RenunganOctober 5, 2009 11:31 pm

"Tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri?”

(Yun 3:1-10; Luk 10:38-42)

 

“Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: "Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku." Tetapi Tuhan menjawabnya: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya."(Luk 10:38-42), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.

 

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ora et labora” = Berdoa dan bekerja, demikian bunyi sebuah motto. Motto ini kiranya dapat disejajarkan dengan 2 (dua) tokoh Warta Gembira hari ini, Maria sebagai pendoa dan Marta sebagai pekerja. Mana yang lebih baik: berdoa atau bekerja? Hemat saya keduanya baik dan yang terbaik adalah doa menjiwai kerja, maka berdoa dan bekerja bagaikan mata uang bermuka dua. Mayoritas waktu dan tenaga kita kiranya terarah untuk bekerja, sebagaimana dikerjakan oleh Marta. Marta ditegor oleh Yesus karena selama bekerja ia mengeluh atau menggerutu. Memang kerja keras dalam bentuk apapun ketika diserta keluh kesah atau gerutu berarti tidak bermutu. Doa menjiwai kerja senada dengan “contemplativus in actione”  atau menemukan Tuhan dalam segala sesuatu atau menghayati karya dan kehadiran Tuhan dalam segala sesuatu, dengan demikian selama orang bekerja senantiasa dalam keadaan ceria, gembira dan dinamis, meskipun harus bekerja keras tidak akan pernah merasa lelah. “Bagi kaum beriman ini merupakan keyakinan: kegiatan manusia baik perorangan maupun kolektif, atau usaha besar-besaran itu sendiri, yang dari zaman ke zaman dikerahkan oleh banyak orang untuk memperbaiki kondisi-kondisi hidup mereka, memang sesuai dengan kehendak Allah. Sebab manusia, yang diciptakan menurut gambar Allah, menerima  titahNya, supaya menaklukkan bumi beserta segala sesuatu yang terdapat padanya, serta menguasai dunia dalam keadilan dan kesucian, ia mengemban perintah untuk mengakui Allah sebagai Pencipta segala-galanya, dan mengarahkan diri beserta seluruh alam kepadaNya” (Vatikan II: GS no 34). Di dalam bekerja orang semakin menyucikan atau mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan atau semakin mendunia, terlibat dalam seluk beluk dunia berarti harus semakin beriman. Mendunia tanpa iman pasti akan merusak ciptaan-ciptaan Tuhan.

·   Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Ia pun tidak jadi melakukannya” (Yun 3:10). Para penjahat memang menimbulkan malapetaka atau kesengsaraan bagi orang  lain dan lingkungan hidupnya, entah sekecil apapun kejahatan yang telah dilakukannya. Maka dengan ini kami mengajak dan mengingatkan kita semua, yang mungkin masih sering berbuat jahat untuk bertobat. Ada kejahatan yang terstruktur dan terselubung, misalnya: pemalsuan berat atau ukuran -> satu botol obat tertulis 10 cc, tetapi dalam kenyataan hanya 9 cc, dalam kemasan tertulis berat 10 kg, tetapi dalam kenyataan hanya 9,5 kg, dst… Bentuk kejahatan lain adalah ‘mark-up’ anggaran sebagaimana cukup banyak dilakukan, atau ‘mark-up’  kwitansi. Juga ada kejahatan yang cukup memprihatinkan yaitu pemberian obat oleh dokter kepada pasien, yang sebenarnya bukan obat yang dibutuhkan pasien, melainkan sang dokter menjadi agen penjual obat tertentu. Memang mereka yang melakukan kejahatan pada umumnya boleh dikatakan pandai tetapi tidak beriman, dan hal ini kiranya disebabkan oleh pendidikan yang salah, yaitu pendidikan yang hanya menekankan otak dan kurang memperhatikan hati, yang ada kecenderungan untuk menyontek dalam ulangan umum atau ujian. Marilah gerakan pertobatan kita mulai dalam diri anak-anak kita dan para peserta didik, dan tentu saja harus disertai keteladanan dari orangtua atau para pendidik/guru. Hidup dan bertindak dengan jujur hendaknya dibiasakan sedini mungkin dalam diri anak-anak kita. Jauhkan aneka macam bentuk kemunafikan dan kebohongan dalam hidup sehari-hari!

