Renungan 1:08 am

“Bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu maka sebelah luarnya juga akan bersih”.

(1Tes 2:1-8; Mat 23:23-26)

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih”(Mat 23: 23-26), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Aturan atau hukum pada umumnya tertulis dengan jelas, namun kiranya apa yang tertulis merupakan ‘kulit’ dari isi yang utama yaitu “keadilan, belas kasihan dan kesetiaan”. Orang-orang munafik pada umumnya nampak baik dengan menjalankan aturan, namun sebenarnya hanya permainan sandiwara, artinya menjalankan peraturan kalau dilihat orang, dan ketika tidak ada orang lain bertindak seenaknya. Kemunafikan macam ini dapat terjadi dalam cara hidup atau panggilan apapun, misalnya imam, bruder, suster atau bapak-ibu, pekerja atau pelajar, dst.. Sebagai contoh ada seorang pastor/imam yang nampak begitu bagus baik dalam cara hidup atau cara bekerja, ketika memberi ceramah menarik dan menawan bagi para pendengarnya, ternyata yang bersangkutan memiliki ‘simpanan cewek dan anak’. Ketika kemunafikannya terbongkar banyak orang menjadi kecewa. Sebagai orang beriman kita dipanggil pertama-tama untuk ‘membersihkan bagian dalam hidup kita’, yaitu hati dan jiwa, yang tidak lain adalah menghayati keutamaan cintakasih, keadilan dan belas kasih dan kesetiaan. Marilah kita saling kerjasama dan membantu dalam membersihkan hati dan jiwa kita masing-masing. Hati dan jiwa bersih berarti suci dan dengan demikian orang yang berhati dan berjiwa bersih berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada kehendak Tuhan. Dalam hidup dan bekerja bersama setiap hari memang kita terikat oleh aneka aturan dan tatanan hidup, maka hendaknya menghayati aturan dan tatanan hidup dijiwai oleh cintakasih, keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Dengan kata lain yang utama dan pertama-tama bukan aturan dan tatanan melainkan ‘manusia’, yang memiliki hati dan jiwa. Hendaknya menghayati aturan dan tatanan berarti semakin memanusiakan manusia, yang diciptakan sebagai gambar atau citra Allah dalam dan oleh kasih.

·   Kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya. Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar akan kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi”(1Tes 2:7-8), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Tesalonika. Apa yang dikatakan dan dihayati Paulus ini kiranya layak menjadi permenungan atau refleksi kita. Kita semua dipanggil untuk saling ramah , ‘sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawatinya anaknya’. Para ibu kiranya dapat mensharingkan pengalaman dalam mengasuh dan merawati anaknya, yang tidak lain dengan memberikan diri seutuhnya kepada anaknya yang terkasih. Maka kami berharap para ibu atau rekan perempuan dapat menjadi teladan dalam hal keramahan sejati ini, bukan pura-pura atau sandiwara. Keramahan terhadap anaknya hendaknya tumbuh berkembang dalam ramah terhadap sesamanya dimanapun dan kapanpun. Hendaknya hanya jangan ramah di mulut atau di bi bibir, melainkan sampai di hati dan jiwa. Kita dipanggil untuk saling membagikan hidup artinya saling menghidupkan dan menggairahkan satu sama lain. Para bapak-ibu atau orangtua hendaknya dapat menjadi contoh atau teladan dalam saling memberikan diri dengan ramah, sehingga anak-anak pun dapat belajar menjadi ramah juga. Pengalaman hidup ramah yang dinikmati oleh anak-anak di dalam keluarga hendaknya terus diperdalam dalam perjalanan hidup berikutnya, entah dalam pergaulan dengan teman-teman di masyarakat maupun sekolah. Cara hidup dan bertindak yang ramah hendaknya juga dihayati dan dibiasakan bagi siapapun yang bertugas di ‘pintu gerbang’ kantor, sekolah, perusahaan dst.., dan tentu saja semua yang ada di dalamnya juga hidup dan bekerja dengan ramah.

 

“TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh.Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kauketahui, ya TUHAN. Dari belakang dan dari depan Engkau mengurung aku, dan Engkau menaruh tangan-Mu ke atasku. Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.”

(Mzm 139:1-6)

 

Jakarta, 25 Agustus 2009

RenunganAugust 24, 2009 12:50 am

"Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?"

(Why 21:9b-14; Yoh 1:45-51)

 

“Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: "Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret." Kata Natanael kepadanya: "Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?" Kata Filipus kepadanya: "Mari dan lihatlah!" Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia: "Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!" Kata Natanael kepada-Nya: "Bagaimana Engkau mengenal aku?" Jawab Yesus kepadanya: "Sebelum Filipus memanggil engkau, Aku telah melihat engkau di bawah pohon ara." Kata Natanael kepada-Nya: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!" Yesus menjawab, kata-Nya: "Karena Aku berkata kepadamu: Aku melihat engkau di bawah pohon ara, maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia.”(Yoh 1:45-51), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Bartolomeus, Rasul, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Natanael atau Bartolomeus mungkin menjengkelkan bagi Filipus ketika diberitahu bahwa Filipus telah bertemu Yesus, Penyelamat Dunia, dari Nazaret, kemudian berkata: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret”. Tetapi ternyata Filipus berkata kepada Natanael :”Mari dan lihatlah”. Dan setelah melihat, Natanael pun akhirnya percaya. “Melihat” dalam Injil Yohanes memiliki arti atau makna yang mendalam. Orang yang berhati, berjiwa  dan berbudi baik ketika melihat sesuatu pada umumnya akan tergerak untuk berbuat baik: ada yang tidak beres segera dibereskan, yang tidak baik segera diperbaiki, dst.. Natanael begitu bertemu dan melihat Yesus langsung mengimaniNya sebagai Anak Allah, Penyelamat Dunia. Kita semua, yang dianugerahi mata tubuh baik alias tidak buta, kiranya dapat meneladan Natanael atau Bartolomeus. Lihatlah keindahan ciptaan Allah seperti manusia, binatang atau tanaman! Misalnya manusia, entah laki-laki atau perempuan, entah cantik atau tidak cantik, entah tampan atau tidak tampan, entah kaya atau miskin dst.. Lihat mereka tidak hanya dengan mata tubuh saja, tetapi juga dengan mata hati, maka anda pasti akan heran dan terkagum-kagum betapa indahnya setiap manusia, yang diciptakan sebagai citra dan gambar Allah. Kita dipanggil untuk melihat “malaikat-malaikat Allah turun naik kepada sesama atau saudara-saudari” kita alias apa-apa yang baik dalam diri sesama kita. Percayalah bahwa baik dalam diri kita sendiri maupun saudara-saudari kita apa yang baik lebih banyak dan dominant daripada apa yang jelek atau jahat.

·   "Marilah ke sini, aku akan menunjukkan kepadamu pengantin perempuan, mempelai Anak Domba." (Why 21:9b). Pengantin perempuan pada umum dirias sedemikian rupa sehingga nampak bagaikan bidadari cantik, menarik dan mempesona bagi siapapun yang melihatnya. Bau wangi-wangian memancar dari pengantin perempuan, menusuk hidung dan mungkin juga membuat orang bergairah dan gembira. Apa yang dimaksudkan dengan pengantin perempuan dalam Kitab Wahyu ini kiranya adalah sahabat-sahabat Tuhan alias orang-orang baik yang berbudi pekerti luhur, yang sungguh beriman atau suci, mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, yang sungguh bahagia dan ceria lahir maupun batin.  Kegembiraan atau keceriaan yang demikian ini kiranya bagi anda yang pernah menjadi pengantin perempuan dapat mensharingkan pengalamannya kepada orang lain. Banyak orang memberi salam gembira dan mereka juga berpakaian begitu indah dan mempesona; semua perhatian terarah pada sang pengantin. Sebagai orang beriman kita diharapkan demikian juga: kahadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun menarik, memikat dan mempesona bagi orang lain, dan mereka yang melihatnya juga menjadi gembira dan ceria. Kita semua dipanggil untuk menjadi ‘pewarta-pewarta gembira’, alias menyebarluaskan apa-apa yang menggembirakan dan menyelamatkan. Marilah kita saling membantu untuk menjadi ‘pengantin perempuan’ atau sahabat-sahabat Tuhan, agar kebersamaan hidup kita dimanapun dan kapanpun sungguh gembira dan ceria dan dengan demikian menarik, memikat dan mempesona bagi siapapun. Apa yang tersiar dari diri kita hendaknya ‘berbau wangi’ alias apa-apa yang baik dan membuat orang lain semakin ceria dan gembira.

 

“Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau. Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu, untuk memberitahukan keperkasaan-Mu kepada anak-anak manusia, dan kemuliaan semarak kerajaan-Mu. Kerajaan-Mu ialah kerajaan segala abad” (Mzm 145:10-13a)

 

Jakarta, 24 Agustus 2009

Renungan 12:49 am

Mg Biasa XXI : Yos 24:1-2a.15-17.18b; Ef 5:21-32; Yoh 6:60-69

"Apakah kamu tidak mau pergi juga?"

Maju kena, mundur kena”, itulah kiranya yang menjadi motto Nordin M Top bersama anak buah yang telah direkrutnya. Mereka yang telah berhasil dikuasai oleh Nordin sungguh maju dan percaya kepadanya, sehingga rela untuk mati, menjadi korban bunuh diri. Namun, konon juga ada di antara mereka yang mengundurkan diri dari Nordin, karena berbagai alasan. Jika dicermati memang Nordin sungguh cerdas dan luar biasa, karena dapat meyakinkan orang sedemikian rupa sehingga orang yang bersangkutan rela mati dengan bunuh diri sambil meledakkan bom, yang mencelakakan banyak orang. Apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Nordin bagi para pengikutnya merupakan kekuatan luar biasa yang dapat mempengaruhi hidup mereka. Mereka rela meninggalkan isteri dan anak-anaknya serta keluarganya. Mungkin kata-kata atau tindakan yang dilakukan oleh Nordin sangat keras, dan kiranya sulit dipahami oleh banyak orang. Apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus juga dinilai keras oleh para pendengarNya, maka mereka berkata :”Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?"(Yoh 6:60), dan memang banyak orang, yang semula mengikuti Yesus, mengundurkan diri. Melihat banyak orang mengundurkan diri Yesus bertanya kepada para rasul: “Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yoh 6:67), dan Petrus atas nama para rasul menjawab: "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal;dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."(Yoh 6:69-69).

 

            Apakah kamu tidak mau pergi juga?” (Yoh 6:67).

