jelas dipaparkan melalui kehidupan Musa dan

 Elia.

 

 MUSA

 Sekalipun Musa telah mengalami tahun-tahun persiapan yang lama,

 tekanan itu begitu dahsyatnya sampai Musa memohon agar Allah

 membunuhnya. Seseorang tidak mungkin berdoa demikian jika hidupnya

 tidak sangat sengsara.

 

 Lalu berkatalah Musa kepada TUHAN, "Mengapa Kau perlakukan hamba-Mu

 ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di

 mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas

 seluruh bangsa ini? Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini atau

 akukah yang melahirkannya, sehingga Engkau berkata kepadaku:

 Pangkulah dia seperti pak pengasuh memangku anak yang menyusu,

 berjalan ke tanah yang Kau janjikan dengan bersumpah kepada nenek

 moyangnya? Dari manakah aku mengambil daging untuk diberikan kepada

 seluruh bangsa ini? Sebab mereka menangis kepadaku dengan berkata:

 Berilah kami daging untuk dimakan. Aku seorang diri tidak dapat

 memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat

 bagiku. Jika Engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau

 membunuh aku saja, jika aku mendapat kasih karunia di mata-Mu,

 supaya aku tidak harus melihat celakaku." (Bil. 11:11-15)

 

 Hanya mereka yang sudah sampai pada pengalaman itu, yang

 mengetahuinya. Kepemimpinan selalu dibarengi dengan beban-beban yang

 sangat berat. Musa menjadi begitu tawar hati dan putus asa

 menghadapi situasi itu sehingga ia ingin mati saja.

 

 ELIA

 Elia juga mengalami kelemahan seperti ini dalam pelayanannya.

 Terjadinya setelah kemenangannya yang terbesar, yaitu ketika ia

 minta api turun dari surga dan api itu telah membunuh empat ratus

 nabi-nabi Baal. Sungguh tak beruntung, lembah kekecewaan sering

 mengikuti pengalaman puncak gunung dari suatu kemenangan besar.

 

 Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia

 dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, maka Izebel

 menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: "Beginilah kiranya

 para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika

 besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama

 seperti nyawa salah seorang dari mereka itu." Maka takutlah ia, lalu

 bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke

 Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di

 sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan

 jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin

 mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku,

 sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." (1 Raja-

 raja 19:1-4)

 

 Tuhan menjawab doa Elia dan membebaskan dia. Ia diangkat ke surga

 dalam sebuah kereta beberapa minggu setelah ia menyampaikan doa ini.

 Bagi saya, ini merupakan suatu pernyataan yang besar dari kasih dan

 pengertian Allah terhadap pemimpin-pemimpin-Nya, dan Ia menghormati

 Musa dan Elia dengan mengizinkan mereka berada pada saat

 kemuliaan-Nya (Matius 17).

 

 Ya, ada harga yang harus dibayar untuk menjadi seorang pemimpin.

 Jika persiapannya nampak sulit, ingatlah hal ini: tekanan-tekanan

 yang berlaku bagi para pemimpin utama lebih sulit dari pada latihan

 yang membawa Anda ke sana.

 

 Diambil dan disesuaikan dari:

 Judul buku: Pembentukan Seorang Pemimpin

 Judul bab: Kepemimpinan — Harganya dan Jerat-Jeratnya

 Penulis: Ralph Mahoney

 Penerbit: World Missionary Assistance Plan, California

 Halaman: 92 — 94

Renungan 1:42 am

ARTIKEL 2

 

 BAYAR HARGA UNTUK MENJADI PEMIMPIN YANG EFEKTIF

 Diringkas oleh: Dian Pradana

 

 Keselamatan adalah satu-satunya hal dalam hidup yang gratis. Yang

 lainnya memiliki harga yang harus dibayar, dan harga yang terlabel

 dalam kepemimpinan itu sangat tinggi. Itulah salah satu alasan

 mengapa hanya ada sedikit pemimpin.

 

 Banyak orang ingin menjadi pemimpin. Kebanyakan orang mengincar

 posisi kepemimpinan. Namun demikian, sangat sedikit orang yang

 bersedia membayar harga untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif.

 

 Butuh waktu untuk menjadi pemimpin yang efektif. Pemimpin yang baik

 tidak berkembang dalam sehari. Anda tidak belajar menjadi pemimpin

 yang efektif dengan duduk di sebuah ruang kelas. Menguasai beragam

 teori dan prinsip kepemimpinan tidak membuat Anda menjadi pemimpin

 yang baik. Berpakaian seperti pemimpin sama sekali tidak ada

 kaitannya dengan menjadi seorang pemimpin yang baik.

 

 Saat saya lulus SMU, saya mencari pekerjaan musim panas untuk

 membantu orang tua membayar biaya kuliah. Saya melihat sebuah iklan

 di koran yang membutuhkan orang-orang untuk bekerja di sebuah

 pembangunan rumah. Posisi yang tersedia beragam; dari kuli sampai

 mandor.

 

 Saya melamar sebagai tukang bingkai, tapi sang pemilik mengatakan

 bahwa saya harus memulai sebagai kuli yang menurunkan kayu dari truk

 karena saya tidak memiliki pengalaman sebagai tukang kayu. Dia

 berkata, "Sekalinya Anda belajar tentang ragam ukuran kayu,

 bagaimana memakai meteran, dan familiar dengan bagaimana kami

 membangun rumah, kami akan memberikan posisi sebagai tukang bingkai

 kepada Anda."