 

Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku. Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan”

(Mzm 130:1-4a)

 

Jakarta, 6 Oktober 2009

Renungan 2:42 am

“Siapakah sesamaku manusia?"

(Yun 1:1-17; 2::10; Luk 10:25-37)

“Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"(Luk 10:25-37), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

·   Ketika orang-orang sedang menghadiri pesta pada umumnya sedikit banyak bersaing dalam hal berpakaian dan assesori, lebih-lebih rekan-rekan wanita atau perempuan, sehingga nampak perbedaan satu sama lain sesuai dengan pakaian dan assesori yang dikenakan. Orang dapat membedakan siapa yang paling kaya, dst. Sebaliknya ketika banyak orang berada di kolam renang hanya mengenakan pakaian dalam atau bahkan sama-sama telanjang bulat kiranya perbedaan satu sama lain tidak banyak atau bahkan satu sama lain sama saja. Jika dalam Warta Gembira hari ini Yesus menjelaskan ‘siapakah sesamaku manusia’ dengan perumpamaan orang yang dirampok habis-habisan, berarti jika kita hendak mengasihi sesama manusia dengan sungguh-sungguh adalah mengasihi mereka yang miskin dan berkekurangan dalam hal harta benda atau uang, yang tidak lain merupakan ‘tindakan belas kasihan’. Maka marilah kita, umat beriman, khususnya yang beriman pada Yesus Kristus, menghayati ajaran kasihNya dengan lebih mengasihi atau memperhatikan mereka yang miskin dan berkekungan di sekitar kita atau lingkungan hidup kita, tanpa pandang bulu, SARA, golongan , dst.. Mengasihi anak-anak kecil kiranya juga merupakan bentuk penghayatan ajaran untuk mengasihi Tuhan dan sesama manusia, maka hendaknya kepada anak-anak kecil diberikan kasih yang memadai.

·    "Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu." (Yun 1:12), demikian kata Yunus atas desakan para  penumpang kapal lainnya. Baik Yunus maupun mereka meyakini atau mengimani bahwa orang yang tidak setia pada panggilan dan tugas pengutusan dari Tuhan akan menimbulkan malapetaka bagi lingkungan hidupnya. Orang yang tidak hidup dalam dan oleh kasih pasti akan menghancurkan lingkungan hidupnya dimanapun dan kapanpun ia berada. Maka marilah kita lihat dan cermati lingkungan hidup kita! Jika lingkungan hidup kita amburadul, tidak bersih, tidak indah, tidak menarik dan tidak memikat berarti ada orang berdosa di dalamnya, dan mungkin orang itu saya sendiri. Yang kami maksudkan berdosa adalah tidak melaksanakan tugas pekerjaan atau kewajiban dan tidak menghayati panggilan sebagaimana mestinya atau yang diharapkan dan dicita-citakan. Hidup berkeluarga atau berkomunitas kacau berarti ada anggota keluarga atau komunitas yang kurang atau tidak setia pada panggilan dan tugas pengutusannya. Pekerjaan di kantor senantiasa tidak beres alias tertunda terus menerus berarti ada pekerja yang bermalas-malas, tiduran saja. Pendek kata segala sesuatu kekacauan, amburadul, kerusakan, dst. yang terjadi dalam kehidupan bersama kita di dunia ini terjadi karena orang-orang berdosa, pengecut, tidak melaksanakan kewajibannya. Kegagalan baik dalam belajar maupun bekerja terjadi karena kemalasan atau kesambalewaan orang yang bersangkutan dalam belajar atau bekerja.