 

Pertanyaan Yesus kepada para rasul ini kiranya baik kita pakai sebagai pertanyaan kepada diri kita masing-masing atau saudara-saudari kita, terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan yang telah dihayati dan diterimanya. Hidup terpanggil, entah sebagai suami-isteri, imam, bruder atau suster atau wadat/tidak menikah, kiranya sarat dengan tantangan, hambatan dan godaan yang dapat membuat orang tidak setia pada panggilan atau meninggalkannya. Berbagai tantangan, godaan dan rayuan duniawi rasanya telah membuat beberapa pastor, bruder, suster, bapak/ibu, pelajar, mahasiswa/, pekerja dst.. kurang setia pada panggilan dan tugas pengutusannya, atau bahkan mengundurkan diri dari panggilan dan tugas. Maka, meskipun ada ketidak-jelasan atau keragu-raguan, marilah kita meneladan Petrus, yang berkata :”Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkaulah Yang Kudus dari Allah”.

 

Panggilan dan tugas pengutusan kita adalah berasal dari Allah, yang kita terima melalui saudara-saudari kita yang baik hati: sentuhan, sapaan dan kebersamaan yang kita alami. “Perkataan Tuhan” antara lain telah diterjemahkan ke dalam aneka janji yang pernah kita ikrarkan, antara lain janji baptis, dimana kita berjanji untuk “hanya mau mengabdi Tuhan saja dan menolak semua godaan setan”, maka marilah kita mawas diri perihal janji ini:

1)      Hanya mau mengabdi Tuhan saja”. Tuhan hidup dan berkarya dalam semua ciptaanNya, terutama dalam diri manusia, ciptaan terluhur dan termulia di dunia ini. Maka ‘mengabdi Tuhan’ antara lain berarti saling mengabdi atau melayani antar kita dimanapun dan kapanpun. Jika dalam hidup dan bekerja bersama kita dapat saling melayani dengan baik satu sama lain kiranya tidak ada seorangpun yang akan mengundurkan diri dari panggilan dan tugas pengutusan atau kewajibannya. Memang hidup atau bertindak melayani berarti harus bekerja keras tanpa kenal lelah dengan ceria, gembira, dinamis, cekatan, cermat, teliti, dst.. , dengan kata lain memang cukup berat. Namun ketika kita dapat selalu gembira dan ceria semuanya akan menjadi ringan adanya. Kebahagiaan sejati akan kita alami atau nikmati jika kita dapat melayani sesama dengan baik.        

2)      “Menolak semua godaan setan”. Godaan setan pada masa kini antara lain menggejala dalam aneka bentuk tawaran atau rayuan kenikmatan dunia yang terkait dengan harta benda/uang, seks, pangkat, jabatan atau kehormatan duniawi. Karena atau oleh harta benda/uang atau seks orang menjadi tidak setia pada panggilan dan pengutusan, antara lain dengan bekerja seenaknya dan korupsi. Orang yang melakukan hubungan seks bebas atau di luar nikah, pada umumnya yang bersangkutan juga tidak beres dalam hal pengurusan harta benda atau uang, dan dengan demikian juga dengan pekerjaan atau tugas pengutusan. Maka marilah kita tolak godaan setan yang menggejala dalam bentuk tawaran atau rayuan harta benda, uang atau seks, yang marak pada masa kini.

 

Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat” (Ef 5:32).

 

Paulus menggambarkan ‘hubungan Kristus dan jemaat’ bagaikan hubungan antar suami-isteri yang baik, setia satu sama lain dalam saling mengasihi sampai mati. “Tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya” (Ef 5:29), demikian gambaran Paulus perihal hubungan suami-isteri yang baik dan setia. Bukankah dalam hal ini anda para suami-isteri punya pengalaman: saling mengasuh dan merawat tubuh masing-masing, sehingga menjadi satu tubuh dalam persetubuhan atau hubungan seks? Saling telanjang satu sama lain dan tidak ada yang bagian tubuh luar yang ditutupi, dan juga tiada malu, ragu-ragu maupun sedih. Hubungan yang terbuka, apa adanya, jujur, polos, dst. itulah yang terjadi antar suami-isteri.

 

Sebagai umat Allah atau orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk berhubungan mesra denganNya. Kita semua adalah anggota tubuh Kristus, yang memang berbeda satu sama lain, sebagaimana anggota tubuh kita juga berbeda satu sama lain. Sebagai sesama anggota tubuh kita dipanggil untuk saling mengasuh dan merawat dengan penuh kasih, lemah lembut dan rendah hati. Berbicara perihal ‘mengasuh dan merawat’ kiranya kita perlu mencermati pengasuh atau perawat yang baik, entah merawat manusia, binatang maupun tanaman. Pengalaman menunjukkan bahwa fungsi perawat di rumah sakit, yang mengasuh dan merawat para pasien setiap hari cukup menentukan proses penyembuhan pasien yang bersangkutan. Perawat yang baik memang selalu rendah hati, lemah lembut, ceria, penuh senyuman, cekatan, tanggap alias tidak pernah marah, menggerutu atau mengeluh ketika dimintai tolong oleh pasien atau harus merawat pasien yang cerewet atau ‘bawel’.

