Renungan 8:00 am

Pesta St Ignatius Loyola: Ul 30:15-20; Gal 5:16-25; Luk 12:49-53

 

“Pendiri Serikat Yesus yang terkenal ini dilahirkan pada tahun 1491. Ia berasal dari keluarga bangsawan Spanyol. Ketika masih kanak-kanak, ia dikirim untuk menjadi abdi di istana raja. Di sana ia tinggal sambil berangan-angan bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi seorang laskar yang hebat dan menikah dengan seorang puteri yang cantik. Di kemudian hari, ia sungguh mendapat penghargaan karena kegagahannya dalam pertempuran di Pamplona. Tetapi, luka karena peluru meriam di tubuhnya membuat Ignatius terbaring tak berdaya selama berbulan-bulan di atas pembaringannya di Benteng Loyola. Ignatius meminta buku-buku bacaan untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia menyukai cerita-cerita tentang kepahlawanan, tetapi di sana hanya tersedia kisah hidup Yesus dan para kudus. Karena tidak ada pilihan lain, ia membaca juga buku-buku itu. Perlahan-lahan, buku-buku itu mulai menarik hatinya. Hidupnya mulai berubah. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Mereka adalah orang-orang yang sama seperti aku, jadi mengapa aku tidak bisa melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan?” Semua kemuliaan dan kehormatan yang sebelumnya sangat ia dambakan, tampak tak berarti lagi baginya sekarang. Ia mulai meneladani para kudus dalam doa, silih dan perbuatan-perbuatan baik.

St. Ignatius harus menderita banyak pencobaan dan penghinaan. Sebelum ia memulai karyanya yang hebat dengan membentuk Serikat Yesus, ia harus bersekolah. Ia belajar tata bahasa Latin. Sebagian besar murid dalam kelasnya adalah anak-anak, sementara Ignatius sudah berusia tiga puluh tiga tahun. Meskipun begitu, Ignatius pergi juga mengikuti pelajaran karena ia tahu bahwa ia memerlukan pengetahuan ini untuk membantunya kelak dalam pewartaannya. Dengan sabar dan  tawa, ia menerima ejekan dan cemoohan dari teman-teman sekelasnya. Selama waktu itu, ia mulai mengajar dan mendorong orang lain untuk berdoa. Karena kegiatannya itu, ia dicurigai sebagai penyebar bidaah (=agama sesat) dan dipenjarakan untuk sementara waktu! Hal itu tidak menghentikan Ignatius. “Seluruh kota tidak akan cukup menampung begitu banyak rantai yang ingin aku kenakan karena cinta kepada Yesus,” katanya.  

Ignatius berusia empat puluh tiga tahun ketika ia lulus dari Universitas Paris. Pada tahun 1534, bersama dengan enam orang sahabatnya, ia mengucapkan kaul rohani. Ignatius dan sahabat-sahabatnya, yang pada waktu itu masih belum menjadi imam, ditahbiskan pada tahun 1539. Mereka berikrar untuk melayani Tuhan dengan cara apa pun yang dianggap baik oleh Bapa Suci. Pada tahun 1540 Serikat Yesus secara resmi diakui oleh Paus. Sebelum Ignatius wafat, Serikat Yesus atau Yesuit telah beranggotakan seribu orang. Mereka banyak melakukan perbuatan baik dengan mengajar dan mewartakan Injil. Seringkali Ignatius berdoa, “Berilah aku hanya cinta dan rahmat-Mu, ya Tuhan. Dengan itu aku sudah menjadi kaya, dan aku tidak mengharapkan apa-apa lagi.” St. Ignatius wafat di Roma pada tanggal 31 Juli 1556. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XV” .(dari: www.indocell,net/yesaya)

 

"Aku datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala”(Luk 12:49)

 

Ignatius Loyola menandai kelompok atau ordo yang dibentuknya dengan nama “Serikat Yesus”, dengan dambaan agar para pengikutnya menjadi sahabat-sahabat Yesus, hidup dan bertindak meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus, yang antara lain “datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah Aku harapkan, api itu telah menyala”.  Di dalam Konggregasi Jendral SJ ke 35  tahun 2008 yang lalu antara lain dilahirkan dekrit yang berjudul “Menyulut kobaran api-api yang lain. Menemukan kembali karisma kita” (Dekrit 2).  Mengawali dekrit ini antara dikatakan :”Selama hampir 500  tahun Seikat Yesus telah membawakan api ke dalam lingkungan sosial dan budaya yang tak terhitung banyaknya. Lingkungan sosial dan budaya ini sangat menantang Serikat dalam mempertahankan kobaran api itu tetap hidup dan bernyala. Situasi yang dihadapi dewasa ini tak berbeda. Dalam sebuah dunia yang merangkul umat manusia dengan pelbagai sensasi, gagasan dan pencitraan, Serikat Yesus mencari jalan agar nyala api inspirasi dasarnya tetap bernyala sehingga menghangatkan dan menjadi terang bagi dunia zaman sekarang” (Dekrit 2 no 1).

 

Kutipan dekrit di atas ini kiranya juga merupakan cita-cita atau dambaan untuk meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus, yang datang telah menimbulkan pembicaraan atau bahkan pertentangan, tentu saja pertentangan antara mereka yang hanya mau hidup dan bertindak menurut selera pribadi, hanya mengikuti keinginan dan keenakan diri sendiri. Api yang dilemparkan oleh Yesus diharapkan menyala di dan membakar hati manusia, sehingga hatinya melampaui tapal batas sendiri, berkobar untuk mengasihi sesamanya dan yang bersangkutan menjadi ‘man or woman for/with others’. Siapapun yang mengakui dan menghayati diri sebagai sahabat Yesus diharapkan tidak hidup untuk diri sendiri saja, melainkan demi keselamatan atau kebahagiaan seluruh dunia, dan untuk itu hendaknya hidup dan bertindak sesuai dengan karisma/spiritualiatas atau visi pendiri hidup bersama.

 

Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging — karena keduanya bertentangan — sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki” (Gal 5:16-17). Hidup dan bertindak sesuai dengan karisma atau spiritualitas memang berarti hidup oleh Roh sehingga menghasilkan buah-buah Roh seperti “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23) serta melawan aneka bentuk perilaku yang dijiwai oleh setan seperti “percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya” (Gal 5:19-21).