 

"Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku.Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku.Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus

(Yun 2:2-4)

 

Jakarta, 5 Oktober 2009

Renungan 2:39 am

Mg Biasa XXVII : Kej 2:18-24; Ibr 2:9-11; Mrk 10:2-16
"Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan isterinya?"
"Jumlah perceraian di Indonesia dalam 4 tahun terakhir ini meningkat tajam. Pada 2004 rata-rata 20 ribu hingga 30 ribu per tahun, namun pada 2008 telah terjadi 200 ribu kasus perceraian dari 2 juta pernikahan yang ada. "Itu artinya 10% dari pasangan yang nikah melakukan perceraian," ujar Dirjen Bimas Islam Depag RI Prof Dr Nasarudin Umar, MA pada peluncuran buku Fikih Keluarga dan seminar sehari Urgensi Pembangunan Bangsa berbasis Keluarga. Penyebab perceraian ini menurut Nasarudin ada 13 jenis masalah. Namun terbesar akibat adanya perselingkuhan dan kasus poligami. Pasangan yang bercerai umumnya adalah pasangan muda dengan jumlah anak rata-rata satu orang atau istri sedang hamil yang pertama. Sedang gugatan cerai 65% dilakukan oleh pihak perempuan (istri)" (www.poskota.co.id, 3 Juli 2009). Jika data di atas ini benar, memang sungguh memprihatinkan, lebih-lebih mayoritas perceraian terjadi pada pasangan muda dengan jumlah anak rata-rata satu orang atau isteri sedang hamil yang pertama. Maka kiranya boleh diambil kesimpulan bahwa kurang lebih 100.000 (seratus ribu) anak pertama di Indonesia lahir dan dibesarkan dalam `broken home’. Dengan kata lain jumlah anak-anak yang menjadi korban perceraian cukup fantastis, dan ada kemungkinan anak-anak tersebut akan tumbuh berkembang kurang kasih sayang, sehingga menjadi pribadi yang `kurang ajar’ alias tak bermoral, tak berbudi pekerti luhur. Pada gilirannya ketika mereka menjadi dewasa dan kemudian menikah ada kemungkinan mudah bercerai juga, dan dengan demikian melahirkan korban-korban baru. Dari data di atas dapat dilihat setiap tahun jumlah perceraian naik kurang lebih 50% : dari 20.000 menjadi 30.000 dan tiga tahun kemudian menjadi 200.000. Kita harus prihatian dengan data atau situasi sebagaimana digambarkan di atas, maka marilah kita renungkan dengan sungguh-sungguh Warta Gembira hari ini.

"Pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."(Mrk 10:6-9)

Pada masa pacaran dan tunangan alias sebelum pernikahan pada umumnya relasi calon suami dan calon isteri begitu mesra serta masing-masing menyadari atau menghayati bahwa pasangannya adalah `hadiah atau kado dari Allah’, dengan kata lain kasih mereka berdua merupakan anugerah Allah, berasal dari Allah. Hidup sebagai suami-isteri diikat dan didasari serta dipersatukan oleh kasih kasih Tuhan , "karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia". Yang menjadi sumber perceraian pada umumnya adalah perbedaan, misalnya beda selera, beda cara berpikir, beda pendapat, beda acara, dst.. Bukankah laki-laki dan perempuan itu berbeda satu sama lain dan saling tertarik, saling ingin mendekat, mengenal, bersahabat dan mengasihi? Beda anggota tubuh, beda usia, beda orangtuanya, beda alat kelaminnya, dst.. dan saling tertarik, itulah kenyataan yang ada, sesuai dengan kehendak Allah. Dalam ilmu phisika/listrik kita kenal unsur plus (+) dan minus (-) dan ketika keduanya yang berbeda satu sama lain tersebut bertemu lahirlah sinar terang yang membahagiakan dan menyelamatkan. Dengan kata lain apa yang berbeda menjadi daya pikat dan daya tarik untuk saling mendekat, mengenal, bersahabat dan mengasihi, bukan alasan untuk bermusuhan, berpisah atau bercerai.