 

Sebagai tanda atau gejala bahwa kita berhubungan mesra dengan Tuhan berarti dalam hidup bersama kita dimanapun dan kapanpun senantiasa dijiwai oleh rendah hati, lemah lembut, ceria, penuh senyuman, cekatan dan tanggap, tidak mengeluh, menggerutu atau marah-marah, dan dengan demikian kebersamaan hidup kita senantiasa menarik dan memikat. Cara hidup dan bertindak yang demikian itu dapat menjadi bentuk ‘pewartaan ataui marketing’ dan kiranya merupakan bentuk utama dan terutama yang tak dapat digantikan dengan bentuk lain. Mereka yang melihat kebersamaan hidup kita akan tergerak untuk semakin berbakti kepada Tuhan atau memperdalam hidup beriman, dan kiranya dari hati dan mulutnya keluar kata-kata ini:"Jauhlah dari pada kami meninggalkan TUHAN untuk beribadah kepada allah lain!”(Yos 24:16)

            

 “Wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi.Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu; Ia melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yang patah. Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman. TUHAN membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman” (Mzm 34:17-23)   

 

Jakarta, 23 Agustus 2009

Renungan 12:48 am

“Barangsiapa terbesar di antara kamu hendaklah ia menjadi pelayanmu”

(Rut 2:1-3.8-11;4:13-17; Mat 23:1-12)

 

“Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga. Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias. Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:1-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.  .

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Maria, Ratu, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Raja atau Ratu pada umumnya dilayani oleh banyak orang dan setiap kali memberi perintah kepada para pelayannya pasti langsung dikerjakan dengan baik. Juga ada raja atau ratu yang diktator, yang bertindak sewenang-wenang terhadap bawahan atau para pembantunya. Dalam arti tertentu fungsi raja atau ratu juga dilaksanakan oleh siapapun yang menjadi pimpinan dalam hidup bersama, maka dengan ini kami mendambakan untuk hidup dan bertindak dengan semangat melayani, sebagaimana juga dihayati oleh Bunda Maria, Ratu dan teladan hidup beriman, “Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”, demikian sabda Yesus. Melayani berarti senantiasa membahagiakan dan meringankan beban bagi yang dilayani serta tidak “mengikat beban-beban berat lalu meletakkannya di atas bahu orang tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya”. Marilah kita bercermin pada para pelayan atau pembantu rumah tangga yang baik. Pelayan yang  baik pada umumnya bekerja keras, rendah hati, ceria, gembira, dinamis, jarang atau tidak pernah mengeluh, menggerutu, marah-marah dst.. Keutamaan-keutamaan macam itu hendaknya dihayati oleh siapapun yang berfungsi sebagai pemimpin dalam hidup bersama dimanapun dan kapanpun. Secara organisatoris semangat melayani dalam diri pemimpin antara lain menghayati kepemimpinan partisipatif: banyak mendengarkan keluhan, dambaan, harapan, dst.. dari yang dipimpin serta melibatkan semua anggota dalam perencanan dan pelaksanaan aneka program dan kegiatan.

·   “Dengarlah dahulu, anakku! Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pengerja-pengerjaku perempuan.Lihat saja ke ladang yang sedang disabit orang itu. Ikutilah perempuan-perempuan itu dari belakang. Sebab aku telah memesankan kepada pengerja-pengerja lelaki jangan mengganggu engkau. Jika engkau haus, pergilah ke tempayan-tempayan dan minumlah air yang dicedok oleh pengerja-pengerja itu."(Rut 2:8-9), demikian kata Boas, orang kaya raya, kepada Rut. Suatu perhatian penuh kasih saya dan belaskasih itulah yang terjadi dalam diri Boas terhadap Rut. Apa yang dilakukan oleh Boas kiranya dapat menjadi teladan bagi para ‘bos’ dimanapun dan kapanpun. Hendaknya mereka yang merasa menjadi ‘bos’ atau atasan senantiasa memperhatikan dengan penuh kasih sayang dan belas kasih kepada bawahan atau pembantunya. Seoptimal mungkin setiap anggota pernah memperoleh sentuhan, sapaan kasih dari ‘bos’, sehingga mereka merasa berada di dalam hati ‘bos’. Sebaliknya sang ‘bos’ juga menempatkan semua anggota atau bawahannya dalam hatinya, agar setiap saat dapat memperhatikan mereka. Sekiranya perhatian langsung dan secara phisik tidak mungkin, baiklah diusahakan secara spiritual atau rohani, yaitu dengan berdoa: mendoakan satu per satu mereka yang menjadi anggota atau bawahannya. Berdoa kiranya dapat dilakukan dimanapun dan kapanpun. Baiklah para pemimpin, atasan atau bos, kami harapkan setiap hari mendoakan anggota, bawahan atau yang dimimpin, seperti seorang ibu yang tidak akan pernah melupakan anak-anaknya.

 

“Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN

(Mzm 128:1-4).  .

Jakarta, 22 Agustus 2009

RenunganAugust 20, 2009 11:43 pm

“Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi”.

(Rut:1:1.3-6.14b-16.22; Mat 22:34-40)

 

“Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi” (Mat 22:24-40), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Pius X, Paus, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Di dalam hidup bersama dimanapun dan kapanpun, entah dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, bernegara atau beragana, ada aturan atau tatanan hidup yang diberlakukan dan harus dihayati atau dilaksanakan oleh semua warga yang ada di dalamnya. Aneka aturan atau tatanan hidup bersama hemat saya dibuat dan diundangkan atau diberlakukan dalam, demi dan karena kasih alias sebagai terjemahan ajaran kasih sebagaimana disabdakan oleh Yesus hari ini. Maka dalam rangka mengenangkan St.Pius X, Paus, kami mengajak dan mengingatkan siapapun yang merasa menjadi pemimpin di tingkat atau di wilayah manapun untuk dapat menjadi teladan dalam melaksanakan aneka aturan dan tatanan hidup yang dijiwai oleh cintakasih, dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau kekuatan. Mungkin hal ini perlu terjadi di dalam hidup bersama paling dasar, yaitu keluarga. Para orangtua atau bapak-ibu hendaknya menjadi teladan dalam melaksanakan aneka aturan dan tatanan hidup bagi anak-anaknya. Sekali lagi para bapak-ibu kiranya memiliki pengalaman untuk saling memberikan diri dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap tenaga atau kekuatan, yang antara lain memuncak dalam hubungan seksual sebagai perwujudan saling mengasihi. Para bapak-ibu juga memiliki pengalaman dalam mengasihi anak-anaknya. Ketika anak-anak memperoleh teladan dari orangtua dalam hal pelaksanaan aturan atau tatanan hidup, kiranya mereka kelak kemudian hari juga akan taat dan setia pada aneka aturan dan tatanan yang terkait dengan hidup dan panggilan pengutusannya. Saling mengasihi dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan atau tubuh  merupakan panggilan dan tugas pengutusan kita semua sebagai orang beriman. “Segenap”  berarti seutuhnya, maka kalau tidak utuh berarti sakit: sakit hati, sakit jiwa, sakit akal budi/bodoh dan sakit tubuh. Mereka yang sedang menderita sakit pada umumnya akan mengalami kesulitan dalam mengasihi. Marilah kita saling bekerjasama dan mengingatkan dalam menjaga kebugaran hati, jiwa, akal budi dan tubuh kita, agar kita senantiasa siap sedia untuk saling mengasihi.

·   "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku”(Rut 1:16), demikian kata Rut kepada Naomi, mertuanya. Apa yang dikatakan dan kiranya juga dilaksanakan oleh Rut ini kiranya dapat menjadi teladan bagi para isteri, termasuk juga ketika harus menjanda karena kematian suaminya. Sering terjadi bahwa relasi seorang ibu dengan menantunya perempuan kurang harmonis atau kurang baik alias tidak dapat hidup bersama dengan baik. Menantu perempuan sering diperlakukan sebagai pembantu atau pelayan oleh mertuanya perempuan. Rekan-rekan perempuan hemat saya dalam hidup sosial kemasyarakatan dapat menjadi symbol kasih dan kelemah-lembutan, karena secara psikososial memang lebih halus, lemah lembut daripada laki-laki. Memang juga ada perempuan yang hidup dan bertindak bagaikan singa ganas, yang kelaparan dan dengan demikian siap menerkam orang lain alias memarahi orang lain seenaknya. Semoga perbedaan suku atau bangsa tidak menjadi hambatan untuk hidup dan bertindak dalam kasih dan lemah lembut. Para menantu perempuan ketika mendapat desakan sebagaimana dialami oleh Rut dari mertuanya, hendaknya meneladan Rut dan tidak perlu marah-marah atau berlaku kasar. Allah itu hanya satu, maka jika kita beriman kepada Allah kiranya kebersamaan hidup kita dimanapun dan kapanpun akan saling mengasihi dan dengan demikian terjadilah persaudaraan atau persahabatan sejati.

 

“Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: Dia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya; yang tetap setia untuk selama-lamanya, yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung, TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar.TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya” (Mzm 146:5-9)

 

Jakarta, 21 Agustus 2009

Renungan 11:41 pm

“Bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?”

(Hak 11:29-39a; Mat 22:1-14)

“Lalu Yesus berbicara pula dalam perumpamaan kepada mereka: "Hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh pula hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai saudara, bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja.Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi. Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih."(Mat 22:1-14),demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Bernardus, Abas dan Pujangga Gereja, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hidup beragama diharapkan setia pada ajaran agama yang bersangkutan, menghayatinya dalam hidup sehari-hari sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusannya. Namun jika diperhatikan kiranya cukup banyak orang yang tidak setia menghayati ajaran agama yang terkait, dengan kata lain orang tidak layak disebut sebagai orang beragama, “tidak mengenakan pakaian pesta”. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk setia pada ajaran agama, atau meneladan St.Bernardus, yang meskipun lemah phisiknya, bekerja keras dan dengan rendah hati memperbaiki cara hidup para anggota Lembaga Hidup bakti atau para biarawan dan biarawati. ‘Pakaian pesta’ macam apa yang diharapkan kita pakai atau kenakan? Secara liturgis antara lain kita diharapkan setia berdoa atau beribadat setiap hari, dan tentu saja kemudian menghayati atau melaksanakan isi doa tersebut dalam cara hidup dan cara bertindak. Sebagai contoh , sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, kita diajarkan doa Bapa Kami. Dalam doa Bapa Kami ada kata-kata sebagai berikut:” Ampunilah kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami”. Marilah kita hidup saling mengampuni satu sama lain. Hendaknya tidak mengingat-ingat kesalahan orang lain, sebagaimana kesalahan kita pun juga tidak pernah diingat-ingat orang lain. Mengingat kesalahan orang lain pada umumnya akan berkembang menjadi ‘membunuh orang’ tersebut atau melecehkan dan merendahkannya alias melanggar hak asasi manusia. Marilah kita dengan rendah hati saling mengampuni dan mengasihi, sebagai tanda bahwa kita sungguh ‘berpakaian pesta’ sebagai orang beragama atau beriman.