Jika kita memiliki dan mengahayati keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh tersebut di atas berarti api yang dilemparkan oleh Yesus telah menyala di dalam hati kita. Selanjutkan kita juga dipanggil untuk mengobarkan dan membakar hati orang lain agar berkobar-kobar dalam mengasihi sesamanya, keluar dari batas hatinya, melampaui batas egonya dan menjadi ‘man or woman with/for others’. Kita semua dipanggil untuk menjadi terang bagi dunia dan sepak terjang atau kehadiran kita senantiasa menghangatkan dan menggairahkan hidup dan kerja bersama. Memang untuk itu  kita harus menghadapi aneka macam tantangan dan hambatan maupun hiburan dan dorongan, sebagaimana dikatakan di dalam kitab Ulangan di bawah ini.

 

Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh TUHAN, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya “(Ul 30:15-16) .  

  

Kita semua kiranya mendambakan “hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh Tuhan”, dan untuk itu kita diharapkan atau dipanggil untuk “mengasihi Tuhan, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturanNya”. Kepada kita dihadapkan “kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan”, dan tentu saja kita semua mendambakan kehidupan dan keberuntungan. Kita diharapkan dapat memilah dan memilih tawaran tersebut dengan cermat dan tepat, dengan kata lain kita diharapkan terampil di dalam pembedaan roh atau ‘spiritual discernment’, yang juga menjadi cirikhas spiritualitas Ignatian.

 

Kebanyakan dari kita kiranya hidup dan bertindak dalam suasana Minggu Pertama Latihan Rohani St.Ignatius, dimana kita hidup di dalam ‘antara’, antara yang baik dan yang jahat, maka baiklah saya kutipkan pedoman pembedaan roh sebagaimana dikatakan oleh St, Ignatius Loyola dalam Latihan Rohani no 314-315 sbb:

“Pada orang yang jatuh beruntun dari dosa besar ke dosa besar, musuh pada umumnya biasa menyodorkan kesenangan-kesenangan semu, membuat mereka membayang-bayangkan kenikmatan dan kesenangan-kesenangan inderawi, supaya karenanya mereka tetap pada keadaan mereka dan berkembang dalam cacat serta dosa-dosa mereka.  Pada orang macam itu, roh baik memakai cara sebaliknya: menghantam dan menyesakkan hati nurani dengan teguran-teguran pada budi.

Pada orang yang dengan tekun maju terus membersihkan dosa-dosanya dan dalam pengabdian kepada Allah Tuhan kita meningkat dari taraf baik ke taraf lebih baik, cara yang dipakai berbalikan dari cara yang disebut pada pedoman di atas. Ciri khas dari roh buruh ialah menyesakkan, menyedihkan dan menghalang-halangi dengan alasan-alasan palsu, supaya orang tidak maju lebih lanjut. Ciri khas roh baik ialah memberi semangat dan kekuatan, hiburan, air mata, inspirasi serta ketenangan, membuat semuanya menjadi mudah dengan menyingkirkan segala halangan supaya orang maju lebih lanjut dalam menjalankan kebaikan”.

 

Keterampilan untuk pembedaan roh atau ‘spiritual discernment’ ini kiranya dapat kita latih dengan mengadakan pemeriksaan batin setiap hari guna mengenal kecondongan-kecondongan hati atau gerak batin kita: apakah ke arah yang baik atau yang jahat. Yang mengetahui hati dan batin kita kiranya kita sendiri bukan orang lain, maka hendaknya dengan cermat dan teliti serta tekun dalam pemeriksaan batin. Untuk membantu pemeriksaan batin kiranya baik kita buka dan baca ‘perintah, ketetapan atau peraturan’  yang terkait dengan hidup, panggilan atau tugas pengutusan kita masing-masing  Sebagai bantuan mungkin baik saya kutipkan beberapa perintah  dari sepuluh perintah Allah sebagai berikut:

“ Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. Jangan mengingini isteri sesamamu, dan jangan menghasratkan rumahnya, atau ladangnya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya, atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu” (Ul 5:16-21)

 

Sebagai contoh baiklah secara sederhana saya uraikan di sini perintah “Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan”.  Ayah dan ibu kita masing-masing adalah pekerjasama atau sahabat Tuhan yang paling dekat dalam rangka karya penciptaan manusia, dimana ayah dan ibu kita saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tubuh, yang antara lain memuncak dalam persetubuhan atau hubungan seksual, yang berbuah kita, anak-anak. Hemat saya ayah dan ibu yang baik telah melaksanakan perintah utama dan pertama dari Tuhan untuk saling mengasihi, maka selayaknya kita sebagai anak-anak menghormati mereka. Hormat kita kepada ayah dan ibu tentu saja harus kita wujudkan dengan mentaati atau melaksanakan perintah, ketetapan atau peraturan Tuhan, sehingga kita, anak-anak dapat memuliakan Tuhan dalam menghormati ayah dan ibu. Dalam pepatah Jawa kita, anak-anak dipanggil untuk “mikul duwur, mendhem jero” = mengangkat setinggi mungkin dan menguburkan sedalam mungkin  orangtua, ayah dan ibu. Yang dimaksudkan antara lain kita sebagai anak mengembangkan aneka nasihat dan teladan yang baik dari ayah dan ibu serta menghapus apa yang tidak baik dalam diri ayah dan ibu, dengan cara hidup dan cara bertindak kita yang berbudi pekerti luhur atau cerdas secara spiritual. Maka mengakhiri refleksi sederhana ini marilah kita doakan atau renungkan doa dari St.Ignatius di bawah ini.

 

Ambillah Tuhan dan terimalah seluruh kemerdekaanku, ingatanku, pikiranku

dan segenap kehendakku, segala kepunyuan dan milikku.

Engkaulah yang memberikan, padaMu Tuhan kukembalikan.

Semuanya milikMu, pergunakanlah sekehendakMu.