 

 Tapi aku ingin mulai kerja sebagai tukang bingkai. Saya ingin memaku

 dan membantu mendirikan rumah; saya tidak mau menurunkan muatan truk

 dan membawakan kayu untuk orang-orang yang melakukan pekerjaan yang

 sebenarnya. Karena saya tidak mengerti makna dari pekerjaan yang

 sebenarnya, saya tidak mengambil pekerjaan itu dan bekerja di sebuah

 toko grosir; menata bahan makanan di rak dan mengarungi bahan

 makanan.

 

 Saya tidak menyadarinya saat itu, tapi sebenarnya saya memiliki

 masalah serius — sebuah masalah yang membutuhkan bertahun-tahun

 untuk saya dapat mengatasinya. Saya tidak mau membayar harga untuk

 menjadi pengikut sebelum saya menjadi seorang pemimpin. Saya ingin

 membangun rumah, tapi saya tidak mau meluangkan waktu belajar

 membedakan kayu berukuran empat kali delapan dan balok silang

 lantai. Butuh beberapa tahun sebelum saya belajar pentingnya

 menggunakan waktu dan tenaga seperlunya untuk menjadi seorang

 pengikut yang baik, sehingga pada saatnya nanti saya dapat menjadi

 seorang pemimpin yang efektif.

 

 Saat Yesus menunjuk dua belas murid, Dia berkata, "Mari, ikutlah

 Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia" (Mat. 4:19). Ia tidak

 berkata, "Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan secara otomatis menjadi

 penjala manusia." Murid-murid itu harus bersedia menginvestasikan

 waktu dan tenaga sebagai pengikut Yesus untuk menjadi penjala

 manusia.

 

 Hampir kedua belas murid tersebut adalah nelayan komersial sebelum

 menjadi pengikut Yesus Kristus. Mereka adalah nelayan profesional.

 Mereka menghidupi diri dan keluarga mereka dengan mencari ikan.

 Mereka mungkin menduduki posisi kepemimpinan dalam komunitas bisnis

 lokal.

 

 Namun demikian, untuk belajar bagaimana menjala manusia, mereka mau

 berada pada posisi bawah dan menjadi pengikut lagi sebelum mereka

 memenuhi syarat sebagai pemimpin dalam pekerjaan Tuhan. Hal itu

 adalah suatu prinsip yang penting dalam mengembangkan pemimpin

 spiritual.

 

 Kita harus selalu ingat bahwa apa pun prestasi seseorang sebagai

 pemimpin dalam dunia sekuler, ia akan harus merendahkan hati dan

 menginvestasikan waktu dan tenaganya untuk menjadi seorang pemimpin

 spiritual dalam pekerjaan Tuhan. Tidak ada jalan pintas dalam

 mengembangkan keterampilan memimpin.

 

 Selain waktu dan tenaga, ada harga-harga lain yang harus dibayar.

 

 BERDIRI SENDIRI

 Banyak orang melihat pada gaya hidup glamor yang dimiliki oleh

 seorang pemimpin dan ingin menjadi pemimpin. Beberapa bahkan merasa

 bahwa mereka dipanggil untuk menjadi pemimpin. Mereka menginginkan

 kehormatan dan kuasa yang ada dalam posisi kepemimpinan. Namun

 demikian, tidak semua orang itu menyadari tanggung jawab besar yang

 diemban oleh seorang pemimpin.

 

 Pada pokok bahasan ini, saya harus mengatakan bahwa Alkitab dengan

 jelas mengatakan bahwa adalah hal yang bagus untuk bercita-cita

 menjadi seorang pemimpin. Perhatikan apa yang Paulus tulis pada

 Timotius: "Benarlah perkataan ini: ‘Orang yang menghendaki jabatan

 penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah.’" (1 Tim. 1:3)

 Tuhan jelas sangat senang saat seseorang bercita-cita menjadi

 pemimpin. Namun demikian, Ia juga ingin agar kita memerhitungkan

 harga yang harus dibayar. Tuhan berkata, "Sebab siapakah di antara

 kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu

 membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk

 menyelesaikan pekerjaan itu?" (Luk. 14:28)

 

 Salah satu harga yang harus Anda perhitungkan adalah kesediaan Anda

 untuk berdiri sendirian. Sebagai seorang pemimpin, ada saat-saat di

 mana Anda menjadi satu-satunya orang yang memerangi masalah. Bahkan

 saat tidak ada seorang pun yang bersedia menangani suatu masalah,

 seorang pemimpin harus selalu mau. Ini adalah salah satu harga besar

 yang harus dibayar oleh seorang pemimpin, dan itu jugalah salah satu

 hal yang membedakan seorang pemimpin.

 

 Saat orang-orang Israel berkumpul di Lembah Tarbantin untuk

 berperang melawan bangsa Filistin, tidak seorang pun di antara

 mereka, termasuk Raja Saul, bersedia maju melawan raksasa Filistin,

 Goliat. Saat Daud, seorang gembala muda, tiba di perkemahan

 orang-orang Israel dengan makanan dari rumah untuk

 saudara-saudaranya dan melihat situasi tersebut, ia menghampiri

 Raja Saul dan berkata, "Janganlah seseorang menjadi tawar hati

 karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu."

 (1 Sam. 17:32)

 

 Daud mau untuk maju melawan Goliat saat tidak ada seorang pun yang

 mau. Ada saat-saat di mana Anda, seperti Daud, akan mengajukan diri

 dan berkata, "Janganlah seorang menjadi tawar hati — saya akan

 melakukannya"! Itulah harga yang terkadang akan Anda bayar untuk

 menjadi seorang pemimpin. Terkadang Anda diharuskan untuk berdiri

 sendirian menyelesaikan suatu masalah.