·   "Bapa, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada TUHAN, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, karena TUHAN telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni bani Amon itu.”(Hak 11:36), demikian kata puteri Yefta, yang masih gadis, kepada Yefta, ayahnya. Yefta bernazar kepada  Tuhan bahwa siapapun yang ia jumpai pertama kali akan dipersembahkan kepada Tuhan, dan ternyata yang ditemui pertama kali adalah anak gadisnya. Puteri Yefta pun tidak menolak untuk menjadi persembahan kepada Tuhan. Maka dengan ini kami mendambakan pada para gadis atau remaja putri untuk berani mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Sebelum menikah hendaknya tetap perawan alias tidak mengadakan hubungan seks dengan orang lain, dan syukur anda juga tergerak untuk mempersembahkan diri sebagai suster atau birawati. Keperawanan seorang gadis kiranya merupakan sesuatu yang sangat berharga, maka hendaknya jangan dilecehkan. Tentu saja untuk itu perlu diingat: (1) rekan-rekan remaja putri hendaknya tidak menghadirkan sedemikian rupa sehingga merangsang lelaki hidung belang untuk bertindak jahat, sedangkan (2) rekan-rekan remaja putra ketika melihat gadis cantik hendaknya menghormatinya serta tidak melecehkan, atau lalu berpikiran jorok. Jauhkan aneka macam omongan, pikiran dan cara hidup yang jorok dan porno.

 

Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian, tetapi Engkau telah membuka telingaku; korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut. Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku; aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku." Aku mengabarkan keadilan dalam jemaah yang besar; bahkan tidak kutahan bibirku, Engkau juga yang tahu, ya TUHAN” (Mzm 40:7-10)

Jakarta, 20 Agustus 2009

RenunganAugust 18, 2009 1:39 am

“Lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

(Hak 6:11-24a; Mat 19:23-30)

“Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah." Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: "Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?" Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin." Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: "Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."(Mat 19:23-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang yang kaya raya akan harta benda atau uang pada umumnya merasa tidak aman, maka dengan berbagai cara berusaha melindungi diri dan kekayaannya dari aneka macam ancaman dan gangguan. Ada yang minta pengawalan ‘body guard’ kemanapun ia pergi, ada yang membangun tembok kuat dan pintu besi berlapis, dst.. Dengan kata lain mereka sering merasa tidak bebas bergerak kemanapun. Jika ada orang datang kepadanya sedikit banyak ada rasa curiga, jangan-jangan mengganggu kekayaannya, dan dengan demikian yang berangkutan lebih menutup diri. Sebaliknya orang miskin atau gelandangan pada umumnya bebas merdeka bepergian kemana saja, tidur di sembarang tempat, beratapkan langit dengan penerangan bintang-bintang serta beralaskan tanah atau rumput, dan dengan demikian kiranya mereka lebih terbuka terhadap aneka macam kemungkinan dan kesempatan. Mereka ‘lebih mudah bagaikan seekor unta masuk melalui lobang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah”, mereka lebih dirajai atau dikuasai oleh Allah daripada harta benda atau uang. Maka kami mengajak dan mengingatkan kita semua untuk menghayati keutamaan ‘kemiskinan’, yaitu keterbukaan terhadap Penyelenggaraan Ilahi dan secara konkret dalam hidup sehari-hari terbuka terhadap sapaan, sentuhan, nasihat, jeritan, dst.. dari sesama atau saudara-saudari kita. Dengan kata lain kami mengajak kita semua untuk hidup sosial dan saling memperhatikan serta melayani, sehingga kita semua memiliki banyak saudara, sahabat dan kawan. Marilah kita hayati sabda Yesus bahwa “setiap orang yang karena namaKu meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal”

·   “Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis”(Hak 6:16), demikian firman Allah kepada Gideon. Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita, bukan untuk berperang melawan orang lain, melainkan dalam menghadapi aneka macam masalah, tantangan dan hambatan dalam kehidupan kita. Kita hadapi dan selesaikan aneka masalah, tantangan dan hambatan dalam penyertaan Allah artinya dalam iman. “Dengan semangat iman kristiani kita hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara”,  demikian isi asas aneka lembaga pelayanan masyarakat seperti pendidikan, sosial dan kesehatan. Dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara pada masa kini sarat dengan tantangan, masalah dan hambatan, maka marilah semuanya kita sikapi dan hadapi dalam dan oleh iman. Kita lebih mengandalkan Penyelenggaraan Ilahi daripada aneka macam sarana-prasarana duniawi, dan hal ini antara lain dapat kita wujudkan dengan kerjasama dengan mereka yang berkehendak baik. Kami percaya bahwa banyak orang yang berkehendak baik, yang dapat diajak untuk bekerjasama dalam menghadapi aneka masalah, tantangan dan hambatan. Dengan kata lain marilah kita bergotong-royong dalam menghadapi aneka masalah, tantangan dan hambatan; hendaknya semua berpartisipasi dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sehingga kesejahteraan sosial bagi seluruh bangsa segera menjadi nyata atau terwujud. Kami berharap para petinggi, pemimpin atau tokoh-tokoh hidup bersama dapat menjadi teladan dalam hal bekerjasama atau bergotong-royong.

 

“Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan” (Mzm 85:11-14).

   

Jakarta, 18 Agustus 2009

Renungan 1:38 am

Mg Biasa XX : Ams 9:1-6; Ef 5:15-20; Yoh 6: 51-58

“Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."