Berilah aku cinta dan rahmatMu, cukup itu bagiku”

(St.Ignatius Loyola, LR no 234)

 

Jakarta, 31 Juli 2009

Renungan 7:59 am

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut”

(Kel 40:16-21.34-38; Mat 13:47-53)

 

"Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itu pun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Mengertikah kamu semuanya itu?" Mereka menjawab: "Ya, kami mengerti." Maka berkatalah Yesus kepada mereka: "Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran dari hal Kerajaan Sorga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya." Setelah Yesus selesai menceriterakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ”(Mat 13:37-53), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Telinga atau pendengaran merupakan indera yang pertama kali mulai berfungsi, bahkan ketika anak masih berada di dalam rahim atau kandungan ibu, ia sudah dapat mendengarkan aneka macam suara di lingkungan hidupnya, dan tentu saja apa yang disuarakan oleh sang ibu. Hemat saya semua ibu atau orangtua senantiasa menyuarakan atau menyampaikan apa yang baik kepada anak-anaknya. Anak-anak pada umumnya menerima dengan sepenuh hati apa yang dikatakan oleh ibunya atau orangtuanya, maka ketika yang disampaikan oleh ibunya adalah segala sesauatu yang baik atau budi pekerti luhur, pada waktunya anak-anak ketika dapat berbicara pasti ia akan meneruskan apa yang telah diterimanya tersebut. Maka dengan ini kami mengharapkan kepada para ibu atau orangtua untuk senantiasa menyuarakan apa yang baik atau budi pekerti luhur kepada anak-anaknya. Tentu saja ketika anak-anak tumbuh berkembang hendaknya dalam suasana atau iklim kebebasan dan cintakasih Injili, agar ia terus tumbuh berkembang dengan baik sebagaimana kita dambakan atau cita-citakan. Kebiasaan mendengarkan dengan baik hendaknya ditanamkan sedini mungkin di dalam kelaurga dan kemudian dikembangkan selama berada di dalam proses pembelajaran serta kemudian diperkuat dan diperdalam ketika mereka sudah mulai bekerja atau berkarya. Kita semua diharapkan dan dipanggil untuk mengelauarkan perbendaharaan yang baik dari hati kita masing-masing, sehingga cara melihat, cara merasa,.  cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak kita senantiasa baik. Apa yang disebut baik senantiasa berlaku secara  universal, dimana saja dan kapan  saja, tidak terikat oleh ruang dan waktu.

·   “Apabila awan itu naik dari atas Kemah Suci, berangkatlah orang Israel dari setiap tempat mereka berkemah. Tetapi jika awan itu tidak naik, maka mereka pun tidak berangkat sampai hari awan itu naik. Sebab awan TUHAN itu ada di atas Kemah Suci pada siang hari, dan pada malam hari ada api di dalamnya, di depan mata seluruh umat Israel pada setiap tempat mereka berkemah”(Kel 40:36-38) . Apa yang terjadi di dalam perjalanan bangsa terpilih ini kiranya dapat menjadi bahan refleksi perjalanan hidup kita masing-masing. Kita hidup terus berjalan, mengalir terus, dan di dalam perjalanan ini kiranya ada tanda-tanda  zaman yang perlu atau harus kita cermati dan perhatikan. Agar kita peka terhadap tanda-tanda zaman kiranya kita perlu cukup banyak mendengarkan apa yang terjadi di lingkungan hidup kita dan secara rutin setiap hari mawas diri atau mengadakan pemeriksaan batin dengan baik, sebagaimana menjadi bagian dari doa malam, doa harian. Di dalam pemeriksaan batin diharapkan kita dapat memilah dan memilih, tentu saja memilih apa yang baik, yang tidak laio merupakan bentuk konkret penyertaan, pendampingan atua karya Tuhan di dalam perjalanan hidup kita. Jika kita terampil dalam pemeriksaan batin maka kita juga akan terampil dalam aneka bentuk analisa social yang dibutuhkan dalam cara hidup dan cara kerja kita. Maka hendaknya setiap hati mengadakan pemeriksaan batin dengan baik dan benar. Langkah-langkah pemeriksaan batin yang baik adalah : “ (1)  berterima kasih pada Allah Tuhan kita atas anugerah-anugerah  yang kita terima, (2) mohon rahmat untuk mengenali dan melepaskan diri dari dosa-dosa, (3) minta pertanggunganjawaban dari jiwa, mulai dari waktu bangun sampai pemeriksaan kini, dari jam ke jam atau dari waktu ke waktu; pertama mengenai pikiran, lalu kata-kata, akhirnya perbuatan-perbuatan,…  (4) memohon ampun kepada Allah Tuhan kita atas kekurangan-kekurangan, (5) membuat niat untuk memperbaiki diri dengan rahmatNya, ditutup dengan doa Bapa Kami”  (St.Ignatius Loyola, LR no 43).

 

“Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran TUHAN; hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup. Bahkan burung pipit telah mendapat sebuah rumah, dan burung layang-layang sebuah sarang, tempat menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya TUHAN semesta alam, ya Rajaku dan Allahku! Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau.  Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau” (Mzm 84:3-6a)

 

Jakarta, 30 Juli 2009

RenunganJuly 29, 2009 12:56 am

“Maria telah memilih bagian yang terbaik”

(1Yoh 4:7-16; Luk 10:38-42)

 

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”(Luk 10:38-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Maria, Marta dan Lazarsus, sahabat Tuhan, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Ora et labora” = Berdoa dan bekerja, demikian bunyi salah satu motto. Maksud motto ini kiranya adalah jangan memisahkan hidup doa dan kerja. Dalam kisah Warta Gembira hari ini ada kesan babwa Marta sibuk bekerja dan Maria dengan khusuk sedang berdoa, “duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya”. Rasanya mayoritas waktu dan tenaga kita lebih untuk bekerja daripada berdoa, sedangkan waktu untuk berdosa pribadi sedikit atau bahkan ada orang yang melupakan doa harian. Baiklah dalam rangka mengenangkan orang-orang kudus hari ini saya mengajak anda sekalian untuk mawas diri salah satu spiritualitas Ignatian yaitu “contemplativus in actione”, yang dapat diterjemahkan secara harafiah berarti “berdoa dalam kegiatan”, sedangkan maksudnya adalah ‘menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati segala sesuatu dalam Tuhan’. Salah satu tanda atau gejala dalam menghayati motto ini adalah selama bekerja, meskipun berat dan sarat dengan tantangan atau hambatan, tidak pernah mengeluh atau menggerutu, tetapi gembira dan ceria serta bergairah. Memang orang akan dapat bertindak demikian jika yang bersangkutan tidak melupakan hidup doa, dan doanya bersifat kontemplasi disertai mawas diri. Bahan untuk kontemplasi adalah Kitab Suci, kisah-kisah yang ditulis di dalam Kitab Suci. “Kita tidak perlu merasa besalah dan betul, bila kita membaca Kitab Suci dengan cara seperti itu, karena segala sesuatu yang kita alami, seperti terjadi dalam Kitab Suci, tidak lepas dari sentuhan dan sapaan Allah. Allah tidak dibatasi oleh waktu. Dia hadir dan dan bertindak sekarang ini juga, seperti Dia hadir dan bertindak di dalam peristiwa Kitab Suci’ (Buku Latihan Rohani St.Ignatius, Penerbit Kanisius, hal 246).