Suami-isteri, "keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu". Yang berbeda satu sama lain, yaitu alat kelamin, penis dan vagina, bersatu menjadi nikmat dan bahagia, itulah kiranya yang dialami dalam persetubuhan. Maka kami berharap aneka perbedaan yang lain yang ada di antara suami dan isteri, hendaknya menjadi daya tarik dan daya pikat untuk semakin mempererat dan memperkuat persatuan. Kami yakin setelah bersatu di tempat tidur alias setelah resmi menikah, baik suami maupun isteri akan semakin mengenal perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka, yang mungkin belum dilihat di masa pacaran atau tunangan. Masa lima tahun pertama pernikahan merupakan masa yang rawan dan menantang (perhatikan bahwa mayoritas perceraian adalah pasangan muda), masa yang sarat dengan masalah atau perkara, yang lahir dari perbedaan yang ada. Hendaknya masa lima tahun pertama perkawinan/pernikahan dihayati sebagai masa belajar untuk saling mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit, sehingga mahir dalam mengasihi, yang dimasa-masa berikutnya terus diperdalam dan diperteguh. Tanda bahwa suami-isteri sungguh saling mengasihi, bukan lagi dua melain satu, antara lain semakin lama mereka berdua nampak tampil dalam wajahnya bagaikan manusia kembar.

"TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu" (Kej 2:21-22).
Kutipan diatas ini kiranya merupakan ungkapan pengakuan iman bahwa laki-laki dan perempuan adalah sepadan, maka hendaknya tidak ada yang merasa dirinya lebih dari yang lain, laki-laki lebih daripada perempuan atau perempuan lebih daripada laki-laki. Jumlah anggota tubuh laki-laki dan perempuan sama dan hanya berbeda dalam bentuk. Mungkin dari pihak laki-laki sering merasa lebih super daripada perempuan, tetapi ingatlah bahwa perempuan diambil dari salah satu rusuk laki-laki, dari jantung hati laki-laki, dengan kata lain perempuan adalah jantung hati laki-laki. Bukankah jantung dan hati merupakan penggerak dan penggairah tubuh, maka ketika laki-laki melihat perempuan pada umumnya langsung bergairah dan bergerak? Di lain pihak rekan-rekan perempuan mungkin juga merasa berada di bawah laki-laki dan mohon perlindungan alias boleh kembali ke dada/tulung rusuk laki-laki, menyadarkan kepala di dada laki-laki serta mohon dibelai, dst.. Dengan kata lain laki-laki dan perempuan saling membutuhkan satu sama lain, maka di bawah ini saya kutipkan apa yang menjadi kebutuhan masing-masing dan harus saling memberikan apa yang dibutuhkan pasangannya.
"Wanita perlu menerima: perhatian, pengertian, hormat, kesetiaan, penegasan, jaminan" , sedangkan "pria perlu menerima: kepercayaan, penerimaan, penghargaan, kekaguman, persetujuan, dorongan" (John Gray, Ph.D: Men are from Mars, women are from Venus, Pria dari Mars, Wanita dari Venus, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 1995,hal 152)

"Dengan perjanjian perkawinan laki-laki dan perempuan membentuk antara mereka kebersamaan seluruh hidup; dari sifat kodratinya perjanjian itu terarah pada kesejahteraan suami-isteri serta kelahiran dan pendidikan anak" (KHK kan 1055.1). Yang perlu digarisbawahi adalah `pendidikan anak’ sebagaimana disabdakan oleh Yesus "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah."(Mrk 10:14). Suami-isteri hendaknya bekerjasama dalam mendidik anak-anak mereka, pendidikan yang mengarahkan anak-anak `datang kepada Tuhan’ alias agar anak-anak tumbuh berkembang menjadi pribadi cerdas beriman atau berbudi pekerti luhur. Untuk itu kami mengaharapkan suami-isteri dengan kerelaan dan pengorbanan berani memboroskan waktu dan tenaga bagi anak-anak, lebih-lebih atau terutama masa balita anak-anak, umur 0-5 th. Masa balita rawan dan menantang, masa dimana anak-anak terbuka terhadap segala sesuatu, yang akan membentuk pribadinya.
"Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN"(Mzm 128:1-4)