“Ketika masih anak-anak dan tinggal di desa mau makan enak tidak ada, dan setelah dewasa seperti saat ini serta menjadi pastor cukup banyak makanan enak tersedia tetapi tidak boleh makan”, demikian komentar salah seorang rekan komunitas. Maklum rekan kami tersebut sesuai dengan hasil laboratorium rumah sakit berkolesterol tinggi alias terlalu memiliki lemak jahat cukup banyak di dalam darahnya. Maka demi  masa depan alias hidup lebih panjang yang bersangkutan harus bermatiraga dalam hal makanan dan minuman. Makanan-makanan yang enak pada masa kini memang pada umum berlemak dan tentu saja kurang sehat atau baik bagi mereka yang berkolesterol tinggi. Cukup banyak orang kiranya mendambakan berusia panjang alias jangan segera mati atau dipanggil Tuhan, maka untuk itu mereka dengan berbagai upaya dan usaha berusaha agar dirinya tetap sehat wal’afiat, segar-bugar alias tidak mudah jatuh sakit, agar diperkenankan hidup di dunia ini lebih lama. Jika orang berhasil dalam mengusahakan hidup yang baik, sehat dan segar-bugar di dunia ini kiranya yang bersangkutan untuk mendambakan atau berharap kelak ketika dipanggil Tuhan alias setelah meninggal dunia akan hidup selama-lamannya, mulia di sorga bersama Tuhan.

 

“Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."(Yoh 6:58)

        

“Roti” yang dimaksudkan di dalam Warta Gembira hari ini bagi kita masa kini kita imani dalam rupa ‘roti tak beragi’ yang setiap kali kita terima di dalam Perayaan Ekaristi, yaitu ‘komuni suci’. Setiap kali menyambut komuni kita mengatakan ‘Amin’ atas kata-kata dari pemberi komuni “Tubuh Kristus”, yang berarti kita mengimani dan menghayati bahwa yang kita terima adalah ‘Tubuh Kristus’. Makanan sedikit banyak atau secara dominan menentukan kwalitas pribadi yang bersangkutan, apa yang biasa dimakan akan menentukan kwalitas pribadi yang bersangkutan. Maka jika kita menyantap ‘Tubuh Kristus” berarti hidup dan cara bertindak kita dijiwai oleh Yesus Kristus, kita memiliki cara hidup dan cara bertindak sesuai cara hidup dan cara bertindak Yesus Kristus, dan dengan demikian kelak kita layak untuk menikmati hidup selama-lamanya di sorga.

 

Jika kita meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus Kristus, maka kita tidak hanya akan hidup selamanya di sorga tetapi selama hidup di dunia ini kita juga tetap hidup dengan gairah, ceria, dinamis, penuh harapan, dst.. meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan; kita dapat mengatasi atau mengalahkan aneka macam godaan atau rayuan setan yang merajalela di sana-sini dalam kehidupan masa kini. Dengan kata lain kita memiliki budi pekerti luhur, yang antara lain menghayati keutamaan-keutamaan “bekerja keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut, berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja, bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur, berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah, pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh, tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet “(Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka, Jakarta 1997)

  

Kami berharap dan mendambakan para orangtua atau bapak-ibu dapat menjadi teladan hidup berbudi pekerti luhur bagi anak-anaknya. Mungkin anda juga akan bertanya “Bagaimana mungkin?”.  Ingat bahwa anda telah saling berjanji untuk saling mengasihi baik dalam untung dan malang, sehat maupun sakit sampai mati, maka agar anda menjadi mungkin sebagai teladan berbudi pekerti luhur bagi anak-anak anda, hendaknya anda saling membantu dan mengingatkan jika di antara anda lalai dalam menghayati janji tersebut. Hendaknya anda sungguh bekerjasama atau bergotong-royong dalam menjadi teladan berbudi pekerti luhur. Anak-anak hendaknya sedini mungkin dilibatkan atau diajak untuk berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi, dan ketika saat menyambut komuni suci mohonkan berkat bagi anak anda melalui yang menerimakan komuni suci. Kebersamaan anda dalam satu keluarga dalam berpartisipasi di dalam Perayaan Ekaristi akan menjadi pengalaman yang indah bagi anak-anak anda dan tentu saja juga bagi anda berdua sendiri.

 

Janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati”(Ef 5:17-19)

 

Kita semua dipanggil untuk “bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan dengan segenap hati”  baik di dalam ibadat maupun hidup sehari-hari, dan rasanya terutama dan pertama-tama di dalam hidup sehari-hari.  Ibadat atau doa dan kerja bagaikan mata uang bermuka dua, sebagaimana dikatakan dalam sebuah motto “Ora et labora” = Berdoa dan bekerja. Doa menjiwai kerja dan kerja memperdalam hidup doa. Dengan kata lain semakin mendunia, semakin berpartisipasi dalam seluk-beluk duniawi hendaknya semakin beriman dan mendalam dalam doa-doanya.

 

Dalam hidup, bekerja atau sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun diharapkan senantiasa dalam keadaan gembira dan ceria. Di dalam kegembiraan dan keceriaan ketika harus menghadapi tantangan, masalah dan hambatan pasti dapat menemukan kesempatan atau kemungkinan untuk mengatasi dan menyelesaikannya. Kegembiraan dan keceriaan yang ada adalah dalam dan bersama Tuhan, karena Tuhan senantiasa hidup dan bekerja dalam diri kita yang lemah dan rapuh, maka tantangan, masalah dan hambatan macam apapun pasti akan dapat kita atasi atau selesaikan. Pada umumnya orang yang senantiasa gembira dan ceria juga memiliki keteguhan hati.