· “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih”(1Yoh 4:7-8). Pesan atau peringatan Yohanes ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Kita semua berasal dari Allah dan harus kembali kepada Allah, dan karena Allah adalah kasih, maka selayaknya kita hidup saling mengasihi. ‘Saling mengasihi’ merupakan pertintah utama dan pertama dari Allah bagi semua umat beriman. Masing-masing dari kita adalah ‘yang terkasih atau buah kasih’, maka jika kita berani menghayati diri sebagai yang terkasih atau buah kasih, kiranya panggilan untuk saling mengasihi dapat kita laksanakan atau hayati dengan mudah. Setiap bertemu dengan orang lain berarti ‘yang terkasih’ bertemu dengan ‘yang terkasih’, maka dengan sendiirinya atau secara otomatis akan saling mengasihi. . “Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.”(1Yoh 4:12). “Allah tetap di dalam kita” dalam situasi atau kondisi apapun dan dimanapun itulah dambaan dan kerinduan kita semua, sehingga kebersamaan hidup kita penuh persaudaraan dan persahabatan sejati dan dengan demikian menarik dan memikat bagi siapapun. Sekali lagi kami mengingatkan dan mengajak bahwa kebersamaan hidup yang demikian ini hendaknya pertama-tama dan terutama terjadi di dalam keluarga, antara suami-isteri, orangtua dan anak serta seluruh anggota keluarga. Apa yang terjadi dan dialami di dalam kelaurga akan sangat bermanfaat dalam kehidupan bersama di luar keluarga, di tempat kerja maupun masyarakat pada umumnya. Keluarga merupakan dasar hidup berbangsa, bernegara, bermayarakat dan beriman atau beragama.

Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.”(Mzm 34:2-5)

Jakarta, 29 Juli 2009

RenunganJuly 28, 2009 2:40 am

“Orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka”.

(Kel 33:7-11; 34:5b-9.28; Mat 13:36-43)

 

“Maka Yesus pun meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya: "Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu." Ia menjawab, kata-Nya: "Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan dan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!”(Mat 13:36-43), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kita semua hidup di tengah-tengah ‘lalang dan benih baik’ atau ‘antara’, yaitu antara yang baik dan yang jahat, antara kehendak Tuhan dan kehendak setan, antara sehat dan sakit, dst.. Hidup di tengah-tengah ‘antara’ memang ada berbagai kemungkinan, misalnya orang tetap berada di tengah-tengah ‘antara’ alias diam saja, cenderung ke kanan atau ke kiri alias berbuat baik atau berbuat jahat, mengikuti kehendak Tuhan atau kehendak setan. Rasanya kita semua berharap senantiasa dapat berbuat baik atau mengikuti kehendak Tuhan  dan dengan demikian kita dapat dikatakan sebagai “orang benar yang bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa”. Kita semua kiranya berasal dari ‘benih baik’, dan memang tumbuh berkembang di tengah ‘lalang’ atau aneka tawaran kenikmatan duniawi yang dapat menghancurkan pertumbuhan dan perkembangan kita. Maka marilah kita saling membantu dan bekerjasama agar pertumbuhan dan perkembangan kita tetap baik alias menjadi orang-orang benar, yang senantiasa setia pada kehendak Tuhan dalam situasi dan kondisi macam apapun. Sekiranya kita merasa sendirian sebagai orang benar atau baik alias merasa diri yang terbaik, hendaknya kebaikan kita menjadi nyata dalam berbagai bentuk perilaku atau tindakan, sehingga kita bercahaya bagaikan  matahari dalam Kerajaan Sorga. Agar kita tetap dalam keadaan benar atau baik, hendaknya setia untuk mendengarkan sabda-sabda Tuhan, yang antara lain tertulis di dalam Kitab Suci, tulisan yang  ditulis dengan ilham Roh Kudus.. Bacakan, dengarkan, resapkan dan hayati sabda yang tertulis di dalam Kitab Suci setiap hari bagi kita semua, di dalam keluarga kita masing-masing.

·   "TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat." (Kel 34:7). Kutipan ini kiranya baik dan layak menjadi permenungan atau refleksti kita bersama. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk menghayati “Alah penyayang, dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasihNya dan setiaNya”  di dalam hidup sehari-hari, dalam cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dnn kapanpun. Kita dipanggil untuk menjadi ‘penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih dan setia kita’. Jika kita berani mengakui dan menghayati telah menerima kasih, kesabaran dan kesetiaan Allah melalui orangtua dan saudara-saudari kita, kiranya kita dengan mudah untuk mengasihi, sabar dan setia. Maka secara konkret hendaknya kita berani mengakui dan mengimani semuanya itu melalui orangtua kita masing-masing yang begitu mengasihi, sabar dan setia kepada kita sehingga kita dapat tumbuh berkembang sebagaimana adanya pada saat ini,. Tanpa kasih, kesabaran dan kesetiaan orangtua atau bapak-ibu kita masing-maiing kiranya kita tidak menjadi orang atau manusia sebagaimana adanya saat ini. Sebagai tanda syukur dan terima  kasih kita kepada orangtua tidak lain adalah kita hidup dengan saling menyayangi dan mengasihi, sabar dan setia satu sama lain. Pengampunan hendaknya juga kita hayati dan sebar-luaskan. Marilah kita ampuni mereka yang telah bersalah kepada kita atau menyakiti kita, dan biarlah di antara kita hidup dan berkembang keutamaan kasih pengampunan yang sungguh kita butuhkan demi kebahagiaan dan kesejhateraan kita semua.

