RenunganSeptember 25, 2009 7:10 am

“Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia."

(Za 2:5-9.14-15a; Luk 9:43b-45)

 

“Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia." Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Dan mereka tidak berani menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya” (Luk 9:43b-45), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dengarlah dan camkanlah segala perkataanKu ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia’, demikian kata-kata Yesus khusus bagi para muridNya, bagi kita semua yang beriman atau percaya kepadaNya. Yesus datang ke dunia untuk mempersembahkan diri seutuhnya bagi dunia, demi keselamatan dunia seisinya, maka kita semua yang beriman kepadaNya juga dipanggil untuk meneladan Dia dengan hidup mendunia atau hidup dan bertindak demi keselamatan dunia. Mayoritas waktu dan tenaga kita terarah pada hal-hal duniawi yang terkait dengan panggilan dan tugas pengutusan kita masing-masing. Meneladan Yesus berarti mempersembahkan diri seutuhnya pada aneka tugas, kewajiban atau pekerjaan yang menjadi tanggunjawab kita masing-masing. Dengan kata lain entah belajar atau bekerja kita semua dipanggil untuk belajar atau bekerja dengan sungguh-sungguh, sehingga terampil dalam belajar atau bekerja, tumbuh berkembang menjadi orang professional dalam bidang kehidupan tertentu. Masa kini maaupun masa depan dibutuhkan orang-orang yang sungguh professional dan orang yang sungguh professional pada umumnya akan dicari orang alias tidak akan berkekurangan dalam hal pekerjaan atau bahkan berlebihan. Meskipun ia harus melaksanakan banyak tugas atau pekerjaan, orang professional akan mampu menyelesaikan semuanya dengan baik dan memuaskan bagi semuanya, dan iapun juga semakin professional dalam bidang kehidupan yang telah digelutinya; ia akan semakin hidup damai sejahtera lahir dan batin, jasmani dan rohani. Maka kepada rekan-rekan pelajar atau mahasiswa kami dambakan untuk sungguh belajar sehingga kelak professional dalam bidang kehidupan tertentu, sedangkan kepada para orangtua dan pendidik/guru kami dambakan sungguh mempersiapkan anak-anak/peserta didik ke arah professional tertentu sesuai dengan bakat anak-anak/peserta didik.

·   "Sesungguhnya Aku akan menggerakkan tangan-Ku terhadap mereka, dan mereka akan menjadi jarahan bagi orang-orang yang tadinya takluk kepada mereka. Maka kamu akan mengetahui bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku”(Za 2:9). Semesta alam diciptakan oleh Tuhan dan tergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Kita, manusia, dapat hidup dan bergerak ke sana kemari hanya karena dan oleh Tuhan, maka baiklah kita hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Dengan kata lain sebagai orang beriman kita dipanggil untuk tumbuh berkembang sehingga mahir dalam beriman. Orang yang mahir dalam beriman tak akan mungkin menjadi jarahan atau bahan pelecehan,  orang beriman akan handal dalam menghadapi aneka macam gelombang kehidupan, sehingga tidak akan karam.  Maka marilah dalam dan dengan iman kita hidup bersama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Untuk itu mereka yang berpengaruh dalam hidup bersama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara diharapkan menjadi teladan dalam kehidupan iman, secara konkret teladan dalam melaksanakan tugas atau kewajiban atau menghayati panggilan. Keteladanan para pemimpin, atasan atau petinggi diharapkan dapat menjadi modal dan kekuatan bagi semuanya sehingga semuanya semakin beriman dan ‘mengetahui bahwa semesta alam diciptakan oleh Tuhan’. Jika semuanya mengetahui dan menghayati bahwa semesta alam diciptakan oleh Tuhan, tergantung pada Tuhan, maka kiranya lingkungan hidup bersama menjadi nyaman, enak dan nikmat. Semua orang berfungsi secara professional dalam fungsi dan tugas masing-masing dalam hidup bersama, sebagaimana semua anggota tubuh kita sehat wal’afiat dan fungsional semua sehingga tubuh kita segar bugar, sehat wal’afiat. Hendaknya fungsi atau tugas pekerjaan apapun dihayati atau dilaksanakan secara sungguh-sungguh, professional. Hendaknya perbedaan fungsi atau tugas pekerjaan menjadi wahana untuk saling bekerja sama bukan menjadi bahan iri hati.

 

“Dengarlah firman TUHAN, hai bangsa-bangsa, beritahukanlah itu di tanah-tanah pesisir yang jauh, katakanlah: Dia yang telah menyerakkan Israel akan mengumpulkannya kembali, dan menjaganya seperti gembala terhadap kawanan dombanya! Sebab TUHAN telah membebaskan Yakub, telah menebusnya dari tangan orang yang lebih kuat dari padanya.Mereka akan datang bersorak-sorak di atas bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan TUHAN, karena gandum, anggur dan minyak, karena anak-anak kambing domba dan lembu sapi; hidup mereka akan seperti taman yang diairi baik-baik, mereka tidak akan kembali lagi merana” (Yer 31:10-12)

Jakarta, 26 September 2009

Renungan 7:07 am

"Kata orang banyak, siapakah Aku ini?"