 

 MELAWAN OPINI PUBLIK

 Seorang pemimpin tidak hanya harus berdiri sendirian dalam

 menghadapi suatu masalah, ia juga harus siap untuk berdiri melawan

 opini publik dalam rangka menekankan apa yang ia percaya. Ini adalah

 salah satu harga termahal yang seseorang harus bayar untuk menjadi

 seorang pemimpin.

 

 Tidaklah mudah untuk bertahan mengahadapi gelombang opini publik

 yang terus menerjang Anda, tapi ada banyak saat ketahanan itu

 diperlukan. Perhatikan pernyataan Yosua bagi orang-orang Israel

 dalam Yosua 24:15: "Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk

 beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu

 akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di

 seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu

 diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada

 TUHAN!"

 

 Yosua tidak serta-merta menjadi pemimpin hanya karena ia adalah

 pemimpin bangsa; ia menjadi pemimpin karena ia mau bayar harga. Ia

 mau melawan opini publik dalam rangka menyatakan dan menekankan apa

 yang ia percaya.

 

 Bagaimana dengan Anda — apakah Anda mau berpegang teguh pada

 keyakinan Anda meski banyak pendapat menentangnya? Atau apakah Anda

 lebih tertarik disukai banyak orang karena Anda ikut-ikut saja

 dengan pendapat mereka?

 

 Jika Anda berpikir bahwa menjadi seorang pemimpin yang baik berarti

 menyenangkan hati orang banyak, Anda tidak akan pernah berhasil

 menjadi seorang pemimpin. Perumpamaan kuno yang mengatakan bahwa

 "Anda dapat menyenangkan beberapa orang kadang-kadang, namun Anda

 tidak akan dapat menyenangkan semua orang setiap waktu" benar-benar

 sesuai dalam kepemimpinan.

 

 Ada saat-saat di mana Anda tidak bisa menyukakan siapa pun juga,

 namun itu adalah tugas seorang penghibur untuk menyenangkan hati

 semua orang. Pekerjaan pemimpin adalah menetapkan teladan yang benar

 dan kemudian menantang orang untuk mengikutinya. Dan jika teladan

 yang benar itu tidak disukai banyak orang, seperti Yosua, maka Anda

 harus melawan opini publik.

 

 MENGHADAPI KEGAGALAN

 Kegagalam memiliki konsekuensi yang berbeda bagi setiap orang.

 Misalnya, Anda berharap pengikut Anda terkadang gagal, namun

 pengikut Anda tidak pernah berharap bahwa Anda akan gagal. Pemimpin

 berada di bawah tekanan konstan untuk menjadi sukses. Mereka

 diharapkan untuk selalu berada di garis depan. Banyak orang berpikir

 bahwa mereka akan gagal saat berada dalam posisi kepemimpinan. (Dan

 jika mereka pernah gagal, mereka tidak tahu bagaimana cara

 menangani atau menghadapi kegagalan tersebut.) Namun, semua orang

 pernah gagal — bahkan para pemimpin besar!

 

 Abraham gagal (Kej. 12:10-13; 16:1-6). Musa gagal (Kel. 2:11-12;

 Bil. 11:10-23). Daud gagal (2 Sam. 11:1-21). Petrus gagal (Mat.

 26:69-75). Dan Anda dan saya juga gagal.

 

 Tanda seorang pemimpin yang baik bukanlah karena ia tidak pernah

 gagal. Ujian kepemimpinan yang sebenarnya adalah bagaimana menangani

 kegagalan. Para pemimpin besar dalam Alkitab tersebut di atas

 semuanya pernah gagal. Namun mereka belajar dari kegagalan mereka,

 dan Tuhan terus menggunakan mereka sebagai pemimpin yang efektif.

 

 Selalu ada risiko dalam kepemimpinan. Pemimpin dihadapkan pada

 kemungkinan yang lebih besar untuk gagal daripada pengikutnya, dan

 hasilnya jauh lebih buruk saat seorang pemimpin gagal daripada

 pengikutnya yang gagal.

 

 MENGUASAI EMOSI

 Pemimpin yang efektif menguasai emosi mereka. Apa pun yang mereka

 rasakan, pemimpin yang baik harus berjuang dengan panduan fakta dan

 prinsip.

 

 Saat kita mengizinkan emosi mengendalikan kita, kita menjadi lebih

 berisiko melakukan kesalahan dalam menilai sesuatu, bahkan akan

 menghadapi suatu kegagalan yang serius. "Orang yang sabar besar

 pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan."

 (Ams. 4:29) "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari

 situlah terpancar kehidupan." (Ams. 4:23)

 

 Jika Anda melihat apa yang menyebabkan Abraham, Musa, Daud, dan

 Petrus gagal, Anda akan menemui bahwa dalam suatu perkara, mereka

 mengizinkan emosi mereka mengendalikan keputusan dan mereka menyesal

 telah melakukan sesuatu yang mereka tahu bahwa itu adalah salah.

 Jika mereka tidak membiarkan emosi mengendalikan mereka, mereka

 tidak akan gagal.

 

 Saat kita mengizinkan emosi mengendalikan kita, kita tidak hanya

 lebih berisiko melakukan kesalahan, tetapi juga pasti akan melakukan

 sesuatu yang akan kita sesali nantinya. Pokok itu dengan jelas

 dinyatakan dalam Yakobus 3:2-5: "… Dan lihat saja kapal-kapal,

 walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat

 dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak juru mudi.

 Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun

 dapat memegahkan perkara-perkara yang besar …."

 

 Saat kita mengendalikan emosi, kita dapat mengendalikan lidah kita.

 Dan semakin kita mengendalikan lidah kita, semakin jarang kita

 terlibat masalah.

 

 Setiap orang harus mengendalikan emosi. Terlebih lagi, pengendalian

 emosi sangat penting bagi seorang pemimpin karena tindakan dan

 reaksinya tidak hanya memengaruhi diri sendiri, tapi juga

 pengikutnya. Pengendalian emosi termasuk mengatakan tidak saat Anda

 benar-benar mengatakan ya.

 

 MENGHINDARI CELAAN

 Seorang pemimpin juga harus menghindari celaan. "Karena itu penilik

 jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu istri,

 dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap

 mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah,

 pendamai, bukan hamba uang …. Hendaklah ia juga memunyai nama baik

 di luar jemaat, agar jangan ia digugat orang dan jatuh ke dalam

 jerat Iblis." (1 Tim 3:2-3,7)

 

 Memberikan teladan hidup yang baik adalah salah satu harga yang

 harus dibayar seorang pemimpin. Ada banyak hal yang bisa dilakukan

 oleh orang lain, namun pemimpin tidak. Pemimpin harus menghindari

 situasi yang mungkin memberikan kesempatan untuk orang lain

 "berbicara".

 

 Paulus dengan jelas menjelaskannya dalam Titus 2:7-8, "Dan

 jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik.

 Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu,

 sehat dan tidak bercela dalam pemberitaanmu sehingga lawan menjadi

 malu, karena tidak ada hal-hal buruk yang dapat mereka sebarkan

 tentang kita."

 

 Paulus juga menerangkan bahwa "Segala sesuatu diperbolehkan". Benar,

 tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan".

 Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun. Jangan seorang pun

 yang mencari keuntungannya sendiri, tetapi hendaklah tiap-tiap orang

 mencari keuntungan orang lain …. Janganlah kamu menimbulkan syak

 dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat

 Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang

 dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk

 kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat." (1 Kor.

 10:23-24, 32-33)

 

 Paulus dengan jelas menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus

 menghindari celaan.

 

 MEMBUAT KEPUTUSAN YANG ORANG LAIN TIDAK MAU BUAT

 Pemimpin terkadang harus mengambil keputusan yang orang lain tak mau

 ambil. Seperti orang lain, Anda mungkin tidak ingin mengambil

 keputusan. Anda mungkin tidak mau bertanggung jawab akan hasilnya.

 Anda mungkin tidak tahu keputusan mana yang terbaik. Tapi, seseorang

 harus memutuskan — dan orang itu adalah pemimpin.

 

 Salah satu hal terburuk yang dapat Anda lakukan adalah menangguhkan

 keputusan yang harus diambil. Penangguhan akan mengurangi

 kredibilitas Anda dalam memimpin.

 

 Jangan coba-coba menangguh-nangguhkan keputusan yang harus diambil.

 Harga yang harus dibayar sebagai pemimpin terkadang adalah seorang

 pemimpin harus mengambil keputusan dan menanggung risikonya — tidak

 peduli kita suka atau tidak.

 

 MENGORBANKAN KEPENTINGAN PRIBADI

 Kehidupan pemimpin bukanlah miliknya sendiri. Pemimpin memiliki

 tanggung jawab besar pada mereka yang dipimpin. Pemimpin sering kali

 harus mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama.

 

 Karena pemimpin berurusan dengan orang banyak, kebutuhan mereka

 harus menjadi perhatian utama. Terkadang saya benci mendengar dering

 telepon yang saya tahu bahwa yang menelepon adalah orang yang butuh

 menemui saya. Tidak — aku tidak selalu ingin menjawab telepon itu.

 Ya — Terkadang saya marah karena ada orang yang mengganggu apa yang

 saya anggap adalah waktu pribadi saya.

 

 Namun untuk menjadi pemimpin yang efektif, salah satu harga yang

 harus dibayar adalah mengorbankan kepentingan pribadi bagi kebaikan

 bersama.

 

 BERUSAHA MELAKUKAN YANG TERBAIK

 Pemimpin adalah orang yang memimpin, memandu, dan menunjukkan jalan

 bagi yang lain. Pemimpin ada di garis depan memberikan panduan dan

 menetapkan arah.

 

 Anda tidak bisa menjadi pemimpin jika Anda hanya puas dengan semua

 yang biasa-biasa saja. Anda harus selalu berjuang untuk yang terbaik

 – baik bagi diri Anda sendiri dan pengikut Anda.

 

 Yesus Kristus memberikan teladan yang baik bagi pengikut-Nya.

 Perhatikan yang orang katakan tentang-Nya: "Ia menjadikan

 segala-galanya baik." (Mrk. 7:37) Ayat ini juga menyiratkan bahwa

 karena standar tindakan-Nya sangat baik, "Mereka takjub dan

 tercengang." Paulus juga mengatakan hal yang sama, "Apa pun juga

 yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk

 Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kol. 3:23)

 

 Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kita, apalagi pemimpin, harus

 melakukan yang terbaik. Anda tidak bisa melakukan hal yang

 biasa-biasa saja dan mengharapkan bahwa pengikut Anda akan

 melakukan hal yang besar. Jika Anda ingin tahu bagaimana performa

 Anda, lihat seberapa keras pengikut Anda dalam melakukan sesuatu.