 

“TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita. Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia”(Mzm 103:8-13)

 

Jakarta, 28 Juli 2009    

Renungan 2:38 am

“Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi”

(Kel 32:15-24.30-34; Mat 13:31-35)

 

“Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya." Dan Ia menceriterakan perumpamaan ini juga kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya." Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi: "Aku mau membuka mulut-Ku mengatakan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan."(Mat 13:31-35), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Janin atau embriyo atau sel telor yang baru saja bersatu dengan atau dibuahi oleh sperma di dalam rahim ibu/ perempuan sangat kecil, namun begitu tumbuh berkembang selama kurang lebih sembilan bulan sudah menjadi besar dan beratnya kurang lebih 3 s/d 4 kg. Itulah karya Tuhan/Penyelenggaraan Ilahi. Demikian juga hal Kerajaan Sorga atau Kerajaan Allah, umat yang percaya kepada Allah atau secara khusus yang beriman kepada Yesus Kristus, Gereja atau ‘Tubuh Kristus’. Gereja merupakan paguyuban umat yang percaya kepada Yesus Kristus, di Indonesia ini kiranya jumlah anggota Gereja sangat kecil jika dibandingkan dengan paguyuban umat yang beragama lain. Bahkan di suatu tempat, desa atau daerah hanya ada satu orang/keluarga saja yang menjadi anggota Gereja dan sering merasa kesepian. Kepada mereka yang merasa kecil kami harap tidak takut atau kesepian, dan marilah kita menjadi ‘ragi’. Menjadi ‘ragi’ berarti cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun dapat membuat enak atau membahagiakan hidup bersama, cara hidup atau cara bertindak kita menarik dan memikat. Jika anda sendirian dan merasa kesepian dan tercancam kami harapkan tetap setia dan tabah dalam penghayatan iman, dan jadikanlah apa yang membuat anda merasa terancam atau kesepian sebagai wahana pendewasaan dan pertumbuhan anda. Seperti kecambah yang tertutup oleh rumput atau sampah justru semakin cepat tinggi atau panjang, demikian pula hendaknya aneka bentuk ancaman, tantangan atau hambatan menjadi wahana pertumbuhan dan perkembangan anda. Percayalah jika anda tetap setia dan taat pada iman anda , maka anda akan menjadi tempat bernaung sesama dan saudara-saudari anda sebagaimana pohon sesawi menjadi tempat berteduh dan bertengger burung-burung.

·   "Kamu ini telah berbuat dosa besar, tetapi sekarang aku akan naik menghadap TUHAN, mungkin aku akan dapat mengadakan pendamaian karena dosamu itu."(Kel 32:30), demikian kata Musa kepada bangsanya yang telah berbuat dosa dengan berbakti kepada  berhala, ‘lembu emas’. Sebagai pemimpin, yang sendirian, Musa merasa bertangungjawab atas apa yang dibuat atau dilakukan oleh bangsanya, orang-orang yang dipimpinya dalam perjalanan menuju ‘tanah terjanji’. Apa yang dilakukan oleh Musa ini kiranya dapat menjadi teladan atau cermin bagi siapapun yang merasa menjadi pemimpin atau berfungsi dalam jajaran kepemimpinan. Jika rakyat brengsek maka pemimpin yang bertanggungjawab, jika anak-anak brengsek maka orangtua yang bertanggungjawab, jika ada pegawai/buruh yang brengsek maka direktur atau kepada bagian yang bertanggungjawab, dst… Maka dengan ini kami mengingarkan dan mengajak mereka yang menjadi pemimpin atau berfungsi dalam jajaran kepemimpinan untuk ‘turba’, turun ke bawah, melihat dan memperhatikan apa yang telah dikerjakan oleh mereka yang dipimpin. Hendaknya menjadi pemimpin tidak hanya menerima laporan dari bawahan begitu saja, melainkan sering atau secara rutin langsung menyapa dan memperhatikan mereka yang dipimpin atau bawahannya; dan jika ada sesuatu yang tidak baik segera diperbaiki, yang tidak beres segera dibereskan, dst.. Usaha atau gerakan preventif lebih murah daripada kuratif. Perbaikan atau pemberesan segera akan membantu agar ketidak-beresan atau penyelewengan meraja lela. Segera lokalisir ketidak-beresan yang ada antara lain dengan segera ditangani atau dibereskan. Menunda pemberesan atau perbaikan berarti membiarkan penyakit atau ketidak-beresan berkembang menjadi besar, dan jika itu dilakukan oleh pemimpin berarti sang pemimpin yang salah atau mungkin tidak mampu menjadi pemimpin.

 

“Mereka membuat anak lembu di Horeb, dan sujud menyembah kepada patung tuangan; mereka menukar Kemuliaan mereka dengan bangunan sapi jantan yang makan rumput.Mereka melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka, yang telah melakukan hal-hal yang besar di Mesir:perbuatan-perbuatan ajaib di tanah Ham, perbuatan-perbuatan dahsyat di tepi Laut Teberau.Maka Ia mengatakan hendak memusnahkan mereka, kalau Musa, orang pilihan-Nya, tidak mengetengahi di hadapan-Nya, untuk menyurutkan amarah-Nya, sehingga Ia tidak memusnahkan mereka” (Mzm 106:19-23)

Jakarta, 27 Juli 2009    

RenunganJuly 25, 2009 8:38 am

Mg Biasa XVII: 2Raj 4:42-44; Ef 4:1-6; Yoh 6:1-15

"Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia."