Jakarta, 4 Oktober 2009

Renungan 2:37 am

"Semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai".
(Bar 4:5-12.27-29; Luk 10:17-24)
"Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: "Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu." Lalu kata Yesus kepada mereka: "Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga." Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: "Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu." Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya tersendiri dan berkata: "Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat.Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya."(Luk 10:17-24), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
• Orang bijak dan orang pandai pada umumnya kurang `turba’ atau turun ke bawah, melainkan lebih banyak duduk di kursi empuk dan kamar ber-AC sambil menerima laporan-laporan dari mereka yang disebut pekerja atau orang-orang kecil. Para pekerja atau orang-orang kecil juga memiliki kecenderungan untuk melaporkan apa yang baik kepada atasan, sedangkan kekurangan atau kelemahan tidak dilaporkan. Dengan kata lain kenyataan atau realitas yang ada disembunyikan bagi `orang bijak dan orang pandai’. Maka dengan ini kami mengharapkan siapapun yang dianggap bijak dan pandai, yang pada umumnya adalah para pimpinan atau atasan, untuk `turba’, turun ke bawah, melihat kenyataan atau realitas `lapangan’ yang ada. Dengan turun ke bawah/ke lapangan kiranya selain melihat kenyataan yang ada, juga dapat memberi perhatian berupa sapaan kasih terhadap para pegawai, bawahan/pembantu atau mereka yang dianggap kecil secara organisatoris atau kelembagaan. Dengan cara demikian boleh dikatakan `sambil menyelam minum air’, dua sasaran atau tujuan dapat dilaksanakan bersamaan: melihat kenyataan dan memberi perhatian Kepada mereka yang dianggap kecil dan dalam kenyataan dapat melihat dan menikmati kebenaran, kami harapkan ketika memberi laporan kepada atasan sungguh jujur, tidak hanya melaporkan apa-apa yang baik tetapi juga yang kurang baik, untuk membantu atasan mengambil keputusan bijak. Hendaknya jujur, polos dan terbuka seperti anak-anak kecil: apa yang dilihat, dirasakan dan dihadapi diceriterakan semuanya kepada orang lain.
• "Kuatkanlah hatimu, anak-anakku, berserulah kepada Allah; Dia yang mengirim bencana itu akan teringat kepadamu pula. Seperti dahulu angan-angan hatimu tertuju untuk bersesat dari Allah, demikian hendaklah kamu sekarang berbalik untuk mencari Dia dengan sepuluh kali lebih rajin"(Bar 4:27-28). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi kita, lebih ajakan "hendaklah kamu sekarang berbalik untuk mencari Dia dengan sepuluh kali lebih rajin". Dia, Tuhan ada dimana-mana, hidup dan berkarya dalam seluruh ciptaanNya, dan tentu saja terutama dan pertama-tama dalam diri manusia, yang diciptakan sesuai dengan gambar atau citraNya. Mencari Dia, Tuhan, dalam setiap diri manusia berarti kita harus saling bertemu, bertatap muka dan bercakap-cakap bersama, agar saling mengenal dan akhinya mengenal Tuhan melalui buah karyaNya dalam diri manusia, antara lain berupa keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan Saudara-saudari kita yang kecil, miskin dan berkekurangan pada umumnya lebih kaya akan keutamaan atau nilai kehidupan daripada mereka yang kaya akan harta benda/uang. Sebagai contoh: lihat dengan cermat atau perhatikan anak-anak kecil yang senantiasa ceria, jujur, tidak malu, dst.. atau orang-orang miskin yang bekerja keras siang malam tanpa mengeluh atau menggerutu, meskipun buah atau imbal jasanya kecil. Memang untuk melihat dengan cermat atau memperhatikan mereka yang kecil, miskin dan berkurangan dibutuhkan kerendahan hati dan pengorbanan, meneladan Yesus, "yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib" (Fil 2:6-8).

"Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali! Sebab TUHAN mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan. Biarlah langit dan bumi memuji-muji Dia, lautan dan segala yang bergerak di dalamnya."
(Mzm 69:33-35)
Jakarta, 3 Oktober 2009


Tukar Banner Gratis