Membicarakan suatu langkah atau strategi penyiapan SDM dalam GGP khususnya di bidang Pelayan tentu bukanlah persoalan yang mudah dan ringan karena garapan tema ini mempertautkan antara STTP sebagai dapur yang memproduksi SDM dan GGP sebagai lembaga pendukung dan mahasiswa sebagai sumber daya manusianya. Ketiga unsur ini sangat kait mengait satu sama lain yang tidak terpisahkan. Apakah visi dan misi GGP Indonesia dapat ditangkap dan diimplementasikan dengan baik oleh STTP sebagai institusi theology GGP atau sebaliknya apakah GGP memiliki suatu landasan visi dan misi yang jelas untuk menjalankan peran substansinya sebagai Tubuh Kristus di muka bumi ini yakni untuk bersaksi, berkarya, dan melayani. Atau mungkin GGP malah semakin tercecer jauh di belakang karena tidak mampu menyikapi tanda-tanda zaman sebagaimana disinyalir oleh DR. T. B Simatupang, gereja tidak dapat hidup ditengah-tengah proses pembangunan itu dengan unsur modernisasi, urbanisasi, industrialisasi dan sekularisasinya tanpa mengalami perubahan-perubahan. Gereja harus membaharui cara berpikir, cara bekerja, cara berorganisasi dan membaharui pemikiran theologinya dalam ketaatan kepada Tuhan yang tidak berubah agar gereja dapat menjadi garam dan terang ’Mat. 5 : 16 – 17’ (Iman Kristen dan Pancasila, hal 94). Lebih lanjut Simatupang mengatakan bagaimana posisi dan tanggung jawab gereja di semua tempat dan di semua zaman tidak pernah mengalami perubahan. Tugas gereja adalah untuk hidup sebagai gereja yang taat kepada Tuhan yang tidak mengalami perubahan baik kemarin, hari ini dan selama-lamanya ’Ibr. 13 : 8’. Namun, tugas tersebut harus dipahami secara baru ditengah dunia yang senantiasa berubah (Iman Kristen dan Pancasila, hal 89). Abad ini disebut dengan zaman globalisasi yang didukung dan dimungkinkan oleh kemajuan teknologi khususnya teknologi produksi dan teknologi informasi komunitas. Zaman globalisasi ini disatu pihak memberikan peluang yang sangat luas untuk dimanfaatkan oleh siapapun, maupun untuk mendapatkan atau mewujudkan kepentingannya. Tetapi di pihak lain zaman globalisasi menantang setiap orang untuk bersaing dalam memanfaatkan setiap kesempatan dan peluang-peluang yang ada di depan mata (Y. Simanjutak, struggling and Hope, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 1999, hal 797).
Untuk dapat unggul dalam setiap kesempatan di segala pada zaman globalisasi ini sangat ditentukan oleh banyak faktor dan salah satu diantaranya adalah kualitas SDM yang dimiliki. Itu jugalah sebabnya mengapa setiap perusahaan, lembaga dan institusi memfokuskan perhatian pada peningkatan SDM di lingkungan pekerjaan masing-masing tidak lain agar mampu berkompetisi untuk meningkatkan produk yang dihasilkan. Apa kaitannya dengan penyiapan SDM GGP? GGP mampu atau tidak mampu menjalankan tugas misinya sebagai Tubuh Kristus sangat ditentukan oleh kualitas SDM yang dimiliki saat ini dan juga pada masa datang. Oleh karena itu, hal yang sangat mendesak untuk dilakukan oleh GGP adalah bagaimana mempersiapkan sumber daya manusianya hingga cakap dan mampu berkompetisi untuk merebut peluang misi ditengah dunia yang cepat berubah ini. Disini sangat menentukan peranan strategi STTP yang kita miliki.
B. LANGKAH-LANGKAH STRATEGI DALAM PENYIAPAN SDM KHUSUSNYA PELAYAN-PELAYAN DI GGP
1. GGP menuju Paradigma Baru
Apa artinya GGP menuju paradigma baru? Kita harus akui di usianya yang ke 82 tahun, GGP dalam kaitannya dengan pertumbuhan jemaat ternyata bergerak sangat lamban. Menurut saya, keadaan ini disebabkan tidak beraninya kita untuk merubah paradigma pelayanan.