Ketika terjadi bencana alam seperti banjir atau gempa bumi, misalnya jebolnya waduk’Situ Gintung’ di di wilayah Ciputat yang baru lalu  atau gempa bumi di Yogyakarta, pada umumnya banyak orang baik yang tergerak oleh belas kasihan yang mengulurkan aneka macam bantuan bagi para korban, entah berupa makanan, minuman, pakaian atau uang dan tentu saja tenaga sebagai relawan. Kalau dicermati kiranya masih cukup banyak orang miskin yang membutuhkan bantuan untuk kebutuhan hidup sehari-hari seperti makanan atau minuman. Di dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan tentang ribuan orang yang mengikuti Yesus untuk mendengarkan ajaran-ajaranNya sampai hari semakin malam dan mereka nampak kelaparan. Melihat hal ini Yesus minta kepada para murid/rasul untuk mengusahakan makanan, namun para murid menjawab:tak mungkin mengusahakan makanan untuk ribuan orang ini. Tiba-tiba Andreas berkata: “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?"(Yoh 6:9). Mendengar kata Andreas ini Yesus pun akhirnya melakukan mujizat dengan menggandakan ‘lima roti dan dua ikan’   tersebut, sehingga ribuan orang dapat makan sampai kenyang, bahkan berkelimpahan. Kisah yang diwartakan dalam Warta Gembira hari ini digambarkan dengan ornamen dari kaca, dan anda dapat melihat ornamen atau  gambar tersebut di Kapel Kolese Kanisius – Jakarta, terpasang di tembok dan berada di atas tabernakel. Setelah ribuan orang dapat makan kenyang karena muzijat tersebut, maka mereka pun berkata: “Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia." (Yoh 6:14).

 "Dia ini adalah benar-benar Nabi yang akan datang ke dalam dunia."

Sebagai orang beriman yang percaya kepada Yesus Kristus, kiranya kita semua dipanggil untuk meneladan Yesus atau anak yang menyerahkan semua bekalnya, ‘lima roti dan dua ikan’.  Mungkin untuk meneladan Yesus dengan mengadakan mujizat tidak mungkin dapat kita kerjakan, tetapi meneladan anak yang merelakan bekal makanan kiranya dapat kita lakukan. Maka baiklah kita meneladan anak tersebut serta membiasakan atau mendidik anak-anak kita untuk bertindak demikian juga. Marilah kita hayati dua prinsip hidup beriman atau menggereja yaitu “solidaritas dan keberpihakan kepada yang miskin dan berkekurangan”.

 

Solidaritas berasal dari kata bahasa Latin “solido / solidare”  yang antara lain berarti memperkuat, mengukuhkan, mengutuhkan kembali, menegakkan, meneguhkan. Solidaritas dilakukan oleh mereka yang kuat terhadap mereka yang lemah, yang sehat terhadap yang sakit, yang kaya terhadap yang miskin, yang pandai dan cerdas terhadap yang bodoh, yang berkelimpahan terhadap yang berkurangan, dst.. Marilah kita lihat dan cermati siapa-siapa saja dari saudara-saudari kita, entah di dalam masyarakat atau tempat kerja, yang lemah, sakit, miskin, bodoh dan berkekurangan, dan kemudian kita tolong atau bantu dengan kekayaan atau harta yang kita miliki atau kuasai saat ini. Kiranya dalam membantu atau menolong tidak perlu menunggu kita berkelimpahan, melainkan dari kekurangan dan keterbatasan kita. Memberi dari kelimpahan berarti menjadikan orang lain, yang menerima sebagai tempat sampah dan dengan demikian melecehkan atau merendahkan harkat martabat manusia atau melanggar hak-hak azasi manusia. Marilah kita memberi dan membantu orang lain dari kelemahan dan keterbatasan kita, yang  meneladan anak yang menyerahkan semua bekalnya: ‘lima roti dan duka ikan’. Biarlah mereka yang melihat atau menyaksikan tindakan kita berkata tentang kita “dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia”.  Kita semua dipanggil untuk menjadi pribadi ‘pemurah’, yang memiliki sikap dan perilaku yang murah hati, pengasih dan penyayang. Ingat dan hayati bahwa hidup kita dan segala sesuatu yang kita miliki atau kuasai saat ini adalah anugerah Allah yang kita terima melalui orang-orang yang telah berbuat baik dan bermurah hati terhadap kita, maka selayaknya kita berbuat baik dan bermurah hati kepada sesama atau saudara-saudari kita yang membutuhkan.

 

Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu. Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera: satu tubuh, dan satu Roh, sebagaimana kamu telah dipanggil kepada satu pengharapan yang terkandung dalam panggilanmu, satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua, Allah yang di atas semua dan oleh semua dan di dalam semua” (Ef 4:2-6).

Ada tiga keutamaan yang diharapkan kita hayati atau laksanakan dalam hidup sehari-hari sebagai orang beriman, yaitu “rendah hati, lemah lembut dan sabar”.  Maka baiklah secara sederhana dan mungkin tidak sempurna saya coba menguraikan tiga keutamaan tersebut:

1)                  “Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit” Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Kerendahan hati hemat saya merupakan keutamaan dasar yang mendasari keutamaan-keutamaan lainnya serta kebalikan dari kesombongan. Maka marilah kita saling membantu dan mengingatkan dalam hal penghayatan kerendahan hati ini.

2)                  “Lemah lembut kiranya memperkuat atau memperteguh kerendahan hati. Orang yang lemah lembut antara lain nampak dalam cara bicara/wacana maupun bertindak yang sopan, enak didengarkan maupun dilihat, sehingga pribadi yang bersangkutan sungguh menarik dan memikat. Lemah lembut bersumber dari hati, yang penuh syukur dan terima kasih, karena segala sesuatu yang ada padanya merupakan anugerah Allah.  

3)                  “Sabar adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan kemampuan dalam mengendalikan gejolak diri dan tetap bertahan seperti keadaan semula dalam menghadapi berbagai rangsangan atau masalah” (ibid hal 24). Kesabaran pada masa ini rasanya mendesak dan up to date untuk dihayati dan disebarluaskan, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang kurang atau tidak sabar, antara lain dapat dilihat dan dicermati di jalanan dimana para pengendara atau pemakai jalan yang melanggar aturan lalu lintas, di dalam pergaulan muda-mudi yang bebas tanpa kendali akhirnya terjadi kehamilan sebelum/diluar nikah atau perkawinan.

 

Dengan dan melalui penghayatan tiga keutamaan di atas diharapkan terjadilah kesatuan, persaudaraan atau persahabatan sejati di antara kita: satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah dan Bapa dari semua. Sekali lagi saya angkat dan ingatkan bahwa kesatuan, persaudaraan atau persahabatan sejati ini hendaknya pertama-tama terjadi di dalam keluarga, antara suami-isteri, anak-anak dan seluruh anggota keluarga. Penghayatan akan kesatuan, persaudaraan atau persahabatan sejati rasanya pada masa ini dapat menjadi ‘nabi’, dan siapapun yang melihat atau kena dampak cara hidup dan cara bertindak itu akan berkata :”dia ini benar-benar nabi yang akan datang di dunia ini”.  Dengan kata lain penghayatan kesatuan, persaudaraan atau persahabatan sejati merupakan bentuk tugas perutusan berupa teladan atau kesaksian, yang utama dan pertama.