 

 HARGAI ORANG LEBIH DARIPADA HARTA

 Telah disebut bahwa pemimpin berurusan dengan orang banyak –

 orang-orang tersebut harus lebih penting daripada harta Anda.

 

 Orang dan harta tidak dapat duduk bersama pada prioritas utama; Anda

 harus memilih salah satunya. "Karena di mana hartamu berada, di situ

 juga hatimu berada." (Mat. 6:21) Jika Anda menempatkan harta Anda

 pada prioritas utama, di sanalah komitmen Anda tertuju. Anda tidak

 bisa menjadi pemimpin yang efektif kecuali orang banyak adalah

 prioritas Anda.

 

 Pengikut meneladani pemimpin, jika Anda menetapkan harta sebagai

 prioritas utama dalam memimpin, suatu saat mereka juga akan

 bertindak demikian. Begitu juga sebaliknya, jika Anda menempatkan

 orang banyak sebagai prioritas utama, pengikut Anda juga akan

 bertindak demikian saat mereka memimpin. Sesungguhnya kunci utama

 dalam kepemimpinan untuk mencapai tujuan adalah melalui orang

 banyak, bukan perolehan materi.

 

 JAGA KESEIMBANGAN HIDUP

 Fakta membuktikan bahwa salah satu masalah besar bagi pemimpin

 adalah menjaga keseimbangan hidupnya. Pemimpin harus bekerja lebih

 keras daripada orang lain untuk menjaga keseimbangan hidupnya.

 

 Anda harus mendisiplinkan diri untuk dapat fokus pada keseimbangan

 dalam hidup. Sangat mudah untuk menghabiskan semua waktu dan tenaga

 dalam memimpin dan tidak menyisakan waktu untuk diri sendiri dan

 keluarga. Itulah mengapa banyak pemimpin Kristen yang bercerai. Anda

 harus belajar untuk santai dan menikmati hidup di luar posisi Anda

 sebagai pemimpin.

 

 Ingat, sebagai pemimpin, Anda akan diteladani oleh banyak orang.

 Jika hidup Anda tidak seimbang, kehidupan orang yang Anda pimpin

 juga tidak akan seimbang. Orang lain meneladani tindakan Anda, bukan

 perkataan Anda. (t/Dian)

 

 Diterjemahkan dan diringkas dari:

 Judul buku: The New Leader

 Judul bab: Paying The Price to Become An Effective Leader

 Penulis: Myron Rush

 Penerbit: SP Publications, Inc., Amerika 1987

 Halaman: 37 — 50

RenunganMay 7, 2008 6:18 am

RENUNGAN KEBAKTIAN KELUARGA “CUCU-CUCU” Almarhum Pdt Made Rungu

 

CINTA DAN AIR

 

KARAKTERISTIK AIR

 

1.      Selalu Mengalir ke tempat yang lebih rendah

2.      Kalau dipanaskan akan menguap

3.      Kalau berada pada suhu dibawah 0 derajat celcius akan keras membeku

4.      Melepas Dahaga

5.      Dapat menyejukan

6.      …………….

7.      …………….

8.      …………….

9.      …………….

10.  …………….

11.  …………….

 

 

KETIKA CINTA MULAI BERSEMI

Kidung Agung 4:7-15

 

I. PENDAHULUAN

Kidung Agung 4 ini berisi pujian Salomo kepada Sulamit isterinya. Ini adalah puji-pujian suami terhadap istri atau pujian bagi orang yang sudah menikah. Orang tidak boleh memuji pada saat pacaran, tetapi justru setelah menikah. Romantisme itu bukan untuk pacaran tetapi justru untuk pernikahan, karena romantisme itu membutakan “mata“.

Cinta yang sehat adalah seperti “sumber air hidup, yang mengalir dari gunung Libanon“. Libanon berada di sebelah utara Israel, dan gunung yang tertinggi di Libanon adalah gunung Hermon. Di bawah gunung Hermon ada suatu tempat yang dinamakan Banias atau dalam Alkitab disebut Kaisarea Filipi. Di kaki gunung Hermon tersebut ada sumber air tawar yang mengalir ke sungai Yordan. Dari sungai Yordan mengalir ke Danau Galilea dan dari danau Galilea mengalir lagi sampai ke Laut Mati. Jadi seluruh sumber air di Israel berasal dari gunung Hermon. Jadi yang mau digambarkan oleh Alkitab bahwa kalau cinta kita sehat, hidup kita pasti benar. Dan bukan hanya dalam hal pacaran, tetapi di dalam keluargapun kalau kita memberikan cinta yang sehat kepada anak-anak, maka anak-anak kita akan menjadi luar biasa. Karena cinta yang sehat itu seimbang antara mendidik, memuji, mendisiplinkan dan melakukan yang baik. Dan kalau kita memberikan cinta yang sehat kepada suami atau isteri, maka rumah tangga kita akan menjadi rumah tangga yang luar biasa.



II. PENYEBAB JATUH CINTA

Banyak orang berkata bahwa “kalau saya sampai jatuh cinta, itu karena Tuhan“, karena Allah adalah kasih. Berarti kalau saya mencintai, itu datangnya dari Tuhan. Sampai titik tertentu, pemahaman tersebut benar. Tetapi menjadi tidak benar jika ada suami atau isteri yang jatuh cinta kepada orang lain. Bagaimana membedakan, cinta yang dari Tuhan atau tidak?