(Hag 2:1b-9; Luk 9:18-22)

 

“Pada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka: "Kata orang banyak, siapakah Aku ini?" Jawab mereka: "Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit." Yesus bertanya kepada mereka: "Menurut kamu, siapakah Aku ini?" Jawab Petrus: "Mesias dari Allah." Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun. Dan Yesus berkata: "Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:18-22), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ada orang yang kesibukan sehari-harinya berdagang di pasar atau sebagai kontraktor bangunan dst. tetapi dalam  KTP atau ID-nya tertulis ‘buruh’; ada orang katolik yang tidak berani memakai nama baptis di tempat kerja, tidak berani berdoa sebelum dan sesudah makan ketika makan di rumah makan umum, dst..  Memang di balik ‘ketidak-jujuran’ atau ‘ketakutan’ dalam hal jati diri tersebut ada berbagai kemungkinan alasan, misalnya takut akan kewajiban besar, takut diejek atau disingkirkan dst..  Ketakutan untuk mengakui atau mengimani Yesus sebagai ‘Mesias dari Allah’ mungkin  masih mewarnai cara hidup dan cara bertindak kita sebagai murid-murid atau pengikut Yesus, karena mengandung konsekwensi berat yaitu ‘harus menanggung banyak penderitaan’. Setia pada jati diri, panggilan, tugas pengutusan dan kewajiban memang tak akan terlepas dari penderitaan dan perjuangan, sehingga cukup banyak orang kurang atau tidak setia. Setia pasangannya ialah jujur, setia dan jujur bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan dan tak dapat dipisahkan. Pertama-tama marilah kita jujur terhadap ‘jati diri’ kita masing-masing dimanapun dan kapanpun, tanpa takut dan was-was mengakui ‘jati diri’ dihadapan umum. Sekiranya dengan kejujuran jati diri ini harus menghadapi atau mengalami tantangan, ejekan, sindiran dst.., jadikanlah semuanya itu sebagai bantuan atau dukungan agar kita konsekwen pada jati diri kita dan dengan demikian hidup dan bertindak sesuai dengan jati diri kita masing-masing. Tumbuh berkembang dalam jati diri alias panggilan dan tugas pengutusan memang harus berani menghadapi dan mengolah aneka macam tantangan, hambatan, ejekan, sindiran, dst.. Penderitaan dan perjuangan merupakan wahana pemurnian jati diri, bagaikan emas dibakar untuk memperoleh emas murni.

·   Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam” (Hag 2:7-9). Gempa bumi berkekuatan cukup besar pada awal bulan September menggoncang pulau Jawa: bangunan yang tak kuat roboh, rata dengan tanah, sedangkan bangunan yang kuat tetap berdiri kokoh. Aneka masalah, perubahan dan perkembangan menggoncang kehidupan bersama, sebagaimana krisis moneter yang menggoncang dunia tahun lalu. Dalam krisis moneter mereka yang gila akan uang memang sungguh tergoncang, sedangkan mereka yang hidup sederhana dan tidak gila uang tak terasa apa-apa.  Kita telah mendengarkan melaui pengajaran atau kotbah: firman atau sabda Tuhan, yang diharapkan menjadi pedoman, pegangan dan kekuatan kita dalam menghadapi gelombang kehidupan yang tiada henti. Adakah kata-kata atau ayat yang mengesan bagi anda dalam rangka mendengarkan pengajaran atau kotbah? Jadikanlah kata-kata atau ayat yang mengesan tersebut sebagai pedoman, pegangan dan kekuatan hidup anda, sebagaimana dipakai oleh para gembala kita, para uskup, dengan mottonya. Saya pribadi merasa diteguhkan oleh ayat atau kata-kata ini: “Di dalam Dia kita beroleh keberanian dan jalan masuk kepada Allah dengan penuh kepercayaan oleh iman kita kepada-Nya.” (Ef 3:12). Ayat-ayat ini, dengan rendah hati dan dari kelemahan dan kerapuhan saya pribadi, saya coba hayati antara lain dengan berusaha hidup dan bekerja sesuai dengan kehendak Tuhan alias berusaha taat dan setia pada aneka tatanan dan aturan yang  terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan. Hidup dan bertindak dalam Tuhan tiada ketakutan dan kecemasan sedikitpun.

 

“Berilah keadilan kepadaku, ya Allah, dan perjuangkanlah perkaraku terhadap kaum yang tidak saleh! Luputkanlah aku dari orang penipu dan orang curang! Sebab Engkaulah Allah tempat pengungsianku. Mengapa Engkau membuang aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh? Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu! Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!” (Mzm 43:1-4)

 

Jakarta, 25 September 2009

RenunganSeptember 23, 2009 7:10 am

“Ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus.”