 

“Mata sekalian orang menantikan Engkau, dan Engkau pun memberi mereka makanan pada waktunya; Engkau yang membuka tangan-Mu dan yang berkenan mengenyangkan segala yang hidup. TUHAN itu adil dalam segala jalan-Nya dan penuh kasih setia dalam segala perbuatan-Nya. TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan”(Mzm 145:15-18)

Jakarta, 26 Juli 2009

Renungan 8:36 am

“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu”

(2Kor 4:7-15; Mat 20:20-28)

Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat." Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya." Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata: "Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang."(Mat 20:20-28), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berreflksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Yakobus, rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Rasul adalah orang yang diutus untuk mewartakan kabar baik atau kabar gembira alias menggembirakan orang lain atau membuat baik sesama manusia dan lingkungan hidupnya. Sikap mental atau spiritualitas rasul adalah melayani atau menjadi hamba bagi sesamanya. Hidup beriman atau beragama juga memiliki dimensi atau cirikhas rasuli, maka kita sebagai orang beriman atau beragama dipanggil untuk saling melayani, membahagiakan dan menggembirakan dalam cara hidup dan cara kerja kita dimanapun dan kapanpun. Seorang pelayan yang baik senantiasa memang  membahagiakan dan menggembirakan yang dilayani. Cirikhas pelayan yang baik antara lain rendah hati, cekatan, tanggap, rajin, tak kenal lelah, tak pernah marah atau menggerutu atau mengeluh, siap sedia, dst… Maka jika kita sebagai orang beriman atau beragama dipanggil untuk saling melayani berarti kita harus bersikap mental seperti pelayan yang baik tersebut. Kita juga dipanggil ‘untuk memberikan nyawa menjadi tebusan bagi banyak orang’, artinya mempersembahkan hidup kita sepenuhnya demi keselamatan jiwa semua orang. Maka marilah kita arahkan gairah, semangat, cita-cita, harapan, dambaan serta segala sesuatu yang kita miliki dan kuasai saat ini demi keselamatan jiwa kita sendiri maupun sesama kita. Keselamatan  jiwa hendaknya menjadi tolok ukur atau barometer keberhasilan hidup dan kerja kita dimanapun dan kapanpun., bukan harta benda/uang, pangkat/kedudukan/jabatan atau kehormatan duniawi. Maka dengan ini kami mengajak para pengelola aneka karya pastoral, misalnya pendidikan, sosial dan kesehatan , untuk mawas diri: sejauh mana jiwa-jiwa manusia telah diselamatkan melalui karya pastoral tersebut.

·   Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2Kor 4:7). Kesakian iman Paulus kepada umat di Korintus ini kiranya layak dan baik menjadi bahan permenungan atau refleksi kita. “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” (Kej 2:7). Kita, adalah manusia yang berasal dari tanah dan akan kembali menjadi tanah setelah mati atau meninggal dunia. Kita dipanggil untuk menghayati diri sebagai ‘tanah’, yang memang rapuh, mudah dibentuk dan senantiasa siap-sedia untuk diinjak-injak atau diperlakukan apapun. Tentu saja sebagai orang beriman atau beragama kita berharap dan mendambakan untuk dikuasai atau dirajai oleh Allah yang telah menciptakan kita. Harapan atau dambaan ini akan terwujud atau menjadi nyata jika kita juga mau dan siap-sedia untuk bekerjasama atau membuka diri sepenuhnya kepada kehendak Allah atau Penyelenggaraan Ilahi. Dengan ini kami juga mengingatkan kepada mereka atau siapapun yang merasa sehat wa’afiat, segar bugar, tak berkekurangan apapun, pandai atau cerdas, kaya akan harta benda atau uang, dst.. untuk hidup penuh syukur dan terima kasih serta menghayati semuanya itu sebagai anugerah Allah dan kemudian kita fungsikan sesuai dengan kehendak Allah. Semakin kaya, pandai, cerdas, sehat, terhormat, dst.. hendaknya semakin rendah hati bukan semakin sombong. Semakin tua dan berpengalaman hendaknya semakin rendah hati, sebagaimana batang padi yang berbuah matang/tua dan berisi semakin menunduk bukan menengadah ke atas.

 

“Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai. Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: "TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!" TUHAN telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita. Pulihkanlah keadaan kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya” (Mzm 126:2-6)

Jakarta, 25 Juli 2009

RenunganJuly 24, 2009 1:33 am

“Dengarlah arti perumpamaan penabur itu”.

(Kel 20:1-17; Mat 13:18-23)

 

“Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”(Mat 13:18-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dalam Warta Gembira hari ini kiranya mau lebih ditekankan pentingnya keutamaan ‘mendengarkan’ dalam cara hidup dan cara bertindak kita. Kita semua diharapkan menjadi “tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lihat, ada yang tiga puluh kali lipat”. Mayoritas waktu dan tenaga kita kiranya kita manfaatkan untuk belajar atau bekerja, dan selama bekerja pun jika mendambakan berhasil dengan baik juga harus dijiwai sikap mental belajar. Orang belajar pada umumnya di sekolah, dimana terjadi berbagai penelitian, penyampaian aneka ajaran dan aliran atau pemhaharuan-pembaharuan. Marilah tempat hidup maupun tempat kerja dimana kita hidup atau bekerja kita sikapi sebagai ‘sekolah’., dan masing-masing dari kita adalah orang-orang yang sedang belajar. Pelajar yang baik pada umumnya bergairah, terbuka, rajin, tekuin, cermat, teliti, siap-sedia diberitahu, dibina atau dididik, dst.., sehingga ketika mereka sedang belajar diperkaya oleh berbagai pengajaran atau pengetahuan yang berguna bagi hidup mereka masa kini maupun masa depan. Sikap mental pelajar yang baik ini hendaknya juga menjadi sikap mental kita dimanapun dan kapanpun entah sedang belajar atau bekerja, agar kita semakin memahami dan menguasai banyak  pengetahuan dan keterampilan dan kemudian dalam cara hidup dan cara bertindak kita menghasilkan buah-buah yang didambakan dan berkelimpahan. Sekali lagi kami mengharapkan para orangtua atau bapak-ibu untuk sedini mungkin membina dan membiasakan sikap mental belajar terus menerus dalam diri anak-anaknya di dalam keluarga masing-masing. Kebiasaan untuk senantiasa bersikap mental belajar terus menerus yang diperoleh di dalam keluarga akan sangat berguna bagi anak-anak di masa depan.