1. Nature
Manusia pada dasarnya bisa saja jatuh cinta. Tetapi tidak semua jatuh cinta berasal dari Tuhan.

2. Togetherness
Orang bisa jatuh cinta apabila terus bersama-sama dalam waktu yang cukup lama.

3. Mindset
Orang juga bisa jatuh cinta karena memang orang tersebut mudah jatuh cinta. Mungkin karena pernah ditolong atau juga karena menganggap orang itu baik sekali terhadapnya. Masalahnya adalah jika ada tiga orang yang baik terhadapnya, dia bisa saja jatuh cinta terhadap ketiga-tiganya.

4. Opinion
Orang bisa jatuh cinta juga karena opini untuk menaikkan derajatnya. Misalnya dia orang yang susah, di dalam pemikirannya dia harus mencari pasangan yang kaya supaya dapat memperbaiki ekonominya.

III. JENIS-JENIS CINTA

1. Cinta kagum
Cinta ini termasuk cinta yang berbahaya karena orang yang biasanya mencintai karena kegum, akan cenderung menjadi orang yang mudah jatuh cinta. Misalnya jika seseorang ada masalah dengan pasangannya, kemudian dia bertemu dengan orang yang dapat memberikan solusi atas permasalahannya, maka akan timbul cinta karena kagum akan orang lain yang mungkin lebih pintar, lebih gagah, lebih lembut, lebih cantik, dll. Sebenarnya jenis ini bukanlah cinta tetapi hanya kagum saja.

2. Cinta tertolong
Jenis cinta tertolong ini artinya cinta yang timbul karena merasa tertolong. Banyak contoh kasus yang terjadi karena cinta yang tertolong ini misalnya seorang boss jatuh cinta (selingkuh) dengan sekretarisnya, atau yang lebih parah lagi, seorang majikan yang jatuh cinta dengan baby sitter atau pembantunya.

3. Cinta butuh
Jenis cinta ini maksudnya adalah cinta karena merasa membutuhkan/memerlukan. Contoh kasus misalnya seorang mahasiswa yang jatuh cinta dengan dosennya, dll.

4. Cinta terhibur
Artinya cinta yang timbul karena merasa terhibur. Contoh kasusnya, pelawak yang mempunyai banyak isteri. Jadi orang-orang yang lucu, atau orang-orang yang biasanya bergerak dalam dunia hiburan. Yang menjadi masalahnya kebanyakan orang-orang yang lucu tersebut, bila sudah di rumah menjadi tidak lucu lagi.

5. Cinta kasihan
Jenis yang berikut ini adalah jatuh cinta karena kasihan. Ketika seorang merasa kasihan, ini berbahaya karena bisa mendatangkan cinta yang palsu (false love). Banyak orang menikah dengan dasar kasihan dan biasanya cinta seperti ini tidak akan lama bertahan karena lama-kelamaan, rasa kasihan itu akan hilang.

6. Cinta cocok
Cinta yang didasarkan pada banyaknya kecocokan. Misalnya sama-sama hobby makan atau hobby yang lain. Atau juga merasa cinta karena kalau bercakap-cakap bisa ”nyambung”. Masalah yang timbul kemudian adalah munculnya ketidak-cocokan setelah pernikahan.

7. Cinta sejati
Yang paling tepat adalah cinta sejati. Yaitu cinta yang berasal dari Tuhan, sehingga membawa kita kepada pikiran yang terbuka. Cinta tidaklah buta, tetapi menyelidiki dan mempunyai kesabaran untuk menerima pasangan apa adanya. Cinta sejati bukan tanpa masalah tetapi menghadapi setiap masalah.

IV. PENUTUP

Cinta itu menjadikan kita “kebun yang tertutup“, artinya waktu kita sudah berkomitmen maka rumah tangga harus kita tutup dengan kesetiaan. Dan cinta juga menjadikan kita “sumber air hidup“ artinya cinta itu memberikan kehidupan. Masalah dapat kita hadapi dengan cinta.

Refleksi:

Refleksikan Renungan hari ini, pada kehidupan rumah tangga kita, kemudian temukan, termasuk kategori yang manakah cinta anda terhadap istri/suami/pacar anda?

 

Jika anda sudah terlancur berumah tangga/berkeluarga, Jadikan Tuhan Yesus Jembatan penghubung membentuk cinta sejati dalam keuarga kita masing-masing!

 

Dari awalnya Tuhan menciptakan cinta supaya saling mengasihi sehingga manusia membangun keluarga. Cinta sejati itu menerima apa adanya, Tuhan menerima kita apa adanya.

 

 

RenunganMay 6, 2008 2:22 am

Kenaikan Yesus Kristus

Penulis : Mangapul Sagala

Kelihatannya, kisah kenaikan Yesus Kristus tidak dilihat begitu penting sebagaimana kisah kematian dan kebangkitanNya. Hal itu bisa dilihat dari sikap umat untuk menyikapinya. Kelihatannya, sepi saja. Syukur di berbagai negara, seperti Indonesia hal itu masih diperingati dan dijadikan hari libur nasional. Lain halnya di Singapura. Hari kenaikan tersebut bukan hari libur. Itulah sebabnya, kantor-kantor dibuka seperti biasanya. Sebagian theolog memang melihat hari kenaikan tersebut tidak begitu penting. Bahkan ada yang meragukan dan menolak peristiwa tsb dan menganggapnya hanya sebagai karangan dan dongeng dari Gereja mula-mula. Apa alasan mereka? Tentu ada, dan mungkin banyak; antara lain, mereka mengatakan bahwa hal itu tidak ditemukan secara jelas tertulis dalam keempat Injil.