(Hag 1:1-8; Luk 9:7-9)

 

“Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan, bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan, bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula yang mengatakan, bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata: "Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?" Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus” (Luk 9:7-9), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Seorang pemimpin di tingkat manapun dan di bidang apapun yang gila akan kuasa, hormat duniawi dan harta benda atau uang pada umum cemas ketika mendengar ada pesaing baru atau orang-orang baru yang berpengaruh dalam kehidupan bersama muncul. Ia berusaha mencari tahu siapa gerangan orang tersebut, jangan-jangan ia akan menggeser kedudukan atau  jabatannya. Itulah kiranya yang dirasakan oleh Herodes, yang kemudian ‘berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus’. Keinginan untuk bertemu dengan Yesus bukan karena tertarik untuk mengikutiNya, melainkan lebih muncul dari kecemasannya jangan-jangan Yesus menggeser kedudukan dan pengaruhnya pada rakyat. Pemimpin yang tidak berpihak pada rakyat yang dipimpinnya alias hanya mencari keuntungan diri sendiri memang mudah cemas dan gelisah ketika muncul ide-ide, gagasan-gagasan atau gerakan-gerakan pembaharuan yang muncul dikalangan rakyatnya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kepada siapapun yang merasa menjadi atau berfungsi sebagai pemimpin untuk senantiasa berpihak pada dan bersama dengan yang dipimpin. Untuk itu hendaknya pemimpin senantiasa berusaha untuk bertemu secara pribadi dengan yang dipimpin, entah secara formal atau informal, dengan mendatangi atau menyapa mereka. Hendaknya meluangkan waktu dan tenaga sesaat untuk mendatangi atau mengunjungi mereka yang dipimpin atau menjadi bawahan atau pembantunya. Beri salam singkat, seperti selamat pagi, selamat siang dst.. , dan sekali waktu hendaknya bercakap-cakap atau curhat dengan mereka yang dipimpin. Jika pemimpin sering ‘turba’ alias menyapa dan curhat dengan yang dipimpin kiranya tidak perlu ada kecemasan sedikitpun. Hayatilah kepemimpinan partisipatif dengan melibatkan mereka yang dipimpin, mendengarkan harapan, keluh kesah, dambaan mereka dst..

·   "Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?”(Hag 1:4), demikian peringatan Tuhan melalui nabi Hagai kepada umatNya. Yang dimaksud dengan “Rumah” adalah bait Allah dan bagi kita sekarang adalah tempat ibadat, entah kapel/gereja, masjid/langgar/surau atau tempat-tempat suci dan peziarahan. Kita diingatkan hendaknya memperhatikan kenyamanan, keindahan, kebersiahan tempat ibadat sehingga menarik dan memikat umat untuk datang dan berdoa di dalamnya. Maka marilah kita perhatikan tempat ibadat kita bersama serta aneka macam sarana-prasarana pendukung ibadat, apakah layak disebut sebagai ‘rumah Tuhan’. Memang bentuk bangunan tempat ibadat hendaknya juga akrab dengan lingkungan sekitarnya: keindahan dan kebersihan yang penting dan untuk itu berarti perlu perawatan yang memadai. Pada umumnya tempat-tempat ibadat ketika baru selesai dibangun nampak bagus, menarik dan memikat. Tempat ibadat akan tetap menarik dan memikat jika sungguh dirawat. Maka dengan ini kami mengharapkan agar tempat-tempat ibadat dirawat sedemikian rupa sehingga menarik dan memikat orang untuk dataing, dan ‘berusaha untuk bertemu dengan Tuhan’  dalam dan melalui ibadat bersama atau doa-doa pribadi. Anak-anak hendaknya dibiasakan sedini mungkin perihal arti dan makna tempat ibadat,  sehingga pada suatu saat mereka juga terlibat untuk merawat maupun beribadat dengan khidmat. Kepada rekan-rekan yang tahu perihal seluk-beluk ibadat dan tempat ibadat, antara lain para imam atau pastor kami harapkan untuk membina umat juga perihal cara beribadat maupun tempat ibadat, tempat-tempat suci yang dipersembahkan kepada Tuhan. Kepada semuanya kami harapkan hendaknya ketika memasuki tempat ibadat penuh hormat dan keheningan, begitu pula selama di dalam tempat ibadat; hendaknya jangan omong-omong atau rekreasi di tempat ibadat, tempat suci yang telah dipersembahkan kepada Tuhan.

 

“Haleluya! Nyanyikanlah bagi TUHAN nyanyian baru! Pujilah Dia dalam jemaah orang-orang saleh. Biarlah Israel bersukacita atas Yang menjadikannya, biarlah bani Sion bersorak-sorak atas raja mereka! Biarlah mereka memuji-muji nama-Nya dengan tari-tarian, biarlah mereka bermazmur kepada-Nya dengan rebana dan kecapi! Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan. Biarlah orang-orang saleh beria-ria dalam kemuliaan, biarlah mereka bersorak-sorai di atas tempat tidur mereka!” (Mzm 149:1-5)

Jakarta, 24 September 2009

Renungan 7:08 am

"IbuKu dan saudaraKu ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya”

(Ezr 6:7-8.12b.14-20; Luk 8:19-21)

 