Keadaan seperti ini apabila tidak segera diubah maka jelas akan menimbulkan persoalan-persoalan baru di tubuh GGP. GGP tidak dapat hanya membanggakan tradisi yang ada walaupun sering tidak dipahami dengan benar. GGP tidak boleh berkutat dan berputar hanya pada persoalan struktur bahkan terlalu sering membanggakannya, tapi hanya sedikit dipahami dan kurang dapat memberikan kontribusi penuh dalam tugas dan pelayanan. Lalu dimana arti Kebangunan Rohani yang pernah dialami ”Papa Thyssen”? Dimana terobosan pelayanan ”mujizat Allah Papa Thyssen” yang memberikan transformasi rohani bagi kehidupan gereja dan masyarakat? Bukankah hal-hal tersebut kini dikembangkan oleh saudara-saudara kita yang beraliran Kharismatik? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak perlu kita jawab disini karena kita mengetahuinya tapi yang perlu dipahami dan dilaksanakan.
Peter Wagner mencatat di Brasilia angka pertumbuhan Gereja yang cepat selama beberapa tahun terakhir terjadi di ”Universal Church of The Kingdom of God”. Gereja ini sekarang beranggotakan lebih dari 3 juta jiwa. Pada umumnya perubahan besar yang terjadi dalam suatu gereja tertentu berkaitan dengan nilai-nilai yang mereka anut.
Ada lima nilai yang mereka kembangkan, tiga diantaranya berkaitan dengan iman : Theologi, Ekklesiologi, dan Eskhatologi. Dua nilai yang lain adalah Organisasi dan Kepemimpinan. (Peter Wagner, Gempa Gereja, hal. 59, 80 – 81).
Lebih lanjut Peter Wagner menyebutkan ada empat tugas pokok yang harus dilakukan untuk mengalami pertumbuhan gereja dan dua diantaranya disebutkan dibawah ini :
a. Mengembangkan Gereja Lokal
Rick Warren yang mendirikan Saddelback Valley Community Church di California tahun 1980 menekankan ”kehidupan gereja”. Ia menyatakan demikian : Segala yang hidup akan bertumbuh, anda tidak perlu membuatnya bertumbuh. Bertumbuh adalah sesuatu yang alami bagi organisasi yang hidup jika organisasi itu sehat. Sebagai contoh, saya tidak perlu memerintah ketiga anak saya untuk bertumbuh, secara alami mereka bertumbuh dengan cara yang sama. Karena gereja merupakan suatu organisasi yang hidup maka gereja akan akan bertumbuh secara alami jika sehat. Gereja merupakan suatu tubuh bukan suatu bisnis. Gereja adalah suatu organisasi yang hidup (organisme). Apabila gereja itu tidak bertumbuh gereja itu sekarat (Gempa Gereja, hal. 242 – 243).
b. Mendirikan Gereja
Metode penginjilan efektif dibawah surga adalah mendirikan gereja-gereja baru (Church Planting).
2. STTP kini dan kedepan mempersiapkan SDM yang bermutu, cakap penuh Roh Kudus
- Berada dalam pusaran arus globalisasi
Di era Orde Baru seorang Menteri yang mengurusi persoalan-persoalan informasi sangat getol mengucapkan istilah ”Globalisasi”. Dengan rasa percaya diri yang tinggi sang Menteri mengupas tuntas dampak globalisasi dan berupaya meyakinkan rakyat Indonesia agar bersiap menghadapi zaman globalisasi (Wibowo SJ, Globalisasi dan Gereja, 2000, hal. 27).
Globalisasi merupakan suatu fenomena yang aneh pada akhir abad 20. Globalisasi tidak sama dengan hubungan internasional dan juga tidak hanya sekedar seseorang bisa berkomunikasi dengan orang lain di benua lain lewat telepon, fax, internet / E-mail. Globalisasi adalah sebuah peristiwa ketika ruang dan waktu tidak begitu penting lagi atau sudah menjadi relatif. Kalau pada masa yang lalu seseorang masih harus memperhitungkan ruang dan waktu dalam mengadakan suatu transaksi, namun sekarang yang terjadi adalah suatu hal yang sebaliknya (Globalisasi dan Gereja, hal. 29 – 29).
Lebih detail lagi, Wibowo menguraikan bahwa globalisasi ternyata tidak hanya berdampak pada sistem ekonomi, komunikasi ataupun transformasi. Globalisasi menurut Anthony Giddens yang dikutip oleh Wibowo, dipandang sebagai satu kekuatan yang mengubah (transform) kehidupan sosial masyarakat pada zaman ini. Dampak yang nyata terjadi adalah pada relasi hidup bersama, relasi keluarga bahkan pada jati diri antara pribadi. Wibowo mengutip pandangan Anthony Ciddens yang mengatakan bahwa ada dua dampak besar yang ditimbulkannya yaitu :
- Munculnya gejala de tradisionalisasi yang mengakibatkan munculnya Post International Society.