Lalu apa dasarnya menerima dan mempercayai hari kenaikan tersebut? Sebenarnya, jika mau mempercayainya, ada satu bagian Alkitab yang sangat jelas menuliskan kisah tsb. Dokter Lukas dengan sangat jelas dan cukup detail menuliskan kisah tersebut pada volume kedua dari tulisannya, yaitu pada Kisah Para Rasul 1:6-11.

Berdasarkan kisah tersebut di atas, kita dapat belajar beberapa hal penting.

Pertama, kenaikan Yesus tsb menegaskan akan fakta kebangkitanNya.

Dengan sangat jelas dokter Lukas menuliskan bahwa kenaikan Tuhan Yesus tersebut merupakan satu kesatuan dengan kematian dan kebangkitanNya. Hal itulah yang ditulisnya, menjadi latar belakang dari kisah kenaikan tersebut. Menarik sekali bagaimana dokter Lukas memulai kitab Kisah Para Rasul tsb. Dia menulis: “Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia terangkat (1:1-2). Jadi, dokter Lukas tidak hanya menulis pende ritaan, kematian dan kebangkitan Yesus, tetapi SAMPAI PADA HARI IA TERANGKAT. Dalam ayat berikutnya kita membaca bagaimana kisah kebangkitan Yesus merupakan satu fakta sejarah, dan bukan ilusi semata. Hal itu dengan jelas dinyatakan dengan pembuktian Yesus sendiri bahwa Dia hidup. Hal itu juga menjadi sorotan dokter Lukas, seolah-olah dia sedang mengantisipasi adanya orang-orang yang meragukan dan menolak kebangkitan tsb. “Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak tanda Ia MEMBUKTIKAN, bahwa IA HIDUP. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. (3). Penampakan diri dalam waktu yang cukup lama, yaitu selama 40 hari dan kepada orang yang berbeda-beda, tentu jauh dari tuduhan sementara orang, bahwa itu ad alah halusinasi. Dengan demikian, kita melihat bahwa kenaikan Yesus tersebut menjadi PEMBUKTIAN selanjutnya bahwa Yesus yang mati itu, benar-benar telah bangkit; karena hanya orang yang sudah bangkitlah dapat naik ke surga. Tanpa kebangkitan tidak akan pernah ada kenaikan. Jadi, Yesus bukan saja bangkit dari kubur, sesuatu yang belum dimiliki oleh pendiri-pendiri agama lain. Tapi lebih dari situ, Dia juga telah naik ke surga. Dia naik melampaui segala sesuatu. Dengan demikian, apa yang diberitakanNya selama 40 hari secara terus menerus, yaitu tentang KERAJAAN ALLAH, bukanlah sebuah ilusi atau impian semata. Dalam kenyataannya, apa yang Dia khotbah tersebut, sebentar lagi, Dia akan dan sedang menuju ke sana.

Kedua, kisah kenaikan tsb menunjukkan betapa pentingnya tugas memberitakan Injil.

Hal itu terlihat dengan sangat jelas di dalam cara dan metode penulisan Lukas tsb. Di dalam ayat 9 kita membaca: “Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutupNya dari pandangan mereka”. Jadi, kita membaca bahwa Tuhan Yesus terangkat “sesudah Ia mengatakan demikian”. Mengatakan apa? Jawabnya ada pada ayat 8: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi SAKSIKU di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Dengan perkataan lain, pesan atau perintah terakhir yang diberikan oleh Tuhan Yesus SEBELUM kenaikanNya ke surga adalah agar menjadi saksiNya. Hal itu dimulai dari tempat di mana mereka berada (Yerusalem), meluas ke seluruh propinsi ( Judea) hingga seluruh bumi. Penting untuk diamati bahwa kota Samaria, yang biasanya dihindari oleh orang-orang Yahudi juga disebut. Dengan demikian, tidak ada daerah atau kota di mana Injil tidak diberitakan. Jadi, dari hal di atas kita melihat bahwa penginjilan bukan sesuatu yang boleh ada atau tidak. Tugas memberitakan Injil diberikan oleh Yesus sebagai sebuah KEHARUSAN. Hal itu juga yang pernah ditegaskan oleh salah seorang rasul besar bernama Paulus. “Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil” (1Kor.9:16b).

Kiranya kenyataan tsb cukup bagi kita untuk menyingkirkan segala teori dan usaha untuk mengurangi semangat kita untuk memberitakan Injil. Kiranya perintah Tuhan Yesus tsb yang diberikan PERSIS SEBELUM kenaikanNya ke surga kita nilai dan sikapi SEMAKIN SERIUS. Dengan demikian, dengan segala doa, dana dan daya, kita kerahkan untuk meresponi perintah tsb. Jika kita amati pasal-pasal berikutnya, memang kita melihat bagaimana rasul-rasul dan orang percaya sangat serius melakukan tugas penginjilan tsb. Karena itulah kita dapat membaca statistik Lukas mengenai pertumbuhan Gereja yang sedemikian pesat. Lukas memulai dengan 120 orang (Kis.1:15), selanjutnya sebagai hasil KKR (kebaktian kebanguna rohani) yang dipimpin rasul Petrus, jemaat menjadi 3000 (tiga ri bu) jiwa (2:41). Jumlah tsb meningkat lagi secara tajam menjadi “kira-kira 5000 (lima ribu) orang LAKI-LAKI” (4:4). Jadi, jumlah besar tsb, belum termasuk perempuan. Pertumbuhan jemaat terus terjadi. Karena itu, rupanya, dokter Lukas kewalahan untuk memberikan statistik detail. Itulah sebabnya, jumlah angka yang jelas, terakhir kita temukan pada Kisah 4 tsb, di mana selanjutnya dokter Lukas menggunakan istilah “jumlah murid makin bertambah” (6:1)