“Ibu dan saudara-saudara Yesus datang kepada-Nya, tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak.Orang memberitahukan kepada-Nya: "Ibu-Mu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin bertemu dengan Engkau." Tetapi Ia menjawab mereka: "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya.” (Luk 8:19-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   “KKN” = Kolusi, Korupsi dan Nepostime, itulah ungkapan atau kata-kata yang cukup mewarnai dalam aneka pembicaraan. Hemat saya kolusi dan nepotisme tidak apa-apa alias baik-baik saja asal tidak korupsi. Kata bahasa Latin ‘corruptio’ (1) secara aktif berarti  hal merusak, hal membuat busuk, pembusukan, penyuapan, (2) secara pasif berarti keadaan dapat binasa, kebinasaan, kerusakan, kebusukan, kefanaan, korupsi, kemerosotan. Sedangkan kata bahasa Latin ‘corruptor’ berarti perusak, pembusuk, penggoda, pemerdaya, penyuap. Dari pengartian kata ‘corruptio’  di atas kiranya dapat dipahami arti korupsi,yaitu kemerosotan moral dengan merusak yang lain demi keuntungan diri sendiri. Dari sudut pandang hukum, perbuatan korupsi mencakup unsur-unsur: melanggar hukum yang berlaku, penyalahgunaan wewenang.merugikan Negara, memperkaya pribadi/diri sendiri. "Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya”, demikian tanggapan  Yesus atas informasi bahwa Ia dicari oleh saudara-saudari dan ibuNya. Kunggulan hidup beriman atau beragama terletak dalam ‘mendengarkan firman Allah dan melakukannya’, alias dalam pelaksanaan atau penghayatan aneka macam saran, ajaran nasihat, petuah, aturan dan tuntunan hidup. Hidup dan bertindak jujur alias tidak korupsi hemat saya merupakan hal yang mendesak untuk dihayati dan disebarluaskan dalam hidup dan bekerja bersama pada masa kini, mengingat dan memperhatikan korupsi dalam berbagai bentuk masih marak di sana-sini. Saya sangat prihatin mendengar dan memperhatikan bahwa departemen yang terkait dengan pembinaan iman dan kepribadian manusia di Indonesia, yaitu Departemen Agama dan Departemen Pendidikan masih sarat dengan korupsi di berbagai tingkatan pelayanan. Dalam Pendidikan misalnya masalah penyaluran BOS, Bantuan Operasional Sekolah, bagi mereka yang miskin dan berkekurangan dipotong alias dikorupsi dengan alasan beaya administrasi, dalam Agama kiranya entah di kalangan agama manapun juga masih sarat dengan korupsi. Di paroki-paroki, lingkungan Gereja Katolik, juga masih terjadi korupsi yang dilakukan oleh seksi-seksi tertentu. Marilah kita berantas aneka macam bentuk korupsi dalam hidup dan kerja kita dimanapun dan kapanpun.   

·   Karena para imam dan orang-orang Lewi bersama-sama mentahirkan diri, sehingga tahirlah mereka sekalian. Demikianlah mereka menyembelih anak domba Paskah bagi semua orang yang pulang dari pembuangan, dan bagi saudara-saudara mereka, yakni para imam, dan bagi dirinya sendiri” (Ezr 6:20). Para imam dan orang-orang Lewi untuk masa kini adalah para imam/pastor dan bruder serta suster. Mereka telah mentahirkan atau menyucikan diri, paling tidak secara liturgis, maka kami harapkan para imam/pastor, bruder dan suster (juga para pendeta, kyai, biksu, dst..)dapat menjadi teladan kesucian, orang-orang yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah melalui cara hidup dan cara bertindak sehari-hari. Hari ini kita masih dalam suasana perayaan Idul Fitri, dimana para anggota keluarga dan kenalan saling bersalam-salaman, bersilaturahmi, saling memaafkan. Saudara-saudari kita, umat Islam khususnya, kiranya menyadari dan menghayati diri sebagai yang telah disucikan setelah selama sebulan berpuasa, berusaha mengendalikan diri sedemikian rupa sehingga hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah atau firman Allah. Bukankah peristiwa ini merupakan situasi yang kondusif dan bagus bagi kita semua untuk saling memperteguh dan memperkuat penghayatan iman kita masing-masing. Semoga apa yang terjadi dan dialami pada hari-hari ini dalam rangka merayakan Idul Fitri dapat terus terjadi dan dihayati dalam hidup sehari-hari, bukan dalam hal makan dan minum tetapi dalam hidup yang dijiwai oleh persaudaraan atau persahabatan sejati. ‘Hari Kemenangan atas setan atau kejahatan’ yang dirayakan hendaknya terus terjadi dalam hari-hari berikutnya. Marilah kita perangi bersama setan dan kejahatan yang masih terjadi dan menggema di sana-sini.

 

“Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke rumah TUHAN." Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem. Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel.Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud” (Mzm 122:1-5)

Jakarta, 22 September 2009

Renungan 7:07 am

"Mengapa gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?"