Menurut Giddens tradisi bukan lagi satu-satunya pegangan untuk kehidupan ini. Tradisi telah kehilangan kekuatan atas kebenaran. Tradisi harus berkompetisi dengan banyak penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Orang tidak lagi mudah percaya terhadap sesuatu yang berbau tradisi sehingga menimbulkan kegelisahan di pihak orang tua. Menurut Giddens, ada dua macam cara mempertahankan tradisi yaitu cara modern dan tradisional. Dalam bukunya Runaway World, Giddens mengutip sebuah laporan peristiwa di India tahun 1995 yang menyatakan ada arca yang dapat minum susu. Ketika mendengar berita itu orang tidak menertawakannya malah mereka datang berbondong-bondong untuk mempersembahkan susu. Di pihak lain, kaum ilmuwan mempersiapkan alat-alatnya untuk menetapkan kebenaran peristiwa tersebut. Dalam kasus ini tradisi dipertahankan dengan cara yang modern. Lebih lanjut Giddens mengatakan bahwa ada tradisi yang dipertahankan dengan cara yang tradisional contohnya adalah fundamentalisme agama.
- Munculnya Social Reflexivity yang mengatakan bahwa zaman sekarang ini mengetahui banyak hal. Pengetahuan itu digunakan untuk memahami dirinya sendiri.
Daulat P. Tambunan mencatat beberapa faktor yang mendorong berkembangnya globalisasi, yaitu :
* Hakikat manusia sebagai Homo Social.
* Kebutuhan ekonomi.
* Tersedianya sarana komunikasi dan transportasi modern.
Faktor ekonomi tentu tidak terlepas dari faktor politik dan ketiga faktor saling berkaitan satu sama lain, terbentuknya badan kerjasama regional dan global. Persaingan akan semakin ketat dan tinggi. Dalam persaingan ini kemenangan akan ditentukan oleh mutu SDM.
- Pemberdayaan SDM adalah Kunci Utama untuk Mencapai Perkembangan dan Pertumbuhan GGP
Bagian ini saya mulai dengan sebuah cerita tentang mendidik atau menjadikan ahli. Sadar bahwa ayahnya terancam tua, anak seorang pencuri berkata : ”Ayah, ajarkanlah kepadaku kepandaianmu sehingga kalau ayah berhenti bekerja saya dapat meneruskan tradisi keluarga”. Ayah itu tidak menjawab tetapi malam itu ia membawa anaknya ikut membobol sebuah rumah. Sesudah berada didalam ia membuka kamar mandi dan minta kepada anaknya untuk melihat apa yang ada di dalamnya. Segera sesudah anak itu masuk, ayah itu membantingkan dan mengunci pintu kamar mandi itu dengan suara keras sehingga seluruh isi rumah dibangunkan. Lalu ia sendiri menyelinap pergi dengan tenang. Anak itu ketakutan di kamar mandi marah dan bingung mencari cara untuk melarikan diri. Lalu ia mendapat akal, ia mulai membuat suara seperti kucing karena itu seorang pelayan menyalakan lilin dan membuka pintu untuk mengeluarkan kucing itu. Segera sesudah pintu kamar mandi terbuka ia berlari keluar dan melihat ada sumur di pinggir jalan. Ia melemparkan batu besar ke dalamnya dan bersembunyi dalam kegelapan lalu ia lari pergi. Ketika para pengejarnya melihat ke dalam sumur karena mengira pencuri itu tercebur ke dalam sumur. Ketika anak itu sampai di rumah kembali ia sudah lupakan rasa marahnya karena sangat ingin menceritakan kisahnya. Akan tetapi ayahnya berkata : untuk apa menceritakan kepada saya, engkau sekarang ada disini itu cukup. Engkau sudah mewarisi kepandaianku”. (Anthoni De Mello SJ, Doa sang katak 2, Jogjakarta, 1981, hal. 10).
Apapun katanya, dampak yang ditimbulkan globalisasi membuat kita harus memberdayakan SDM gereja kita. Pemberdayaan dan perlengkapan (Empowerment) diartikan sebagai penciptaan dan pengembangan situasi menang-menang (win to win) sehingga semua orang memiliki kemampuan dan kesempatan berkinerja, bermutu, berkreasi, berinovasi dan mengembangkan diri (Perguruan Tinggi Bermutu, hal. 89). Tampubolon sangat benar bahwa pemberdayaan SDM merupakan tugas pekerjaan rumah GGP yang sangat mendesak untuk dilakukan. Ada kekuatiran muncul dalam hati jangan-jangan ini seperti Sang Menteri tadi hanya tahu membicarakan tantangan globalisasi tapi tidak tahu atau tidak mau menyikapi dan menanganinya menjadi sebuah modal untuk pelayanan GGP. Atau jangan-jangan kita hanya tahu bercerita, berbicara tentang pemberdayaan SDM di GGP tetapi soal aktualisasinya kita tidak mau atau tidak mampu, jadi disini kita dituntut untuk lebih serius memikirkan dan merenungkan dan tentu saja melakukannya.
b.1. Langkah-langkah Strategi STTP mempersiapkan SDM GGP di Bidang Pelayan atau Kependetaan
- Perencanaan Kurikulum yang berorientasi pada Visi Misi dan Pertumbuhan Gereja.