 

“Selama kita memiliki kemauan, keuletan, dan keteguhan hati, besi batangan pun bila digosok terus-menerus, pasti akan menjadi sebatang jarum …Miliki keteguhan hati” , demikian salah satu motto dari Bapak Andrie Wongso, promoter Indonesia. Keteguhan hati rasanya merupakan salah satu bentuk keutamaan dari penghayatan hidup yang penuh dengan Roh, yang bersifat abadi atau kekal. Berapa lama menggosok besi batangan sehingga menjadi sebatang jarum? Sulit dijawah dan dibayangkan. Soal gosok-menggosok ini kiranya perlu dan selayaknya dihayati oleh para orangtua atau bapak-ibu di dalam mendidik dan mendampingi anak-anaknya. Bekerjasamalah sebagai orangtua/bapak-ibu dalam mendidik dan mendampingi anak-anak anda, ‘gosok terus’  anak-anak anda dengan kemauan, keuletan dan keteguhan hati agar mereka tumbuh berkembang menjadi pribadi cerdas spiritual atau berbudi pekerti luhur. Orangtua atau bapak-ibu adalah pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya, sedangkan berbagai pendidikan formal dan informal di luar keluarga merupakan bantuan bagi para orangtua dalam mendidik anak-anaknya. Maka sebagai pendidik utama dan pertama, kami berharap para bapak-ibu atau orangtua dapat menjadi teladan dalam hal kemauan, keuletan dan keteguhan hati.

 

“Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik. Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu! Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu; jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya” (Mzm 34:10-15)

 

Jakarta, 16 Agustus 2009     .  

Renungan 1:37 am

"Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?"

(Yos 24:1-13; Mat 19:3-12)

“Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: "Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?" Jawab Yesus: "Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." Kata mereka kepada-Nya: "Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?" Kata Yesus kepada mereka: "Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah." Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti."(Mat 19:3-12), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St.Maximilianus Maria Kolbe, imam dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Hidup setia pada panggilan, tugas pengutusan atau kewajiban memang tidak mudah, dan pada umumnya orang ingkar janji seenaknya. “Setia adalah sikap dan perilaku yang menunjukkan keterikatan dan kepedulian atas perjanjian yang telah dibuat” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 24). Maximilianus Maria Kolbe sebagai imam sungguh setia pada panggilan dan pengutusannya, bahkan ia sampai rela mempersembahkan diri sebagai pengganti seseorang yang harus dihukum mati, mengingat dan mempertimbangkan bahwa orang yang harus dihukum mati tersebut memiliki isteri dan anak-anak yang membutuhkan kasih dan pendampingannya. Memang sulit dimengerti apa yang ia lakukan dan hanya dapat dimengerti dalam iman atau kasih karunia Allah. Kita semua mengaku diri sebagai orang beriman, maka marilah kita hayati kasih karunia Allah yang menyertai hidup kita agar kita setia pada iman, panggilan, tugas pengutusan atau kewajiban kita masing-masing. Rasanya dalam hal kesetiaan ini kesaksian atau keteladanan para bapak-ibu atau suami-isteri sangat diharapkan; apa yang dialami oleh orangtua/bapak-ibu akan sangat berpengaruh pada anak-anaknya. Maka kami berharap dan mendambakan anda semua yang hidup berkeluarga untuk tetap setia saling mengaisihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit, sebagaimana pernah anda ikrarkan ketika mengawali hidup berkeluarga. Dari suami-isteri atau bapak-ibu yang setia juga akan lahir anak-anak yang setia: ketika mereka tumbuh berkembang menjadi dewasa, entah terpanggil untuk hidup berkeluaga, imamat atau membiara, juga akan setia pada panggilan dan tugas pengutusannya.

·   “Setelah kamu menyeberangi sungai Yordan dan sampai ke Yerikho, berperanglah melawan kamu warga-warga kota Yerikho, orang Amori, orang Feris, orang Kanaan, orang Het, orang Girgasi, orang Hewi dan orang Yebus, tetapi mereka itu Kuserahkan ke dalam tanganmu. Kemudian Aku melepaskan tabuhan mendahului kamu dan binatang-binatang ini menghalau mereka dari depanmu, seperti kedua raja orang Amori itu. Sesungguhnya, bukan oleh pedangmu dan bukan pula oleh panahmu”(Yos 24:11-12). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita. Di dalam hidup sehari-hari, entah di dalam keluarga, temapat kerja atau masyarakat, kiiranya kita sering menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah. Hendaknya kita tidak mengatasi atau menghadapi semua itu dengan kekerasan dalam bentuk apapun, melainkan dengan dan dalam iman, harapan dan kasih. Semua ciptaan di dunia ini ada, tumbuh dan berkembang hanya karena dan oleh kasih, maka sikapilah semuanya dalam dan oleh kasih. Entah orang atau sesama manusia atau binatang yang nampak seram dan menakutkan ketika disikapi dan dihadapi dalam dan oleh kasih, maka mereka pasti akan menjadi sahabat. Kasih berasal dari Allah, maka ketika kita mengasihi orang lain berarti kita hidup dan bersama dengan Allah, dan bersama atau bersatu dengan Allah tiada ketakutan atau kekhawatiran dalam menghadapi aneka tantangan, hambatan dan masalah. Ingat dan kenangkan para bapak-ibu atau suami-isteri, bukanlah anda memiliki pengalaman konrkret sejak kenal pertama saling mendekati dalam dan oleh kasih; ingat dan kenangkan masa pacaran atau tunangan anda, dan kemudian hayati kembali semangat atau jiwa hidup masa pacaran dan tunangan tersebut pada masa kini.

 

“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Bersyukurlah kepada Allah segala allah! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Bersyukurlah kepada Tuhan segala tuhan! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” (Mzm 136:1-3)     

 

Jakarta, 14 Agustus 2009 .


Tukar Banner Gratis