(Ef 4:1-7.11-13; Mat 9:9-13)

 

“Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: "Ikutlah Aku." Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”(Mat 9:9-13), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan  dalam rangka mengenangkan pesta St.Matius, rasul dan penggarang Injil, .hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Orang-orang yang bersikap mental Farisi pada umumnya orientasi pergaulan hanya terarah pada mereka yang akan menguntungkan dirinya atau mereka yang dianggap baik dan terhormat di dunia ini. Mereka kurang perhatian terhadap mereka yang kurang terpandang dan terhormat di dunia ini, misalnya para pembantu rumah tangga atau sekolah/tempat kerja , buruh, pesuruh, satpam, dst.. Mereka yang bersikap mental Farisi pada umumnya juga tidak bersedia makan bersama dengan yang kurang/tidak terpandang atau terhormat di dunia ini, dan juga tidak bersedia makan di warung-warung sederhana di pinggir jalan atau pasar, dst..  Bahkan orang bersikap mental Farisi juga mudah berkomentar seperti orang-orang Farisi mengomentari Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”. Menanggapi komentar macam itu Yesus menjawab: “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa”. Sebagai orang beriman kita dipanggil untuk meneladan Yesus yang rendah hati, “makan bersama-sama dengan para pendosa”. Hal ini kiranya secara konkret dapat kita hayati dengan memperhatikan mereka yang dipandang hina atau rendah di dunia ini antara lain para pembantu, pesuruh atau satpam. Perhatian tersebut antara lain dapat diwujudkan dengan sering curhat dengan mereka, menyapa dan mengunjungi mereka dalam kasih, dan syukur makan dan minum bersama mereka sambil curhat. Jika kita kurang atau tidak memperhatikan mereka yang dipandang hina dan rendah atau tidak dapat curhat dan bersama mereka, maka kebersamaan hidup dan kerja bersama dengan rekan-rekan hemat saya masih dijiwai oleh sikap mental Farisi. Kami mendambakan kepada para pimpinan unit kerja di manapun untuk sering ‘turba’, turun ke bawah untuk memperhatikan dan menyapa para pekerja kasar atau pembantu, dst..

·   Aku menasihatkan kamu, aku, orang yang dipenjarakan karena Tuhan, supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera”(Ef 4:1-3)  Kutipan ini bagus untuk kita renungkan dan hayati dalam hidup kita sehari-hari, terutama ajakan “Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar”. Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaiiu  dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya  lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan diri” (Prof Dr.Edi Sedyawati/edit; Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24). Jika orang dapat menghayati keutamaan rendah hati ini dengan baik, hemat saya keutamaan lemah lembut dan sabar secara inklusif telah dihayati juga. Menghayati keutamaan rendah hati dapat kita laksanakan dengan berusaha menjadi sama dengan sesama dan saudara-saudari kita, terutama mereka yang dipandang rendah dan hina di dunia ini. Untuk itu hendaknya tidak menghadirkan diri dihadapan mereka sedemikian rupa sehingga merangsang pikiran jahat, misalnya dengan pamer pakaian yang mahal, aneka asessori mahal, dst, melainkan menghadirkan diri dalam dan dengan kesederhaan baik dalam tutur kata, gaya hidup, gaya berpakaian, dst.. Alangkah indahnya juga jika kita dapat membantu tugas pekerjaan para pembantu, yang berarti bekerjasama dengan mereka. “Tunjukkanlah  kasihmu dalam hal saling membantu”, demikian nasihat Paulus, marilah saling membantu ini kita hayati dengan membantu mereka yang senantiasa membantu kita yaitu para pembantu rumah tangga atau kantor/tempat kerja.

 

“Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari” (Mzm 19:2-5)

”SELAMAT IDUL FITRI, 1 Syawal 1430 H, mohon maaf lahir batin”

 

Jakarta, 21 September 2009

RenunganSeptember 18, 2009 6:38 am

“Benih itu ialah firman Allah”

(1Tim 6:13-16; Luk 8:4-15)

 

Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang.Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."(Luk 8:11-15), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Dalam perjalanan hidup kita sampai saat ini kiranya kita telah menerima begitu banyak ‘firman Allah’ melalui orang-orang yang telah dan sedang mengasihi kita, misalnya orangtua, guru/pendidik, pembimbing/pendamping , sahabat, kenalan, rekan bermain maupun bekerja. “Firman Allah” tersebut antara berupa ajaran, nasihat, saran, kritik, tegoran dst.. yang tidak lain merupakan bentuk kasih mereka kepada kita agar kita tumbuh berkembang menjadi pribadi baik, cerdas beriman. Pertanyaan bagi kita masing-masing: apakah aku merupakan ‘tanah berbatu-batu, tanah penuh semak duri atau tanah baik dan subur’? Kita semua diharapkan menjadi ‘tanah baik dan subur’ sehingga ketika ditaburi benih, yaitu ‘firman Allah’, benih itupun tumbuh berkembang menjadi pohon dan menghasilkan buah-buah yang menyelamatkan dan membahagiakan. Maka sekiranya kita belum menjadi ‘tanah baik dan subur’, marilah kita berusaha menyuburkan dan memperbaikinya, antara lain dengan menyingkirkan ‘batu-batu atau semak duri’, yaitu hati yang keras, jiwa yang tertutup, egois, malas, suka menyalahkan atau melecehkan yang lain dst.. Ketika kita menerima benih, yaitu ‘firman Allah’ hendaknya benih tersebut diberi kesempatan untuk tumbuh berkembang, antara lain dengan merawat dan memberi pupuk. Apa yang kami maksudkan merawat dan memberi pupuk tidak lain adalah perbuatan-perbuatan baik. Semua perbuatan baik sekecil apapun merupakan wujud perawatan dan pemupukan. Setiap hari, setiap saya bagi kita ada kesempatan untuk berbuat baik bagi sesama dan lingkungan hidup kita. Pada hari-hari ini kiranya cukup banyak saudara-saudari kita yang sedang dalam perjalanan mudik dalam rangka merayakan Idul Fitri: ada kemungkinan seluruh anggota keluarga berada dalam satu mobil dan kena kemacetan lalu lintas berjam-jam. Nah, dalam kemacetan dan kebersamaan tersebut kiranya anda dapat berbuat baik kepada saudara-saudari anda, entah dalam satu keluarga atau rekan seperjalanan.