Bagaimana 5 – 10 tahun ke depan Pelayan di GGP melalui STTP akan semakin bertambah atau dominan bila tiap tahun STTP menamatkan mahasiswa 50 orang itu berarti dalam kurun waktu 10 tahun ke depan Pelayan di GGP akan bertambah 500 orang. Apabila gereja-gereja mengalami pertumbuhan yang signifikan berarti tidak akan ada masalah serius yang akan dihadapi oleh GGP menyangkut tenaga pelayan. Tentu kaitannya dengan perencanaan kurikulum yang berorientasi pada bidang visi misi dan pertumbuhan gereja harus menjadi prioritas yang akan dikembangkan oleh STTP sebab apa yang dikatakan oleh Wagner untuk mengatasi tersumbatnya tenaga-tenaga Pelayan dan gereja adalah dengan melakukan dua hal yang telah disebutkan diatas, yakni :
* STTP secara nasional harus menekankan pelayanan gereja yang berkembang, bertumbuh baik secara kuantitas-kuantitas maupun organik disetiap jemaat-jemaat lokal.
* Setiap jemaat-jemaat lokal harus mendirikan jemaat baru (Church Planting). Bagaimana ini dilakukan? Tentu banyak cara yang dapat dilakukan untuk mendirikan gereja-gereja baru, subyek atau pelaku dari program misi yang besar ini adalah para lulusan STTP yang diharapkan tidak hanya sekedar melayani tetapi mampu dan cakap melakukan pelayanan ditengah masyarakat (Pelayanan Holistik).
- Untuk mewujudkan visi tersebut, STTP seharusnya sudah memprogramkan pengembangan perpustakaan dengan sistem komputerisasi, pengembangan ruang komputer dan rencana mendirikan laboratorium Bahasa Inggris. Rencana mendirikan laboratorium Bahasa Inggris ini didasarkan pada tuntutan arus globalisasi sehingga mampu berkompetisi secara sehat dalam pelayanan dan juga pengembangan diri untuk menunjang pelayanan yang bermutu dan berhasil. Tuntutan ini juga muncul dari tantangan globalisasi dimana kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Internasional menjadi sangat penting (Struggling and Hope, hal. 806).
b.2. Post-Modernisme dan Ciri-ciri Khusus di Abad 21
Abad 21 dipengaruhi pandangan duniawisme yang akan menghancurkan kerohaniwan maupun etika penggembalaan sedangkan perkembangan komputer akan menghancurkan pandangan komunitas sehingga individualisme akan semakin berkembang.
Dunia akan mengalami perkembangan teknologi, hedonisme serta opportunisme dan dalam suatu zaman dimana tidak mengindahkan agama, saat itu dunia akan memasuki zaman elektronik, dimana semua keputusan akan melalui manusia yang egoisme.
Post-Modernisme dimulai dari anti dan protes tentang modernisasi. Pandangan tersebut menolak tradisi dan authority. Perubahan pandangan manusia terhadap penghargaan sehingga emosinya lebih banyak dipergunakan dan lebih penting dibandingkan dengan menggunakan akal sehingga akan berkembang misterisme yang mengaksenkan pengalaman daripada relativisme serta rasionalitas yang mengarah pada pembebasan individu.
C. PENUTUP
Dibagian penutup ini saya ingi membuat beberapa saran untuk GGP :
1. STTP lahir dari rahim misi GGP oleh karena itu GGP harus terus mengupayakan pekerjaan-pekerjaan pelayanan misi (Church Planting).
2. GGP harus berfokus pada tugas-tugas pelayanan jemaat yang berorientasi pada pertumbuhan tidak hanya sekedar memelihara (Gereja Misioner).
3. Teman-teman dosen STTP sudah sebaiknya mendapat perhatian dalam hal pemberdayaan secara khusus pemprograman studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Jakarta, 17 January 2005
Pdt. Nico Kojongian, MA
Hamba Tuhan Senior GGP
Gembala Jemaat GGP Shalom Wolaang Sulawesi Utara
Ketua Umum Majelis Pusat GGP periode 2001 – 2006