·   “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. Jangan membunuh. Jangan berzinah. Jangan mencuri. Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu. Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apa pun yang dipunyai sesamamu.” (Kel 20:12-17). Kutipan ini kiranya merupakan perintah moral yang cukup jelas, maka marilah kita hayati bersama-sama dalam cara hidup dan cara bekerja kita dimanapun dan kapanpun. Sekali lagi saya ingatkan bahwa perintah moral ini rasanya sedini mungkin perlu dibiasakan bagi anak-anak di dalam keluarga dan tentu saja dengan teladan orangtua atau bapak-ibu. Agar anak-anak menghormati ayah dan ibunya, kiranya para ayah dan ibu layak untuk dihormati, bukan karena lebih tua, tetapi karena berbudi pekerti baik, antara lain “tidak membunuh alias tidak mudah marah, tidak berzinah, tidak mencuri/bohong, dst.. “. Perkenankan saya mengangkat hal ‘tidak membunuh atau tidak mudah marah’, mengingat dan memperhatikan cukup banyak ayah atau ibu mudah marah terhadap anak-anaknya maupun pasangannya. Marah berarti melecehkan atau merendahkan yang lain alias melanggar hak azasi manusia. Kebalikan dari marah adalah menghormati atau menjunjung tinggi. Marilah kita hormati dan junjung tinggi anak-anak, karena mereka lebih suci dan lebih baik daripada orangtuanya atau ayah-ibunya. Dalam hidup beriman yang layak dan harus dihormati ialah mereka yang lebih suci atau lebih baik, dan hemat kami anak-anak lebih suci dan lebih baik daripada orangtua atau ayah-ibunya. Menghormati dan menjunjung tinggi anak-anak antara berarti mendidik dan membina anak-anak agar tumbuh berkembang menjadi pribadi yang berbudi pekerti luhur atau memiliki kecerdasan spiritual.

 

Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah”(Mzm 19:8-11)

 

Jakarta, 24 Juli 2009

RenunganJuly 22, 2009 2:47 am

"Aku telah melihat Tuhan!"

(2Kor 5:14-17; Yoh 20:1-2.11-18)

“Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: "Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan. … Tetapi Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?" Jawab Maria kepada mereka: "Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan." Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya: "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." Kata Yesus kepadanya: "Maria!" Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: "Rabuni!", artinya Guru. Kata Yesus kepadanya: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka, bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu." Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid: "Aku telah melihat Tuhan!" dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya."(Yoh 20:1-2.11-18), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Maria Magdalena hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dalam Injil atau Warta Gembira Yohanes, Maria Magdalena dikenal sebagai murid terkasih Yesus dan juga pelacur yang tertobat karena kasih pengampunan Yesus. Ada kemungkinan ketika Maria Magdalena menjadi pelacur karena terpaksa, karena menjadi korban kekerasan dan keserakahan laki-laki hidun belang, sehingga ia senantiasa dilecehkan dan dihina oleh orang kebanyakan termasuk tokoh-tokoh bangsanya. Kemanapun pergi dan dimanapun berada ia menjadi bahan pelelehan dan kekerasan, maka ketika ada soerang laki-laki, yaitu Yesus, mengampuni dosa-dosanya, ia tergerak untuk bertobat dan akhirnya menjadi murid terkasih Yesus. Kisah Maria Magdalena ini menurut pastor paroki Cilincing konon menjadi pegangan para pelacur di Kramat Tunggak, Jakarta Utara, ketika Kramat Tunggak menjadi tempat pelacuran: berdosa dulu dan nanti bertobat, begitulah rumor di kalangan para pelacur katolik. Kramat Tunggak  tempat pelacuran telah berubah menjadi masjid, tempat ibadah dengan segala kegiatannya bagi umat Islam. “Aku telah melihat Tuhan”, demikian kata-kata yang keluar dari mulut Maria Magdalena setelah menerima penampakan Yesus, yang bangkit dari mati, kepada para rasul yang frustrasi dan ketakutan. Kita semua dipanggil untuk ‘melihat Tuhan’ di tengah kekacauan, frustrasi dan ketakutan alias menjadi penghibur sejati atau yang baik bagi sesama atau saudara-saudari kita. Kami berharap rekan-rekan perempuan dapat menjadi penghibur sejati bagi rekan-rekan laki-laki, tentu saja dalam hal rohani bukan tubuh atau seksual.

·   Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2Kor 5:17). “Ada di dalam Kristus” berarti menjadi sahabat Yesus serta melaksanakan sabda-sabdaNya dan meneladan cara hidup dan cara bertindakNya. Cara hidup dan cara bertindak yang pada masa kini mendesak dan up to date kiranya adalah ‘kasih pengampunan’, sebagaimana Ia telah mengampuni Maria Magdalena maupun mereka , para serdadu, yang menyalibkanNya. Kita semua dipanggil untuk menghayati dan menyebarluaskan kasih pengampunan, dan tentu saja dari pihak kita sendiri harus sudah menghayati kasih pengampunan tersebut alias menjadi ‘ciptaan baru’, hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan atau meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus. Kasih pengampunan ini antara lain dapat kita wujudkan dengan menghayati atau melaksanakan ajaran kasih Paulus, yaitu dengan hidup dan bertindak “sabar, murah hati; tidak cemburu, tidak memegahkan diri dan tidak sombong, tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri,  tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain,  tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.,  menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”(1Kor 13:4-7). Sekali lagi saya ingatkan dan ajak bagi para orangtua atau bapak-ibu hendaknya menjadi teladan dalam hal penghayatan kasih pengampunan ini atau hidup baru sebagai suami-isteri atau bapak-ibu, yang bukan lajang, bujang atau perawan lagi.

 

“Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair. Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu. Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau. Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu.Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji” (Mzm 63:2-6).

Jakarta, 22 Juli 2009


Tukar Banner Gratis