·   “Di hadapan Allah yang memberikan hidup kepada segala sesuatu dan di hadapan Kristus Yesus yang telah mengikrarkan ikrar yang benar itu juga di muka Pontius Pilatus, kuserukan kepadamu: Turutilah perintah ini, dengan tidak bercacat dan tidak bercela, hingga pada saat Tuhan kita Yesus Kristus menyatakan diri-Nya” (1Tim 3:13-14), demikian peringatan Paulus kepada Timotius dan kita semua orang beriman. Perintah apa yang harus kita turuti? “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal “(1Tim 6:12) , inilah perintah yang harus kita laksanakan. Untuk memenangkan pertandingan ini kiranya kita harus bekerjasama. Lahan untuk pertandingan iman yang benar dan perebutan hidup yang kekal ini tidak lain adalah keluarga, tempat kerja/kantor, masyarakat atau jalan. Entah apapun yang kita kerjakan atau lakukan hendaknya membuat kita semakin beriman, semakin mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Di tempat dimana kita berada atau bekerja kiranya ada aturan atau tatanan hidup yang diberlakukan, maka taati dan laksanakan aturan atau tatanan hidup tersebut ‘dengan tidak bercacat dan tidak bercela’. Mungkin baik dalam masa mudik yang ditandai ramainya orang di perjalanan, kami mengajak dan mengingatkan siapapun yang sedang dalam perjalanan untuk mentaati aneka aturan dan rambu-rambu lalu lintas ‘dengan tidak bercacat dan tidak bercela’. Cara hidup dan cara bertindak anda di jalanan merupakan cermin cara hidup dan cara bertindak bangsa secara umum. Kepada rekan-rekan umat Islam yang sebentar lagi akan menyelesaikan masa penyucian diri/puasa, kami harapkan apa yang ada temukan dan hayati selama masa penyucian diri tersebut terus diabadikan alias dihayati terus menerus di dalam hidup sehari-hari.

 

“Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya! Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun” (Mzm 100:2-5)

 

Jakarta, 19 September 2009

RenunganSeptember 14, 2009 8:13 am

"Inilah ibumu!"

(Ibr 5:7-9; Yoh 19:25-27)

 

“Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.”(Yoh 19:25-27), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam  rangka mengenangkan pesta ‘SP Maria Berdukacita’ hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Seorang ibu yang baik senantiasa mengasihi anak-anaknya dalam kondisi dan situasi apapun dan dimanapun, demikian juga ketika anak-anak sudah tumbuh berkembang menjadi dewasa atau berkeluarga. Maka ada lagu yang begitu bagus dan indah:”Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. Hari ini kita kenangkan “Bunda Maria” yang berdukacita, pesta untuk mengenangkan bahwa Bunda Maria senantiasa bersama dan bersatu dengan Yesus, yang kemarin kita kenangkan persembahan diriNya di puncak kayu salib. Bunda Maria berdiri di dekat salib Yesus, bahkan Michael Angelo melukiskan Bunda Maria memangku Yesus yang telah wafat di kayu salib. Bunda Maria adalah teladan umat beriman, maka marilah kita sebagai orang beriman dengan rendah hati berusaha meneladan Bunda Maria, antara lain bersama dan bersatu dengan Yesus yang disalibkan, yang mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dan dunia, demi keselamatan seluruh dunia seisinya. Kita dipanggil untuk berdiri di dekat salib Yesus, sahabat kita, dan selayaknya sebagai sahabatNya berpartisipasi dalam persembahanNya demi keselamatan seluruh dunia. Mayoritas waktu dan tenaga kita setiap hari untuk mendunia, berpartisipasi dalam seluk-beluk duniawi. Semakin mendunia hendaknya semakin beriman agar kita mampu mempersembahkan diri kita bersama semua pekerjaan, kesibukan, beban dst. kepada Tuhan. Dengan kata lain marilah kita memberikan diri seutuhnya pada pekerjaan, tugas atau kewajiban yang dibebankan kepada kita dengan semangat “hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. Semoga cara hidup dan cara bertindak kita dimanapun dan kapanpun ‘menyinari dunia’ artinya membuat dan menyebabkan segala sesuatu baik adanya. Masing-masing dari kita menjadi ‘terang’ bagi dunia; kehadiran dan sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun tidak mempersulit orang lain, melainkan membuat orang lain dengan mudah dan gembira melaksanakan tugas pekerjaan dan kewajiban mereka.