Selanjutnya, dari kisah tersebut di atas, kita perlu mewaspadai dua hal. Pertama, kita membaca satu PEERTANYAAN ANEH yang diberikan kepada Yesus. “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” (6). Pertanyaan tersebut diberikan bukan pada awal pelayanan Yesus, tetapi justru di akhir, yaitu pada saat-saat terakhir di mana kenaikan Yesus tinggal dalam hitungan detik. Apakah yang ada dalam pikiran orang banyak ketika itu? Soal pemulihan KERAJAAN ISRAEL! Bukan soal KERAJAAN ALLAH, sebagaimana hal itu terus menerus ditegaskan dan ditekankan Yesus selama sisa 40 (empat puluh) hari Dia tinggal di dunia. Sungguh menyedihkan. Dengan perkataan lain, orang yang berkumpul di situ hingga detik terakhir mereka bersama Yesus masih terus mener us berpusat kepada hal-hal duniawi, bukan kepada hal-hal surgawi. Itulah sebabnya kemudian Tuhan Yesus menegur mereka dan untuk saat terakhir kembali mengarahkan hati dan pikiran mereka kepada KERAJAAN ALLAH, yaitu untuk memberitakan Injil (8).

Hal tersebut juga menjadi pelajaran dan koreksi bagi kita agar kita memeriksa diri kita masing-masing. Setelah kita mengenal Tuhan Yesus dan mendengar segala pengajaranNya, sejauh mana hati dan pikiran kita semakin menyatu dengan visi dan ambisi ilahi. Sejauh mana hati kita bersemangat serta berkobar-kobar dalam hal PENGGENAPAN KERAJAAN ALLAH tsb. Apakah doa, dana dan diri kita sudah semakin terpusat untuk hal tsb? Jika ternyata, kita masih memiliki ambisi2 duniawi bahkan semakin dikuasai oleh ambisi-ambisi demikian, biarlah kita dengan segera membuang dan meninggalkan itu dan dengan segala kerendahan hati memohon rahmatNya agar RohNya bekerja menguasai diri kita untuk hidup menjadi saksiNya (8).

Hal kedua yang perlu kita waspadai adalah SIKAP ANEH yang ditunjukkan oleh umat di ayat 10. “Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka”. Apa maksud ayat tsb? Di sana firman Tuhan mencatat bahwa mereka yang berkumpul ketika itu “sedang menatap ke langit” (kai hos atenizontes esan eis ton ouranon).

Barangkali ada yang bertanya: “Apa salahnya menatap ke langit? Bukankah itu mencerminkan kekaguman mereka kepada Yesus, Tuhan mereka? Bukankah itu juga mencerminkan kerinduan mereka kepada Yesus, di mana mereka ingin terus bersama-sama dengan Tuhannya? Jika itu yang menjadi pertanyaan kita, maka ternyata hal itu adalah sala2h. Salah bukan menurut saya, tetapi menurut Tuhan. Setidaknya hal itu kita lihat dengan jelas dari kisah tsb. Kita melihat dii sana bahwa Tuhan ‘terpaksa’ harus mengutus “dua orang yang berpakai n putih” untuk menegur mereka dan berkata: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” (11).

Sebenarnya, saya sependapat bahwa tidak salah mengagumi dan merindukan kebersamaan dengan Yesus. Saya justru melihat bahwa hal itu harus kita lakukan dan kita tumbuh kembangkan. Kita jangan menjadi orang yang cuek dan tidak perduli kepada Yesus yang telah sedemikian baik dan berbuat segalanya bagi kita. Jangan juga kita biarkan hati ki369dingin dan membeku sehingga tidak bergairah dan tidak merindukan Yesus. Saya melihat bahwa yang menjadi masalah adalah ketika mereka terus menerus mengagumi dan merindukan Yesus dengan “menatap ke langit”, sedemikian rupa, sehingga mereka melupakan tugas yang telah diberikan kepada mereka, yaitu untuk pergi segera. Pergi bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk bersaksi bagi Dia, yang mereka kagumi tsb. Bersaksi untuk memberitakan KERAJAAN ALLAH di Yerusalem, seluruh Judea dan Samaria… sampai ke ujung bumi. Itulah sebabnya kedua orang utusan tsb harus turun dan ‘mengusir’ mereka dari bukit kemuliaan, yaitu tempat Yesus naik ke surga tsb.

Jadi, ada dua hal yang harus kita waspadai. Pertama, agar kita jangan hidup ‘terlalu’ duniawi, sehingga kita hanya memikirkan kerajaan duniawi, yaitu pemulihan ‘kerajaan-kerajaan’ kita. Terus berpikir dan bertanya tentang pekerjaan kita, business kita, sehingga kita lupa akan Kerajaan Allah. Kedua, agar kita jangan hidup ‘terlalu’ rohani, dengan terus menerus memandang ke langit. Terus menerus beribadah, dari satu tempat ibadah ke tempat ibadah yang lain; sedemikian rupa, sehingga kita melupakan tugas kita untuk bersaksi bagi dunia, untuk terlibat di dalam dunia, melakukan segala sesuatu secara kongkrit, demi pemulihan dunia ini.-

Selamat memperingati dan merayakan hari kenaikan Kristus!


Tukar Banner Gratis