·   Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan” (Ibr 5:7). Kutipan ini pertama-tama dikenakan pada Yesus, tetapi kiranya juga dapat dikenakan kepada Bunda Maria. Ingat dalam kisah pesta perkawinan di Kana, dimana  Bunda Maria minta kepada Yesus untuk berbuat sesuatu demi keselamatan pesta perkawinan, dan Yesus pun melaksanakan dengan membuat mujizat, air menjadi anggur yang terbaik. Pada masa kini devosi kepada Bunda Maria kiranya semakin tumbuh dan berkembang, antara lain semakin maraknya ziarah ke tempat ziarah Bunda Maria atau berdoa di hadapan ‘patung Bunda Maria’ yang berada di gereja, kapel  atau gua-gua. Bukup banyak permohonan dipersembahkan kepada Tuhan dengan perantaraan Bunda Maria, dan juga sudah cukup banyak permohonan yang dikabulkan. Dalam berbagai penampakan Bunda Maria, yang diimani, antara lain diceriterakan bahwa  Bunda Maria melelehkan air mata: air mata kasih bagi para pendosa. Bunda Maria setia pada pesan Yesus di puncak kayu salib “Ibu, inilah anakmu”. Lelehan air mata Bunda kiranya merupakan tawaran kasih bagi para pendosa agar bertobat, meninggalkan aneka macam bentuk kejahatan yang telah dilakukannya. Maka dengan ini kami mengingatkan kita semua, yang merasa berdosa, namun kiranya kita semua adalah pendosa, marilah kita tanggapi ‘ratap tangis’ atau ‘lelehan air mata’ Bunda Maria dengan bertobat, menjadi anak-anak kesayangan Bunda Maria, yang juga berarti menjadi sahabat-sahabat Yesus, hidup dan bertindak meneladan cara hidup dan cara bertindak Yesus.

 

“Pada-Mu, TUHAN, aku berlindung, janganlah sekali-kali aku mendapat malu. Luputkanlah aku oleh karena keadilan-Mu,sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah melepaskan aku! Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku.Engkau akan mengeluarkan aku dari jaring yang dipasang orang terhadap aku, sebab Engkaulah tempat perlindunganku. Ke dalam tangan-Mulah kuserahkan nyawaku; Engkau membebaskan aku, ya TUHAN, Allah yang setia

 (Mzm 31:2-6)

 

Jakarta, 15 September 2009

Renungan 7:57 am

“Setiap orang yang percaya kepadaNya”

(Fil 2:6-11; Yoh 3:13-17)

 

 

“Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia” (Yoh 3:13-17), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta “Salib Suci” hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Salib dipasang di tembok merupakan hiasa biasa, salib berada di etalase toko merupakan barang dagangan, salib disimpan di gudang merupakan barang rongsokan atau ‘yang dibuang sayang’ , sedangkan salib dipasang di bubungan atau bagian atas sebuah bangunan antara lain menandakan bangunan tersebut sebagai tempat ibadah atau berdoa. Salib Yesus berada di puncak ketinggian sebuah bukit, menggambarkan sebagai penghubung Allah dan manusia, surga dan dunia, langit dan bumi, Yang Tersalib adalah ‘jalan penyelamatan’, maka “setiap orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal”. Percaya kepada Yang Tersalib berarti juga siap sedia menyalibkan diri atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Allah dan dunia, menjadi orang Kristen/ Katolik sejati dan warganegara sejati, dengan kata lain berpartisipasi dalam karya penyelamatan dunia dengan hidup mendunia, berpartisipasi dalam seluk-beluk kehidupan duniawi. Maka marilah dalam rangka mengenangkan Pesta Salib Suci hari ini kita mawas diri sejauh mana dalam kesibukan  hidup dan kerja kita setiap hari kita semakin selamat, semakin suci, semakin damai sejahtera lahir dan batin; kita semakin dikasihi oleh Allah dan sesama manusia. Apakah melalui cara hidup dan cara bertindak kita, orang lain tergerak untuk semakin berbakti kepada Allah serta berusaha untuk menjadi baik dan berbudi pekerti luhur? Allah yang menciptakan dunia seisinya begitu mengasihi dunia seisinya yang telah diciptakan, maka jika kita sungguh beriman kepada Allah berarti kita mengasihi dunia dengan mengurus atau mengelola dunia seisinya sesuai dengan kehendak Allah, yaitu demi kebahagiaan dan keselamatan seluruh umat manusia di dunia. Di mana ada bagian dunia yang tidak selamat, orang beriman dipanggil untuk mendatangi dan menyelamatkannya.

·   Dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi” (Fil 2:8-10), demikian kesaksian iman Paulus kepada umat di Filipi. Yesus, Tuhan dan Guru kita, telah memberi teladan dalam ‘merendahkan diri’ alias ‘bertekuk-lutut’ pada kehendak Allah, maka kita yang beriman kepadaNya dipanggil  untuk meneladan Dia yang rendah hati dan taat sampai mati. Rendah hati  dan ketaatan bagaikan mata uang bermuka dua, dapat dibedakan tetapi tak dapat dipisahkan.. Keutamaan ketaatan hemat saya merupakan hal yang mendesak untuk kita hayati dan sebarluaskan, mengingat dan memperhatikan cukup banyak orang kurang atau tidak taat. Masalah ketaatan ini rasanya perlu dibiasakan atau dididikkan pada anak-anak sedini mungkin di dalam keluarga. Anak-anak akan lebih mudah taat kepada orangtua atau bapak-ibunya jika mereka merasa sungguh dikasihi oleh orangtuanya, namun ketika mereka merasa kurang dikasihi pada umumnya juga kurang taat kepada orangtuanya. Sebagai contoh: anak-anak sekolah usia SMP atau SMA sering lebih mudah taat kepada para guru atau pendidik di sekolah daripada taat kepada orangtua atau bapak-ibu di rumah. Hal ini terjadi karena orangtua lebih mudah meninggalkan anaknya yang masih ‘balita’ dan dititipkan atau diasuh oleh pembantu atau neneknya, karena demi mengejar karier dalam kerja. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak mereka yang memiliki anak-anak usia balita hendaknya berani ‘memboroskan waktu dan tenaga bagi mereka’, sebagai bentuk kasih orangtua kepada anak-anaknya. Kasih sejati antara lain nampak dalam ‘pemborosan waktu dan tenaga’ bagi yang terkasih, yang mungkin juga dapat dikatakan sebagai tindakan ‘bertekuk-lutut’ pada yang terkasih. Pengalaman taat dan dikasihi dalam keluarga merupakan modal untuk dikembangkan lebih lanjut melalui berbagai usaha pendidikan atau pembinaan.

 

“Mereka memperdaya Dia dengan mulut mereka, dan dengan lidahnya mereka membohongi Dia. Hati mereka tidak tetap pada Dia, dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya. Tetapi Ia bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan murka-Nya dan tidak membangkitkan segenap amarah-Nya.”(Mzm 78:36-38)

Jakarta, 14 September 2009     

RenunganSeptember 11, 2009 7:34 am

“Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya”

(1Tim 1:15-17; Luk 6:43-49)

 

 "Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya." "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya — Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan –, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun. Akan tetapi barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika banjir melandanya, rumah itu segera rubuh dan hebatlah kerusakannya.”(Luk 6:43-49), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Kacang mongso tinggalo lanjaran”, demikian kata pepatah Jawa yang kurang lebih berarti ‘anak-anak pasti akan mewarisi perilaku, cara hidup dan cara bertindak orangtuanya’. Maka kami berharap kepada para orangtua dapat menjadi teladan hidup dan cara bertindak bagi anak-anaknya. Keunggulan hidup beriman atau beragama terletak dalam tindakan atau perilaku bukan omongan atau wacana. Yang mengikat dan mendasari hidup dan cara bertindak orangtua atau bapak-ibu adalah cintakasih; ingat dan kenangkan bahwa anda berdua menjadi suami atau isteri dan bapak atau ibu karena dan oleh cintakasih, dimana anda berdua saling mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan atau tenaga. Di dalam bersama hidup sehari-hari dimanapun dan kapanpun ada aturan atau tatanan hidup, agar hidup bersama sungguh damai-sejahtera. Di dalam keluarga kiranya juga ada aturan dan tatanan hidup, entah tertulis atau lisan, yang telah ditentukan oleh orangtua, maka hendaknya anda sebagai orangtua tidak hanya berhenti pada memberi aturan, tatanan, nasihat atau tuntunan, tetapi juga menghayati atau melaksanakannya sendiri dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi dan segenap kekuatan/tenaga. Dalam kutipan Warta Gembira hari ini kita juga diingatkan bahwa “yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya”, maka baiklah kita mengusahakan untuk memiliki hati yang baik. Untuk itu baiklah sering membaca berbagai tulisan atau karangan yang baik, dimana di dalamnya kita dapat menemukan pikiran, pendapat, nasihat yang baik dan kemudian kita hayati atau laksanakan dalam hidup sehari-hari dengan berbuat baik kepada siapapun. Perbuatan baik dan hati baik akan saling menguatkan dan memperteguh.

·   Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa” (1Tim 1:15). Inilah mungkin kata-kata atau tulisan yang baik kita renungkan dan hayati. Mungkin kita adalah orang baik, namun demikian marilah kita juga berani berkata dan menghayati bahwa “akulah yang paling berdosa”, sebagaimana juga telah pernah dinyatakan dan dicoba untuk dihayati oleh para Yesuit, yang menyatakan diri sebagai pendosa yang dipanggil Tuhan untuk berpartisipasi dalam karya penyelamatanNya di dunia ini. Menghayati diri sebagai pendosa yang dikasihi dan dipanggil kurang lebih juga berarti hidup dan bertindak dengan rendah hati. Rendah hati merupakan keutamaan dasar kebalikan dari sombong. Kita dipanggil untuk menjadi rendah hati, meneladan Yesus “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia”(Fil 2:6-7). Para orangtua hendaknya menjadi teladan penghayatan kerendahan hati ini di dalam keluarga, antara lain berusaha ‘menjadi sama dengan anak-anak’, yang berarti senantiasa siap sedia untuk dibina, dituntun, dinasihati terus menerus sampai mati alias bersikap mental ‘ongoing formation, ongoing education’.  Sikap mental inilah kiranya yang sebaiknya juga diwarikan kepada anak-anaknya, antara lain dengan teladan dari orangtua/bapak-ibu.

 

“Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN! Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya. Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN. TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit. Siapakah seperti TUHAN”(Mzm 113:1-5a)

 

Jakarta, 12 September 2009


Tukar Banner Gratis